Pada masa kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, tiap kerajaan memiliki cendekiawan atau orang atau orang pandai. Sosok manusia pintar ini biasanya diangkat sebagai penasihat dalam sebuah kerajaan.

Dalam catatan sejarah, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan memiliki orang seperti itu, misalnya Kajao Ladiddong di Bone, Puang ri Maggalatung di Wajo, Nene Mallomo di Sidrap, Maccae ri Luwu, dan Lempangadi di Gowa. Khusus di Soppeng sendiri, karena keahliannya di dalam sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, muncullah sosok cendekia yang diberi gelar Arung Bila.

Pada awalnya, masyarakat Soppeng sudah mengenal kehidupan sosial budaya
di mulai sejak zaman batu. Tidak ada bukti yang bisa menjelaskan secara rinci bagaimana suasana kehidupan pada zaman batu. Hanya disebutkan dalam catatan lontara, bahwa masa itu adalah masa kelam dan disebut hukum rimba, siapa yang kuat maka dialah yang bertahan hidup.

Masa dalam istilah orang Bugis sianre balei tauwe. Artinya, orang hidup bagaikan ikan. Siapa yang bisa mengalahkan yang lain, maka dia yang bisa mempertahankan kelangsungan hidup diri dan keluarganya. Masa kelam tak beradat ini diperkirakan terjadi sekitar abad ke-14 atau tahun 1300-an Masehi.

Demikian kehidupan masyarakat manusia pada zaman prasejarah itu. Kehidupan hukum rimba ini diakhiri pada suatu masa yang dikenal dengan masa datangnyaTo Manurung yang datang secara tiba-tiba menampakkan dirinya. Masyarakat Soppeng meyakini bahwa kejadian ini akan menuntut mereka ke arah tata kehidupaan yang lebih baik.

Ketika itu pula, masyarakat Soppeng telah dihuni sekitar 60 kelompok-kelompok kecil yang yang diketuai oleh seorang Matoa. Masing-masing kelompok ini yang diketuai oleh para Matoa hanya mementingkan kelompoknya dalam mempertahankan kelangsungan hidup mereka.

Ketika masing-masing para Matoasudah mulai membangun peradaban di kelompoknya, perlahan-lahan mereka membangun jalinan hubungan dengan kelompok lain. Hubungan antara kelompok masih sangat terbatas. Satu Matoa tidak saling mempengaruhi dengan Matoa lain.

Dalam sejarah kehidupan suku-suku di Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng diawali datangnya suatu masa yang dikenal dengan zaman ToManurung, umumnya dipandang sebagai fase peletakan dasar-dasar kehidupan baik kehidupan sosiokultural maupun kepemerintahan. Dasar-dasar kehidupan tersebut kemudian menjadi tradisi yang secara efektif dari suatu generasi sampai generasi sekarang.

Demikian dengan datangnya seorang yang tidak dikenal dan tidak diketahui
darimana asalnya sehingga masyarakat Soppeng meyakini bahwa manusia ini adalah To Manurung (orang yang turun dari langit).

Masyarakat Soppeng pada masa kelam itu menyepakati untuk mengangkat To Manurung tersebut menjadi pemimpin tertinggi dengan gelar sebagai Datu ( Raja) sehingga seluruh kebijaksanaan kepemimpinan masyarakat bukan lagi sama halnya pada masa lampau, akan tetapi dikenal dengan adanya pemimpin negeri untuk seluruh wilayah Soppeng.

Pengakuan dan penerimaan masyarakat Soppeng kepemimpinan To Manurung untuk seluruh negeri yang akan mengkikis pertengkaran antara kelompok yang terjadi sebelumnya. Dalam hubungan tersebut ada dua peristiwa bersejarah terkait pengangkatan To Manurung sebagai Raja yaitu :

1. Terjadinya janji setia antara To Manurung dan rakyat sebagai abdi di lain pihak.
2. Diletakkan dasar-dasar pemilihan dan pengangkatan pemimpin atau raja oleh
rakyat dengan sistem perwakilan.

