Suka atau tidak suka semua orang termasuk saya dan Anda yang hidup di dunia ini pasti mengalami hal yang satu ini, “Perpisahan”. Ya kata itu merupakan kata yang mempunyai probabilitas besar untuk terjadi pada kita semua.

Dari kalimat diatas, dapat ditafsirkan bahwa perpisahan itu sejatinya berujung pada kesedihan, walaupun hanya sedikit saja. Tapi tidak semua orang berpendapat seperti kalimat “Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap perpisahan pasti menyisakan luka dan kepedihan”

Pisah dimaknai sebagai menjauhnya jarak suatu benda dari objek yang mengenainya. Secara harfiah seolah-olah perpisahan itu hanya perpisahan sebuah benda dengan benda lain sehingga jaraknya terpaut lebih jauh dari kedudukanya semula.

Perpisahan adalah menjauhnya suatu ikatan batin dari seseorang terhadap seseorang lainnya ataupun dengan objek yang mempengaruhi batin seseorang itu atau berpisahnya seseorang selamanya tanpa pernah bisa berkomunikasi lagi.

Di sisi lain, perpisahan bisa membuat seseorang bangkit menjalani hidup, karena perpisahan itu sebuah kepastian sehingga sebelum perpisahan itu datang maka gunakanlah masa bersamamu itu dengan penuh kenangan bahagia”

Senge’ka Golla na usengeki kaluku, Na to’ sirampe ri mannenungeng.

Narekko massarakki baja sangadie, napoleiki uddani congaki ribitarae tosiduppa mata ri ketengnge

Rekko pale meloki missengngi karebaku, takkutanangngi pasekku ri anging labu kessoe

Engkatu bunga-bunga sitakke utanengakki, narekko makellei, daunna tabolorangmanika kasi’na’ wae mata

Sarekoammengngi engka mancaji passengereng pallawa uddani.

Sejak dahulu, orang Bugis dikenal halus dalam mengungkapkan kata-kata, biasa disebut “alusu berekkada atau alusu werekkada”. Dalam mengungkapkan segala sesuatunya selalu memilih diksi yang paling tepat, bahkan pelompatan imajinasi tak hanya satu kali dalam pengungkapannya.

Dalam puisi bugis kadang menggunakan lompatan pemikiran hingga tiga kali untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh penyair.

Dalam prosesi melamarpun kadang digunakan puisi atau dalam bahasa bugis dikenal sebagai elong untuk mengetahui apakah lamarannya diterima atau tidak.

Ungkapan yang dipilih tak langsung mengena kepada objek atau tujuan pembicaraan, tetapi sehalus mungkin menyinggung kepekaan rasa yang dimiliki petutur.

Sama halnya dengan pesan di atas yang merupakan sebuah pesan seorang lelaki kepada kekasihnya, pesan yang sangat dalam jika kita mampu untuk memaknainya.

Sebuah pesan yang tak hanya menggambarkan perasaan secara gamblang, tetapi melalui proses pengimajinasian yang cukup dalam.

Dalam proses pemaknaannya nanti, kita akan melihatnya dari dua sisi yaitu sisi kebahasaan dan sisi maksud.

Senge’ka Golla na usenge’ki kaluku, Na tosirampe ri mannenungeng.

Dalam pengartian bebas baris tersebut berarti, Senge’ dalam arti bahasa bugis artinya kenang, tetapi dalam puisi ini berarti beri. Sehingga arti baris pertama yaitu. Beri saya gula dan akan saya beri kelapa, sehingga kita akan saling mengingat dalam keabadian.

Secara maknawi atau lugas baris tersebut bermakna jika engkau memberikan saya kebaikan maka saya akan balas dengan kebaikan.

Na to’ sirampe ri mannenungeng, berarti kita akan saling mengingat dalam keabadian, ini merupakan efek dari sikap saling memberi antara orang yang saling dikasihi yang termaktub pada kalimat sebelumnya.

Narekko massarakki bajae sangadie, napoleiki uddani congaki ribitarae tosiduppa mata ri ketengnge

“Jika kita berpisah esok atau lusa, tiba-tiba rindu itu datang maka tataplah langit di malam hari dan temukan tatapanku di bulan”

Ini merupakan metafora sang penyair yang mencoba menenangkan kekasihnya jika nantinya mereka berpisah. Ia mencoba meyakinkan jika kekasihnya merindukannya maka cukup dengan menatap bulan yang bersinar di langit malam maka kau akan menemukan aku di sana.

Rekko pale meloki missengngi karebaku, takkutanangngi pasekku ri anging labu kessoe

“Jika kau memang ingin tahu kabarku, maka bertanyalah pada anging senja yang membawa pesanku padamu”

Angin senja atau angin malam di kalangan masyarakat bugis memiliki unsur mistik. Entah itu hanya mitos atau apa, tetapi hal tersebut telah dipercaya secara turun temurun.

Bahkan orang hamil juga dilarang keluar jika magrib, karena mereka takut jika angin malam membawa roh-roh jahat dan mengganggu janin dalam kandungan wanita tersebut.

Tetapi dalam elong tersebut ia meyakini bahwa angin malam mampu menyampaikan pesan kepada orang yang terkasih, sehingga jika ia ingin mengetahui kabar kekasihnya maka cukuplah dengan bertanya tentang pesan yang ia titip pada angin malam.

Engkatu bunga-bunga sitakke utanengakki, narekko makellei, daunna tabolorangmanika kasi na’saba wae mata

Sarekoammengngi engka mancaji passengereng pallawa uddani.

Larik terakhir adalah bait yang sangat memunculkan sisi elegi dalam elong ini. Larik ini berarti “Ada setangkai bunga yang saya tanam untukmu, jika daunnya layu, maka siramlah ia dengan air matamu, agar dapat menjadi pengingat dan pelepas rindu”

Secara keseluruhan maka larik ini bersinggungan dengan larik berikutnya, hal ini sesuai dengan pendekatan yang diteorikan oleh Bram dan Ferdinand De Sausurre yaitu pendekatan objektif.

Larik ini mengandung makna jika kabarku tak baik maka bunga yang kutanam untukmu akan layu, tangisilah dan doakanlah supaya dapat menjadi pengingat dana pelepas rindu.

Sang kekasih menitip sebuah tanda kepada kekasihnya jika naninya dalam jauhnya ia mendapat susah, maka bunga itu akan layu sehingga ia berharap didoakan dalam tangis oleh kekasihnya.

Secara komprehensif puisi atau elong ini merupakan pengungkapan rasa kasih sayang dan takut kehilangan orang yang ia sayangi, dan jika nantinya mereka berpisah mereka berharap akan saling mengingat dengan cara mereka. Metafora bulan, bunga, angin malam, dan langit merupakan metafora penyampai pesan.

Sebenarnya masih banyak ungkapan-ungkapan Bugis yang masih eksis hingga saat ini namun tidak banyak yang ingin berusaha mengetahuinya kecuali bagi mereka yang secara kebetulan dalam proses peneltian akademik.

N1
loading...