Namanya kurang dikenal dalam pemikiran politik di Indonesia. Maklum, di Indonesia, seperti halnya dengan banyak negara dunia ketiga lainnya, tradisi pemikiran barat sangat dominan dan menghegemoni.

Banyak pemikir cemerlang dari Bugis seperti BJ Habibie tokoh intelektual, teknokrat, dan demokrasi. Beliau bahkan disebut sebagai tokoh dunia. Namun, tokoh yang akan kita bahas di sini, kurang dikenal dalam pemikiran politik yang dipelajari di sekolah-sekolah dan Universitas.

Dia adalah Kajao Laliddong, seorang pemikir dan negarawan ulung dari tanah Bugis. Sebagiannya menyebut Kajao Laliddong sebagai “bintang cemerlang tanah Ugi.” Pemikiran politik dan konsep ketatanegaraannya dianut dan dijalankan oleh sejumlah kerajaan di Bugis.

Kajao Laliddong adalah sebuah gelar, yang artinya: orang cerdik atau pandai dari kampung Laliddong.

Nama aslinya adalah La Mellong. Ada yang menyebut La Mellong lahir pada tahun 1507, tetapi sumber pasti menyebut dia berkiprah antara abad ke-16 dan 17.

Konon, sebuah pohon yang tumbuh besar di desa Kajao Lalliddong disinyalir sebagai tongkat Kajao Lalliddong. Penduduk setempat menyebutnya pohon Nyalle dan masih ada sampai saat ini.

Kajao Lalliddong diperkirakan sezaman dengan filsuf politik Italia, Nicolo Machiavelli. Akan tetapi, patut kita catat, bahwa ketika Machiavelli mengabaikan etika atau moral dalam pertarungan politik, maka Kajao Laliddong justru menganjurkan agar penguasa lebih jujur dan bijaksana.

Pemikiran Kajao Laliddong mengenai adat, peradilan, yurisprudensi, dan tata pemerintahan sudah cukup lengkap. Bahkan, pemikiran Kajao Laliddong itu mendahului “kode Napoleon”.

Pemimpin Jujur dan Bijaksana

Kajao Laliddong diangkat menjadi penasihat kerajaan Bone pada masa pemerintahan La Tenri Rawe Bongkange. Pada masa pemerintahan ini, kerajaan Bone mengalami perkembangan sangat pesat berkat sumbangsih pikiran Kajao Laliddong.

Ia mencoba menanamkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh raja dan rakyat, yaitu:
Lempu’ (kejujuran),
Acca (kepandaian),
Asitinajang (kepatutan),
Getteng (keteguhan),
Reso (usaha,kerja keras),
Siri’ (harga diri).

Pada suatu hari, sebagaimana dikisahkan dalam Lontara, raja Bone pernah bertanya kepada Kajao Laliddong :

aga tanranna namaraja tanaé” (apa tandanya apabila negara itu menanjak kejayaannya)?”

Kajao pun menjawab:

dua tanranna namaraja tanaé Arungponé, seuwani malempu namacca Arung Mangkaué, maduanna tessisala-salaé.

(Dua tanda negara menjadi jaya, pertama, raja yang memerintah memiliki sifat jujur lagi pintar, dan kedua, tidak bercerai-berai/bersatu).

Kejujuran dan kebijaksanaan menjadi kunci kepemimpinan yang ditekankan oleh Kajao Laliddong. Ia punya kemiripan dengan filsuf besar Yunani, Plato, yang senantiasa menekankan kebaikan dan kebijaksanaan dalam inti filsafatnya. Padahal, hampir bisa dipastikan, Kajao Laliddong tidak pernah bertemu dengan Plato.

Ini menarik, setidaknya untuk membuktikan bahwa peradaban di Timur sudah sangat maju jauh sebelum kedatangan kolonialisme.

