Di dekade 1950-an, kata Andi Makmur Makka, orang-orang meludahi makam Arung Palakka adalah cerita keseharian. Hal itu terjadi karena Arung Palakka diidentikkan sebagai pengkhianat. Tetapi, penulis novel Rumpa’na Bone mengingatkan agar melihat sejarah berdasarkan situasi masanya di saat sejarah itu berlangsung. Tidak mengukur peristiwa masa lalu dengan kondisi sesudahnya.

Makmur Makka menyinggung Arung Palakka untuk menjawab pertanyaan Abdullah Alamudi. Abdullah meminta penjelasan soal Raja Bone Arung Palakka yang di buku sejarah dicap sebagai pengkhianat bangsa, karena bersekutu dengan Belanda melawan Sultan Hasanuddin. Arung Palakka yang dicap pengkhianat dihadapkan dengan Hasanuddin yang diangkat sebagai pahlawan oleh pemerintah Indonesia.

Cerita Andi Makmur Makka itu menggambarkan betapa penulisan sejarah Arung Palakka yang Belanda centris membuat pemahaman yang keliru terhadap Raja Bone di abad ke-17 itu.

“Saat itu Kerajaan Bone di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka ingin membebaskan rakyatnya dari penjajahan Kerajaan Gowa,” jelas sejarawan Anhar Gonggong dalam diskusi peluncuran novel Rumpag’na Bone, di The Habibie Center, Jakarta, 11 Maret 2015.

Anhar benar. Ketika itu belum ada bangsa Indonesia. Bone di abad ke-17 itu adalah sebuah bangsa dengan kehidupan rakyat yang menderita di bawah cengkeraman kekuasaan Gowa. Ketika Arung Palakka bersekutu dengan Belanda, kata Anhar Gonggong, tentu tak bisa dilihat dari kacamata Indonesia sebagai pihak yang melawan Indonesia.

Leonard Y Andaya mempunyai penjelasan lengkap soal ini lewat buku Warisan Arung Palakka. Arung Palakka masih berumur delapan tahun ketika Gowa menyerang Bone dan pada usia 11 tahun ia bersama keluarganya mengabdi di Istana Gowa.

Di Istana, Arung Palakka menjadi pelayan Karaeng Pattinggaloang. Ini keberuntungan baginya, karena Karaeng Pattinggalaong adalah tokoh penting di Kerajaan Gowa. Arung Palakka menyerap banyak hal darinya.

Di usia 25 tahun, ia menyaksikan adanya ribuan rakyat Bone yang dibawa ke Gowa untuk dikerjapaksakan menggali kanal atas perintah Sultan Hasanuddin. Bangsawan Bone yang tinggal di Istana Gowa pun kemudian dikerahkan bekerja bersama rakyatnya, ketika rakyat yang kerja paksa itu banyak yang melarikan diri. Harga diri merasa terinjak, Arung Palakka memimpin perlawanan, hingga akhirnya ia melarikan diri ke Batavia.

BACA JUGA :  Apa Makna Kajao ?

Di Batavia ia kemudian bersahabat dengan Cornelis Speelman yang dipecat dari jabatannya sebagai gubernur VOC di Coromandel pada 1665. Speelman terkena sanksi dari kasus perdagangan gelap yang ia lakukan. Speelman yang menjadi pimpinan pasukan yang akan menyerbu Gowa mengajak Arung Palakka terlibat di dalamnya. Sebelumnya, Arung Palakka telah membuktikan dirinya memberi bantuan meredam pemberontakan di Minangkabau.

Gowa kalah. Itu artinya menjadi pintu bagi kebebasan Bone. Memanfaatkan cerita rakyat Sinrili’na Kappala’ Tallumbatua sebagai salah satu bahan kajiannya, Andaya melihat kekalahan Gowa merupakan kemenangan rakyat dan harga diri masyarakat Bone.

Pada 1672, ia kemudian menjadi Raja Bone menggantikan pamannya. Ia tak mendudukkan dirinya sebagai orang yang ditempatkan Belanda di pucuk pimpinan kerajaan sebagai boneka. Arung Palakka kemudian dikenal sebagai raja yang mengangkat harkat Bone sebagai bangsa pelaut yang disegani.

Bone pun kemudian menjadi kerajaan yang disegani di Sulawesi hingga tiba masa keruntuhannya pada 1905. Raja Bone ke-31 ditangkap Belanda, tapi ia tak menyatakan menyerah. Ia tetap membakar semangat rakyatnya untuk tetap menegakkan marwah bangsa Bugis.

Maka, lima tahun setelah Raja Bone ditangkap pun, rakyat Bone masih membuat repot Belanda. Selama lima tahun itu perlawanan terus dilakukan rakyat Bone, meneruskan permintaan Raja Bone sebelum dibuang ke Jawa.

Membaca perlawanan Raja Bone pada 1905, Anhar Gonggong menilai perlawanan itu sebagai pengalaman yang bisa dijadikan bahan pelajaran untuk diamalkan di masa kini. Begitulah Anhar mengharap sejarah diberi makna.

“Artinya jika orang belajar sejarah tidak hanya mampu mengenang masa lalu, tetapi juga bisa mengambil pelajaran dari peristiwa di dalam sejarah itu,” ujar Anhar Gonggong.

