Hari Jadi Bone diperingati tanggal 6 April setiap tahunnya. Penetapan itu berdasarkan Peraturan Daerah (perda) Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan tersebut diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh pakar sejarah dan budayawan Bone.

Tanggal dan Bulan penetapan Hari Jadi Bone diambil berdasarkan Pelantikan  Raja Bone ke-16  Lapatau Matanna Tikka pada tanggal 6 April 1696. Masa Pemerintahnnya (1696-1714). Sedangkan penetapan tahunnya berdasarkan sejak Tahun 1330 masa pemerintahan Raja Bone ke-1 yaitu  Manurunge ri Matajang (1330-1358).

Jadi peringatan Hari Jadi Bone (ingat, bukan Hari Jadi Kabupaten Bone) meskipun hitungan tahunnya sejak 1330 namun proses pelaksanaannya baru dimulai tahun 1990. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone di antaranya sebagai berikut :

1.MATTOMPANG ARAJANG

Merupakan kegiatan menyucikan benda-benda Pusaka Kerajaan Bone yang terdiri dari : Keris Lamakkawa, Pedang (Alameng), Latea Riduni, dan senjata perang lainnya serta Salempang Emas (Sembang Pulaweng).

Penyucian benda tersebut dilaksanakan secara adat, dengan pelaksana para Empu Keris Pusaka yang disertai tata cara adat lainnya meliputi Sere Bissu yang diiringi musik “Gendrang Bali Sumange”, Ana” Beccing, dan Kancing.

Di masa lampau, kegiatan mattompang ini sebagai bagian upacara ritual untuk menghadapi hal-hal tertentu seperti ketika akan menghadapi perang, menghadapi wabah penyakit yang melanda kerajaan, dan guna mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang.

2. KIRAB KERAJAAN

Kirab kerajaan Bone adalah serangkaian prosesi adat yang digelar pada saat diperingatinya Hari Jadi Bone setiap tahunnya. Kirab ini biasanya diikuti oleh seluruh kecamatan dan desa se-Kabupaten Bone.

Dalam prosesi adat ini dipergelarkan sejumlah jenis dan susunan pasukan kerajaan Bone dimasa lampau, yang terdiri dari: Pasukan Petta PonggawaE (Panglima Perang), Pasukan Raja dan Permaisuri, Pasukan Bissu Kerajaan, Pasukan Laskar (Prajurit Kerajaan), Pasukan Ade Pitu (Tujuh Petinggi kerajaan), Pasukan Lawida, serta Pasukan Tokoh-tokoh Masyarakat etnis.

3. SENDRATARI MANURUNGE

Merupakan Sendratari yang menyajikan kisah sejarah awal terjadinya Pengangkatan dan Pelantikan Raja (Mangkau), yang sekaligus merupakan babakan awal terciptanya tata pemerintahan kerajaan I dimasa abad XIII pada tahun 1330 di Tana Bone. Sendratari ini mengisahkan, bahwa Tanah Bone pada abad XIII, kehidupan masyarakat serba tidak menentu.

Di antara kelompok masyarakat adat yang ketika itu masing-masing dipimpin oleh seorang ketua adat atau disebut Matoa, saling menjatuhkan dan memerangi satu sama lain. Sehingga suasana kehidupan menjadi karut-marut, di mana-mana para warga saling bermusuhan.

Tidak Ada lagi tatanan yang dapat mempersatukan rakyat Bone, kemiskinan terjadi, keterpurukan terjadi pada semua sendi kehidupan. Peristiwa ini disebut Sianrebale.

Peristiwa demi peristiwa terjadi tanpa terkendali, sehingga suatu saat terjadi satu keajaiban di mana bumii diliputi hujan lebat dan petir menyambar-nyambar sangat dahsyat dan menyilaukan mata.

Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian putih yang tidak diketahui asalnya (dalam kisah lontara ia disebut sebagai Pua’ Cilao, hujan dan petirpun reda.

Mengalami peristiwa ajaib ini para kelompok warga yang berperangpun menghentikan aktivitasnya melihat kedatangan seorang yang dianggap turun dari langit. Para wargapun kemudian memberikan salam hormat.

Namun sang pendatang ini menolak untuk diberi penghormatan, bahkan ia menyampaikan pesan bahwa manusia yang pantas bagi mereka untuk diberi penghormatan buakanlah ia, melainkan ada seseorang yang lain dan kelak akan menjadi pemimpin mereka di Tanah Bone. Dialah yang akan menjadi raja (Mangkau) I di Tanah Bone.