Alih-alih para kolonialis datang untuk membuat bangsa Timur menjadi beradab, justru menghentikan perkembangan maju tersebut dan malah mempertontonkan kekejian kepada dunia timur.

Berbicara Soal Demokrasi

Gagasan-gagasan Kajao Laliddong sangat dekat dengan demokrasi. Dalam gagasan-gagasannya, sang Kajao jelas sekali menentang kekuasaan raja yang tidak terkontrol dan tidak dibatasi. Seorang raja, di mata Kajao Laliddong, tidak boleh terpejam matanya siang dan malam untuk memikirkan kebaikan negerinya.

Jika biasanya raja digambarkan berkuasa mutlak, dan karenanya kata-kata atau perintahnya tidak bisa dibantah, maka Kajao Laliddong sudah menganjurkan kepada raja-raja Bugis untuk senantiasa mengkaji segala sesuatunya sebelum bertindak, pandai berbicara dan menjawab pertanyaan, dan memilih utusan yang senantiasa dapat dipercaya.

Bayangkan, pada abad ke-16 dan 17, jauh sebelum revolusi Perancis meletus di Eropa, kerajaan-kerajaan Bugis sudah mengenal pembatasan kekuasaan raja. Sementara di Eropa raja-raja masih memerintah dengan gaya absolutisme.

Di kerajaan Bone, sejak Manurunge hingga Raja Bone terakhir La Pabbenteng, tidak semua kerajaan menggunakan penasihat, atau biasanya disebut Kajao. Akan tetapi, kekuasaan kerajaan sudah sangat dibatasi oleh dewan adat. Dewan adat dapat membatalkan keputusan seorang raja.

Menariknya, ketika Kajao Laliddong menjadi penasihat, Ia telah berani mengatakan:
Luka taro arung telluka taro ade, Luka taro ade telluka taro anang (keputusan raja dapat dibatalkan oleh kehendak dewan adat, namun ketetapan dewan adat dapat dianulir oleh kesepakatan rakyat banyak).

Terlepas bagaimana kerajaan Bone mempraktikkannya, tetapi sangat menarik bahwa seorang intelektual Bugis sudah berbicara mengenai pengutamaan rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan keputusan tertinggi.

Sistem Norma (Pangngadereng)

Pada umumnya kerajaan-kerajaan Bugis sudah menerapkan konsep normal sosial yang disebut “pangngadereng”. Konsep ini diturunkan dari pemikiran Kajao Laliddong, meliputi: ade’ (adat), bicara (pengadilan), rapang (yurisprudensi), dan wari (strata sosial).

I. Ade’ (adat) mengandung tiga hal, yakni :
1. Ade pura Onro (norma yang bersifat permanen atau menetap tidak mudah untuk diubah).
2.  Ade Abiasang (sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia).
3. Ade Maraja, (sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi).

II. Bicara adalah konsep menyelesaikan persoalan atau pertikaian dalam masyarakat bugis. Mirip sistim pengadilan di jaman sekarang. Dalam fikiran Kajao Laliddong, setiap pengambilan keputusan terkait sengketa atau pertikaian harus diputuskan secara objektif, tidak berat sebelah.

BACA JUGA :  Sejarah Saoraja Bone

III. Rapang adalah bahwa sesuatu keputusan dapat diperbandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau dengan keputusan adat dari negara tetangga.

IV. Wari adalah sistem yang mengatur keberadaan setiap orang dalam sebuah sistem sosial berikut hak dan kewajibannya menurut posisi sosialnya.

Konsep “pangngadereng” terus berkembang menjadi konsep umum kerajaan-kerajaan di Bugis. Hanya saja, ketika pengaruh Islam mulai masuk ke wilayah ini, konsep pangngadereng ini ditambah dengan Sara’ (syariat).

Sehingga konsep pangngadereng lengkap menjadi ade’ (adat), bicara (pengadilan), rapang (yurisprudensi), dan wari (strata sosial), dan sara (syariat).

