Jusuf Kalla lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis Bone yang memiliki bendera usaha Kalla Group.

Bisnis keluarga Kalla tersebut meliputi beberapa kelompok perusahaan di berbagai bidang industri. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.

Kehidupan pribadi

Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad, dan dikaruniai seorang putra dan empat putri, serta sepuluh orang cucu. Berikut putra putri Pak JK :

Solihin Kalla (laki-laki)
Chairani Kalla ( perempuan)
Muchlisa Kalla ( perempuan)
Imelda Kalla (perempuan)
Muswira Kalla ( perempuan)

Pendidikan JK

1. SMA Negeri 3 Makassar
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967)
2. The European Institute of Business 3. Administration, Prancis (1977)

Organisasi JK

Pengalaman organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Jusuf Kalla antara lain adalah 1. Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964,
2. Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966,
3. Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966,
4. Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969.
5. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (2009-sekarang).
6. Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (2010-2014).
7. Ketua Centrist Asia Pasific Democrat Internatiotional (2010-2012).
8. Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia (1997-2002).
9. Ketua Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (1992–sekarang).
10.Wakil Ketua ISEI Pusat (1987-2000).
Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan (1985–1997).
11. Ketua Umum ISEI Sulawesi Selatan (1985-1995).

Sebelum terjun ke politik, Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini, ia pun masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006.

Pengusaha

Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekadar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi.

Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan kemenangan yang diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI yang ke-6, secara otomatis Jusuf Kalla juga berhasil meraih jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang ke-10. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.

Ia menjabat sebagai ketua umum Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan pengamat politik yang kebanyakan bergelar master, doktor, dan profesor.

Melalui Munas Palang Merah Indonesia XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014 dan terpilih untuk kedua kalinya pada Munas XX untuk periode 2014-2019. Selain itu ia juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 dalam Muktamar VI DMI di Jakarta.

Riwayat Karier Politik JK :

1. Wakil Presiden Indonesia (2014-sekarang)
2. Wakil Presiden Indonesia (2004-2009)
3. Ketua Umum Partai Golongan Karya (2004-2009)
4. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2001-2004)
5. Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia (1999-2000)
6. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Fraksi Golongan Karya (1982–1999)
7. Anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Sekber Golkar (1965-1968)

Riwayat Perkerjaan

1. Direktur Utama Grup Usaha PT. Hadji Kalla (1968-2001)
2. Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama (1988-2001)
3. Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama (1988-2001)
4. Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International Organisasi (1995 – 2001)
5. Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa (1993-2001)
6. Direktur Utama PT. Bumi Karsa (1969-2001)

Penghargaan :

1. Doktor Honoris Causa bidang entrepreneur dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung pada 17 Maret 2011
2. Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar
3. Doktor HC bidang perdamaian dari Universitas Syiah Kuala Aceh pada 12 September 2011
4. Doktor HC bidang pemikiran ekonomi dan bisnis dari Universitas Brawijaya Malang pada 8 Oktober 2011
5. Doktor HC bidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia pada 9 Februari 2013
6. Doktor Honoris Causa dari Universitas Andalas, Padang Bidang Hukum dan Pemerintahan Daerah pada tanggal 5 September 2016.
7. Penghargaan Budi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang
8. Penghargaan Tokoh Perdamaian dalam Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian di Maluku, Ambon, 2011
9. Penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera.

Dalam budaya populer

Dalam film pendek JK, Muhammad Ihsan Tarore (Ihsan ‘Idol’) berperan sebagai Jusuf Kalla pada usia 16-24 tahun.

Suatu ketika, JK berkisah “Saya Dulu Main Bola Hujan-hujanan. Suatu saat Jusuf Kalla yang meresmikan pesta olahraga tradisional dan rekreasi masyarakat dunia ke-6 ini tak menggubris turunnya hujan.

Saat diminta naik ke atas panggung, JK justru bercerita tentang masa kecilnya bermain bola sambil hujan-hujanan.

“Waktu kecil, saya paling suka main sepakbola di saat hujan. Saya pikir hujan ini berarti baik atau membawa berkah. Tandanya Tafisa berjalan sukses dengan Indonesia sebagai tuan rumah,” ujar JK disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Di akhir pidato, JK menghimbau kepada seluruh generasi muda penerus untuk mengurangi kebiasaan terkoneksi lama dengan smartphone.

Hal itu berkenaan dengan efek positif kegiatan Tafisa Games yang mayoritas dilakoni peserta muda-mudi. “Anak kecil setiap hari kecanduan memainkan HP (handphone), itu jadi penyakit untuk melangkah ke depan,” tuturnya.

