Hubungan Bugis dengan Bali

Orang Bugis mudah ditemui di mana-mana.Mereka membentuk kampung di pesisir pantai, juga menjadi roda penggerak sentra ekonomi di berbagai daerah. Kali ini kita akan menelusuri Kampung Bugis di Bali. Di sana ada tradisi ngejot, yang menjadi ujung tombak upaya hidup rukun di tengah masyarakat Pulau Dewata.

Menurut catatan sejarah, Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang melarang warga Bugis memiliki kapal berukuran besar, menjadi pemicu banyaknya orang Bugis yang merantau ke Pulau Serangan. Perantau yang datang ke Serangan itu umumnya berasal dari Bugis Wajo, dan ada pula dari Soppeng atau Bone. Pulau Serangan sendiri adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dengan daratan Pulau Bali, berjarak sekitar 17 Km arah selatan kota Denpasar. Tahun 1995 dibangunlah sebuah dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan kedua pulau ini.

Karena banyak dihuni oleh perantau Bugis yang kebanyakan beragama Islam, maka pulau ini kemudian dikenal sebagai Kampung Islam Bugis. Konon, kampung ini hanya dibangun 40 orang perantau Bugis yang dipimpin Syeikh Haji Mu’min akibat tak sepaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongayya.

Awal keberadaan mereka di sana justru dicurigai oleh pihak Kerajaan Badung Bali sebagai mata-mata Belanda. Kecurigaan yang wajar tentunya. Selama ditawan, rombongan ini menunjukkan sikap kebencian mereka terhadap Belanda dan mampu meyakinkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III. Akhirnya, rombongan itu diberi kebebasan tinggal di istana untuk sementara waktu, kemudian mendiami kampung Gelagi Gendong, sebelah barat kerajaan.

Kebiasaan melaut para perantau Bugis itu membuat mereka tak betah menetap di tengah daratan, atas persetujuan Raja Badung yang mengetahui sepenuhnya bahwa perantau Bugis memiliki keahlian di bidang pelayaran, maka mereka diberi tempat di Pulau Serangan yang waktu itu masih berupa hutan.

Haji Mu’min dan pengikutnya membuka pemukiman di bagian selatan Pulau Serangan. Hubungan itu terus terjalin dengan baik dan dikatakan pada waktu Kerajaan Badung merasa terdesak menghadapi Kerajaan Mengwi, satu kerajaan lain di sisi barat kota Denpasar, Raja Badung tidak segan-segan minta bantuan para perantau dari Bugis itu untuk membantu.

Fakta lain mencatat Tahun 1919, C. Lekkerkerker, dalam Bukunya BALI EN LOMBOK, OVERZICHT DER LITERATUUR OMTRENT DEZE EILANDEN TOT EINDE, menyebutkan tahun 1849 salah satu kerajaan Bali di Jembrana tepatnya di Loloan dipimpin oleh seorang putra Bugis yang gagah berani bernama Anakoda Pattimi. Buku ini disusun berdasarkan pada sebuah Lontar Sejarah Bali.

Kampung seluas 2,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 280 warga muslim dan mereka dikeliling perkampungan Hindu, dengan sejumlah pura. Kendati demikian, warga di sini hidup rukun dan dapat menjalankan ibadah maupun aktivitas sehari-hari sebagai nelayan. Aang menambahkan, kampung ini memiliki tradisi unik yang disebut Ngejot, yakni membawa jajanan atau makanan kepada tetangga non-muslim atau sebaliknya.

Ada pula tradisi membaca Diba, catatan sejarah kekerabatan Bugis dan Bali setiap selesai salat Id di Hari Raya Idul Fitri. Tradisi inilah yang memperkuat kerukunan hidup beragama. Dan hingga kini, tradisi tersebut masih dipelihara. Selain pura, di kampung ini terdapat pula Masjid AS-Suhada merupakan saksi sejarah dari perkampungan Islam Bugis di Pulau Serangan. Masjid ini diperkirakan didirikan pada abad ke-17 masehi.

Hubungan emosional Bugis dan Bali juga ditandai dengan pertalian darah antara Putra Raja Bugis Mamuju yang menikah dengan Putri Raja Badung Bali sehingga lahir Raja Mamuju yang bernama La Salaga Mara’dia ri Mamuju yang hidup pada Abad XVI.

Bukti otentik hubungan itu dapat dilihat di Kerajaan Bugis Mamuju berupa keris Badong peninggalan dari Bali serta kuburan Bali di atas Bukit Kampung Timbu, berjarak 5 Km dari Kota Mamuju, dan pada hari-hari tertentu masyarakat Bali di sekitar Sulawesi Barat melakukan ritual dan persembahyangan di Bukit tersebut.

Akulturasi budaya Bugis tidak hanya terjadi dengan masyarakat lokal, melainkan juga dengan sesama pendatang lainnya. Haji Zainal Tayeb Ketua Umum KKSS Bali menuturkan, di jajaran kepengurusan KKSS Bali ketua Departemen Pariwisata, Ekonomi dan Hubungan Luar Negeri bernama Barry J. Smith adalah seorang berketurunan Australia yang mempersunting gadis dari Sulawesi Selatan bernama Nimmy Ibrahim yang pernah aktif di Sanggar Seni Budaya Batara Gowa Makassar.

Barry J. Smith kemudian menjadi muallaf dengan tambahan nama Ibrahim dan diberi gelar kehormatan Daeng Naba, kini nama lengkapnya adalah Barry J Smith Ibrahim Daeng Naba.

Cerita mengharukan juga datang dari Nicole (30) gadis asal Swiss, yang sengaja datang ke Bali untuk mencari ayahnya Ahmad Ramadhan, seorang Pria Bugis yang menikahi Ibunya pada tahun 1970-an. Sayang, tidak ada yang mampu menunjukkan keberadaan ayah Nicole.

Selain di Serangan, Kampung Bugis juga dapat ditemui di Suwung dan Kepaon Denpasar, juga di Kabupaten Badung, orang-orang Bugis ditemui di daerah Tuban, Tanjung Benoa dan Angantiga Petang.

Sementara di Kabupaten Tabanan, Kampung Bugis bisa ditemui di pesisir Pantai Soka, di Kabupaten Buleleng mereka dapat ditemui di Sumber Kima, Lovina, Grokgak, Singaraja, Celuk Bawang dan Seririt. Di Kabupaten Jembarana juga dapat ditemui di Loloan, Cupel, dan Yeh Sumbul, adapula dipesisir Ujung dan Buitan Karangasem.

Kerukunan Umat Islam di Bali dengan Umat Hindu menjadi bukti, perbedaan agama dan suku bukanlah alasan untuk saling menghindari dan berselisih paham. Termasuk orang Bugis sendiri meski budaya berbeda namun keduanya saling menghargai.

N1
loading...