~ POLENA PELELE WINRU, TENRI KUTUJU MATA, PADANNA SULISA

~ Translate:
I have ventured through knowledge, but I have never found anything equal to Sulawesi.

~ Artinya :
Saya telah pergi berkelana/mengembara ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini Sulawesi (Tanah Bugis).

Jejak Bugis di Belanda

Leiden adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Holland Selatan (Zuid Holland) Negeri Belanda. Leiden memiliki 13 museum dalam jarak tidak berjauhan satu sama lain.

Di kota Leiden ini terdapat Universitas Tertua di negeri Belanda, yaitu Universitas Leiden yang didirikan pada tahun 1575. Adapun motto universitas ini adalah Libertatis Praesidium (Bastion of Freedom) atau dalam bahasa Indonesia disebut Benteng Kebebasan.

Dari semua perguruan tinggi di Belanda, hanya University Laden yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang telah memberikan perhatian khusus dengan mengabadikan budaya lontara warisan asli dari leluhur Bugis-Makassar. Di mana filosofi Bugis yang tertuang dalam lontara telah memberikan banyak inspirasi dan pemahaman bagi masyarakat Belanda.

Aksara Lontara Bugis itu ternyata mampu mengembangkan ilmu pengetahuan serta makna-makna hidup yang tercermin dalam lontara dan kemudian menjadi satu-satunya literatur yang sangat berarti bagi masyarakat Belanda dalam mengatur tatanan hidup warga yang ada di Amsterdam.

Leiden dengan jumlah penduk 110 ribu jiwa tahun 2003 ini, punya peran penting dalam sejarah Indonesia zaman kolonial. Di kota Leiden dulu bapak-bapak bangsa kita seperti Ali Sastroamidjojo, A.A. Maramis, Iskak Tjokrohadisoerjo, Soepomo, Achmad Soebardjo dan bahkan Sultan Hamengkubuwono ke-9 pernah menuntut ilmu.

Di Leiden pula organisasi kepemudaan Indonesia pertama di luar negeri, yaitu Indonesisch Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) pada tahun 1922. Leiden menyaksikan bagaimana sekumpulan pelajar Indonesia yang berasal dari beragam latar belakang ini berkumpul bersama dan mendiskusikan usaha-usaha untuk dapat memerdekakan tanah air nan jauh di seberang samudera.

Kota Leiden tidak hanya identik dengan sejarah nasional. Ada beberapa jejak sejarah serta kebudayaan Sulawesi Selatan dari etnis Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

1. Rumah Achmad Soebardjo

Sebuah rumah di Jalan Noordeinde No. 32 yang letaknya tak jauh dari gedung utama Universitas Leiden menjadi kediaman seorang putra Indonesia yang kelak akan menjadi Menteri Luar Negeri pertama dan Duta Besar Indonesia untuk Switzerland. Namanya Achmad Soebardjo, mahasiswa Fakultas Hukum di universitas yang telah berdiri sejak tahun 1575 ini.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersiap memberikan keterangan pers pada acara Napak Tilas Sejarah Diplomasi Indonesia di kediaman sekaligus kantor pertama Kementerian Luar Negeri rumah Ahmad Soebardjo di Jakarta, 19 Agustus 2016

Kediaman Soebardjo sering menjadi sarang tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa anggota Perhimpoenan Indonesia yang berasal dari berbagai kota di Belanda. Dulunya, sebuah bendera berwarna merah-putih dengan hiasan gambar benteng di tengahnya di simpan di kamar Soebardjo.

Bendera tersebut menjadi representasi dari cita-cita pemuda Indonesia yang tengah berkuliah di luar negeri untuk memerdekakan bangsanya. Rumah Achmad Soebardjo tidak hanya sarat dengan diskusi politik. Ia juga suka bermain musik. Tahun 1920-an saat Soebardjo masih meninggali rumah tersebut, sayup-sayup suara biola yang ia gesek dapat terdengar hingga ke jalanan.

Lalu, apa hubungan antara Achmad Soebardjo dengan Sulawesi Selatan? Nah, ternyata Achmad Soebardjo ini berdarah campuran Aceh-Bugis-Jawa. Ibunya yang bernama Wardinah ialah seorang Jawa-Bugis yang berasal dari Cirebon.

Ayah Soebardjo yang bernama Teuku Yusuf sendiri merupakan seorang Aceh dengan darah bangsawan. Tokoh nasional lainnya yang memiliki darah campuran Jawa-Bugis antara lain ialah Dr. Wahidin Soedirohusodo dan Presiden Habibie.