Suatu hari Jusuf Kalla kunjungan ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, rupanya membangkitkan kenangan masa kecilnya saat masih di Makassar. Jejeran perahu phinisi, kesibukan bongkar muat barang, dan bau laut adalah makanan sehari-hari Kalla kecil.

“Kalau saya berada di tempat seperti ini saya teringat waktu masa kecil saya. Rumah saya di Makassar hanya 50 meter dari pelabuhan,” ujar Kalla dalam sambutannya di hadapan sekitar 200 pelaut.

“Tiap malam saya mendenger gendang, dengar suara memancing dari para nelayan. Itu sangat menggambarkan kebahagiaan dan harapan,” kenangnya.

Kalla lalu berpesan harapan itu hendaknya tetap dipelihara pada saat ini. Pelaut tradisional harus tetap optimis menghadapi persaingan dengan kapal-kapal besar.

“Ada sisi di mana kapal kontainer tidak bisa masuk. Anda yang bisa masuk. Di mana kapal besar tidak bisa. Di sini pentingnya pelabuhan rakyat. Anda harus tetap punya harapan,” pesannya.

‘Rasa’ tradisional jangan sampai memunculkan kesan kuno dan ketinggalan zaman. Kalla
mengingatkan, para pelaut tradisional juga harus bisa harus menjadi bagian dari masa depan dengan ikut terlibat dalam transportasi dan pengangkutan komoditas dari perusahaan.

“Itu lebih efektif jika pelabuhan rakyat menjadi bagian dari masa depan,” tandasnya.

JK terlahir dari pasangan pengusaha yang sukses, beliau juga mewarisi bakat dagang dari ayahnya. Sebelum terjun ke ranah politik, beliau sempat menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda).

Beliau juga merupakan pengusaha muda yang sukses dari perusahaan milik keluarga bendera Kalla Group, hal ini dibuktikan ketika usaha-usaha yang dirintis ayahnya, NV. Hadji Kalla diserahkan kepemimpinannya setelah beliau diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar pada akhir tahun 1967.

Di samping menjadi Managing Director NV. Hadji Kalla, beliau juga menjadi Direktur Utama PT Bumi Karsa dan PT Bukaka Teknik Utama. Di bawah kepemimpinannya, usaha-usaha itu beliau kembangkan usaha baru dengan penuh idealisme, yakni pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi guna mendorong produktivitas masyarakat pertanian.

BACA JUGA :  Mimpi Soeharto di Tanah Bugis

Berikut adalah anak perusahaan NV. Hadji Kala:

1. PT Bumi Karsa (bidang konstruksi). Yang dikenal sebagai kontraktor pembangunan jalan raya trans Sulawesi, irigasi di Sulsel, dan Sultra, jembatan, dll.
2. PT Bukaka Teknik Utama yang didirikan untuk rekayasa industry dan dikenal sebagai pelopor pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) dan gangway (garbarata) di bandara

Di bawah kepemimpinan beliau, perusahaan NV Hadji Kalla berkembang sangat pesat. Dari semula hanya bisnis ekspor-impor menjadi meluas ke bidang perhotelan, konstruksi penjualan kendaraan, kelapa sawit, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, dan telekomunikasi. Selain di bidang politik, beliau juga seorang pengusaha dan ahli ekonomi yang andal.

Di bidang pendidikan, beliau menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Hadji Kalla yang mewadahi TK, SD, SLTP, SLTA Athirah, menjadi Ketua Yayasan Al-Ghazali, Universitas Islam Makassar.

Selain itu beliau juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penyantun (Trustee) di beberapa universitas, seperti Universitas Hasanuddin Makassar (UNHAS), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Universitas Negeri Makassar (UNM), Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina, Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNHAS.

Tidak hanya itu, di kalangan ulama dan pemuka masyarakat, nama beliau juga dikenal sebagai Mustsyar Nahdlatul Ulama Wilayah Sulawesi Selatan. Beliau melanjutkan tugas dan tanggung jawab ayahnya yang sepanjang hidupnya menjadi bendahara NU di Sulsel juga menjadi bendahara Masjid Raya (merupakan masjid besar yang bersejarah di Makassar).

Beliau dipilih menjadi Ketua Yayasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz al-Islami (yang sekarang menjadi masjid termegah di Indonesia Timur). Di kalangan pemuka agama selain agama islam, beliau juga terpilih menjadi Ketua Forum Antar-Agama Sulawesi Selatan.

