Cerita Rakyat :

Ada dua orang anak yang terlantar ditinggal pergi oleh ayahnya yang telah meninggal. Pada suatu hari kedua anak itu merasa sangat lapar, sementara persediaan makanannya sudah habis. Pergilah si adik ke kuburan ayahnya yang sudah meninggal.

Ketika hari telah malam, terdengarlah suara ayahnya dari dalam kubur. Wahai anakku, sebentar lagi aku akan kedatangan tamu, yaitu orang yang baru meninggal dan akan dikuburkan di sini. Menjelang pagi aku minta bara api untuk memanaskan badan.

Tetapi janganlah membuka pintu kuburku, masukkan saja melalui lubang ini. Sebab kalau kamu membuka pintu kuburku, kau akan merasa takut karena mataku berwarna merah”..

Esok harinya, ketika matahari mulai nampak diupuk timur, ayahnya mengum- pulkan bambu bekas memasak makanan dan bulu ayam,lalu diletakkan di dalam sampan yang ada dekat kuburannya. Ayahnya berkata lagi ; Pergilah anakku, sesampainya di muara siramlah semua bambu-bambu dan bulu ayam itu.

Tetapi jangan sekali-kali engkau tenggelamkan”. Sesampainya di muara,disiramlah bambu-bambu dan bulu ayam tersebut sesuai petunjuk dari ayahnya. Maka berubahlah semua menjadi makanan yang lezat, pisang, ayam panggang dan lain-lain.

Tiba di kampung, dibawanya makanan itu ke rumahnya. Ketika kakanya meli- hat makanan sebanyak itu, lalu bertanya kepada adiknya. ”Dari mana engkau memperoleh makanan yang lezat-lezat sebanyak itu adikku?” Aku dapat dari kuburan ayah kita”,jawab adiknya. Mendengar jawaban adiknya, kakaknya berkata; ”Kalau begitu, aku juga akan pergi ke kuburan ayah, supaya dapat kubawa makanan lebih banyak lagi”. Adiknya menjawab ; Kakak boleh pergi, tapi mari dulu kuberikan nasihat dan petunjuk tentang bagaimana caranya bila sampai di kuburan ayah kita”.

Rupanya sang kakak tidak menerima baik kata-kata adiknya. “Apa pantas seorang adik memberi nasihat dan petunjuk kepada seorang kakak?” tegasnya. Adiknyapun mengalah dan diam.

BACA JUGA :  Kemayoran Bugis Masa Alla

Hari berikutnya, pergilah si kakak ke kuburan ayahnya. Sampai di kuburan ayahnya, terdengarlah suara dari dalam; Engkau juga datang, anakku. Sebentar malam akan ada lagi tamu baru yang akan diantar kesini. Tidurlah engkau di atas peti besar yang ada diatas kuburanku. Menjelang fajar menyingsing, berikan aku api untuk memanaskan badan. Masukkan lewat lubang kecil ini, tapi jangan engkau buka pintu kuburku, sebab engkau pasti takut melihat mataku yang berwarna merah”

Namun dasar anak yang kurang memperhatikan apa yang diberi tahukan oleh ayahnya, lalu membuka pintu. Karena terkejut melihat mata ayahnya yang berwarna merah dan menyala, maka larilah sambil berteriak ketakutan.

Setelah ia sadar, barulah ia kembali mendekati kuburan ayahnya. Lalu ayahnya yang kasihan melihat anaknya,dikumpulkannya bambu-bambu bekas memasak makanan dan juga bulu ayam yang diletakkan di dalam sampan yang ada dekat kuburannya.

Setelah itu, berkatalah kepada anaknya ; Pergilah anakku, sesampainya engkau di muara janganlah engkau benamkan bambu-bambu dan bulu ayam itu, tapi siram saja” Tetapi sekali lagi si anak tidak menuruti apa yang diperintahkan kepadanya.

Sesampainya di muara, bambu-bambu dan bulu ayam tadi bukannya disiram sesuai perintah ayahnya, bahkan dibenamkannya. Makanya ayamnya lari, pisang dan makanan yang lezat-lezat lainnya, semuanya hanyut. Marahlah si kakak menyesali perbuatannya yang tidak menghiraukan nasihat adik dan ayahnya.

Tiba di kampung,adiknya bertanya ; Mana makanan yang kau bawa dari kuburan ayah kita?” Dengan perasaan kesal bercampur malu, ia menjawab ; ”Saya menyesal tidak mengikuti nasihat adik dan perintah ayah kita. Sekarang saya kembali dengan tangan kosong”. Dengan tersenyum simpul adiknya menjawab ; ”Karena itu, sesuatu nasihat jangan dilihat dari mana yang memberikannya.Dari anak kecilpun patut kita perhatikan. Yang penting nasihat itu berguna bagi kita”.

BACA JUGA :  Lirik Palini Rewe Lopie

Teluk Bone : Juara I Monolog pada Sayembara Cerita Rakyat Sulawesi Selatan  2007