Perjalanan Panjang Sang Pemikir

Dekade kemunculan Kajao Laliddong diakhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, seangkatan bahkan lebih duluan dengan fase Karaeng Pattingngaloang di Tallo yang dikenal seorang cendekiawan besar Makassar yang menciptakan Teropong.

Penelusuran dengan menggunakan analisis kejadian dalam silsilah raja-raja Bugis, khususnya Bone, menunjukkan bahwa masa keberadaan Kajao Laliddong, ketika masih berlaku sistem pemerintahan ‘Matoa’ sebutan kepala kaum atau komunitas. Sebutan Matoa kemudian berkembang menjadi Arung atau Datu dalam suatu tatanan pemerintahan yang sudah terstruktur.

Dewan adat yang dikenal ‘ade pitu’ di Bone, belum terbentuk ketika ayah Kajao Laliddong berkuasa sebagai ‘Matoa Cina’ yang merupakan kerajaan tua jauh sebelum Kerajaan Bone berdiri melalui kemunculan To Manurung di Matajang, sekitar abad ke-14. Matoa Cina, suatu wilayah otonom yang kemudian juga bergabung dalam Kerajaan Bone.

Cina, memang suatu nama wilayah yang selalu disebutkan dalam Buku La Galigo, sekalipun ada pengertian lain bahwa Cina yang dimaksudkan adalah Negara Cina yang sekarang.

Tetapi dalam berbagai diskusi budaya tentang La Galigo, kuat dugaan bahwa Cina yang ada di Bone dan merupakan kampung kelahiran Kajao Laliddong, adalah serangkaian negeri-negeri yang dijelajahi Sawerigading ketika berlayar ke negeri Ugi.

Alur perjalanan Sawerigading memburu We Cuddai, dapat diidentifikasi dari Cina yang ada di Pammana, Wajo dulu dikenal Cina riaja, sedangkan yang di Bone dikenal Cina Rilau.

Bahkan pada sekitar wilayah yang dikenal pusat kerajaan Cina Rilau (Bone), sekarang ini dapat ditemukan berbagai bukti lapangan. Misalnya, Kuburan Bissu, Sumur Bissu, Makam Purba ( Masih membujur ke Barat), bahkan di puncak Gunung Cina masih ada alat pernujuman yang dikenal sebagai alat permainan tradisional yaitu ‘Batu Galaceng.’

Mengukir sejarah pada abad XVI atau XVII di Sulawesi Selatan, merupakan suatu prestise gemilang yang hingga kini masih sulit ditandingi. Sosok seorang tokoh bergelar Kajao Laliddong, penasehat Raja Bone, memang patut dikenang, dicatat pemikirannya serta diungkapkan nilai-nilai yang dikandung maksud dari berbagai pesan yang diungkapkannya.

Sebagai seorang anak penggembala dari Kampung Laliddong, konon hobbinya makan siput hingga ada legenda disana sebuah gunung terbentuk dari ampas siput makanan Kajao Laliddong. Kini lokasi Kampung Laliddong, Kampung Kajao Laliddong yang tidak diketahui nama aslinya itu, masuk Desa Padangloang, Kecamatan Cina, sekitar 17 km sebelah Barat Watampone.

Sebagai seorang rakyat biasa yang hanya dikenal anak dari Matoa Cina, maka sudah pasti tidak mungkin dapat menginjak Istana kerajaan secara bebas, kalau tidak memiliki keajaiban dalam dirinya. Kalau tidak karena hak-hak istimewa yang diberikan oleh Arung Mangkau, sebutan sebagai kepala pemerintahan Kerajaan Bone.

Sebab meskipun feodalisme tidak dikenal dalam lingkungan Kerajaan Bone di masa itu, namun tatanan adat istiadat mengajarkan untuk menghargai posisi Raja dan lingkungan Istananya, tidak memperkenankan orang-orang yang bukan anggota perangkat kerajaan – para pegawai atau sanak keluarga, bebas masuk keluar lingkungan Istana.

