Mata pencarian masyarakat Bugis pada mulanya merupakan masyarakat agraris, kemudian bermigrasi sejak jatuhnya Gowa pada tahun 1666. Di perantauan, orang-orang Bugis terkenal sebagai pelaut ulung, serdadu bayaran, dan penguasa kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Peran dan kiprah mereka, telah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia, khususnya pada abad ke-18 dan 19 Masehi.

Dari Darat ke Laut

Bugis, salah satu dari etnik di Nusantara yang telah menempatkan manusia-manusianya di seberang lautan sejak ratusan tahun lampau. Ia menyebar dan dikenal sebagai suku petualang yang berani melawan tantangan hidup. Mereka ditempa dan terlatih untuk menghadapi segala tantangan di manapun ia berada.

Kepindahan masyarakat Bugis-Makassar, lebih disebabkan karena besarnya dorongan politik di Sulawesi Selatan, yang merupakan kampung halaman mereka. Kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar yang telah bersaing sejak abad ke-14, menciptakan ketegangan yang berkepanjangan.

Aliansi, ekspansi, dan peperangan yang berlangsung ratusan tahun lamanya, mengundang petualang-petualang asing untuk ikut bermain di dalamnya. Pemerintah Hindia-Belanda yang tahu keadaan ini, menjadi pihak yang paling siap membantu salah satu kerajaan yang bersaing dengan taktik pisahkan dan kuasai.

Kisah terdiasporanya masyarakat Sulawesi Selatan ke seluruh Nusantara, bermula ketika orang Bugis dipekerjapaksakan oleh kerajaan Gowa. Kemudian muncul sosok Arung Palakka untuk melakukan pembebasan terhadap orang Bone yang dipekerjakan secara paksa. Lalu mencari strategi bekerja sama Hindia-Belanda.

Jauh sebelum cita-cita membentuk NKRI setiap kerajaan di Nusantara sebenarnya adalah sebuah negara-negara kecil dengan sistem pemerintahan tersendiri. Namun belakangan negara-negara kecil itu banyak yang bergabung menjadi satu negara yang lebih besar, demikian seterusnya.

Oleh karena itu, kalau ada yang menyebut Arung Palakka sebagai seorang penghianat berarti cerita itu lahir dari penulis sejarah yang konyol dan tidak masuk akal. Siapakah yang dihianati Arung Palakka? dan ketika melihat sukunya bangsanya menderita akibat penjajahan kerajaan Gowa tentu ia bangkit untuk melakukan upaya perlawanan dengan taktiknya sendiri.

Bahkan peduli amat kata orang apakah mau kerja sama dengan setan pun jika itu cara yang terbaik untuk membabaskan rakyatnya dari penjajahan negara/kerajaan lain. Akibat tekanan politik Kerjaan Gowa pada waktu itu rakyat Bone banyak meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghidupan yang lebih layak dan tenteram. Bukan hanya Bugis Bone yang migrasi tetapi juga rakyat dari kerajaan-kerajaan Bugis lainnya.

Ketika itu, Kerajaan Bone memang dalam keadaan terjepit. Di bawah kendali Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Gowa tetangga sekaligus pesaingnya, wilayahnya yang terus berkembang, mengancam eksistensi Bone. Di pihak lain, ekspansi dagang Gowa ke seberang lautan, juga mengancam jaringan perdagangan Belanda di Indonesia Timur. Keadaan ini menyebabkan, terjadinya aliansi Bone-Belanda di Sulawesi.

Kuatnya aliansi Bone-Belanda, berakibat pada jatuhnya benteng Makassar ke tangan Kompeni. Keadaan ini semakin diperparah oleh Perjanjian Bongaya (tahun 1666) yang melarang orang-orang Makassar pergi melaut.

Hingga usai Perang Makassar tahun 1669, seluruh wilayah Kesultanan Gowa telah menjadi bagian dari Pax Nederlandica. Orang-orang Bugis yang tak puas dengan kondisi politik Sulawesi Selatan, memilih untuk pergi merantau dan mengancam Belanda di perairan. Mereka bertekad, akan melawan setiap kapal-kapal Belanda yang mereka temui di lautan.

Dari Bajak Laut, Serdadu Bayaran, hingga Elit Kerajaan

Setelah Hindia Belanda menguasai jasirah selatan Sulawesi tentu menimbulkan kebencian di kalangan orang Bugis dan Makassar. Mereka menganggap Belanda sebagai perampas harta kekayaan negerinya. Dalam kondisi seperti itu orang Bugis-Makassar melakukan pencegatan di tengah laut.

