Salah satu minuman yang paling laris di Warkop-warkop tentunya kopi. Manfaatnya si Hitam Manis ini masih saja terus diperbincangkan. Sehat atau tidak? Amankah? Berapa cangkir sehari?

Berikut simak 4 fakta tentang Kopi :

1.Bisakah saya kecanduan kopi?
Tidak. Sekarang, jika Anda pernah minum kafein selama bertahun-tahun, dan suatu hari Anda tiba-tiba beralih ke kopi tanpa kafein, kepala akan terasa sakit. Tapi kondisi itu hanya sementara.

Dan kebanyakan ahli tidak menganggap kecanduan kafein adalah masalah besar.

2. Apakah kopi tanpa kafein berarti tidak mengandung kafein?
Tidak juga. Secangkir kopi biasa mengandung sekitar 130 miligram kafein.

Secangkir kopi tanpa kafein mengandung sekitar lima miligram. Itu kira-kira sama dengan secangkir cokelat panas atau setengah dari sebatang cokelat.

3. Haruskah saya mengurangi kopi?
Terkadang. Jika Anda menderita osteoporosis, jaga asupan Anda sampai tiga cangkir sehari. Dan kurangi kafein jika Anda menderita insomnia.

Disebutkan juga, sementara kafein bisa menghilangkan sakit kepala, tapi konsumsi kafein dalam jumlah besar akan lebih berisiko terkena migrain.

4. Apakah minum kopi setiap hari aman?
Menurut penelitian para ahli dari University of Shouthern California, disebutkan bahwa mereka yang mengkonsumsi satu cangkir kopi setiap hari, risiko meninggalnya lebih rendah 12 persen, dibanding mereka yang sama sekali tidak minum kopi.

Data ini bahkan lebih kuat pada mereka yang minum tiga cangkir per hari. Yaitu risikonya berkurang sampai 18 persen. Begitu hasil penilitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine edisi 11 Juli 2017.

Peminum kopi tampaknya lebih terlindungi dari hal-hal besar seperti diabetes, penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, penyakit hati, dan asam urat.

Biarkan ku seduh kerapuhanmu dalam cangkir sepiku, akan ku sajikan hangat senyum untuk mengaduk murung di wajah manismu”

“Tanpa ragu kusesap kopi pagi ini, karena hitamnya serupa matamu yang telah menenggelamkan aku ribuan kali ke dasar hatimu. ”

“Jadi, yg namanya pahit pada rasa kopi itu memang tak sepahit harapan yg pernah dijanjikan namun tiada prnah diwujudkan. Kopi tak sepahit itu”

“Pagi yg nikmat dengan hangatnya mentari; lagi” rasa rindu & senyummu jdi satu dlm secangkir kopi; manis ada pahit-pahitnya sedikit”

BACA JUGA :  Mengenal Sosok Andi Fahsar

“Semua yang kaurasa bahagia sudah terlewati. Biarkan terkenang tanpa air mata berlinang. Langkahkan kaki, sambutlah pagi dngn segelas kopi”

“Untuk malam yang makin larut untuk kopi yang makin surut aku bersyukur dia tersenyum setiap harinya dan bahagia dengan pilihannya kini”

“Kopi di cangkirku biasa biasa saja, berwarna hitam se hitam hitamnya, tersesap pahit se pahit pahitnya, berrasa nikmat se nikmat nikmatnya”

“Dengan secangkir kopi ku kecup hangatmu, menghapus pahitmu dengan hitamku, dengan tawa kau aduk rasaku, dengan tak sengaja aku menyukaimu”

“Kau tinggalkan secangkir kopi yang masih panas saat rinduku semakin membara. Lihatlah…. Kepulan asapnya pun seolah mengikutimu pula”

“Sebelum detik mulai terasa pahit, pernah kupinjam namamu untuk menamai kopi racikanku”

“Dan kembali siang jadi kenangan Mendung mulai berawan. Perjalananpun kembali dilanjutkan Bersama kopi dibotol air mineral”

“Baiklah,.. Pagi ini satu cangkir kopi rasa vanila Biar pahitnya kenangan, Tidak kembali membuka luka, Dan tertinggal disitu selamanya”

“Dihangatnya kebersamaan,ada Pahitnya kecemburuan Mengaduk rindu dengan lembut Penuh kasih sayang Itulah cinta disegelas racikan kopi”

“Kuhirup kopi hangat yang telah Mengajariku berpikir sehat Jika kau benar benar cinta dan sayang Kau tak akan lupa dimana harus pulang”

“Langit malam yang gelap, seperti rasa khawatir. Melarutkannya bersama lelap, untuk terbangun pada keadaan terang dan kabar darimu hadir”

“Pagi ini kubuat dari kopi panas dan rasa cemas. Untuk bisa kunikmati perlahan, dan menjaga bahagia untuk tidak hilang bergegas.”

“Bulan purnama, bintang di setiap sudut langit, secangkir kopi, kejanggalan hati, merindukan sesuatu yang super sulit untuk di atasi. yaitu kamu”

“Cintalah penyebab retakan-retakan waktu, saat hati patah; malam jadi sajak sepi, siang jadi sajak gundah, dan pagi menjadi resah dalam kopi”

“Jika mengharum aromanya saja bisa mengalihkan masa laluku, tentu dg menikmati setiap sesapan dibibir cangir kopi mampu membangkitkan masa depanku”

“Kubiarkan aroma kopi tersapu angin, menjadi dingin lalu mengendap segala ingin. Hingga nanti berganti musim.”

