Andi Muhammad Jusuf Amir, adalah seorang Jenderal Bugis yang pernah Menggebrak Meja Presiden di rumah Cendana. Nama lengkapnya adalah Andi Muhammad Jusuf Amir, lahir di Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1928 dan wafat di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 September 2004 pada usia 76 tahun. Masa kecilnya dikenal dengan Andi Momang.

Andi Muhammad Jusuf Amir ayahnya bernama Andi Amir Tappu yang bergelar Arung Kajuara dan ibunya bernama Petta Bunga yang bergelar Permaisuri Arung Kajuara.

Saat Soeharto berkuasa dikelilingi oleh sejumlah jenderal yang sosoknya cukup fenomenal, salah satunya adalah Jenderal M. Jusuf. Dalam catatan sejarah, popularitas Jenderal Bugis itu sempat membuat Soeharto gusar. Meski Jenderal Muhammad Jusuf dilantik sebagai Menhankam/Pangab pada tahun 1978.

Banyak yang kaget atas pengangkatan ini lantaran Jenderal Jusuf sudah hampir 14 tahun tidak berkarier di ABRI. Perlu diketahui, sejak 1965, Muhammad Jusuf sudah menjadi Menteri Perindustrian. Namun, saat Soeharto yang berkuasa, Jenderal Jusuf diangkat menjadi Panglima ABRI.

Menariknya, dalam perjalanannya sebagai Panglima ABRI, Jenderal Jusuf kerap bergerilyabke barak-barak tentara di berbagai daerah. Tak heran jika Jenderal Jusuf sangat dicintai prajuritnya. Popularitas Jenderal Jusuf saat itu menyaingi Soeharto sebagai Presiden ke-2 RI.

Kabarnya, hal ini membuat Soeharto sempat ‘cemburu’ melihat popularitas jenderal dari Bugis itu. Tak hanya dicintai prajuritnya, Jenderal Jusuf juga dikenal tegas dan tak ada rasa takut, Ada Na Gau.

Dikisahkan, suatu waktu ada pertemuan di kediaman pribadi Presiden Soeharto, di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Pertemuan itu dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara.

Adalah Mendagri Jenderal Amir Mahmud yang bicara pertama kali, bahwa dengan semakin populernya Jenderal Jusuf selaku Menhankam/Pangab, maka diduga ada ambisi-ambisi tertentu Jenderal Jusuf yang perlu ditanyakan kepada yang bersangkutan.

Tiba-tiba, Jenderal Jusuf mengebrak meja dengan tangannya PRAKK!!!. Dengan suara keras, dia berkata ” Bohong! Itu tidak benar semua. Saya ini diminta untuk menjadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden”.

“Saya ini orang Bugis. Jadi, saya tak tahu arti kata kemanuggulangan yang bahasa Jawa itu. Tapi, saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa” hardik Jenderal Jusuf.

Gebrakan meja Jenderal Bugis itu mengejutkan semua yang hadir. Tak pelak, Soeharto pun langsung membubarkan pertemuan yang baru beberapa menit berlangsung di kediaman pribadinya itu.

Sejak itu, hubungan Jenderal Jusuf dengan Soeharto dikabarkan mulai dingin. Sejak itu pula, Jenderal Jusuf jarang mengikuti sidang kabinet yang dipimpin Soeharto di Bina Graha.

Jenderal Jusuf lebih sering mengutus Wakil Pangab dan Panglima Kopkamtib, Laksamana Sudomo, sebagai wakilnya untuk ikut sidang kabinet. Melihat kondisi seperti itu, Jenderal Jusuf kemudian digeser oleh Soeharto menjadi Kepala Badan Pemeriksa Keuangan.

Di kalangan prajurit militer Indonesia, Jenderal M. Jusuf barangkali panglima paling populer setelah Jenderal Sudirman. Laki-laki ini aslinya bernama Andi Mo’mang alias Andi Muhammad Jusuf Amir.