Selain itu beliau juga gemar olahraga bersama teman-teman. Selain bermain golf, beliau juga pernah menjadi Ketua Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) selama sepuluh tahun (1980-1990) dan beliau sendiri adalah merupakan Pemilik dari Club Sepak Bola Makassar Utama (MU) pada tahun 1985-1992.Beliau juga menjadi Bendahara PERBAKIN Sulawesi Selatan (1980-1990).

JK memulai karir politiknya pada tahun 1960-an, ketika beliau menjabat sebagai ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Sulawesi Selatan periode 1960-1964. Dan karirnya berlanjut ketika beliau terpilih menjadi ketua HMI Cabang Makassar di tahun 1965-1966.

Tak hanya sampai di sana, pada tahun 1967-1969 beliau menjadi ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanudin dan berlanjut hingga menjadi Ketua Dewan Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tahun 1967-1969.

Di tahun 1965, setelah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), beliau terpilih menjadi ketua Pemuda Sekber Golkar Sulawesi Selatan dan Tenggara (1965-1968). Di saat yang sama, ketika beliau sedang menyelesaikan tugas akhir, dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (periode 1965-1968).

Karirnya semakin melambung naik ketika beliau terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1982-1987 mewakili Golkar dan tahun 1997-1999 mewakili daerah.

Sebelum terpilih menjadi Ketua umum partai Golkar di tahun 2004, beliau juga sempat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (yang sering kita panggil Gus Dur), tapi karir beliau di sini hanya bertahan selama 6 bulan.

Dan ketika masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri, beliau kembali diangkat sebagai menteri, tapi sebagai menteri Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (Menko Kesra). Namun kemudian Beliau memutuskan untuk mengundurkan diri karena berniat maju mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingi calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dan kemenangan telak pada Pemilihan Umum tahun 2004, mengantarkan beliau menuju istana Negara untuk disahkan sebagai Wakil Presiden periode 2004-2009 mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka adalah pasangan hasil pemilihan (pemilu) pertama langsung dari rakyat Indonesia.

Pada tahun 2009, beliau juga maju sebagai kandidat calon Presiden Indonesia yang diusung oleh Partai Golkar dengan di dampingi Pak Wiranto sebagai wakilnya dari Partai Hanura. Namun pasangan ini kalah oleh pasangan SBY-Boediono yang kemudian menjadi Capres dan Cawapres di periode 2009-2014.

Pada bulan September 2011, beliau mendapatkan gelar kehormatan, yaitu “Doctoral Causa” yang keempat yang diterima dari Universitas Hasanuddin Makassar dalam bidang ekonomi serta politik.

Beliau juga berpesan bahwa tidak perlu memberikan jualan politik seperti janji-janji politik, namun yang harus dilakukan adalah berpikir bagaimana caranya agar rakyat bisa hidup sejahtera dan menerima keadilan.

Karena menurut Beliau, seorang pemimpin yang hanya membina kemakmuran tanpa melihat pemerataan merupakan masalah besar. Jika susah maka harus susah bersama, dan jika maju serta sejahtera juga harus bersama.

Setelah berakhirnya masa jabatan sebagai wakil presiden pada tahun 2009, beliau kemudian menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2009-2014. Jadi Beliau memang tidak pernah lepas dari kesibukan, ada saja yang beliau kerjakan untuk membuat dirinya bermanfaat bagi orang lain.

Dan di tahun 2014 untuk yang kedua kalinya beliau terpilih sebagai Calon Wakil Presiden RI mendampingi Pak Joko Widodo. Tepatnya pada 20 Oktober 2014, mereka berdua dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, periode 2014-2019.

Nah, tepuk tangan dulu ya, karena baru kali ini ada orang Indonesia menjadi Wakil Presiden dua kali berturut tanpa jeda. Hebat mentong bela!!!.

Lanjut, Tapi, apakah perjalanan hidup Beliau semulus itu? Terlahir sebagai anak orang yang berkecukupan dan langsung memiliki segalanya? Jawabannya adalah tidak! Beliau berjuang keras untuk bisa menjadi seperti sekarang, konflik yang timbul dalam keluarganya, ayahnya yang kemudian menikah lagi.

Sebelum melangkah jauh kita simak dulu kisah masa kecil di bawah ini. Atau permisi ya, aku ngopi dulu ….