BACA JUGA :  Sejarah Mudik Orang Bugis

“Aku mencari cari bayangmu di secangkir kopi pagiku……. kamu….apakah kamu mengerti dan peka..bahwa aku menantimu”

“Kopi pagi ini terasa hambar, seperti rindu ku yang tak pernah pudar. Namun sayang kamu tak pernah sadar, bahwa aku ingin bertemu sebentar”

“Adakalanya pagi terasa sepi, kopi pun tak sanggup menghangatkan, dingin begitu menusuk, pada sebuah kepergian.”

“satu cangkir patah telinganya, satu lagi retak bibirnya. kopi panas memang bisa saja melukai dan jadikan kenangan.”

“Menatap langit-langit. Menikmati secangkir kopi pagi di sela-sela awan kelabu, dan kubiarkan diri, kembali dipasung mimpi tentangmu.”

“di tepi cangkir, rindu bejatuhan menjelma butir ampas kopi. tak sempat kuminum, tapi aromanya sungguh sangat bisa kucium”

“di kopi kesekian, rindu datang berulang. kenangan nampak di pandangan. seakan nyata, meski sebenarnya fana yang ingin dinyatakan”

“Jika pahitnya kopi saja engkau tak kuasa menahannya, lantas bagaimana aku bisa yakin bahwa kau akan menetralkan masalaluku yang cukup pahit?”

“Kopi dan kamu, bagai pagi dan mentari, rindu yang makin menjadi dalam setiap tegukan, datang dengan pasti setiap hari.”

“Sehangat kopi pagi, biar kuramu rindu. Rindu tentang aku yang berjuang sendiri, untuk menjadikanmu bagian dari sajak embunku.”

“Kamu adalah impian yg pernah aku bayangkan, meski hanya dengan seduhan kopi hitam yang pernah gagal kau sajikan. Yang ada tinggallah cerita”

“Begitu sederhana rindu kali ini; diterbangkan harum kopi, melekat indah di lembut pipimu, lalu mewarnai detik waktu.”

“Pada sajak Aku bercerita tentang indahnya Cinta, tapi pada ampas kopi ku mengadu tentang perihnya rasa rindujika secangkir kopi ini jadi yang terakhir malam ini, biar senyummu kuaduk di dalamnya. maka kan kunikmati sampai kopi berikutnya, esok pagi”

“Selamat pagi hati yg masih sepi,enggankah kau buka kembali? setidaknya ada sepotong sajak tentang seseorang & kopi dipagi hari yg meramaikan”

“Dibuat rindu meradang, pagi tenggelamkan satu persatu kenangan kedasar kopiku, kusesap perlahan penuh harapan”

“ku nikmati kopi ber aroma masalalu di temani kripik singkong memandangi matahari pagi yg semakin angkuh kala siang hari”

BACA JUGA :  LGBT dalam Perspektif Agama

“Dihangatnya kerinduan,ada pahitnya kecemburuan,lalu ku mengaduknya Semua penuh kasih sayang,itulah Cinta Dalam racikan secangkir kopi”

“Ada banyak caraku untuk menanti kedatanganmu tanpa rasa bosan, Duduk manis sembari kunikmati kopiku dengan perlahan”

“Di pagi yg paling peluh, ada rindu tanpa mengeluh, secangkir kopipun telah terseduh, menikmati pagi minggu tanpa kamu”

“Tak usah berjanji akan selamanya Bisa bersama disini,cukup temani aku Minum kopi tiap malam dan tetap bertahan Sesusah apapun nanti”

“Kuseduh kopi bersama sejuk embun dipelukan, berharap bersulang kenikmatan dan mengendapkan ampas rindu dalam ingatan”

“malam ini masih berteman kopi, berhkayal, bernostalgia dan berlagak seolah tangguh walau nyata hati rapuh”

“Seindah pagi dalam hangat gelas kopi, memulai hari dengan pahit yg memikat hati, selamat pagi pecandu kopi.”

“Dari secangkir kopi dingin, dari sepi yang masih penuh cinta.. Aku dan rindu saling diam menghayati kesunyian.”

“Selamat pagi rindu, pagi ini hangatnya kopi terasa pait di lidahku, apa aku lupa mencampur gula ataukah cemburu yg menipulasi rasa.”

“Aku tidak membencimu. Aku juga tidak mencintaimu. Duduklah dekat sini dan nikmati kopi bersamaku”

“Sehangat kopi pagi, biar kuramu rindu. Rindu tentang aku yang berjuang sendiri, untuk menjadikan mu bagian dari sajak embunku”

“Kadang lidahku seperti kopi hitam yang hangat, tapi rayuan hangat yang terkopi eh terucap, sering terabaikan hingga harus menjadi dingin”

“Sudah, sudahi saja rayuan manismu itu, kopiku sudah cukup manis untuk ku nikmati meski tanpa canda rayumu”

“Saat kamu minum kopi, potensi rasa pahit dan manis akan mengenang di sudut bibirmu sebelum menyentuh lidah hingga pada jeda berikutnya”

“Belajarlah hal terhebat dari kopi yg menghapus tangis tanpa pelukan, mencipta tawa tanpa gurauan & menjawab resah tanpa kata.”

“Mencintaimu: tak lebih indah dari menikmati secangkir kopi. Dari hari ke hari, yang kuteguk hanya pahit dan sepi.”

“Mari kita mulai bercerita, dimulai dari bagaimana caramu menyeduh kopi sampai bagaimna cara mu menikmatinya hingga tuntas menyisakan ampas”

“Bila memandangmu saja mampu membuatku merasa baik. Apalagi bisa menikmati kopi sembari menatapmu dalam-dalam”