Untuk menyerang Bone, Belanda mengerahkan 1.332 personel militer, 575 personel nontempur 316 kuda, dan berton-ton mesiu. Pun menurunkan tujuh kapal tempur.

BACA JUGA :  Sejarah Perjalanan Kasta di Kerajaan Bone

Perlawanan Raja Bone dinilai Anhar Gonggong menunjukkan kesetiaan rakyat kepada rajanya. Raja Bone juga memperlihatkan kearifan etika dan nilai patriotisme dengan memegang teguh nilai-nilai tradisi. Kearifan etika dan nilai patriotisme yang dianut masyarakat Bugis-Makassar seratus tahun lalu, menurut Makmur Makka, tidak berubah hingga kini.

Raja Bone bukan orang yang sekadar ingin mempertahankan posisinya sebagai raja. Raja Bone memperlihatkan usahanya mempertahankan kelangsungan hidup sebuah kerajaan dan adat istiadatnya. “Bukan persoalan rajanya yang mau dia pertahankan, tetapi persoalan bahwa sebagai raja, ia punya tanggung jawab,” ujar Anhar Gonggong.

Oleh karena itu, lanjut Anhar Gonggong, ketika ada sesuatu yang mau merusak kerajaan, maka apapun yang harus dipertahankan ya ia pertahankan. Raja Bone yang melakukan perlawanan pada 1905 adalah raja Bone ke-31.

Lapawawoi Karaeng Sigeri. Di mata Anhar Gonggong, ia telah memperlihatkan contoh pengalaman cara mengemban tanggung jawab pemimpin. “Pengalaman yang bisa ditangkap yaitu seorang pemimpin adalah seorang yang mampu melampaui dirinya,” tegas dia.

Seseorang yang menduduki sesuatu jabatan, kata Anhar Gonggong, perlu menampakkan bahwa dia punya tanggung jawab, tidak hanya memikirkan kedudukan diri sendiri. “Dalam konteks sekarang, pengalaman Raja Bone yang bisa dijalankan adalah bahwa pemimpin sekarang jangan cuma duduk di kursinya, enak, tapi lupa tanggung jawabnya,” ujar dia.

Bagi Anhar Gonggong, orang yang tidak memikirkan diri sendiri adalah orang yang telah melampaui dirinya dengan segala risiko. “Jika Raja Bone kala itu tidak melakukan perlawanan kepada Belanda, Belanda tak akan mengganggu Kerajaan Bone, dan Raja Bone tinggal memenuhi permintaan Belanda, dan tetap menjadi raja,” ujar menantu Sagimun MD, penulis buku Pangeran Diponegoro dan La Pawawoi Karaeng Segeri Raja Bone ke-31 itu.

Tapi, jika ia melakukan itu, berarti ia hanya membuat keputusan untuk diri sendiri. Pilihan yang ia lakukan adalah menolak memenuhi keinginan Belanda. Risiko yang harus ia terima adalah tidak hanya meninggalkan kedudukannya sebagai raja, tetapi juga dengan taruhan keseluruhan diri dan kerajaannya.

BACA JUGA :  Belajar Navigasi Bugis

Hingga akhirnya, pasukan marsose mengepung lokasi perlindungan terakhir Raja Bone setelah anaknya, Petta Ponggawae, terbunuh di medan pertempuran. Raja Bone pun keluar dari rumah panggung milik petani, menghindari perlawanan agar tidak jatuh korban banyak. Andi Makmur Makka menulis dalam novelnya,

“Keadaan itu tidak mereka kehendaki. Pemilik gubuk kebun yang masih siaga dengan parang melihat Arumpone kesulitan melangkah turun melalui anak tangga. Ia meletakkan parangnya dan meminta Arumpone naik ke punggungnya”.

Menggeondong Raja Bone, petani pemilik rumah, turun dari tangga rumah, menuju tandu yang sudah disiapkan Belanda. Pada 14 Desember 1905, Raja Bone tiba di Bandung beserta delapan pengikutnya. Sebelum berangkat ke Bandung, Gubernur Jenderal Hindia Belanda meminta Raja Bone mengehntikan seluruh perlawanan di Bone.

“Walaupun aku akan terdampar di luar bumi sekalipun asalkan tidak goyah keyakinanku kepada kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad, nabi saya. Karena itu adalah pendirianku, biar tubuhku menghadap atau tertawan, tetapi hatiku sudah pantang bersua dengan kompeni Belanda”.

Setelah enam tahun ditahan di Bandung, Raja Bone dipindahkan ke Batavia atas perintah Gubernur Jenderal. Ajal telah menunggunya, ia wafat di Batavia tanggal 17 Januari 1911 dan dimakamkan di pekuburan umum Mangga Dua. Atas usaha sejarawan Sagimun MD, makam Raja Bone bisa dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 10 Januari 1974 dengan upacara militer. Ia kemudian diberi gelar Lapawawoi Karaeng Sigeri Matinroe’ ri Jaraketta, selain gelar pahlawan nasional dari pemerintah.

Sejarah adalah pintu masuk untuk memahami keindonesiaan. Itulah sebabnya, menurut Anhar Gonggong, penulisan sejarah tak semata harus Belanda centris.

Untuk menghargai jasa-jasa beliau saya Mursalim mencoba membuat sebuah lagu yang mengisahkan perjuangan beliau dengan judul Rumpa’na Bone. Untuk mendengarnya Klik di SINI