Hacker asal Sleman raup Rp 31,5 Miliar dengan Meretas Perusahaan di Amerika Serikat. Sejumlah barang bukti ditunjukkan saat Kasubdirektorat II Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Rickynaldo Chairul memberikan keterangan kepada wartawan terkait penangkapan hacker di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 25 Oktober 2019.

Seorang hacker berinisial BBA (21 thn) ditangkap akibat aksinya meretas server sebuah perusahaan di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Ia ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri di kediamannya Sleman, Yogyakarta, pada Jumat 18 Oktober 2019.

“Ditangkap lagi main komputer di rumahnya di Sleman, Yogyakarta,” ujar Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Rickynaldo Chairul seperti dilansir kompas.

Adapun barang bukti yang diamankan meliputi, laptop jinjing, dua unit ponsel, identitas pribadi, satu kartu ATM BNI, satu unit rakitan CPU, dan sebuah moge.

Modus ransomware:

Berdasarkan keterangan dari kepolisian, peretasan tersebut dilakukan dengan modus serangan program jahat (virus komputer) jenis ransomware.

BBA membeli ransomware atau malware yang mampu mengambil alih kendali, yang berisi Cryptolocker di pasar gelap internet atau dark web.

Kemudian, ransomware tersebut dikirimkan secara luas ke lebih dari 500 alamat email di luar negeri.

Salah satu korban yang menerima email tersebut adalah perusahaan di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Sementara, ketika korban membuka email tersebut, maka software perusahaan akan terenkripsi.

Kesempatan inilah dimanfaatkan BBA untuk meminta uang tebusan kepada korban. Sebab, jika tidak diberikan uang tebusan dalam waktu tertentu, maka sistem perusahaan itu akan lumpuh.

“Saat semua sistemnya sudah bisa diambil alih oleh pelaku, maka muncul pemberitahuan di layar, apabila Anda ingin menghidupkan kembali server Anda, maka saya kasih waktu 3 hari untuk membayar,” ujar Rickynaldo seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (25/10/2019).

“Kalau misalnya tidak bisa membayar, maka yang bersangkutan atau pelaku akan mematikan seluruh sistemnya,” kata dia.

Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Rickynaldo Chairul (batik biru) saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (25/10/2019).

Tebusan berupa Bitcoin

Atas ancaman tersebut, mau tidak mau korban mengirimkan biaya tebusan kepada pelaku dalam bentuk Bitcoin.

Jadi, Selama lima tahun menjadi hacker dengan modus ransomware, BBA mampu meraup untung sebanyak 300 Bitcoin atau sekitar Rp 31,5 miliar.

“Kalau dihitung transaksinya, perputaran uangnya, ada sekitar 300 Bitcoin dia sudah bisa dapatkan. Diputar, untuk jual beli. Kemudian sisanya keuntungannya dia bisa beli peralatan,” ucap Rickynaldo.

Atas tindakannya, BBA dikenakan Pasal 49 Jo Paal 33 dan Pasal 48 ayat (1) Jo Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 45 ayat (4) Jo Pasal 27 ayat (4) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Adapun ancaman hukuman maksimal kepada pelaku adalah 10 tahun penjara.

Hacker dan Cracker:

Hacker dan Cracker umumnya dikaitkan dengan kegiatan merusak, kejahatan atau hal negatif lainnya. Antara Hacker dan Cracker meskipun keduanya memiliki prinsip kerja yang sama yaitu mencari celah kelemahan atau lubang keamanan suatu sistem.

Seseorang yang melakukan teknik hacking atau cracking bertujuan untuk melakukan penyusupan ke dalam sistem, baik dengan alat bantu (tools) atau dengan menggunakan fasilitas sistem itu sendiri untuk melakukan menyerang terhadap kelemahan pada lubang keamanan yang terdapat dalam sistem atau layanan tersebut.

Dengan kata lain, hacker dan cracker berusaha mendapatkan akses penuh ke dalam sistem dengan cara apapun. Namun tujuan akhir dari melakukan teknik ini merupakan perbedaan hacker dan cracker yang utama karena memiliki niat, mentalitas dan integritas yang berbeda jauh.

Hacker akan mencari kelemahan suatu sistem dan hasil temuannya akan diberitahukan kepada pemilik sistem atau dipublikasikan secara umum bahwa sistem tersebut terdapat kelemahan. Biasanya hacker akan memberikan pendapat yang mungkin bisa memperbaiki kelemahan sistem tersebut atau memperbaiki dengan cara yang legal.

Berbeda dengan cracker, kelemahan yang ditemukan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi seperti pencurian data, mengubah data dan lain sebagainya.

Perbedaan Hacker dan Cracker:

Beberapa perbedaan hacker dan cracker dapat juga diketahui dari kegiatan yang dilakukannya, seperti:

Hacker dalam menganalisa kelemahan suatu sistem tanpa merusak aslinya dikarenakan hanya mencari kelemahan atau celah keamanan.

Hacker memiliki etika serta mengetahui dan menyadari seluruh akibat dari apa yang dilakukannya, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Hacker tidak segan-segan untuk berbagi ilmu kepada orang lain yang serius untuk ilmu pengetahuan dan kebaikan.

Hacker memiliki komunitas yang jelas dan terbuka untuk memperdalam ilmu dan memperbanyak pemahaman tentang sistem operasi bagi sesama hacker.

Cracker:

Cracker dalam menganalisa kelemahan bersifat merusak atau mengacak-acak karena hanya untuk keuntungan atau kepentingan sendiri yang bisa merugikan pihak lain.

Cracker bersifat tersembunyi dengan menggunakan IP address yang sulit dilacak.

Cracker memiliki komunitas bersifat tertutup dan tersembunyi, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya.

Hacker adalah seorang Programmer

Pengertian Hacker adalah orang yang mempunyai ilmu dan kemampuan dalam bidang informatika atau orang yang ahli dalam suatu sistem atau jaringan pada komputer. Untuk menjadi seorang hacker bukan usaha yang mudah, memerlukan pendalaman ilmu sebagai programmer bahkan sistem analis.

Dengan demikian hacker masuk dalam ruang lingkup programmer yang mampu membuat program, mampu memperbaiki dan menganalisis suatu sistem atau jaringan dan bisa memecahkan masalah dengan dengan memanipulasi kode komputer.

Hanya saja,seorang programmer bisa akan menjadi developer (pengembang) untuk menciptakan sesuatu yang sesuai dengan seperangkat prinsip-prinsip desain dan implementasi. Atau menjadi seorang hacker yang mampu membuat hal-hal baru dari yang sudah ada seperti memodifikasi secara signifikan untuk mengubah fungsinya.

Namun jika menjadi hacker untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri setelah mengetahui kelemahan suatu program atau sistem, hal itu sudah merupakan pekerjaan cracker.

Bagaimanapun juga hacker tetap diperlukan sebagai penguji keamanan karena mengerti sistem dan dapat mengalahkan kontrol keamanan yang ada. Namun tidak untuk cracker (hacker pencuri).

N1
loading...