Mitologi turunnya To Manurung sangat di yakini oleh para tetua Soppeng. Manurunge ri Sekkanyili dan Manuruge ri Libureng (Goarie) dilantik sebagai raja di wilayah Soppeng, maka kedua raja ini menjalankan pemerintahan. Di mana Manurungnge ri Sekkanyili memerintah di wilayah Soppeng Riaja dan Manurungngeri Libureng memerintah di wilayah Soppeng Rilau.

Manurunge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng riaja inilah yang selanjutnya diberi nama “Latemmamala” yang merupakan raja pertama dalam menjalankan tata pemerintahan di kerajaan Soppeng.

Latemmamala memberikan banyak perubahan kepada masyarakat Soppeng. Sehingga mayarakatnya dari dulu sampai sekarang melakukan ritual-ritual penghormatan kepada Latemmamala.

Dalam Lontara Raja-raja di Sulawesi Selatan, silsilah kerajaan diawali oleh Raja yang bergelar sebagai To Manurung. Khususnya di Soppeng sendiri raja pertama dalam silsilah kerajaan Soppeng ialah Latemmamala yang bergelar Manurungnge ri Sekkanyili dan di akhiri oleh Andi Wana.

Dan pada masa kepemimpinan Andi Wana diakhiri dengan sistem kerajaan, sehingga Andi Wana bukan lagi dikatakan sebagai Raja akan tetapi sebagai Bupati dan merupakan Bupati pertama di Kabupaten Soppeng. Hal itu disebabkan pada masa pemerintahannya sebelum Andi Wana ada masa peralihan dari Nusantara menjadi sebuah Negara yang berdaulat dan dibentuklah otonomi daerah.

Apa itu mitos?

Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia dan bangsa tersebut mengandung arti yang mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Mitos diartikan sebagai kisah, hikayat dari zaman purbakala.Merupakan narasi penuturan tentang sesuatu yang suci, yaitu tentang kejadian-kejadian yang luar biasa mengatasi pengalaman-pengalaman manusia sehari-hari. Penuturan itu umumnya diwujudkan dalam dongeng-dongeng atau legenda tentang dunia supranatural. Karena itu maka studi tentang mitos biasanya digali dari cerita-cerita rakyat

BACA JUGA :  Perilaku Pengguna Media Sosial

Apa Fungsi mitos?

Manusia dalam masyarakat dan lingkungan sebagai pendukung mitos berada dalam lingkup sosial budaya. Mereka senantiasa berusaha untuk memahami diri dan kedudukannya dalam alam semesta, sebelum mereka menentukan sikap dan tindakan untuk mengembangkan kehidupannya dalam suatu masyarakat.

Dengan seluruh ke mampuan akalnya, manusia berusaha memahami setiap gejala yang tampak maupun yang tidak tampak. Dampaknya setiap masyarakat berusaha mengembangkan cara-cara yang bersifat komunikatif untuk menjelaskan berbagai perasaan yang mempunyai arti bagi kehidupannya.

Kendatipun manusia sebagai mahluk yang mampu menggunakan akal dan mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada mahluk lainnya, namun ia tidak mampu menjelaskan semua fenomena yang ada disekitarnya.

Untuk dapat menguasai fenomena tersebut, diperlukan pemahaman terhadap kehidupan dengan cara mengembangkan simbol-simbol yang penuh makna. Simbol-simbol tersebut berfungsi untuk menjelaskan fenomena lingkungan yang mereka hadapi, terutama fenomena yang tidak tampak tetapi dapat dirasakan kehadirannya.

Secara kasat mata, manusia melambangkan legenda/dongeng-dongeng suci, yang dimitoskan untuk memberikan penjelasan terhadap fenomena yang tidak tampak, sehingga dongeng-dongeng suci itu mengandung pesan, walaupun pesan tersebut adakalanya sulit diterima akal, karena pada mulanya legenda-legenda itu terbentuk secara tidak rasional.

Di sisi lain masyarakat mempercayai isi atau menerima pesan yang terkandung dalam mitos dengan tanpa mempertanyakan secara kritikal.