Dia enggan memakai gelar bangsawan Bugisnya, Andi, dan membiarkan orang-orang mengenalnya sebagai M. Jusuf saja. Dia juga membiarkan dirinya dijadikan Panglima ABRI, meski sudah 14 tahun berkarier di luar jabatan militer dan sudah tidak yakin jadi petinggi ABRI. Dia jadi panglima dari 1978 hingga 1983.

Jenderal Jusuf adalah panglima yang disayangi prajurit dan dikenal masyarakat. Popularitasnya melejit, meski tak sempat menanamkan pengaruh besar di tubuh militer sebelum jadi Panglima ABRI.

Seperti sudah diungkapkan sebelumnya, kepopuleran Jenderal Jusuf itu sampai ke kuping Soeharto. Disebut beberapa pihak, itu tak lain berkat laporan jenderal intelijen. “Ketua G1/Hankam merangkap Asisten Intelijen ABRI Letnan Jenderal Benny Moerdani diisukan melaporkan kepopuleran Jenderal Jusuf kepada Soeharto.

Letjen Benny Moerdani juga melaporkan tindak-tanduk Jenderal Jusuf kepada Soeharto, yang menyebutkan bahwa Jusuf menggalang kekuatan internal untuk menjadi presiden RI.

BACA JUGA :  Kajao Liliddong Pemikir Ulung dari Tanah Bugis

Namun, Jenderal Jusuf tahu dan bahkan tak cemas jika dirinya dimata-matai terus-menerus. Dia berusaha bersikap biasa saja pada Moerdani. Bagaimana pun, memata-matai adalah tugas Moerdani sebagai Asisten Intelijen ABRI. Tiap ada masalah sensitif. Jenderal Jusuf selalu bilang ke Benny, “Kau laporkan ini kepada Pak Harto, Ben”.

Jenderal Jusuf bukan orang yang selalu mengikuti kemauan Soeharto. Ketika Soeharto ingin ABRI mendukung Golkar, Jenderal Jusuf menghendaki ABRI berdiri di atas semua golongan. Jusuf juga yakin sekali bahwa Soeharto sangat percaya pada Moerdani.

Bshkan, Pak Jusuf pulalah yang menyarankan agar Benny Moerdani saja yang diangkat menjadi penggantinya. Dalam hati Pak Jusuf mengatakan, Itu memang lebih baik daripada terus dimata-matai oleh Benny Moerdani.

Tentu sebagai panglima, Jenderal Bugis itu pasti tahu, kalau Benny Moerdani memata-matainya itu atas kemauan orang yang lebih berkuasa daripada Benny yaitu Jenderal Soeharto.

Benny Moerdani sendiri, meski punya pendukung di Angkatan Darat, tergolong orang yang dibenci sebagian tentara. Di antaranya adalah perwira-perwira muda yang sudah menjadi komandan batalyon.

Mereka tidak suka ketika ada isu Benny Moerdani akan dijadikan Panglima ABRI menggantikan Jenderal Jusuf. Mereka yang anti Benny ini hormat dan tahu betapa potensialnya Pak Jusuf itu.

Puncak konflik antara Jenderal Jusuf dengan Letnan Jenderal Benny Moerdani terjadi ketika pada 30 Maret 1981, di mana Jenderal M. Jusuf melakukan commanders call ABRI di Ambon. Dalam acara tersebut, Letjen Benny Moerdani tidak ikut ke Ambon.

Bertepatan dengan acara tersebut terjadi peristiwa pembajakan pesawat Garuda Woyla di Bangkok oleh Kelompok Imron yang bersimpati pada Perjuangan Islam. Letjen Benny Moerdani langsung mengatasi pembajakan itu sendiri tanpa kendali dari Jenderal M. Jusuf.