Cerita masa kecil Pak JK

Pada umur 10 tahun, Jusuf Kalla dititipkan kepada neneknya Hj. Kera karena orangtuanya pindah ke Makassar (pada tahun 1952, pecah pemberontakan DI/II, banyak toko dirampok dan dibakar dan kehidupan bisnis lumpuh.

Setahun kemudian beliau ikut orangtuanya di Makassar dan tinggal di rumah toko berlantai tiga yang dibeli ayahnya. Pada tahun 1954, beliau masuk ke SMP Islam di Jalan Datuk Museng. H. Kalla menginginkan anaknya menjadi pemuka agama Islam dan belajar di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Sayangnya keinginannya tidak kesampaian karena anak-anaknya sudah memilih jalan hidupnya masing-masing. Di SMP Islam, kurikulum pendidikan umum hanya 30% dan agama sebanyak 70 persen. Pelajaran favorit JK adalah sejarah dan ilmu bumi.

Setelah lulus SMP, JK kecil sempat melanjutkan sekolahnya masuk ke SMA Islam tapi tidak bertahan lama.

Semasa remaja, beliau adalah pemuda yang juga menikmati masa kanak-kanak umumnya anak laki-laki. Beliau juga sering diajak ayahnya menonton pertandingan sepak bola. PSM yang pada masa itu menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan.

Sehabis Duhur, JK dan ayahnya sudah ada di stadion Mattoangin sambil membawa sajadah untuk persiapan salat Asar. JK pasti kena amarah Bugis dari ayahnya kalau telat salat.

Beliau juga memiliki hobi bermain sepak bola, karena badannya paling kecil, beliau selalu kebagian posisi sebagai kiper. Biasanya JK dan teman-teman bermain sepak bola di pekarangan Rumah Sakit Stella Maris).

Sejak pindah ke Makassar bakat kepemimpinannya semakin terasah, beliau ikut bergabung dengan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Setiap Jumat JK berlatih pidato dan beliau sempat pidato di acara Isra Miraj.

Konflik dalam keluarganya muncul ketika ayahnya (H. Kalla) menikah lagi dengan Hj. Adewiyah. Karenanya JK harus bertanggung jawab kepada keluarganya karena ibunya (Hj. Athirah) melarang suaminya bermalam di rumah.

JK harus berperan sebagai kepala rumah tangga, mengiringi ibunya ke rumah sakit ketika melahirkan adik-adiknya, beliau juga mendaftarkan adik-adiknya masuk sekolah, membayarkan uang sekolah dan menggantikan tugas ayahnya.

Ketika masuk SMA pada tahun 1958, JK dibelikan vespa oleh ayahnya karena SMA beliau jaraknya cukup jauh (beliau sekolah di SMA 3 Makassar). Karena latar belakang orang tuanya yang memang berada, beliau juga sering mentraktir teman-temannya di Kantin.

Pada tahun 1961, JK melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar. JK pun aktif dalam berorganisasi.

BACA JUGA :  Kunjungan Presiden Sukarno di Kerajaan Bone

Dan ketika menjadi aktivis inilah beliau berkenalan dengan Panglima Kodam XIV Hasanuddin di Makassar (1960-1964), Jenderal M. Jusuf. Bahkan JK sempat menunaikan ibadah haji bersama M. Jusuf di Mekkah.

Tokoh lain yang beliau kagumi adalah Panglima Kodam XIV Hasanuddin (1965-1968) Solihin Gautama Poerwanegara. Beliau mengatakan bahwa sifat kerakyatan dai Solihin sangat menonjol. Beliau juga sering datang berkonsultasi mengenai politik nasional pasca-peristiwa G-30S tahun 1965. Nama Solihin bahkan kemudian dipakai beliau untuk menamai anak lelaki satu-satunya “Solichin Jusuf Kalla.

Setelah lulus, transisi kepemimpinan bisnis itu terjadi begitu saja, peristiwa itu hanya disaksikan oleh tiga orang, yaitu ayah, ibu, dan beliau sendiri.

Dalam usaha NV Hadji Kalla, JK bertindak sebagai eksekutif, sedangkan ayahnya menjadi pengawas jalannya perusahaan. Setelah itu, beliau mulai melirik bisnis impor mobil Toyota dan membuka agen tunggal.

JK hebat berangkat ke kedutaan besar di Jakarta, mencari tahu cara mengimpor mobil. Intinya, di tangan beliau bisnis NV Hadji Kalla kembali berkibar. Di dalam keluarganya beliau dianggap seperti Godfather.

