Kisahku dibalik pengungsian pasca gempa…
Hari-hari setelah musibah gempa berkekuatan 7.4 SR. Kami trauma, jiwaku terguncang, tidak berani masuk ke dalam rumah.

Ketika malam hari menjelang, terasa sangat mencekam. Dalam kegelapan saat akan tidur kami beralas karpet di jalanan kompleks rumah tanpa tenda.

Saat hujan kami bergegas berlindung menggigil kedinginan di garasi. Perasaan saya campur aduk, sampai kapan kami akan seperti ini?!

Di tambah lagi setiap saat istri saya terbangun kaget dengan keringat dingin bercucuran, dan tugas saya harus menenangkannya di tengah kekalutan saya sendiri disertai gempa-gempa susulan.

Makanan menipis, air bersih tidak tercukupi, setiap jam makan hanya bisa makan seadanya dan berbagi satu dengan lainnya.

Siang hari kami berbaring di bawah teriknya Matahari.
Allah menunjukkan Kuasa-Nya.
Kami hanya sebutir pasir dibandingkan DIA yang berkuasa atas Bumi dan Langit.

Kesombongan atas harta benda kami bukan apa-apa, tak ada gunanya saat terjadi bencana seperti ini. ALLAHU AKBAR

Jumat, tanggal 28 September 2018.
Pukul 17.30 wita, saya meninggalkan kantor karena akan mengikuti pertandingan Badminton pukul 18.30 wita. Yang seharusnya di saat itu saya masih harus tetap tinggal di kantor karena menunggu hasil closing sales.

Alhamdulillah waa Syukurillah, kalau saja hari itu namaku akan tercatat sebagai salah satu korban, seharusnya hari itu saya masih berada di kantor seperti akhir bulan-bulan sebelumnya, saya meninggalkan kantor sekitar pukul 19.30 atau pukul 20.00 malam.

Dan saya seharusnya akan salat Magrib berjamaah di Masjid yang berada di antara kantor saya dan Grandmall.

Astagfirullah, keesokan harinya saya lihat Mssjid tersebut ambruk sampai ke tanah.

Tiba di rumah 20 menit sebelum Adzan Magrib, saya mandi dan berkemas untuk berangkat ke Lapangan Badminton.

BACA JUGA :  Makna Peringatan Hari Jadi Bone

Saat Adzan berkumandang saya langsung melaksanakan salat di dalam kamar.

Setelah salat dan hendak mengambil perlengkapan dan tas Badminton saya duduk sebentar karena mata kiri saya berkedut kencang.

Sambil mengusap-usap mata dan membaca shalawat dalam hati saya terbersit tanya; “akan ada musibah apa?! Semoga saja bukan apa-apa”.

Baru saja berdiri, tiba-tiba dinding rumah bergemuruh hebat . Saya berteriak ALLAHU AKBAR!!! ALLAHU AKBAR!!! Berkali-kali sambil berusaha meraih gagang pintu.

Ketika sudah mencapai pintu yang biasanya terkunci di hari itu tidak dikunci, ponakan saya berlari ketakutan menabrak saya dari belakang dan kepala saya menghantam pintu.

Saya melihat mobil saya yang terparkir di depan rumah meluncur sampai ke rumah tetangga.

Saat melihat langit, ada pesawat Batik Air baru saja lepas landas dalam hati berkata; Ya Allah, pesawat itu baru saja menyelamatkan nyawa berapa ratus penumpang dari bencana ini.

Tiba-tiba tembok sekeliling kompleks ambruk, menimbulkan asap putih di seluruh kompleks.

Seketika tubuh saya gemetar hebat  teringat istri saya yang sedang berada dalam gedung kantor. Saya berteriak-teriak; ya Allah istriku!!! Istriku!!!

Saya mencoba menghubungi berkali-kali, panggilan failed. Mau menjemput dengan mobil, tapi jalanan tertutup tembok ambruk dan pohon yang tumbang.

Bergegas saya masuk ke dalam rumah, membereskan berkas-berkas dan barang-barang penting membawanya ke dalam mobil. Mengambil kunci motor dan hendak menjemput istri saya di kantornya.

tiba-tiba telepon dari istri saya tersambung saya mendengar istri saya berteriak ketakutan; “saya di Carrefour!!! Carrefour!!!” Saya membalas sambil berteriak; “tunggu di situ!!” Lalu sambungan telepon terputus.

Dalam kegelapan saya menerobos kendaraan yang lalu lalang tidak karuan, arus lalu lintas kacau. Tidak lagi jalan di jalur yang benar.

BACA JUGA :  Seputar : Terapi Air Laut

Di tengah kekalutan saya, dengan jantung yang berdebar kencang, saya melihat warna terang dari jilbab istri saya. Saya ingat tadi pagi dia memakai jilbab berwarna peach terang.

Saya melihat istri saya berlari ketakutan tanpa alas kaki langsung saya menghampiri dan menyuruhnya naik ke boncengan motor. Istri saya menolak membonceng karena katanya dia sedang berlari bersama 2 orang rekan kerjanya.

Masya Allah terbersit haru dalam hati melihat istriku, dalam keadaan kacau balau seperti ini dia masih sempat memikirkan keselamatan kedua temannya.

Akhirnya mereka berlari bersama dan saya mengikuti dari belakang.

Di perempatan tiba-tiba istri saya kehilangan kedua temannya. Sambil menangis berteriak histeris istri saya memanggil-manggil nama kedua temannya.

Saya menariknya naik ke atas motor untuk menunggu temannya di jalanan yang lebih lapang. Sambil terus menangis dia memanggil-manggil nama teman-temannya.

Tiba di jalan Veteran istri saya menemukan kedua temannya. Istri saya berkeras untuk berbelok ke Lapangan Walikota, tapi kedua temannya terus berlari ke arah Jalan Veteran atas.

Akhirnya mereka terpisah dan kamipun bergegas menuju Lapangan Walikota untuk menyelamatkan diri.

Dan entah apa yang akan terjadi kepada kami selanjutnya.

Maha Besar Allah, penguasa segalanya.
Kami berserah diri kepada-MU.
Ampunilah segala dosa-dosa kami ya Allah.

Dikisahkan oleh Korban Bencana Gempa Palu: A’ank Hafid