Sekali lagi, Kajao Laliddong, salah satu yang teristimewa karena sekaligus diberi tempat tinggal dalam lingkup Istana. Bebas masuk keluar lingkungan Istana.

Kajao, sebutan bagi seorang cendekiawan di Kerajaan Bone, bukan sebuah nama yang karena kebetulan saja dia orang tua, seperti pemahaman sekarang ini. Kajao, seperti juga Boto bagi Kerajaan Gowa dan To Acca di Kerajaan Luwu, adalah pemberian gelar karena kelebihan-kelebihan yang melebihi kebanyakan orang tua lainnya. Di Kerajaan Bone, justru merupakan posisi istimewa, buktinya tidak ada lagi sebutan Kajao sesudah Kajao Laliddong.

Kajao Laliddong, dipilih dan diangkat sebagai penasehat Raja, sekaligus sebagai pemikir ahli untuk pemerintahan Kerajaan Bone. Dan jika Ia dipilih, tentu saja bukan karena nepotisme Raja apalagi KKN, istilah sekarang ini. Sebab seperti saya kemukakan sebelumnya, Ia berasal dari lingkungan strata masyarakat bawah dari sebuah kampung di luar pusat kegiatan Kerajaan Bone. Sulit sekali menemukan silsilah Kajao Laliddong, sebab tidak diketahui nama aslinya serta juga konon tidak punya turunan, malahan dianggap sebagai Bissu.

Dibalik pemikiran Kajao Laliddong yang para pembaca dapat menyimaknya dalam uraian buku ini, adalah justru sikap Raja Bone dalam menunjuk seorang penasehat dan pemikir kerajaan. Cara merekrut seorang penasehat, tidak banyak ditemukan dibalik cerita-cerita kerajaan di masa lalu, kecuali bahwa seorang Raja apabila mendengar ada orang pintar dinegrinya, dipanggilnya kemudian di uji dalam bentuk dialog dan ujian ketangkasan, sebutlah semacam fit and propert tes, sekarang ini yang langsung dilaksanakan oleh raja sendiri.

BACA JUGA :  Perang Bone Pertama Tahun 1824

Apabila dalam dialog itu terungkap pernyataan yang menurut raja, ada sesuatu yang mengesankan, misalnya kecerdasannya dalam menterjemahkan gejala alam, kepiawaian menjawab pertanyaan, kepandaian merangkai kata-kata dan menggunakan symbol-simbol makna, maka terpililah yang bersangkutan. Coba kita simak sebuah legenda yang menyebutkan tentang episode ujian yang harus dilalui Kajao Laliddong.

Raja Bone menguji La Mellong, nama biasanya sekalipun belum nama aslinya, karena itu juga identik dengan nama kampong asalnya, yakni disuruhnya mengumpulkan orang buta 40 orang. Padahal dapat dibayangkan, sekarang saja dengan penduduk Bone sekitar 800.000 jiwa sulit mencari orang buta 40 orang apalagi, di abad XVII.

Tat kala sudah didepan Raja Bone, Ia ditanya : “ Apakah kamu sanggup membawakan saya empat puluh orang buta ke Istana ini ?” Mendengar permintaan Raja Bone itu, La Mellong terdiam, kemudian keluarlah dari Istana. Ideanya kemudian muncul dengan cara menarik Sebatang Bambu yang masih ada tangkai dan daunnya keliling kampung hingga depan Istana Raja Bone. Setiap orang yang dilewati bertanya, “Apa yang kau lakukan La Mellong,” maka yang bersangkutan lantas disuruh ikut ke Istana, hingga tiba didepan tangga, seorang pengawal bertanya pula. “Apa yang kau bawa itu Lamellong.”