Dengan demikian mitos itu berfungsi :
1. Untuk menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan ajaib yang ada dalam dongeng maupun upacara mistis, Mitos itu tidak memberikan bahan informasi tentang kekuatan-kekuatan tersebut, tetapi membantu manusia agar dia dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dalam kehidupan sukunya.

Fungsi ini bertalian erat dengan fungsi yang lain yaitu mitos memberikan jaminan bagi masa kini. Contoh: pada musim semi, ketika ladang-ladang mulai digarap, masyarakat mengadakan tari-tarian dan persembahan pada leluhur dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang berlimpah.

2. Memberikan pengetahuan tentang dunia, mitos dianggap sebagai perjanjian
dalam masyarakat, karena mitos dapat memberikan informasi tentang pemikiran masyarakat dan kondisinya pada waktu itu, yang dapat mewakili potret masyarakat pada saat itu. memberikan pemecahan yang logis untuk mengatasi suatu hal yang tidak mungkin terjadi menjadi suatu hal yang nyata.

Hal ini berarti bahwa mitos bukan hanya sekadar cerita tetapi seringkali juga
merupakan suatu ungkapan simbolis dari konflik-konflik batiniah yang ada dalam suatu masyarakat, serta menjadi suatu sarana untuk mengelakkan, memindahkan, dan mengatasi kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan, sehingga kontradiksi tersebut dapat dijelaskan dan dapat menjadi masuk akal. Memberikan jaminan pada masa kini arti peristiwa semula, yang seolah-olah dapat ditampilkan kembali, baik dalam bentuk cerita, maupun gerakan (tarian) dalam suatu konteks tertentu.

Legenda-legenda dan mitos-mitos diperlukan manusia sebagai penunjang sistem nilai mereka. Semua itu memberi kejelasan tentang eksistensi manusia dalam hubungannya dengan alam sekitarnya, serta wujud Maha Tinggi. Manusia tidak dapat hidup tanpa mitologi atau sistem penjelasan tentang alam dan kehidupan yang kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Oleh karena itu, fungsi mitos dalam kehidupan masyrakat primitif dipandang sebagai hal mendalam dan penting.

Menghayati sebuah mitos berarti memiliki pengalaman religius murni, berebeda dengan pengalaman-pengalaman, karena apabila seorang melakukan tindakan para dewa secara simbolis dan secara pribadi memberikan secara kesaksian atas peristiwa tersebut. Ia memasuki suatu dunia yang diubah untuk para dewa, makhluk-makhluk supranatural dan karya-karya mereka. Dengan demikian, orang tersebut menjadi semasa dengan peristiwa-peristiwa asali, masa segala permulaan.

Apa pengaruh mitos?

Mitos merupakan kisah yang diceritakan untuk menetapkan kepercayaan tertentu. Berperan sebagai permulaan dalam suatu upacara atau ritual, atau sebagai model tetap dan perilaku moral maupun religius. Mitos juga turut membentuk hakikat tindakan moral, serta menentukan hubungan ritual antara manusia dengan penciptanya atau dengan kuasa-kuasa yang ada.

Beragaman yang berciri mitologis bisa melahirkan sikap radikal yang muncul
dalam dua bentuk paradoksal. Pertama, radikalisme eskapis, berusaha melepaskan kehidupan duniawi, hidup bertapa, membebaskan diri dari kenikmatan duniawi yang dianggap racun dan bersifat maya. Kedua, membangun komunitas ekslusif sebagian wadah dan identitas kelompok, yang menganggap dunia sekitarnya, sebuah dunia iblis yang harus dimusnahkan.

Bagi kalangan masyarakat sekarang ini, mitos turut mempengaruhi pemahaman keagamaan, serta memberi nilai-nilai dan norma-norma keagamaan mereka. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa keyakinan terhadap mitos turut membentuk pemahaman dan kesadaran beragama.

Karenanya suatu mitos harus dipercaya begitu saja, maka ia melahirkan sistem kepercayaan. Jadi utuhnya, mitologi akan menghasilkan utunya sistem kepercayaan. Dan pada utuhnya, sistem kepercayaan akan menghasilkan utuhnya sistem nilai. Kemudian sistem nilai sendiri yang memberi manusia kejelasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk (etika). Sehingga, tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari mitos.