Istri kedua dari ayahnya tidak mendapat warisan. Sang ayah menganggap bisnis keluarga itu adalah jerih payah dirinya dan Hj. Athirah. Kebanyakan anak dari istri muda ayah beliau memang tidak bekerja di perusahaan Hadji Kalla, mereka menjadi PNS dan hanya ada satu yang bekerja di PT. Hadji Kalla.

Bagaimana JK bertemu istrinya?

Mufidah Miad Saad (Istri Jusuf Kalla) adalah perempuan Minangkabau kelahiran Sibolga, pada 12 Februari 1943. Orangtua Mufidah (H. Buya Miad dan Sitti Baheram) serta 12 anaknya dari Sumatera Barat merantau ke Sibolga, Sumatera Utara, hingga ke Sulawesi Selatan.

Di Makassar, Mufidah bersekolah di SMA Negeri III. Pada masa sekolah inilah awal mula pertemuan dan terjadinya kisah cinta mereka. Seolah membakar apa yang ada. Beliau mulai suka datang ke rumah Mufidah bersama teman-temannya meskipun yang dilakukan hanya mengobrol dengan orang tuanya. Sedangkan orang tua Mufidah sendiri adalah guru mengaji beliau.

Meskipun awalnya kisah cinta mereka terhalang karena Mufidah sudah dijodohkan oleh orang tuanya, tapi kegigihan Beliau membuat mereka berdua bisa bersanding di pelaminan janur kuning.

Oh ya, beliau juga sempat melanjutkan setudinya ke The European Institute of Business Administration, Perancis pada tahun 1977.

Di bawah ini adalah daftar perjalanan karir beliau:

1. Menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Sekber Golkar (1965-1968)
2. Menjadi CEO dari NV Hadji Kalla (1968-2001)
3. Menjadi Direktur Utama PT. Bumi Karsa (1969-2001)
4. Menjadi anggota MPR-RI (1982-1999)
5. Menjadi Ketua Umum ISEI Sulawesi Selatan (1985-1995)
6. Menjadi Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan (1985-1197)
7. Menjadi Wakil Ketua ISEI Pusat (1987-2000)
8. Menjadi Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama (1988-2001)
9. Menjadi Komisariat Utama PT. Bukaka Teknik Utama (1988-2001)
10. Menjadi Ketua IKA-UNHAS (1992-sekarang)
11. Menjadi Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa (1993-2001)
12. Menjadi Komisariat Utama PT. Bukaka Singtel Internasional Organisasi (1995-2001)
13. Menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia (1997-2002)
14. Menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia (1999-2000)
15. Menjadi menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2001-2004)
16. Menjadi anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat (2000-sekarang)
17. Menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar (2004-2009)
18. Menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009)
19. Menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia (2009-sekarang)
20. Menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019, mendamping Presiden Joko Widodo.

Penghargaan yang pernah diperoleh Pak JK :

1. Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar
2. Doktor HC di bidang perdamaian dari Universitas Syah Kuala Aceh pada 12 September 2011.
3. Doktor HC di bidang pemikiran ekonomi dan bisnis dari Universitas Brawijaya Malang pada 8 Oktober 2011.
4. Doktor HC di bidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia pada 9 Februari 2013.
5. Penghargaan BudAi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
6. Penghargaan sebagai Tokoh Perdamaian dalam forum pemuda dunia untuk perdamaian di Maluku, Ambon 2011.
7. Penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputra
8. The MOST Inspiring Person

Prestasi Jusuf Kalla di pemerintahan :

1. Ketika terjadi kerusuhan di Ambon, JK tampil sebagai juru damai. Melalui pertemuan Malino I dan II, begitu juga ketika kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah (saat itu beliau masih menjabat sebagai Menko Kesra RI dalam Kabinet Gotong Royong).

2. Ketika menjabat sebagai Wakil Presiden RI, beliau datang membawa kedamaian di Nanggroe Aceh Darussalam dengan mempertemukan RI dan GAM di Helsinki, Finlandia.

3. Ketika menjabat sebagai Wakil Presiden, beliau juga pasang badan untuk menurunkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menggantinya melalui Program Bantuan Langsung (BLT) bagi rakyat miskin. Bahkan beliau menaikkan harga BBM sebanyak dua kali dan dilakukan ketika bulan ramadhan.

4. Beliau sukses melakukan program konversi minyak tanah ke gas.

5. Beliau berhasil menjaga stabilitas harga beras di pasar sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat serta menyediakan beras bagi masyarakat serta menyediakan beras untuk masyarakat tidak mampu (Raskin).

