Masih ingat ‘kan insiden saat Jusuf Kalla disebut “Daeng” oleh Ruhut Sitompul di DPR? Banyak orang Bugis jadi ikutan tersinggung. Mungkin karena sapaan “Daeng” di Makassar sering diasosiasikan dengan sapaan terhadap tukang becak. Memang umumnya tukang becak di Makassar selalu disapa dengan panggilan “Daeng”. Misalnya, Anda mau naik becak, lalu bertanya ke tukang becak, “Daeng”, berapa kalo ke Jalan Sulawesi misalnya.

Saat itu Ruhut Sitompul mencerca Jusuf Kalla dengan sebutan “Daeng”. Akbar Faisal mengatakan panggilan Daeng itu sama dengan menghina Jusuf Kalla. Panggilan “Daeng” dianggap tak pantas ditujukan pada Jusuf Kalla, mantan Wapres Republik Indonesia. Maklum, Jusuf Kalla termasuk sesepuh yang dihormati di Makassar.

Dampak dari “Jawa-sentris” yang mendominasi Indonesia selama bertahun-tahun sebelumnya, membuat kultur suku non-Jawa kurang begitu dipahami. Orang mengira orang Bugis artinya sama saja dengan orang Makassar, dan karenanya menyangka orang Bugis bisa disapa “Daeng”. Meski sapaan “Daeng” adalah sapaan yang sopan, setara artinya dengan “kakak”, ini tak berarti sapaan Daeng bisa disama-ratakan bagi semua orang utamanya pada orang Bugis.

Salah kaprah lain dari orang non-Sulawesi, yaitu ada juga yang menganggap bahwa “Daeng” adalah gelar kebangsawanan. Perlu dicatat, “Daeng” bukanlah gelar kebangsawanan. Menyebut seseorang “Daeng” (baik bagi pria maupun wanita), sama saja Anda dengan sopan menyebut seseorang sebagai Mas ataupun Mbak.

Jusuf Kalla Tahun 1970 Bersama Keluarga Besar Haji Kalla

Kalau ada orang Makassar (bukan orang Bugis) yang disapa sebagai “Karaeng”…. nah, ini baru namanya titel ataupun gelar kebangsawanan. Ini berbeda dengan gelar “Andi” yang merupakan gelar kebangsawanan bagi orang Bugis, misalnya Andi Meriam Mattalatta, penyanyi cantik jelita nan lemah lembut itu.

Jusuf Kalla, putra saudagar kaya Hadji Kalla, memang dibesarkan di Makassar, tetapi asalnya bukan dari suku Makassar. Jusuf Kalla adalah keturunan suku Bugis Bone. Sampai sekarang rumahnya berdiri megah di dekat Pantai Losari Makassar, di Jalan Haji Bau’16. Rumah itu dihuninya sejak tahun 1976.

Ada perbedaan antara logat atau aksen orang Bugis dan aksen orang Makassar. Orang Bugis berbicara dengan aksen yang mengalun halus hampir seperti bernyanyi. Sedangkan orang Makassar (kota pelabuhan), logatnya kira-kira mirip logat orang Spanyol/Portugis.

Orang dari suku Bugis, termasuk orang Bone, umumnya lebih halus dalam bertutur kata, dibandingkan orang dari suku Makassar. Adapun istri Jusuf Kalla, yaitu Mufidah, adalah orang Minang yang dibesarkan di kota Makassar. Pak Jusuf Kalla menikahi Mufidah setelah 7 tahun saling mengenal.

BACA JUGA :  Sejarah Saoraja Bone

Karena dibesarkan di Makassar, logat Mufidah lebih kental Makassarnya daripada logat Minangnya. Jusuf mulai mengenal Mufidah, adik kelasnya, ketika keduanya bersekolah di SMA yang sama, yaitu di SMA Negeri 3 Makassar. Bangunan sekolah ini tidak besar. Letaknya pun di sebuah jalan kecil dan pendek, mirip lorong, di Jalan Baji Areng.

Kota Makassar adalah kota besar, dengan penduduk multi-etnis. Penduduk aslinya (orang Makassar) nyaris tersisihkan oleh kaum pendatang, terutama dari daerah-daerah berbahasa Bugis, yang terletak cukup jauh dari kota Makassar. Padahal pada masa lampau, sebetulnya orang Makassar pernah jaya sebagai pelaut tangguh, yang jejaknya sampai ke Madagaskar di Afrika.

