Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Marauke yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia.

Istilah Indonesia berawal tahun 1850 oleh seorang berkebangsaan Inggris bernama George Samuel Windsor Earl. Dalam perkembangannya, orang pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).

Ketika Ki Hajar Dewantara dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Oleh karena itu nama Indonesia baru populer tahun 1913 sampai sekarang ini, yaitu Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan negara Indonesia sendiri baru berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945.

Jauh sebelum negara Indonesia berdiri sudah ada kerajaan-kerajaan yang tersebar di Nusantara. Kerajaan-kerajaan itu ibarat sebuah negara yang masing-masing mempertahankan diri apabila ada gangguan dari kerajaan lainnya. Seperti kerajaan Majapahit, Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, Kerajaan Ternate, dan lain-lainnya.

Bahkan di antara kerajaan-kerajaan Nusantara tersebut sering saling menyerang antara satu dengan yang lainnya. Kondisi seperti itu dimanfaatkan Belanda dengan menerapkan politik “adu domba”. Ia mengadu domba antar kerajaan satu dan yang lainnya. Dengan begitu Belanda mudah menguasai kerajaan-kerajaan Nusantara.

Ketika Belanda datang, kerajaan-kerajaan itu awalnya bekerja sama dalam hal perdagangan namun pada akhirnya Belanda ingin mengatur dan menguasai kerajaan tersebut, makanya mendapat perlawanan. Seperti di kerajaan Bone, di mana Belanda melancarkan ekspedisi tahun 1824 yang kerajaan Bone pada masa itu dipimpin oleh perempuan bernama We Imaniratu, bergelar I Manneng Arung Data, Sultanah Salimah Rajiyatuddin (1823-1835). Sang Ratu bersama rakyatnya melawan mati-matian.

Dari uraian di atas jika kita mau jujur sebelum tanggal 17 Agustus 1945 tidak ada penghianat Indonesia melainkan yang ada hanya penghianat kerajaan. Kalaupun ada pahlawan ia adalah pahlawan kerajaan.

Negara Indonesia terbentuk tidak lain karena peran seluruh kerajaan Nusantara. Mereka dari beberapa kerajaan Nusantara bergabung menjadi suatu kesatuan sehingga terbentuklah NKRI sekarang ini. Oleh karena itu, seyogianya para pemegang kekuasaan/pemimpin saat ini hendaknya berpikir dan merenung untuk mendeteksi kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Nusantara. Karena bagaimanapun NKRI tercinta ini didiami dari berbagai suku dan budaya yang sangat berperan menegakkan keutuhan negara. Mereka semua adalah bangsa Indonesia.

Negara Indonesia harus dipertahankan tidak hanya mengumbar kata “NKRI HARGA MATI” akan tetapi yang amat penting untuk dilaksanakan adalah menjaga kerukunan bangsa melalui persamaan hak, keadilan, dan kesejahteraan kebutuhan hidup.

Menjaga kerukunan bangsa tidaklah susah karena negara ini memiliki potensi yang melimpah ruah. Seluruh bangsa Indonesia berhak menikmatinya, tidak hanya milik perorangan atau kelompok tertentu. Pemimpin negara yang baik adalah tidak membiarkan rakyatnya seperti tikus mati di lumbung padi.

BACA JUGA :  Bugis, Riwayatmu Dulu

Perlu kita ingat bersama, betapa pendahulu dan pendiri negara Indonesia ini telah banyak mengorbankan harta dan juga nyawa mereka demi mendapatkan kemerdekaan. Jangan pernah lengah, marilah kita belajar sejarah, kini kita telah bebas dari cengkeraman bangsa lain. Jangan pernah memberikan peluang bangsa lain menguasai kita, menguasai negeri kita, dan menguasai hidup kita.

Berikut ini adalah negara-negara yang pernah menjajah Nusantara-Indonesia:

1. Portugis (1512-1595)

Portugis menjadi Negara pertama yang mendaratkan kakinya di Nusantara dan Alfonso de Albuquerque menjadi tokoh pertama yang mengenalkan Nusantara ke Dunia Eropa. Dilatarbelakangi dengan pencarian rempah-rempa, Portugis untuk pertama kalinya mendarat di Maluku.