6. Beliau membangun 10.000 megawatt listrik untuk mengatasi pemadaman dengan menggunakan bahan bakar dari batubara.

7. Beliau mengangkat industri dalam negeri dengan penggunaan dan mengharuskan bawahannya memakai sepatu produksi Indonesia (produksi Cibaduyut, Bandung). Beliau malah memperbolehkan namanya digunakan secara gratis oleh seorang pengusaha sepatu Cibaduyut sebagai merek, yakni “JK Collection”.

8. Beliau membuat program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan program sekolah gratis bagi siswa SD dan SMP. BOS dimulai sejak Maret 2005 dan merupakan dana kompensasi dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) yang bergulir sejak Maret 2005. Dengan adanya BOS, siswa tidak perlu membayar uang SPP lagi.

9. Beliau menaikkan gaji dan kesejahteraan para guru. Beliau juga meminta agar para guru yang kesejahteraannya meningkat menjadi 2 kali lipat untuk mengimbangi dengan pengabdian dan profesionalisme yang tinggi.

10. Beliau menaikkan gaji dan menyediakan gaji ke-13 bagi PNS, tentara dan pejabat Negara dengan alasan, mereka butuh biaya untuk membayar uang sekolah putra-putri mereka pada bulan Juli.

Beliau memang memiliki sejarah yang panjang dalam dunia usaha dan politik. Didukung dengan pengalaman organisasi yang begitu banyak. Beliau memang sosok yang aktif sejak duduk di bangku sekolah, tak heran kenapa sosok Pak JK begitu kontroversial dan ceplas-ceplos dalam berbicara. Tidak lain adalah karena beliau memang hidup di dalam ranah organisasi dan politik yang membuat Beliau harus tegas dan bisa mengambil keputusan secara cepat.

JK mendewasakan Jokowi

Kehadiran beliau menjadi Wakil Presiden RI periode 2014-2019, mendampingi Presiden Joko Widodo adalah sesuatu yang tepat. Sebab beliau adalah seorang negarawan senior yang sudah andal dan bisa mengajari Pak Joko Widodo yang masih bisa dianggap baru (banyak orang mimiliki anggapan bahwa Jokowi belum berpengalaman dan kita juga banyak mendengar sebutan yang mengatakan Pak Jokowi adalah Capres Boneka)

Nah, kehadiran beliau (Jusuf Kalla) di samping Pak Jokowi akan membuat sudut pandang masyarakat berubah. Beliau akan menjadi pelengkap Jokowi dalam menjalankan masa kepemimpinannya untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Oke, Ngopi dulu ya … karena kisah Daeng Ucu panjangnya masih berhasta-hasta … Baik kita lanjut :

Cerita JK Semasa Kecil

“Jangan lupa bawa sajadahnya Nak. Kita shalat asar di sana saja nanti,” ujar ayah ketika kami bersiap menonton pertandingan bola di stadion Mattoangin, Makasar.

“Iya Pak,” sahutku. Aku buru-buru mengambil dua sajadah di ruang salat rumah kami. Lalu aku dan ayah pun berangkat menuju stadion Mattoangin. Aku dan ayahku sangat sering menonton pertandingan sepak bola PSM (Persatuan Sepak Bola Makasar) di stadion Mattoangin. Biasanya kami berangkat setelah salat duhur. Tentunya setelah aku pulang sekolah.

Ayahku sangat menggemari sepak bola. Hobi ayah yang satu itu menular padaku. Aku jadi sering bermain bola bersama teman-temanku jika tidak ada pertandingan bola PSM. Kami kadang bermain di halaman rumahku. Kadang di pekarangan rumah sakit. Bagi kami, main bola terasa sangat mengasyikkan. Kami bisa sampai lupa waktu jika sudah bermain bola.

BACA JUGA :  Sistem Pemerintahan di Kerajaan Bone dari Masa ke Masa

“Ayo kita main bola di lapangan rumah sakit,” ajak teman-temanku suatu sore.

“Ayo!” sahutku dan beberapa temanku yang lain. Kami membawa bola karet yang sudah sangat lusuh. Kami pun beramai-ramai jalan menuju pekarangan Rumah Sakit Stella Maris, Makasar.

Sampai di lapangan, kami pun berbagi tugas. Ada yang menjadi bek kanan, penyerang dan penjaga gawang. Seperti biasa, aku bertugas sebagai penjaga gawang. Mungkin karena badanku kecil, atau entah karena alasan apa, teman-temanku memintaku menjadi penjaga gawang. Tapi aku tidak menolak. Apa pun tugasku dalam sepak bola ini, aku menerima saja. Karena aku sangat menyukai sepak bola.