Orang Bugis umumnya terkenal berjiwa saudagar. Ayahanda Jusuf Kalla, bernama Hadji Kalla dikenal sebagai pengusaha otomotif pertama (pribumi) di kota Makassar. Sudah sejak lama memang Hadji Kalla dikenal sebagai salah satu orang pribumi terkaya di kota Makassar.

Sejak tahun 1970-an, show room mobil “Hadji Kalla” sudah berdiri mentereng di dekat Pasar Sentral di kota Makassar. Bentuk bangunan itu agak bundar melingkar. Dinding kacanya tembus pandang, besar dan lebar.

Pada tahun 1970-an, show room mobil ini tergolong mewah di Makassar. Meski gedung tadi di zaman itu terbilang mewah, namun ada beberapa pedagang kecil dibiarkan berdagang di halaman gedung. Ada gerobak penjual bakso, penjual es, ada juga penjual yang hanya menggelar tappere (tikar).

Karena berjiwa dagang dengan mental ulet dan tekun, tak heran orang Bugis banyak yang terkenal sebagai golongan ‘the have’, dibanding penduduk asli, yaitu orang Makassar. Ini kira-kira bisa dibandingkan dengan kota Jakarta dan penduduk aslinya yang orang Betawi, malah terpinggirkan oleh kaum pendatang.

Bisa dikatakan, dalam masyarakat tradisional Bugis umumnya, “menjadi orang kaya” (dalam konotasi positif) sudah menjadi bagian dari etos hidup. Apalagi kalau bisa naik haji. Ini salah satu yang memotivasi jiwa saudagar orang Bugis sehingga mereka ulet, tak kenal menyerah dalam dunia wirausaha.

Suku Bugis yang berasal dari Kabupaten Bone disebut Bugis Bone, dari Soppeng disebut Bugis Soppeng (misalnya Marwah Daud dan Akbar Faizal), dari Rappang disebut Bugis Rappang (misalnya Mario Teguh), Bugis Wajo, Bugis Sinjai, Bugis Luwu, Bugis Barru, Bugis Maros,dll.

BACA JUGA :  Mengenal Bugis

Orang-orang luar Sulawesi Selatan sering tidak bisa membedakan antara Makassar dan Bugis. Makassar adalah nama kota, Bugis bukan nama kota. Makassar adalah ibukota Sulawesi Selatan. Juga Makassar adalah nama suku dan nama bahasa dari penduduk asli kota Makassar, dan dari penduduk beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, dll.

Adapun “Bugis”, bukanlah merujuk pada nama kota, juga bukan nama daerah (jangan dikacaukan dengan nama “Kampung Bugis” di Jakarta). “Bugis” adalah nama suku sekaligus nama bahasa dari beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

Di samping suku Bugis dan suku Makassar, di Sulawesi Selatan juga ada suku Toraja, suku Mandar, suku Luwu. Semua suku tadi menyebar mulai dari kota Makassar sampai di daerah pedalaman di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

Foto: Pengemudi becak bernama Zainuddin (50 thn), bangga membawa Jusuf Kalla dan Mufidah di becaknya, melintasi Jalan Penghibur Makassar, di tepi Pantai Losari, 12 Juni 2014. Jusuf Kalla membayar Zainuddin sebanyak Rp 100.000 untuk jarak 1 km. Biasanya untuk jarak 1 km, tarif becak di Makassar adalah sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000,-.

Suku Makassar jelas berbeda dengan suku Bugis, meski sama-sama berasal dari Sulawesi Selatan. Seperti juga orang Sunda berbeda dengan orang Jawa, meski sama-sama berasal dari Pulau Jawa. Sebagai contoh, Jusuf Kalla suku Bugis dan berbahasa Bugis. Baharuddin Lopa suku Mandar dan berbahasa Mandar. Sultan Hasanuddin suku Makassar (dari Kerajaan Gowa), dan berbahasa Makassar. Jadi ada perbedaan bahasa, dialek, logat antara suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, dan suku Mandar. Begitu pula dalam karakter dan adat-istiadat.