Dan saat itu kedatangan mereka disambut dengan baik oleh Raja Ternate. Namun, kebaikan Raja dan rakyat Ternate dibalas dengan pengkhianatan Portugis dengan melakukan politik monopoli tidak sehat terhadap perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Penjajahan yang dilakukan Portugis mulai meluas ke daerah-daerah lainnya di Nusantara salah satunya yaitu pulau Jawa. Hingga pada akhirnya munculah perlawanan dari kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara.

Kemudian Belanda datang dan mengalahkan tentara Portugis yang saat itu berada di Banten. Peristiwa itu juga menandakan berakhirnya Portugis yang menguasai Nusantara selama 83 tahun.

2. Negara Spanyol (1521-1692)

Portugis dan Spanyol adalah 2 negara Eropa yang aktif melakukan pelayaran ke daerah Asia Tenggara. Berita Portugis yang menemukan Indonesia membuat bangsa Eropa lainnya tertarik untuk mendatangi Indonesia.

Tahun 1521, Spanyol tiba di Indonesia dan diterima dengan baik oleh Sultan Tidore. Jika Portugis diawal kedatangannya ke Nusantara memusatkan posisinya di Ternate dan bersekutu dengan kerajaan Ternate. Namun kali ini Spanyol bersekutu dengan kerajaan Tidore.

Keadaan saat itu sedang terjadi perselisihan antara Kerajaan Ternate dengan Kerajaan Tidore. Kedatangan Spanyol di Maluku bagi Portugis merupakan pelanggaran dari hak monopoli.

Persaingan antara Portugis dan Spanyol terus berlanjut, hingga pada akhirnya diadakan perjanjian Saragosa di tahun 1529. Spanyol memulai kolonialisasi di Sulawesi Utara di tahun 1560 dan mendirikan pos pertahanan di Manado.

Pada tahun 1646, Spanyol terusir dari Minahasa dan Sulawesi Utara. Namun, Spanyol masih berusaha untuk menguasai Minahasa namun gagal. Hingga pada akhirnya kekuasaan Spanyol berakhir di tahun 1692.

3. Negara Belanda (1602-1942)

Kedatangan Belanda ke Indonesia adalah diakibatkan perang 80 tahun antara Belanda dan Spanyol sehingga Bangsa Belanda tidak dapat membeli rempah-rempah. Dari hal tersebut itulah, pada tahun 1595 Belanda melakukan ekspedisi ke belahan timur akhirnya masuk ke Nusantara.

BACA JUGA :  Riwayat Andi Pangerang Petta Rani

Tahun 1596 di bawah pimpinan Cournelis de Hotman, Belanda tiba di Nusanrara dengan tujuan berdagang dan mencari rempah-rempah. Kekalahan Portugis di tahun 1602, menjadi awal dimulainya kolonialisasi Belanda dengan dibentuknya Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai kongsi dagang yang terpusat di Batavia.

Pemerintah Kerajaan Belanda memberikan kekuasaan kepada VOC untuk memberlakukan hak monopoli dagang terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Akan tetapi korupsi, manajemen yang buruk, pengeluaran biaya perang, pembayaran devident dan persaingan ketat dari Inggris membuat runtuhnya VOC menjelang abad ke-18.

Setelah runtuhnya VOC, yang saat itu Nusantara dinamakan Hindia Belanda diserahkan kepada pemimpin Kerajaan Belanda di tahun 1816. Hal tersebut tertuang dalam Undang-undang Kerajaan Belanda. Di mana saat itu Belanda mulai terjepit.

Terjadi pemberontakan besar di pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya yang dikenal sebagai Perang Diponegoro yang berlangsung dari tahun 1825-1830. Salain itu juga, terjadi Perang Padri di tahun 1821-1837.

Di era penjajahan, Kerajaan Belanda menerapkan sistem Tanam Paksa (cultuur stelsel). Penduduk Nusantara dipaksa untuk menanam hasil-hasil perkebunan seperti biji kopi, teh, lada, dan lainnya, sebab hasil perkebunan tersebut sangat diminati oleh pasar dunia.

Pada tahun 1939 terjadi Perang Dunia II yang melibatkan banyak negara. Kerajaan Belanda mengalami kekalahan dan wilayahnya dikuasai oleh Nazi-Jerman. Di mana dalam perang dunia tersebut Jepang bersekutu dengan Jerman.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jepang untuk mengusir dan menggantikan kekuasaan Belanda di Nusantara. Pada bulan Maret tahun 1942, pasukan Belanda dikalahkan oleh Jepang dan menandakan dimulainya penjajahan Jepang di Nusantara.