Aku pun bersiap menjaga gawang timku. Kulihat tim lawan sedang menggiring bola ke arahku. Aku memasang kuda-kuda untuk menangkap bola. Kuharap aku bisa menangkap bola yang sedang digiring menuju gawangku.

Bola semakin mendekat ke arahku. Dari jarak cukup jauh, salah satu lawanku menendang bola dengan kencang. Bola itu melesat tinggi. Kupikir pasti bola itu tidak akan masuk ke gawangku. Tapi aku melompat untuk menangkapnya. Hanya untuk antisipasi agar bola benar-benar tidak masuk ke gawangku.

“Prang!” terdengar bunyi kaca pecah. Aku segera menoleh ke belakangku. Ternyata bola yang ditendang temanku tadi sudah menghancurkan kaca jendela salah satu ruangan di rumah sakit. Seketika kami terdiam dengan hati diliputi rasa takut.

“Habislah kita. Ini salahmu! Kenapa kamu menendang bola terlalu kencang ke arah jendela rumah sakit!” ucap temanku saling menyalahkan.

Tak lama berselang, seorang petugas rumah sakit keluar ruangan sambil membawa bola kami. “Kalian jangan main bola di sini! Ini rumah sakit! Coba kalian lihat ulah kalian, kaca jendela jadi pecah! Ayo ganti kaca itu!” bentaknya pada kami.

Aku dan teman-temanku pun ketakutan. Sebagian dari kami melarikan diri. Temanku yang melarikan diri, merasa mereka tidak melakukan kesalahan. Apalagi mereka tidak akan bisa mengganti kaca jendela yang pecah. Tapi sebagian temanku yang lain, termasuk aku, minta maaf pada petugas itu.

“Maafkan kami Pak. Kami tak sengaja menendang bola ke arah jendela,” ucapku sambil menunduk minta maaf.

“Ya sudah, lain kali jangan main di sini lagi ya. lagi pula, ini kan rumah sakit, banyak orang sakit yang butuh istirahat. Kasihan mereka jadi terganggu dengan ulah kalian,” ujar petugas itu menasihati.
“Baik, Pak, Kami tidak akan main bola di sini lagi,” ucap kami serentak.

Setelah itu kami buru-buru pulang. “Untung kita nggak disuruh mengganti kaca jendela ya,” ujar salah satu temanku.

“Iya. Itu pasti karena kita minta maaf dan berjanji tidak main di sana lagi,” selaku.
“Betul itu. kalau kita tidak minta maaf, pasti petugas rumah sakit itu mengadukan kita pada orangtua kita. Dan setelah itu kita tidak akan diizinkan main bola selamanya,” sahut temanku yang lain.
“Ayolah kita pulang,” ajakku. Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Ayahku Haji Kalla, memang sudah menanamkan sifat sopan santun dan akhlak yang baik padaku sejak aku lahir. Ayahku terlahir dari keluarga yang sangat menerapkan ajaran islam. Sehingga beliau juga menerapkan ajaran islam dalam keluarga kami. Bahkan aku dan adik-adikku juga bersekolah di sekolah islam. Ayah ingin aku menjadi seorang ustad kelak. Beliau ingin suatu hari nanti aku bersekolah di Al-Azhar Kairo, Mesir.

Ayahku adalah seorang pengusaha. Ibu juga berjualan kain sutra bugis. Awalnya kami tinggal di Watampone, Bone. Aku juga lahir di sana tanggal 15 Mei 1942. Beliau memberi namaku dengan Muhammad Jusuf Kalla. Ketika usiaku 10 tahun, kami terpaksa pindah ke Makasar. Karena suasana di Bone yang sedang tidak kondusif dan sangat kacau. Terjadi kerusuhan di sana. Rumah dan toko dibakar oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

Untuk menyelamatkan keluarga kami, ayahku memilih pindah ke Makasar. Ayah memulai usaha beliau lagi di Makasar. Beliau membeli sebuah ruko di Makasar. Di ruko itulah kami tinggal. Alhamdulillah, usaha beliau berkembang dengan pesat.