Setiap kapal Belanda yang ditemui dihadangnya kemudian merampas isi kapalnya tentunya setelah melalui pertarungan di tengah laut. Orang Bugis mengetahui bahwa kapal-kapal Belanda itu merupakan hasil rampasan dan harta kekayaan berasal dari negerinya di Sulawesi.

Dengan demikian Belanda mencap dan menyebutnya orang Bugis sebagai bajak laut perompak atau lanun. Meskipun ada pula di antara orang Bugis yang bekerja sama Belanda menjadi serdadu profesional (bayaran).

Tun Abdul Razak dan Najib Tun Razak

Menjadi bajak laut dan serdadu bayaran, merupakan dua profesi utama perantau Bugis masa itu. Kiprah bajak laut dan perompak Bugis, agak samar-samar terdengar. Di kalangan ahli dan sejarawan, eksistensi mereka sempat menjadi perdebatan.

Bernard Vlekke, dalam bukunya : “Nusantara, Sejarah Indonesia”, melukiskan keberadaan armada perompak Bugis yang banyak berkeliaran di perairan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda, dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai Barat dalam perang-perang internal antar-mereka.

Walau kiprah lanun Bugis tidak lebih hebat dari orang-orang Moro, namun serangan sporadis yang mereka lancarkan, kerap menjadi momok menakutkan bagi perusahaan dagang Belanda : VOC.

Reputasi mereka sebagai serdadu bayaran, juga dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk memperluas jajahannya. Pada masa Perang Paderi (1803-1838), selain orang-orang Ambon dan Madura, laskar Bugis dikenal sebagai serdadu yang tangguh.

Di Jawa, di bawah pimpinan Karaeng Galesong dan Karaeng Naba, mereka berperang melawan pasukan Trunojoyo membela boneka Belanda, Prabu Mangkurat II. Di Banten, pasukan Bugis juga turut membantu Belanda membersihkan sisa-sisa pengikut Sultan Ageng Tirtayasa.

Tahun 1722 huru hara besar terjadi di Johor. Era ini menjadi awal mula serdadu bayaran Bugis berkiprah dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan semenanjung. Pada saat itu, pasukan Bugis pimpinan Daeng Parani, menjadi tentara sewaan Bendahara Abdul Jalil untuk merebut takhta Johor dari tangan Raja Kecil, seorang pengelana asal Pagar Ruyung.

Dalam peperangan itu, pasukan Bugis berhasil memenangkan pertarungan, sekaligus menaikkan Abdul Jalil ke singgasana Johor. Walau Abdul Jalil naik takhta, namun posisinya di kerajaan hanya menjadi bayang-bayang Bugis. Pada masa selanjutnya, raja-raja Johor justru banyak datang dari kalangan Bugis-Makassar

Kerajaan Selangor yang lahir pada abad ke-18, juga didirikan oleh seorang Bugis bergelar Sultan Salehuddin Syah. Dari penelusuran silsilah raja-raja Bugis, diketahui bahwa Salehuddin Syah merupakan keturunan Daeng Cella, salah satu dari empat saudara Daeng Parani.

Kedua kakak-beradik itu, adalah cicit dari raja Luwu terkemuka, Wetenrileleang. Melengkapi Lontara Akkarungeng yang sudah tua, kitab Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji, juga menceritakan kebesaran Bugis di masa lampau.

Kini, banyak perantau Bugis telah beranak-pinak dan hidup makmur di perantauan. sekurangnya 2 juta orang keturunan Sulawesi Selatan bermukim di Kalimantan, ribuan orang tinggal di Sumatra, dan sekitar 800 ribu orang menjadi warga negara Malaysia serta ribuan di Brunai Darussalam.

Di antara warga Malaysia, Tun Abdul Razak dan Najib Tun Razak, merupakan dua tokoh Bugis-Makassar paling cemerlang. Bapak beranak ini, sukses menjadi perdana menteri Malaysia yang kedua dan keenam. Najib pernah mengemukakan bahwa dirinya adalah salah satu contoh sukses perantau Bugis-Makassar di Malaysia.

Sebagai tanda bahwa dirinya merupakan keturunan pelaut Bugis-Makassar, di ruang kerjanya ditempatkan replika kapal pinisi berukuran sedang. Baginya, kapal pinisi menjadi simbol masyarakat Bugis-Makassar dalam mengarungi lautan Nusantara dan sekitarnya.

N1
loading...