2. Gedung KITLV

Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda” dan Inggris: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) atau sering disingkat KITLV adalah sebuah lembaga ilmiah yang didirikan pada tahun 1851.

Tujuan utamanya ialah penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah wilayah Asia Tenggara, Oseania dan Karibia. Wilayah-wilayah ini merupakan wilayah penelitian sebab di terletak bekas jajahan Belanda dan juga wilayah Kerajaan Belanda yaitu Indonesia, Suriname, Antillen Belanda, dan Aruba.

Perpustakaan KITLV di Leiden, Belanda memiliki koleksi lengkap buku-buku, naskah-naskah manuskrip, dan bentuk dokumentasi lainnya.

Majalah terkenal yang diterbitkan oleh KITLV adalah BKI (Bijdragen Koninklijk Instituut). Judul lengkapnya adalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Jurnal ilmiah ini menerbitkan artikel-artikel tentang pengetahuan bahasa, antropologi dan geografi, terutamanya tentang Indonesia modern, dan sudah diterbitkan 161 tahun. Walaupun judul majalah itu dalam bahasa Belanda, kebanyakan artikel dikarang dalam bahasa internasional yaitu bahasa Inggris sekarang.

Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok, atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Di depan gedung KITLV Belanda terdapat mural bertuliskan Aksara Lontara Bugis sebagai berikut :

“ Polena pelele winru, tenri kutuju mata, padanna sulisa ”

Artinya “ Saya telah pergi berkelana/mengembara ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini Sulawesi (Tanah Bugis).

Demikian bunyi pepatah yang ditulis dalam aksara Lontara Bugis di mural gedung KITLV Belanda. Tulisan itu terpampang sampai saat ini.

Arti pepatah yang tertuang di mural KITLV adalah “Saya telah pergi ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini”.

KITLV yang merupakan Institut Riset untuk wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda di Asia dan Karibia ini lebih memilih untuk mengabadikan pepatah Bugis tersebut untuk menggambarkan keindahan serta keluhuran dan kearifan lokal dari mengkaji beragam naskah kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan.

KITLV sendiri telah banyak sekali menelurkan buku mengenai kebudayaan dan sejarah Sulawesi Selatan. Beberapa pakar Sulawesi Selatan yang berasal dari KITLV antara lain: Cense, Kern, Noorduyn, Roger Tol, Kathy Wellen dan Ian Caldwell.

Banyak mahasiswa program master dan doktoral maupun post-doctoral dari Indonesia melakukan penelitian di perpustakaan KITLV yang memiliki koleksi kajian budaya dan sejarah Indonesia yang sangat lengkap.

3. Universiteit bibliotheek (UB)

Perpustakaan Universitas Leiden ini merupakan tempat paling favorite bagi mahasiswa, terutama saat menjelang minggu-minggu ujian! UB menyimpan banyak sekali naskah-naskah maupun dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Salah satunya yang paling terkenal tentu saja NBG188 yang tiada lain tiada bukan ialah naskah 12 jilid naskah La Galigo terlengkap di dunia. Naskah ini telah didaulat oleh UNESCO sebagai Memory of the World bagi Indonesia dan juga Belanda. Selain naskah La Galigo, banyak juga terdapat naskah kuno lainnya yang berasal dari daerah Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja.

Surat-surat penting sejak zaman kolonial hingga majalah-majalah terbaru Indonesia bisa ditemukan eksemplarnya di sini.

4. Museum Volkenkunde

Museum Volkenkunde merupakan museum etnografi pertama di Eropa. Ada segala macam benda dari empat benua di museum ini. Museum ini menyimpan banyak sekali koleksi artefak bersejarah yang dikumpulkan sejak zaman VOC.

Koleksi andalan Museum Volkenkunde tentu saja adalah Indonesische zaal alias ruang Indonesianya. Di ruangan tersebut ada beragam patung dan prasasti mulai dari zaman Singosari hingga zaman menjelang kemerdekaan.

Koleksi emas kraton Cakranegara, Lombok yang merupakan hasil rampasan perang juga terpajang di sana. Museum Volkenkunde juga menyimpan banyak sekali benda-benda yang berasal dari Sulawesi Selatan.

Salah satunya adalah keris kerajaan (Staatsie keris) yang berasal dari tanah Bugis. Keris ini dimiliki oleh Stadhouder Willem IV yang menjabat sebagai direktur VOC pada tahun 1740. Keris tersebut konon berasal dari abad sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Selain benda yang dianggap sakral seperti keris, artefak-artefak sehari-sehari seperti sarung, pakaian, kain penutup kepala, bejana dan bahkan keranjang rotan juga dikoleksi oleh Museum Volkenkunde.

N1
loading...