“Kamu bersekolah di sekolah islam saja ya, Nak,” saran ayahku ketika aku akan masuk SMP. Aku menurut. Karena aku tahu, ayahku sangat ingin aku menjadi seorang ustad. Walau sebenarnya nilai pelajaranku tentang agama tidak sebagus nilai pelajaran umum, tapi aku tetap menghormati pilihan ayah. Aku ingin membahagiakan orangtuaku.

Lagi pula, bersekolah di sekolah yang pelajaran agamanya sebanyak 70% tidaklah buruk. Aku jadi lebih banyak tahu tentang isi Al-Quran dan hadist.

“Kalian harus menjadi orang yang taat beragama. Pekerja keras, jujur dan menghormati orang lain. Salah satu dari sikap jujur itu adalah menjadi orang yang tidak melupakan janji atau mencederai janji,” demikian ucapan yang sering diingatkan ayah pada aku dan adik-adikku.

Sama dengan ayahku, ibuku, Ibu Hj Athirah, juga mengajarkan kami disiplin dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Aku juga membantu ayah dan ibuku di rumah. Bahkan aku juga membantu beliau berdagang sepulang sekolah. Jika tidak ada ada kegiatan lain, aku suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku.

Ayahku mengharapkanku menjadi panutan bagi adik-adikku. Aku bahkan pernah mengantar ibuku ke bidan saat akan melahirkan adik bungsuku. Karena saat itu ayah sedang tidak di rumah. Semua tanggung jawab ayah, seolah sudah berpindah ke pundakku. Demikianlah orangtuaku mengajarkan kami.

Rumah kami terletak bersebelahan dengan masjid. Ayahku adalah salah satu pengurus masjid. Beliau menjabat sebagai bendahara masjid. Di dalam naungan masjid juga aku tumbuh dan berkembang. Aku bermain dan belajar di sekitar masjid.

“Masjid ini tempat pendidikanmu yang pertama. Saat ini bapak ingin mengajarmu untuk mengurus keuangan masjid. Catatlah semua pemasukan dan pengeluaran dari infak dan sadakah jamaah masjid,” pinta ayahku suatu hari. Aku pun setuju. Aku menjadi pelaksana bendahara masjid setelah ayah memintaku mengelola keuangan masjid.

Rasanya tidak begitu susah mengelola keuangan masjid. Mungkin karena saat itu aku melakukannya dengan senang hati. Apalagi keuangan yang masuk dan keluar saat itu tidak begitu banyak. Jadi terasa amat mudah melaksanakan tugasku yang satu itu.

Dari menjadi pelaksana bendahara masjid ini aku belajar mengelola uang. Kelak hal ini pasti akan sangat membantuku dalam mewujudkan cita-citaku menjadi pengusaha.

Dr.(H.C.) Drs. Muhammad Jusuf Kalla sering ditulis sebagai Jusuf Kalla atau JK adalah Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 yang menjabat sejak 20 Oktober 2014.

Dalam masa jabatannya yang pertama, periode 2004-2009, ia merangkap sebagai Ketua Umum Partai Golongan Karya. JK menjadi calon presiden bersama Wiranto dalam Pilpres 2009 yang diusung Golkar dan Hanura.

Pada 19 Mei 2014, JK secara resmi dicalonkan sebagai cawapres mendampingi Joko Widodo dalam deklarasi pasangan capres-cawapres Jokowi-JK, di Gedung Joang ’45, Jakarta Pusat. Pasangan ini diusung oleh lima partai yaitu PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hanura, dan PKPI.

Nah, itulah kisah “JK si Manusia Bugis ” yang meskipun raganya tidak terlalu besar tapi memiliki nyali dan jiwa yang besar. Terkadang marah di balik senyum, namun beliau bukan pendendam. Wataknya tanpak keras tapi hatinya selembut salju. Wajar jika Beliau diteladani.

CINGARANA UGIE

pasibukke’ sai
lise’ cenranae
na irita sonrae

pasitumba’ sai
lise’na sampo genoe
na irita milla’e

pasiburu’ sai
sadda mparanie
na irita mpatie

pasilanro sai
poppa bune’e
na irita rebbae

itawa’ !!!
sangadi maretto tellui
lise’na cenranae
kuaddampeng soro

TERJEMAHAN BEBAS

CINGARANA UGIE
(amarah bugis)

peradukan
badik dari sarungnya
kita lihat yang miring

perhadapkan
jimat di leher
kita lihat yang berkilau

peradu abukan
teriak yang berani
kita lihat yang menangis

adu benturkan
paha teguh kukuh
kita lihat yang pecah

tatap aku !!!
ku tak mundur setapakpun
kecuali senjata
sudah patah tiga