Indonesia sebuah negara yang cukup strategis menerima globalisasi dan teknologi. Akibatnya, ini berdampak dan berpengaruh pada perubahan paradigma dalam banyak aspek kehidupan.

Oleh karena itu, untuk menjaga tradisi warisan leluhur bangsa Indonesia diperlukan tindakan filterisasi menangkis dampak globalisasi. Dan sebenarnya itu tidaklah sulit, karena bisa dilakukan setidaknya dengan tindakan kecil dari diri kita.

Apa yang menjadikan Indonesia memiliki potensi? Jumlah penduduk yang banyak. Selain itu, juga kekayaan alamnya yang melimpah. Pun, itu didukung dengan digenjotnya infrastruktur demi memberi kenyamanan bagi insvestor dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi.

Globalisasi merupakan suatu proses yang mencangkup kasus, penyebab dan konsekuensi dari perpaduan transkultural pada kegiatan yang dilakukan, baik oleh manusia atau pun mesin.

Kisaran tahun 80-an. di mana masyarakat dan leluhur kita masih bisa bercumbu dengan lingkungan. Membangun suatu relasi yang apik terhadap gunung, laut, hutan, sungai, dan sebagainya. Dan anehnya mereka rata-rata berumur panjang.

Apakah kita perlu kembali ke masa lalu? Tentu tidak. Namun, esensi kehidupan masa lalu, yang pernah menjadi sejarah bangsa Indonesia, tidak boleh kita abaikan, lalu dibuang begitu saja. Dalam beberapa hal, kita penting dan didesak untuk membangun kembali kesadaran yang hakiki.

Berbicara esensi kesejarahan, maka berbincang pula soal identitas keindonesiaan. Jika kita amati, hari ini bangsa Indonesia tengah mengalami apa yang disebut sebagai degradasi budaya. Salah satunya ujaran kebencian dan saat ini menghiasi lini kehidupan kita.

Pernahkah kita berpikir jika itu bagian dari kita? Pasti tidak. Jika kita lacak jejak leluhur dan kakek-kakek kita dulu, bisa hidup harmonis dengan lingkarannya, kendati latar belakangnya berbeda satu sama lain.

Nah, coba kita bandingkan dengan hari ini. Kasus pemilu, misalnya. Bagaimana hanya gara-gara itu, kita bisa dengan mudah saling melempar ujaran kebencian, dan saling menghukum, saling mengafirkan satu sama lain.

BACA JUGA :  Konsep Penyelesaian Konflik Secara Adat

Lebih jauh tentang pemilu, saya kira, orang boleh menyebut itu sebagai biang keladi atas budaya “saling mengafirkan” dewasa ini. Bagaimana tidak, demi itu, “kebohongan” dianggap wajib. Dan itu bukti.

Buktinya? Kabar-kabar hoaks yang disebar dan direproduksi secara profesional. Tidak bisa tidak, ini bukan saja menyalahi prinsip moral, tapi juga etika lokal Nusantara. Dan hal ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan arus globalisasi dan teknologi.

Di ruang berbeda, dua monster tersebut (IT & Globalisasi) juga berdampak pada sistem yang amburadul. Iya, demokrasi di Indonesia sudah diracuni, ditunggangi, dan sebagainya.

Akibatnya, kebijakan yang keluar darinya pun tidak lebih dari meninggalkan borok di tengah kehidupan masyarakat dan berpotensi laten.

Bagaimana segudang konflik tak pernah habis dan terselesaikan. Indikasi regulasi disiasati dengan cara kongkalikong.

Di mana mereka? Entah, yang jelas yang melatarbelakangi konflik itu adalah demi tujuan teknologi guna melancarkan Industrialisasi. Jelas-jelas orang awam tidak usah bicara data. Apakah ini dampak globalisasi? Jelas. Karena semakin hari semakin tak terkendali dengan tujuan tertentu.

Nah itulah potret kecil dampak dari globalisasi dan teknologi. Nah, bagaimana cara menjaga kultur atau tradisi kita?

Kita bisa melakukannya melalui hal-hal kecil. Mulai dari individu. Dari pribadi masing-masing. Untuk membiasakan dan membudayakan kebiasaan baik dari leluhur kita. Kita bisa memulainya sejak dari bangun tidur sampai tidur lagi. Begitu saja kok repot?

Generasi melenial pun wajib menjaganya. Karena tidak ada efek sampingnya. Justru menjadi kebanggaan. Kenapa demikian? Salah satu peradaban tertua di dunia dari sisi moralitasnya adalah santun, toleransi, anti hoaks, anti ujaran kebencian, dan anti permusuhan, serta saling berbagi.

Selain itu, banyak warisan leluhur nusantara yang merupakan kearifan lokal kita sekarang ini di tengah ancaman cengkraman Globalisasi yang patut dijaga.

BACA JUGA :  Terjebak Hitam Putih

Kajao Lalliddong seorang cerdas pandai dari tanah Bugis, Bintang cemerlang Tana Bone, Negarawan yang pintar dan bijaksana, telah mengajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam di dalam kehidupan, dengan ade, bicara, rapang, dan wari.

Apakah tatanan-tatanan itu masih ada di antara kita? atau akan menjadi korban keganasan globalisasi? atau masih bisa bertahan di atas keserakahan kepentingan?

Ada baiknya kita belajar dan intropeksi serta kembali menoleh ke belakang demi masa depan. Betapa Kajao Lalliddong telah mewariskan ide-ide brilian untuk generasinya. Hal ini penting, apakah kita menunggu bangsa ini bercerai berai? Bukankah NKRI tidak terbentuk begitu saja? Melainkan darah dan nyawa.