Dalam acara di Ambon itu, Benny Moerdani sebetulnya punya sesinya sendiri, yaitu menyampaikan analisis dan evaluasi situasi keamanan nasional. Namun, setelah dapat kabar pembajakan pesawat Garuda, maka Jenderal M. Jusuf memerintahkan Benny Moerdani untuk naik pesawat yang biasa dipakainya agar bisa terbang ke Makassar. Dari Makassar, Benny dijemput jet milik Pelita agar bisa ke Jakarta.

Mereka yang tidak suka kepada Benny lalu menghubungi Pak Jusuf ketika akan diberhentikan sebagai Panglima ABRI. Parahnya lagi, sudah sampai isu di kelompok anti-Benny bahwa Benny adalah pengganti daripada M. Jusuf. Para perwira muda itu sulit menerima kenyataan bahwa orang yang dibenci akan jadi bos besar mereka.

Akhirnya, lewat seorang perwira paling berpengaruh di antara mereka, sebuah surat kaleng bertanggal 26 Februari 1983 dilayangkan kepada Jenderal Jusuf. Isi surat kaleng itu mencirikan si pengirim adalah orang bersemangat tinggi dan kebelet untuk melakukan gerakan yang dianggap sangat penting dan harus segera dilakukan. Bunyi surat kaleng itu adalah sebagai betikut :

Bapak Yang Tercinta,

Saat ini adalah detik-detik bersejarah. Bapak terpanggil untuk menyelamatkan negara.

Bapak jangan goyah. Demi TNI kita yang tercinta kalau berdiri teguh sekarang pasti menang. Dukungan cukup kuat. Kami siap membela Kepentingan Bangsa di atas segala hal lain. 1945, 1948, 1965 dan sekarang!

Kami ingin menghadap langsung untuk laporan. Tetapi Bapak dalam keadaan selalu diamati! Jangan percaya siapa saja termasuk SPRI, Walpri, Pembantu Rumah Tangga, supir.

Semua ruangan Bapak di kantor dan rumah disadap. Semua telepon disadap. Semua gerakan Bapak diikuti. Kalau Bapak mau menerima kami, nanti kita bisa atur pertemuan. Kalau bisa segera.

Pak Yogi juga diamati. Semua, Pak Sanif, Himawan dll. Jangan bicara terbuka di ruangan mana pun.

Mohon jawaban segera lisan, surat ini mohon segera dibakar. Kalau Bapak setuju bilang saja Okay, atur saja. Kami akan hubungi lagi.

BACA JUGA :  Perjanjian Bone dengan Luwu

Demi TNI tercinta.

Surat kaleng itu memang tanpa nama pengirim, tapi Pak Jusuf tahu siapa pengirimnya. Meski ada permohonan agar surat itu dibakar, Pak Jusuf memilih untuk menyimpan dan mengarsipkannya. Salinan surat itu kemudian dimuat dalam biografinya.

Pak Jusuf tetap penyimpan rahasia yang baik. Paling tidak, nama asli si pengirim hanya diidentifikasi dengan nama Mayor Anu.

“Setelah membaca surat itu, Jenderal Jusuf langsung memanggil perwira dengan inisial Mayor Anu itu. Kemudian meminta Mayor Anu untuk mengatur sebuah pertemuan di daerah Jakarta Timur, komplek satuan yang cukup besar dan sering ia kunjungi.

Dalam benak Pak Jusuf sudah ada, bahwa surat itu dikirim Mayor Anu setelah tahu dirinya akan diganti. Kemudian rumah Pak Jusuf pun disatroni Mayor Anu. Tak lupa segala sudut ruangan diperiksa si Mayor Anu dengan cermat. Memastikan tak ada alat penyadap di sana. Mobil Pak Jusuf disiapkan tanpa membawa pengawal dan supir. Pak Jusuf lalu mengemudikan sendiri mobilnya.

“Kau ikuti aku dari belakang saja,” perintah M. Jusuf pada Mayor Anu.

Sampai ke tempat tujuan, Panglima menemui beberapa perwira menengah yang dikumpulkan Mayor Anu. Mereka kecewa dengan rencana pergantian panglima. Di situ, Pak Jusuf berusaha meredam gejolak para perwira menengah yang usianya tergolong masih muda itu. Ia meminta mereka untuk tetap menjaga disiplin.