BACA JUGA :  Lari Mengejar Angin

Pada dasarnya kehidupan manusia dikuasai oleh mitos-mitos. Hubungan antarm anusia dengan sendirinya dikuasai oleh mitos yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Manusia adalah pencipta mitos dan karena itu, manusia harus bisa hidupd engan mitos. Sikap kita terhadap sesuatu, ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita. Mitos menyebabkan kita menyukai dan membenci sesuatu yang terkandung dalam mitos tersebut. Itulah sebabnya manusia selalu memiliki prasangka tentang sesuatu yang berkaitan dengan mitos-mitos. Kita hidup dengan mitos-mitos yang membatasi segala tindak laku kita.

Ketakutan dan keberanian kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos-mitos yang kita hadapi. Banyak hal yang sukar untuk dipercaya berlakunya, tapi ternyata berlaku hanya karena penganutnya begitu mempercayai mitos. Dan ketakutan kita akan sesuatu lebih disebabkan karena ketakutan akan sesuatu yang mengandung mitos, buka ketakutan akan keadaan sebenarnya.

Kronologi Turunnya Latemmamala di Kerajaan Bugis Soppeng:

Dari catatan dinasti La Galigo, bahwa orang-orang Soppeng berasal dari kerajaan Luwu, Raja-raja Luwu atau utusannya selalu pergi di Soppeng untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi antara Matoa.

Menurut legenda, dahulu kala datu Luwu menempatkan wakilnya di Soppeng yang yang bertugas menyelesaikan sengketa yang timbul antara Matoa manakala Datu Luwu (Sawerigading) tidak ada di Soppeng. Akhirnya tampillah Arung Bila mewakili Sawerigading untuk memerintah di Soppeng.

Dikisahkan suatu peristiwa alam yang mengerikan, hujan yang tidak pernah turun selama tujuh turunan, sehingga terjadi kekeringan di kebun dan di sawah. Sawah dan ladang tidak dapat ditanami dan kelaparan menimpa rakyat Soppeng. Arung Bila sebagai penasihat kerajaan mengambil inisiatif untuk mengadakan musyawarah besar, dihadirkaan 30 Matoa dari Soppeng Riaja dan 30 Matoa dari Soppeng Rilau.

Pertemuan tersebut membicarakan dan mencari solusi untuk mengatasi penderitaan penderitaan kelaparan masyarakat Soppeng. Sementara musyawarah berlangsung, tiba-tiba dua ekor burung cakkalle’ (kakaktua) ramai memperebutkan setangkai padi yang berisi bulir-buliranya. Perilaku burung kakaktua menarik perhatian seluruh peserta pertemuan.

Akhirnya musyawarah terganggu dan Arung Bila menyuruh Matoa Tinco untuk menghalau burung tersebut, dan mereka mengikuti ke mana mereka terbang. Kemudian burung tersebut masuk ke dalam hutan, dan para Matoa mengikutinya juga ke dalam hutan sampai seterusnya burung tersebut menghilang. Tiba-tiba dia melihat seseorang di tempat yang disebut Sekkanyili. Orang tersebut berpakaian indah dan duduk di atas sebuah batu. Arung Bila diberitahukan bahwa orang yang duduk itu adalah orang dari kayangan bernama Petta Manurungnge ri Sekkanyili. Atas permintaan 60 Matoa, To Manurung pun menerima menjadi raja.

Menurut Lontara’ Attoriolongnge ri Soppeng, bahwa Latemmamala (Manurungnge ri Sekkanyili), mengadakan perjanjian pemerintahan dengan keenam puluh Matoa Soppeng yang diwakili oleh juru bicara Matoa Bila, Matoa Botto dan Matoa Ujung. Setelah calon raja dan wakil-wakil rakyat Soppeng tersebut akan mengadakan perjanjian yang akan menetapkan hak dan kewajiban bagi yang
memerintah dan yang diperintah yang rumusannya disepakati, disusun dan
diucapkan oleh tiga orang Matoa.