La Mellong mengitungnya sebagai orang ke empat puluh yang kemudian ditunjukkan pada Raja Bone, bahwa mereka semua yang ikut padanya hingga didepan tangga Istana, adalah orang buta. “Semua itu Orang Buta Puangta Mangkau, sebab dia tidak lihat kalau saya menarik sebatang bambu.” Sang Raja terkesan dan hampir saja bertanya pula tentang apa yang dilakukan oleh La Mellong. “Mereka bertanya pada saya, apa yang saya bawa Puangta, padahal jelas bambu, berarti mereka orang buta.”

Buta dalam pengertian dan penjelasan La Mellong alias Kajao Laliddong, bukan hanya mata yang rusak, sebab biji mata adalah alat untuk melihat. Yang sesungguhnya melihat adalah hatinya. “ Mereka membelalakkan matanya, tetapi pikirannya buta Puangta, dan jauh lebih berbahaya bagi kemajuan negri,” urainya. Sang Raja Bone terkagum-kagum. Dan banyak lagi cerita-cerita yang bersifat anekdot tetapi mengandung kebenaran, pesan tentang ajaran budaya, dllnya. Cerita lisan ini pun masih banyak beredar di masyarakat Bugis di Cina, Bone, sekarang ini.

Hanya saja sebagai cerita yang mungkin bisa bersifat dongeng, banyak kemiripan tema dengan cerita diberbagai wilayah bukan hanya dinegri-negri Bugis. Coba saja kalau dibaca cerita lucu tentang Abu Nawas yang suka memperdaya Raja Irak, kita lantas menghayalkan persamaannya dengan berbagai cerita cendekiawan masa lampau di wilayah ini. Bagi Orang Sidenreng, cerita tentang Orang Lise, kampung awal Nenek Mallomo, banyak sekali cerita lucunya namun penuh informasi tentang pengetahuan.

Seleksi seorang menjadi Kajao, tidak sekadar diukur kepintarannya dalam konsep Kerajaan Bone. Sebab sebagai KAJAO bukan hanya penasehat kerajaan, melainkan juga sebagai JURU BICARA dan DIPLOMAT negara sekaligus sebagai penujum. Dalam melaksanakan tugas diplomasi, kekuasaan dan kewibawaan kerajaan terletak diujung lidah seorang Kajao. Banyak sekali legenda Kerajaan Bone, diukuir secara manis oleh Kajao Lalioddong, atas keberhasilannya menjadi diplomat keberbagai negara kerajaan terdekat, seperti Wajo, Soppeng dan Sidenreng.

Pintar saja tidak cukup bagi pemahaman Kajao Laliddong, namun harus menjadi cerdas. Dari kecerdasan ada sikap berfikir yang bijak. Kepiawaian dan kesigapan berpikir menjadi faktor utama, karena kondisi lingkungan yang tidak boleh terlalu lama mencari argumen apabila ada keinginan raja yang segera harus ditanggapi apalagi kalau terkait dengan keadaan genting kerajaan.

Sebab memang waktu itu, Bone sedang berjayanya dan selalu menjadi inceran Kerajaan Gowa yang terus menerus mengadakan invasi keberbagai wilayah agar menjadi Kerajaan terbesar di jasirah selatan Pulau Sulawesi. Bone dianggap sebagai kerajaan rival terberatnya.

Peran penasihat Raja yang sekaligus pemikir kerajaan, sangat besar dalam mempengaruhi penetapan keputusan tentang sikap kerajaan menanggapi berbagai masalah.

Terkhusus bagi Raja selaku kepala pemerintahan, apabila salah pengambilan keputusan maka pasti kerajaan akan hancur dan rakyat korbannya. Tetapi coba kita lihat kiprah Kajao Laliddong yang gemilang dalam mengarsiteki hegemoni kekuasaan Kerajaa Bone abad ke-17.