“Sejarah dan budaya TNI tidak mengenal istilah protes, memberontak atau membangkang perintah,” tegasnya pada Mayor Anu dan kawan-kawan.

Pak Jusuf tidak mendukung gerakan para perwira menengah yang masih muda-muda itu. Jika Pak Jusuf mau, Benny Moerdani bisa saja jadi sasaran penculikan seperti Letnan Jenderal Ahmad Yani dan kawan-kawan di tahun 1965. Tapi Jusuf lebih memilih membiarkan Benny Moerdani jadi Panglima ABRI menggantikannya.

Maka demikianlah, Benny akhirnya jadi panglima menggantikan M. Jusuf. Mayor Anu dan konco-konconya harus menerima kenyataan. Moerdani tak cuma jadi Panglima ABRI, bahkan diserahi wewenang yang sebelumnya dipegang Laksamana Soedomo, yaitu jabatan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Jabatan itu tak diberikan Soeharto kepada M. Jusuf.

Mayor Anu dan kawan-kawan tentu harus menderita dalam menjadi saksi berkuasanya Benny di ABRI dari 1983 hingga 1988. Mereka juga mesti menahan perasaan ketika melihat foto Benny sebagai Menteri Pertahanan dan keamanan dari 1988 hingga 1993.

Setelah Pak Jusuf tak jadi panglima lagi, menurut Atmadji Soemarkidjo, hubungannya dengan Benny tak bisa dibilang buruk. M. Jusuf diberi akses mudah untuk menghubungi Benny. Bahkan, tiap ada kritik kepada Benny di masa tugasnya pada era Soeharto, dia berusaha memberi pengertian yang terkesan membela Benny. Misalnya, “Ya betul, tetapi itu diperintahkan oleh Presiden”.

Jelas adanya jika Benny, meski punya kekuatan di masa Orde Baru, adalah orang yang loyal kepada Presiden Soeharto. Benny selalu ikut perintah, termasuk dalam memata-matai dan menganalisis kepopuleran Pak Jusuf.

Mantan Panglima TNI ini salah satu saksi kunci perisitiwa Supersemar bersama dua rekan jenderal nya yang lain, Basuki Rahmat dan Amir Machmud. Selain itu, mantan kepala BPK dan Menteri di jaman Orba ini, juga berada di balik kontroversi penumpasan DI/TII di Sulwesi. Jenderal Jusuf sendiri, mantan ajudan Letkol Kahar Muzakkar, pimpinan pemberontakan di Sulawesi Selatan ketika itu.

Pada peristiwa Supersemar, banyak rahasia di dalamnya, demikian halnya kontroversi Kahar Muzakkar, apakah betul meninggal atau tidak. Semua tak terungkap, sampai beliau membawa rahasia keselamatan Negara itu ke liang lahat. Dalam pesan sebelum wafatnya, almarhum tak ingin dimakamkan di taman Makan Pahlawan.

BACA JUGA :  Sejarah Bendera Samparajae

Jenderal yang akrab di panggil di kampungnya Panglima Usu’ itu, hanya ingin dibaringkan bersama rakyat kebanyakan di perkuburan Islam Panaikang Makassar. Beliau dimakamkan berdampingan dengan putra satu-satunya yang lebih dahulu menghadap Ilahi. Pemakaman itu, tepat berada di samping taman Makan Pahlawan, tempat koleganya di zaman perjuangan dulu dikuburkan.

Saat beliau meninggal, tepatnya 8 September 2004. Jalan sepanjang Urip Sumoharjo-Perintis Kemerdekaan Makassar, macet total. Mendung tebal di musim kemarau saat itu seolah turut bersedih ikut mengantar kepergian sang Jenderal menuju peristirahatannya yang terakhir di TPU Panaikang.