Jelang beberapa lama muncullah seseorang dengan berpakaian lengkap yang didampingi oleh para pengapitnya berikut sejumlah Bissu sebagai pasukan pengawal.

Dialah Sang Manurunge ri Matajang bergelar Mattasi Lompo’e. Dan setelah duduk bersama para Tokoh Pemimpin Rakyat (Matoa), maka para Matoa bersepakat mengangkat Manurunge ri Matajang sebagai Mangkau (raja) I di tanah Bone. Sehingga sejak itu pada tahun 1330 berdirilah Kerajaan Bone.

4. TARI ALUSU

Tari yang digelar untuk penjemputan tamu kehormatan dari kerajaan lain. Diperagakan pada awalnya oleh para Bissu kerajaan pada masa pemerintahan Raja Bone ke-10 We Tenri Tuppu, MatinroE ri Sidenreng (Kabupaten Sidrap sekarang ini). Tari ini biasa juga disebut Sere Bissu.

Kemudian pada masa berikutnya dipergakan dalam bentuk tari yang disebut Tari Alusu yang diperagakan oleh dara-dara di lingkungan bangsawan.

5. TARI PAJAGA ANDI

Lahir pada masa Raja Bone We Fatima Banri, ia juga selaku pencipta pakaian “Waju Ponco/waju Tokko” yang dikenakan bagi para andi-andi seperti sekarang ini.

Tari pajaga andi ini diperagakan pada saat “Majjaga” di Saoraja untuk menciptakan suasana hiburan bagi raja ketika sedang beristirahat.

6. TARI MARANENG SONGKOK RECCA, SONGKOK TO BONE

Merupakan tari kreasi daerah Bone yang menggambarkan cara menganyam Songkok Recca, Songkok To Bone yang melambangkan suatu kegiatan mulai dari pengambilan bahan (dari ure’ Ca/serat lontar) sampai menjadi bentuk songkok.

Tarian ini diperagakan oleh anak dara dan Kallolona Tanah Bone dengan kostum Adat Bugis Bone, di hadapan para tamu kehormatan daerah. Instrumen tarian ini adalah gendang, gong, kecapi, suling, dan peralatan lainnya.

7. GENDRANG SANRO

Dibawakan oleh para Sanro (dukun) untuk meminta restu dewa guna menolak bencana yang diperkirakan akan menimpa kerajaan.

Selain itu juga diperagakan dalam upacara adat seperti: Acara Menre’ Bola (menempati rumah baru), Mappakkulawi (Maruwwae lawi) yaitu selamatan anak yang baru lahir.

Acara ini sudah ada sejak zaman kerajaan, dilakukan oleh para Sanro yang dilakukan setelah berakhirnya peranan Bissu di lingkungan kerajaan.

Para Sanro ini bisa dari laki-laki maupun perempuan. Alat yang digunakan : gendang, anak beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan daun lontar).

Komunitas genrang sanro saat ini ada di desa Ujung, Padacenga, dan Matajang kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone.

8. GENDRANG BAJO

Diperagakan oleh oleh komunitas suku Bajo, yang memberikan gambaran situasi kehidupan suku Bajo di pesisir pantai. Genrang Bajo sering disebut juga sebagai Genrang Pabbiring (pesisir).

Komunitas gendrang Bajo saat ini ada di Dusun Bajo Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur Kab.Bone.

9. GENDRANG BALI SUMANGE

Diperagakan oleh rumpun bangsawan untuk mengiringi upacara adat pernikahan, upacara malam pernikahan adat Bugis Bone lingkungan Saoraja.

Genrang Bali Sumange biasa juga digelar pada acara pernikahan antar rumpun bangsawan, mulai dari mappettu ada, tudang penni, sampai hari pernikahan (esso botting).

10. GENDRANG PANGAMPI

Dibunyikan saat warga menjaga padi, sehingga hama dan burung, pengganggu pemakan padi menjauh dari tempat/sawah. Alat yang dipakai : alat bambu dan kayu pilihan, biasanya diiringi dengan ” katiting ” (dari batang padi).

11. ZIARAH KE MAKAM RAJA-RAJA

Pada kegiatan ini para SKPD dan Forkopimda Bone, Tokoh masyarakat mengunjungi atau ziarah ke makam raja-raja Bone.

N1
loading...