Perjanjian antar kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo yang dikenal ‘Lamumpatue’ di Timurung, adalah berangkat dari gagasan Raja Bone, agar jangan ada perang antar kerajaan tetangga, bahkan lebih baik bersatu menghadapi serangan dari Makassar. Lagi-lagi Kajao Lalliddong berperan penting.

Tellumpoccoe sebagai persekutuan dari Kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng, disatukan dalam perjanjian ‘Lamumpatue’ itu, kemudian dikembangkan oleh Arung Palakka melalui La Patau Matanna Tikka, menjadi persekutuan Tellu Boccoe yakni, Bone, Luwu, dan Gowa.

Persekutuan inilah yang sekarang terwarisi menjadi Sulawesi Selatan sehingga wajar saja kalau kepemimpinan sekarang ini tidak terlepas faktor sejarah budayanya dengan keberadaan Tellu Boccoe pada abad ke17.

Makna seperti itulah yang kiranya perlu dijadikan pengalaman berharga untuk sekarang ini, sebab banyak kepala pemerintahan tidak mengangkat penasihat atau staf ahli, lantaran mungkin tidak mau dicampuri dalam penetapatan keputusannya. Ada juga yang mengangkat staf ahli, tetapi hanya simbolik sebab rekrutmennya berbau kolusi dan nepotisme belaka.

BACA JUGA :  Perang Bone Kedua Tahun 1825

Yang lebih tragis, kalau istri kepala pemerintahan menjadi dominan dalam memberikan pertimbangan suaminya, celakalah keadaan negeri, sebagaimana dipesankan juga Kajao Laliddong. ‘Jangan meminta pertimbangan pada perempuan kalau menyangkut keadaan negara menyatakan perang, karena wanita lebih mengutamakan perasaannya ketimbang perang.’

Di masa pemerintahan Kerajaan Bone, sejak era Tomanurung hingga Raja Bone terakhir, tidak semua menggunakan penasihat kerajaan seperti sebutan “Kajao”, tetapi sebagai negara kerajaan yang berserikat dan cenderung bersifat parlementer karena kuatnya peranan Dewan Adat, maka tidak ada keputusan Raja tanpa melalui pertimbangan dalam permusyawaratan untuk mufakat.

Seperti dijelaska sebelumnya, Salah satu ajaran Kajao Laliddong tentang politik dan pemerintahan adalah : “ Luka taro arung telluka taro ade, Luka taro ade telluka taro anang,” yang artinya bahwa, keputusan raja dapat dibatalkan oleh kehendak dewan adat, namun ketetapan dewan adat dapat dianulir oleh kesepekatan rakyat banyak.

Makna ajaran tentang demokrasi Bugis yang diamanahkan Kajao Laliddong dengan menempatkan rakyat sebagai kunci keputusan dalam suatu pemerintahan, menunjukkan arti demokrasi yang sesungguhnya,

Padahal Kajao Laliddong bukanlah orang yang pernah mengecap pendidikan formal apalagi pendidikan barat. Makna, ajaran ini justru sekarang diimplementasikan dalam proses demokrasi melalui perwakilan rakyat di Indonesia saat ini, yakni MPR, DPR, DPRD, BPD.

Sang penasehat, tidak serta merta juga didengar pendapatnya, sebab dalam berbagai dialog dengan Raja Bone, maka Kajao Laliddong terkadang berbicara didepan dewan hadat – ADE PITU – terkadang memang hanya pada Arung Mangkau saja. Artinya, pendapat penasehat, apabila menyangkut kenegaraan, masih harus dimintakan pertimbangan dewan hadat. Persetujuan itu diperlukan, karena yang akan memimpin dan mengarahkan pelaksanaannya nanti adalah, melalui anggota dewan adat.

Dalam pengantar kata ini, sengaja digunakan istilah penasehat raja dan pemikir kerajaan. Sebab memang setidaknya dalam menjalankan peran Kajao Laliddong sebagaimana kajian atas berbagai pernyataannya, Ia terkadang sebagai penasehat Raja saja. Diminta atau tidak, Kajao Laliddong memberikan nasihat. Jika tidak diminta dan apabila ada yang dianggap Kajao Laliddong perlu disampaikan pada raja, maka digunakan symbol-simbol atau gerak isyarat.