Ribuan kerabat dan tokoh yang mengantar kepergiannya, satu maksud, ingin memberi penghormatan terakhir kepada tokoh, yang dikenal begitu peduli dengan kesejahteraan tentara di barak-barak prajurit.

Apa yang kita saksikan ketika itu, bukanlah iring-iringan mobil mewah, tetapi rombongan truk sekampungnya dari Bone yang ingin turut menyatakan dukanya. Jarak antara Kajuara dan Makassar sekitar 200-an kilometer.

Karena macet, truk-truk pengangkut gabah itu tak sampai ke tujuan sampai kemudian hujan rintik turun sesaat setelah selesai pemakaman. Banyak orang yang hanya bisa mengintip haru pusaranya dari luar pagar.

Pak Jusuf adalah kunci di balik peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru menyimpan rapat sesuatu yang oleh banyak orang hanya beliau, Soeharto, Amir Macmud dan Basuki Racmat yang tahu. Mereka semua telah meninggal, menyisakan keberlanjutan negeri ini, yang sekarang di ambang porak-poranda karena semua jadi membingungkan.

Apakah Kahar Muzakkar yang oleh sejarah dimasukkan sebagai pemberontak, tertembak mati saat pengepungan saat itu atau tidak, hanya Pak Jusuf kunci rahasianya. Namun yang pasti, pemberontakan berhenti, tanpa banyak darah yang tumpah di bawah kepemimpinannya. Pak Jusuf berkonstribusi besar mengutuhkan NKRI yang ketika itu, DII/TII akan menjadikannya sebagai Negara berdaulat sendiri.

Menara Al-Markaz Al-Islami di halaman Masjid yang begitu luas, seolah menjadi saksi, Panglima Usu’ telah pergi untuk selamanya. Namanya tak tercatat di gerbang kota, tak berbaring tenang di taman makam pahlawan. Beliau terkenal tak ingin menonjolkan diri. Bahkan turunan raja-raja Bone ini melepas gelar kebangsawanannya.

Almarhum juga tak menjadikan namanya sebagai atribut jalan, tetapi nama anak semata wayangnya yang juga telah meninggal mendahuluinya, tertulis mengkilap di papan nama RS. Jaury. Rumah sakit, yang tidak membeda-bedakan status sosial seseorang.

Namanya juga tercatat sebagai pendiri Masjid terbesar di Indonesia Timur, Al- Markas Al- Islami. Bersama M. Jusuf Kalla, beliau menggelari masjid kebanggan Sulsel itu, Serambi Madinah. Rumah Sakit dan Masjid yang telah beliau bangun, juga adalah pertanda betapa Ia begitu peduli dengan kepentingan orang banyak.

Telah tiga nama JUSUF dari Tanah Bugis, yakni Baharuddin Jusuf Habibie, M. Jusuf, dan Jusuf Kalla. Ketiganya adalah tokoh terkemuka republik ini.

Syekh Yusuf juga adalah salah satunya, tokoh yang juga pejuang kemerdekaan ini, juga tercatat sebagai pahlawan di Afrika Selatan. Semoga “Jusuf-Jusuf” lainnya, segera lahir, memerankan sosok negarawan utuh, bersih, berwibawa dan begitu dicintai.

Jenderal Bugisku Selamat Jalan

Segunung batu
bukan halang perjuangan
meski luka nanah merintih
deru suara yang lirih
menahan sakit yang teramat perih

Tak gentar dia,
memikul derita tertanggung
meski nafas mengiba
paru-paru pun melara
Jenderal ku
engkau selalu menumpuk asa
asa kemerdekaan
asa pembebasan
asa kebahagiaan
asa prajurit mu

Pangkat jenderal di bahu mu
tak menjadikan mu beringas harta
bahkan menjadikan mu hebat
tanpa kehilangan semangat
untuk berkobar di depan rakyat

Harkat dan martabat mu suci
di jantung Nusantara
di hati anak Bugis
Wahai panutanku
Jenderal Bugisku
hakikatnya engkau
pahlawan nasional