Maka calon Raja Soppeng didudukkan di atas batu yang datar tempat pelantikan Raja. Kemudian Matoa Bila, Matoa Botto, dan Matoa Ujung secara bersama-sama berkata:

“Iana mai kiengkang iya murape’ maelokkeng muamaseang, aja’ nammullajang, na ikona kipopuang. Mudongiri temmatimpakkeng, musalimuri temmadingikkeng, muwasse temmatipakkeng. Na ikona poatakkeng,
muwakkeng ri macawe ri mabela, namau anammeng nappatoromeng mueaiwikkeng tea toi”.

Artinya:

Adapun maksud kedatangan kami, wahai yang tidak dikenal: kami ingin dikasihani dan dikaruniai, janganlah menghilang, dan engkaulah yang kami pertuan, engkaulah yang menjaga kami dari gangguan, engkau selimuti kami agar tidak kedinginan, dan engkaulah yang memerintah kami dan membawa kami ke tempat yang dekat dan jauh. Walaupun anak dan istri kami, jika engkau tidak merestui, maka kami pun tidak menyukainya.

Menjawab Manurunge ri Sekkanyili : “Temmubaleccoroga’ mennang, temmusalangka lessoka, apa’ ia makkedamu mau anakku, pattaroku muteawi kutea toi ia makkuto, mau anakku pattaroku muteawi kua teai toi”.

Artinya:
Tidakkah engkau mengecohku kelak dan menurunkan dari takhtaku, karena kalian bersungguh-sungguh bahkan bersumpah menyangkali anak, jika titahku kalian tidak suka maka saya pun tidak suka, apabila anak kandungku kalian tidak menyukainya, akupun tidak menyukainya.

Setelah selesainya perjanjian sakral itu, maka majulah Matoa Bila sebagai wakil dari 60 matoa dan seluruh rakyat Soppeng bersumpah pula, sebagaimana yang dilakukan oleh Manurungnge ri Sekkanyili.

Bahwa apabila melanggar sumpahnya, maka tujuh turunan akan hancur lebur, setelah itu seluruh rakyat yang menyaksikan perjanjian itu sama berteriak sebagai tanda persetujuan.

BACA JUGA :  Bagian tubuh manusia yang disukai jin

Selanjutnya dipaparkan kembali dalam Lontara’ tersebut, bahwa rakyat mengatakan:

“puppurukka sorokawu, cokkong temmacolli, mareppa tello, marubu pinceng, bulu kutettongi bulu maruttung, pepping ulejja pepping maili kupaseng lettu riwija-wijakku”.

Artinya:
Kesusahan akan menimpa kami, bagai tumbuhan tak berpucuk, seumpama telur hancur berderai, seperti gelas yang remuk, dimanapun tempatku berdiri pun akan hanyut, dan akan kuwariskan pesanmu kepada anak turunanku kelak.

Demikian lah komitmen yang lahir antara Latemmamala dengan 60 pemuka rakyat Soppeng dan saat itulah Latemmamala menerima pengangkatan dengan gelar
Datu Soppeng yang pertama. Peristiwa ini merupakan awal terbentuknya kerajaan
Soppeng yang beridiri pada tahun 1261 Masehi.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Sulawesi Selatan, bahwa seorang pemimpin harus dipanggil atau disapa dengan kata-kata tertentu. Panggilan atau sapaan penghormatan tertentu hanya menjadi miliknya selama ia dapat memiliki sifat-sifat atau moral yang terpuji dan menjadi contoh kepada masyarakat.

Hal itu menunjukkan, bahwa pemimpin adalah orang yang mempunyai kuasa tertentu dengan cara-cara tertentu dengan mempengaruhi orang lain agar orang lain itu berbuat, berprilaku dalam rangka pencapaian tujuan tertentu.

Dari penegasan tersebut dapat dipahami bahwa seorang pemimpin harus benar-benar memberikan contoh yang baik terhadap bawahannya. seorang pemimpin haruslah bijaksana dalam mengambil keputusan sebagai contoh Latemmamala yang telah berhasil memimpin rakyat Soppeng serta melahirkan generasi-generasi yang berjiwa pemimpin.