Kembali ke soal insiden Ruhut tadi, kalau toh Ruhut mau menyapa Jusuf Kalla dalam sapaan bahasa lokal, mungkin lebih tepat dengan sapaan “Puang”. Dalam kultur Bugis, sapaan ‘Puang’ biasa ditujukan pada bangsawan. Bisa juga ditujukan pada non-bangsawan namun punya kedudukan terpandang. Kultur feodal belum sepenuhnya lepas dari hidup masyarakat Bugis. Dan itulah yang membuat Bugis terkenal, ia mampu mempertahankan kulturnya.

Tetapi sebetulnya kalau tidak benar-benar paham tentang arti sebuah sapaan dalam bahasa daerah, mengapa tidak menggunakan sapaan nasional, misalnya “Bapak”?

Dalam beberapa kasus, banyak juga orang yang kedudukannya cukup bergengsi, tetap disapa “Daeng”. Misalnya pejuang revolusi yang cukup dikenal di Sulawesi, yaitu Daeng Romo yang memang orang Makassar. Untuk Jusuf Kalla yang seorang pria Bugis, bukan Makassar, panggilan “Daeng” kedengaran janggal.

Orang yang tinggal di Makassar umumnya memanggil tukang becak dengan sapaan “Daeng”. Tukang becak di Makassar umumnya suku Makassar. Faktanya, nyaris tak ada orang Bugis yang menjadi tukang becak. Kalaupun ada, jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari.

BACA JUGA :  10 Gelar Arung Palakka

Di daerah-daerah berbahasa Bugis, becak pun sangat jarang dijumpai. Becak hanya banyak di kota Makassar. Selain Makassar, di daerah lain di Sulawesi, becak tergolong transportasi langka. Kendati demikian, tentu saja tak ada yang salah kalau orang memilih jadi tukang becak. Menarik becak adalah pekerjaan halal… di mana salahnya? dari pada “Tukang Korup?”.

Pantai Losari Tahun 1970

Di Makassar, Daeng tidak saja digunakan sebagai sapaan pada tukang becak. Juga sering diasosiasikan dengan penjual coto Makassar. Di tenda warung coto di Makassar biasa terpampang tulisan besar, “Coto Makassar, Asuhan Daeng Sija”. (Keren ‘kan? coto saja diasuh). Tapi di Makassar, jangan sembarangan meremehkan para Daeng ini. Khususnya para Daeng becak yang sehari-hari melewati kerasnya hidup di jalanan, ia orang yang luar biasa dalam keluarganya.

Menurut cerita Valentina Waluyanti yang tingga di Nederland, mengisahkan, “Ketika masih tinggal di Makassar, saya selalu menyapa tukang becak dengan sebutan “Daeng”. Dan dulu saya sangat senang berjalan kaki di sekitar Pantai Losari. Kalau saya jalan kaki, biasanya ada Daeng becak lewat”.

Daeng becak bertanya, “Naik Becak?
Saya menggeleng, “Tena, Daeng ” (Tidak, Daeng). Saya menjawab sopan.
Tetapi Daeng becak tetap mengikuti, “Hampir hujan, Sudah mendung” Becak?”..
Saya menggeleng. Menjawab malas, “Tena!”(Tidak!)
Daeng becak tak menyerah, “Mau ke jalan apa? Saya tidak kasih mahal.”.
Saya tetap menggeleng. Uh, pasti si Daeng ini lagi sepi penumpang.
Karena bujukannya tak mempan, Daeng becak itu melenguh kesal. Lalu kabur, setelah jauh ia berteriak, “Carru’ … !!!” (Bahasa Makkassar carru’ artinya bokek). Sompret! Beraninya kalau sudah jauh! begitu kisah Valentina Waluyanti.

Tukang becak juga umumnya dikenal tidak ada matinya kalau soal bicara ngotot-ngototan. Mungkin karena terbiasa menghadapi penumpang dengan macam-macam karakter. Hal ini tergambarkan dalam anekdot berikut tentang tukang becak.

Penumpang: Ke apotek berapa?
Tukang becak: Rp 70.000,-
Penumpang: Hah!? Mahal sekali! Apoteknya kan dekat sekali. Tuh, lihat! Kelihatan dari sini, kok.
Tukang becak: Betul. Itu di sana! Lihat ke langit! Bulan juga kelihatan dari sini!

( Sumber kisah : Valentina Waluyanti )