4. Negara Perancis (1808-1811)

Tanggal 1 Januari 1800, setelah VOC jatuh bangkrut dan dibubarkan bertepatan dengan kekalahan Belanda dari Perancis dalam Perang Eropa maka Hindia Belanda atau daerah kolonial Belanda jatuh ke tangan Perancis.

Napoleon Bonaparte berhasil menyingkirkan Raja Willem van Oranje sehingga kerajaan Belanda dan seluruh daerah kekuasaan milik Belanda diambil alih oleh Raja Louis Napoleon termasuk Nusantara.

Pada tahun 1808 Louis Napoleon mengirimkan Marsekal Willem Daendels ke Batavia sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara. Bendera Perancis kemudian dikibarkan di perahu dagang milik VOC dan itu juga menandakan awal kolonialisme Perancis di Pulau Jawa yang berlangsung selama tujuh bulan.

Pemerintahan Daendels yang keras dan diktator mendapat kritikan dan membuat Napoleon memanggil kembali ke Prancis. Kemudian Louis Napoleon mengangkat Jan Willem Janssens sebagai gubernur baru.

BACA JUGA :  Sejarah Arung Tibojong Ade' Pitu

Namun, karena tidak mampu menahan serangan Inggris, kepemimpinan Janssens hanya bertahan lima bulan. Pada tanggal 18 September 1811, Janssens menyatakan kalah dari Inggris dan menandatangani perjanjian Kapitulasi Tuntang bahwa seluruh Pulau Jawa adalah milik Inggris.

5. Negara Inggris (1811-1816)

Kekalahan Perancis dan persetujuan perjanjian oleh Janssens menjadi awal dimulainya penjajahan Inggris di Nusantara selama 5 tahun. Saat itu yang pemerintahan dipimpin oleh Stamford Raffles dan dia membuat kebijakan dalam hal pemerintahan di bidang ekonomi, hukum, sosial dan ilmu pengetahuan.

Di bawah pemerintahan Stamford Raffles, Nusantara mengalami banyak perubahan seperti penghapusan perbudakan, penghapusan monopoli dan kebijakan dalam hal pemerintahan dengan cara membagi pulau Jawa menjadi 16 Keresidenan.

Terjadinya gejolak di Eropah terutama konflik antara Inggris dan Belanda memberi dampak pada pemerintahan Nusantara di bawah kekuasaan Inggris. Dengan ditandatanganinya perjanjian London yang berisi, bahwa Belanda dapat kembali menjajah menjadikan Belanda secara resmi kembali menguasai Nusantara di tahun 1816.

6. Negara Jepang (1942-1945)

Secara resmi Jepang telah menjajah Nusantara sejak 8 Maret 1942. Penjajahan Jepang memang tidak selama Belanda, namun penduduk Indonesia pada masa itu mengalami penjajahan yang lebih kejam ketimbang penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara Eropa lainnya.

Tahun 1942, Soekarno mendapatkan tawaran dari Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan. Pada masa pendudukan Jepang, dibentuk Romusha atau kerja paksa sama halnya dengan yang dilakukan Belanda.

Awal kedatangan Jepang, rakyat Nusantara menerima dengan baik, karena Jepang mengaku sebagai saudara. Mereka bahkan membantu dalam proses memerdekakan Indonesia

Namun tidak berselang lama, Jepang mulai menunjukan kekuasaannya yang diktator dan kejam kepada rakyat melalui programnya yaitu Romusha. Jepang berpura-pura membentuk banyak organisasi untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah organisasi kemiliteran. Padahal hal tersebut dilakukan untuk menambah tentara yang akan diperintahkan untuk melawan kekuatan Amerika dan sekutunya karena tentara Jepang sendiri mulai terdesak.

Kekalahan Jepang terjadi saat Amerika Serikat memberi serangan balasan kepada Jepang dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Tiga hari kemudian tanggal 9 Agustus 1945 Kota Nagasaki juga diserang dengan bom.

Kini Jepang diambang kekalahan, akhirnya Jepang menepati janjinya untuk membantu memerdekakan Indonesia. Dan pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah kepada sekutu. Dengan kekalahan Jepang, maka rakyat Indonesia memanfaatkan kesempatan untuk memproklamerkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Nah, ternyata kemerdekaan bangsa ini baru bisa diperoleh setelah melalui proses waktu yang cukup lama, bahkan harus ditebus dengan jutaan nyawa melayang.