Hari Pahlawan adalah hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan pemerintah Indonesia, dan diperingati pada tanggal 10 November setiap tahunnya di Indonesia.

Hari tersebut untuk memperingati Pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945, di mana para tentara dan milisi Indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Inggeris dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.

Hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Pahlawan Nasional adalah gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia. Gelar anumerta ini diberikan oleh Pemerintahan Indonesia atas tindakan yang dianggap heroik yang telah melakukan perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya atau mereka yang berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Kementerian Sosial Republik Indonesia memberikan sejumlah kriteria yang harus dimiliki oleh seorang individu, yakni:

Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya:

a. Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/perjuangan dalam bidang lain mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

b. Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.

c. Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

d. Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.

e. Perjuangan yang dilakukan mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

f. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.

g. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.
Tidak menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangannya.

h. Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Proses Seleksi Usulan Gelar Pahlawan Nasional:

Pemilihan dijalankan dalam beberapa langkah dan harus mendapatkan persetujuan pada setiap tingkatan, yaitu:

1. Sebuah proposal dibuat oleh masyarakat di kota atau kabupaten kepada walikota atau bupati, yang kemudian harus membuat permohonan kepada gubernur di provinsi tersebut.

2. Gubernur kemudian membuat rekomendasi kepada Kementerian Sosial, yang kemudian diteruskan kepada Presiden, yang diwakili oleh Dewan Gelar.

3. Dewan Gelar tersebut terdiri dari dua akademisi, dua orang dari latar belakang militer, dan tiga orang yang sebelumnya telah menerima sebuah penghargaan atau gelar.

4. Pada langkah terakhir, pemilihan dilakukan oleh Presiden, yang diwakili oleh Dewan Gelar, yang menganugerahi gelar tersebut pada sebuah upacara di ibu kota negara Indonesia.

Sejak 2000, upacara diselenggarakan setiap Hari Pahlawan pada tanggal 10 November.

Kerangka undang-undang untuk gelar tersebut awalnya menggunakan nama Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dibuat pada saat dikeluarkannya Dekrit Presiden No. 241 Tahun 1958.

Gelar pertama dianugerahi pada 30 Agustus 1959 kepada politisi yang menjadi penulis bernama Abdul Muis, yang wafat pada bulan sebelumnya. Gelar ini digunakan saat pemerintahan Sukarno.

Namun ketika Soeharto berkuasa, gelar tersebut berganti nama menjadi Pahlawan Nasional. Gelar khusus pada tingkat Pahlawan Nasional juga dianugerahkan. Pahlawan Revolusi diberikan pada tahun 1965 kepada sepuluh korban peristiwa Gerakan 30 September, sementara Sukarno dan mantan wakil presiden Mohammad Hatta diberikan gelar Pahlawan Proklamator pada 1988 karena peran mereka dalam membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

165 pria dan 14 wanita telah diangkat sebagai pahlawan nasional, yang paling terbaru adalah Abdurrahman Baswedan, Pangeran Mohammad Noor, Andi Depu, Depati Amir, Kasman Singodimedjo dan Syam’un pada tahun 2018.

Pahlawan-pahlawan tersebut berasal dari seluruh wilayah di kepulauan Indonesia, dari Aceh sampai Papua di bagian timur. Mereka berasal dari berbagai etnis, meliputi pribumi-Indonesia, peranakan Arab, Tionghoa, India, dan orang Eurasia. Mereka meliputi perdana menteri, gerilyawan, menteri-menteri pemerintahan, prajurit, bangsawan, jurnalis, ulama, dan seorang uskup.

N1
loading...