Masyarakat Bugis pada umumnya meyakini adanya To Manurung pada setiap daerah masing-masing. Hal tersebut selain didukung oleh cerita rakyat dari turun temurun juga diperkuat oleh adanya lembaran sejarah yang direkam dalam bentuk catatan lontara epik La Galigo.

Dalam lontara epik La Galigo menjelaskan, bahwa beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan yang awal berdirinya ditandai oleh adanya To Manurung. Soppeng yang merupakan sebagai salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan juga dijelaskan dalam Lontara’ Attoriolongna Soppeng, bahwa asal mula berdirinya Soppeng sebagai kerajaan yang berdaulat juga ditandai oleh munculnya Latemmamala sebagai To Manurung di Sekkanyili pada tahun 1261 Masehi.

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan sebagian warga Soppeng memberikan pendefinisian berbeda tentang konsep To Manurung di Soppeng. Tentu ada yang berpendapat, bahwa tidak selamanya To Manurung diartikan sebagai manusia yang turun dari langit. Artinya To Manurung diyakini sebagai manusia yang datang di suatu tempat di mana masyarakat pada masa itu tidak mengetahui kedatangan asal usul manusia tersebut.

Selain pendapat tersebut juga terdapat
pendapat berbeda yang menjelaskan bahwa To Manurung diartikan sebagai sosokmanusia yang datang dari satu tempat yang lebih tinggi kemudian turun dari tempat tersebut menuju suatu wilayah untuk memerintah.

Tidak mustahil ada juga mengatakan, bahwa kepercayaan masyarakat dahulu tentang turunnya To Manurung dari langit itu dipengaruhi oleh keterbatasan berpikir masyarakat ketika itu untuk mencari dan mengetahui asas usul manusia yang dianggap To Manurungtersebut sehingga hanya disimpulkan bahwa manusia itu turunnya dari langit.

Konsepsi To Manurung oleh masyarakat Soppeng tersebut juga diungakapkan oleh beberapa peneliti, bahwa Latemmamala tidak berasal dari langit yang selama ini diyakini sebagai To Manurung, melainkan Latemmamala To Manurungngi ri Sekkanyili’ merupakan anak kandung dari Simpurusiang raja ke-III kerajaan Luwu.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Soppeng pada masa lampau pernah mengalami krisis kepemimpinan yang kemudian diperburuk terjadinya musim peceklik selama tujuh turunan. Di mana kondisi buruk Soppeng ketika itupun akhirnya terdengar sampai di Kerajaan Luwu, dan Simpurusiang sebagai Raja kerajaan Luwu ke-III ketika itu mengutus anaknya Latemmamala untuk dijadikan raja di Kerajaan Soppeng.

Dari penjelasan tersebut dapat dikemukakan, bahwa mitos selama ini yang berkembang di sebagian masyarakat soppeng yang meyakini To Manurung Latemmamala sebagai manusia utusan dari langit telah terbantahkan.

Artinya, Latemmamala ini bukan lagi dikatakan sebagai sosok manusia yang turun dari langit, akat tetapi ia sebagai utusan Raja ke III dari Raja Luwu. Latemmamala bukan lagi dikatakan sebagai mitos atau cerita rakyat yang diyakini sebagian masyarakat sebagai utusan dewa.

Meskipun demikian, Latemmamala merupakan tokoh pembaharu oleh masyarakat Soppeng. Sebagai tanda penghormatan terhadap perjuangannya, masyarakat Soppeng dikenal
arif dan bijaksana dalam menghargai perjuangan pendahulunya.

Hal itu ditandai dengan adanya bentuk ritual yang dilakukan sebagian masyarakat Soppeng untuk memberikan rasa terima kasih kepada Latemmamala, karena telah memberikan banyak perubahan kepada masyarakat. Suku Bugis Soppeng mampu mengejawantahkan nilai dan semangat tuah-tuah luhurnya sampai saat ini.

Rujukan:

1. Soppeng Zaman Prasejarah sampai Kemerdekaan.
2. Strategi Kebudayaan.
3. Mitos dalam Agama dan Kebudayaan.
4. Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis.
5. Sejarah Ringkas Kerajaan Soppeng.
6. Dan sumber lainnya.