Berbagai cerita yang direkam penulis, apabila ada yang disampaikan Kajao Laliddong tapi tidak dapat disampaikan langsung, maka Ia mengurung diri dalam kamar beberapa hari tanpa makan dan minum. Pada saat itulah biasanya raja bertanya. “ Apa yang merisaukan hati Kajao hingga mengurung diri di kamar.” Mengurung diri di sebuah kamar, sesungguhnya adalah suatu upaya perenungan untuk menemukan pemikiran yang jernih. Bukankah Nabi Muhammad harus bersemedi di Gua Hira, luar Kota Mekkah, untuk memperoleh wahyu ?

Kajao Laliddong dalam memberikan jawaban tidak juga secara ferbal, melainkan dalam perandaian atau kata simbolik, “ Saya mencoba merasakan bagaimana perasaan rakyat jika tidak pernah melihat pemimpinnya,” demikian jawabannya jika ditanya oleh raja akan sikapnya yang suka bersemdi. Melalui ungkapan itu raja mengerti bahwa koreksi atas dirinya yang tidak pernah keluar istana melihat keadaan masyarakat secara langsung.

Ungkapan itu sekaligus menggambarkan bahwa, nasehat itu pada dasarnya bermuatan saran atau kritikan untuk memperbaiki sikap bertindak seorang raja pada rakyatnya. Artinya, sang penasehat seperti Kajao, tidak berucap atau bersikap asal menyenangkan rajanya. Bukan Asal Bapak Senang (ABS), seperti yang banyak dipraktekkan seorang bawahan kepada atasannya, terutama kepada pimpinan pemerintahan di wilayah Bugis.

Sebagai seorang pemikir, Kajao Laliddong mengungkapkan dalam pertemuan dewan hadat, jika diminta berpendapat atas diskusi antar anggota dewan adat. Secara bijak, memang Kajao hanyalah diam pada pertemuan dewan adat, sebab bukan anggota, sehingga nanti berpendapat jika diminta oleh raja. Namun jika sudah berpendapat, biasanya menjadi dasar kesepakatan yang disetujui dewan adat.

Sengaja digambarkan betapa pentingnya posisi dan peranan seorang penasehat raja atau pemikir kerajaan, yang dimainkan oleh Kajao Laliddong di masa pemerintahan Kerajaan Bone saat itu. Sama pentingnya penasehat Kerajaan Gowa yang dimainkan oleh cerdik cendekianya yang bernama Boto Lempangan. Sama cerdas dan pintarnya dengan To Ciung, To Accana Luwu. Atau Nenek Mallomo di Sidenreng.

Hampir disetiap kerajaan, ada seorang cerdik cendekia yang muncul, bedanya ada yang menjadi penasehat langsung kerajaan seperti di Bone, ada juga tidak demikian. Di Soppeng misalnya, malahan Arung Bila sendiri adalah seorang cerdik cendekia. Karaeng Pattingalloang, di masa Kerajaan Tallo, mendapat pengakuan dunia atas kecerdasan dan kepintarannya.

Colli Pujie, Arung Pancana dari Tanete – Berru, mendapat kepercayaan untuk menulis kembali naskah Sure Galigo yang hingga kini menjadi sumber penting bagi semua peneliti dan penulis cerita I Lagaligo yang diakui sebagai termasuk salah satu keajaiban dunia karena panjang naskahnya hampir 10.000 halaman.

Demikian perjalanan panjang Pemikir Ulung dari Tanah Bugis di mana konsep-konsep pemikirannya tidak hanya digunakan oleh kerajaan Bugis, bahkan sampai sistem pemerintahan di parlemen NKRI sekarang ini.