Ada sebuah cerita saat Presiden Soeharto berkunjung ke Jerman. Saat itu, Soeharto dihadapkan dengan adanya demo anarkis.

Bagaiman Cara Soeharto menghadapi peristiwa itu? Seperti apa? Simak ceritanya berikut ini.

Sebagai seorang pemimpin negara, Soeharto juga tidak bisa melepaskan diri dari hubungan dunia internasional.

Oleh karena itu, Soeharto pun tercatat beberapa kali berkunjung ke negara lain. Satu di antaranya adalah Jerman.

Meski demikian, kunjungan Soeharto ke Jerman juga tidak bisa dikatakan mulus begitu saja.

Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS. Kemudian, Soeharto menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968.

Sjafrie Sjamsoeddin, mantan pengawal Soeharto mengungkap hal itu di buku “Pak Harto, The Untold Stories”.

Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kunjungan itu terjadi pada tahun 1995 silam. Tepatnya, pada tanggal 1 April 1995.

Saat itu, Soeharto berniat menghadiri Hannover Fair. Hannover Fair adalah sebuah pameran dagang akbar yang diikuti sekitar 60 negara di dunia.

“Ternyata ada yang tidak menyukai tampilnya Pak Harto di panggung para pemimpin dunia di saat itu,” kata Sjafrie Sjamsoeddin.

Alasannya, saat itu sejumlah orang menggelar demonstrasi di Jerman. Mereka mengangkat beberapa isu yang sedang hangat di Indonesia.

Sjafrie Sjamsoeddin melanjutkan, dia sebenarnya sudah melihat adanya gejala gangguan pada kunjungan Soeharto sejak mereka di Hannover.

Menurutnya, hal itu sebagai dampak dari adanya beberapa orang Timor Timur yang melompati pagar Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

“Rupanya mereka lantas berkeliling ke sejumlah negara di Eropa,” ujar Sjafrie Sjamsoeddin.

Meski demikian, mereka tidak mendapatkan peluang. Karena pengamanan di Jerman terbilang ketat.

Namun, keesokan harinya Sjafrie Sjamsoeddin melaporkan ke Soeharto terkait indikasi adanya sejumlah LSM internasional yang akan menggelar demonstasi.

Saya melihat Pak Harto menyimak, tetapi tidak begitu menaruh perhatian secara fisik. Itu menunjukkan bahwa beliau tahu, tetapi tidak mau pikirannya terganggu,”lanjut Sjafrie.

BACA JUGA :  Jenis-jenis Osong dan Contohnya

Yang dikhawatirkan pun akhirnya terjadi.
Saat itu, Soeharto beserta rombongannya harus berjalan sejauh 75 meter menuju tangga gedung Museum Wright.

Ketika itu, rombongan tersebut melihat adanya sejumlah orang yang berkerumun.

Mereka seakan tahu ada seorang kepala negara yang akan datang. Awalnya, Sjafrie Sjamsoeddin menganggap hal itu lazim.

Namun, saat baru sepertiga jarak dilalui, mendadak orang-orang tersebut membuka baju mereka.

Sehingga, terlihat kaus-kaus mereka, dan bertuliskan “Fretilin”.

“Ternyata mereka adalah demonstran yang menyamar sebagai kerumunan,”ungkap Sjafrie.

Mereka selanjutnya bertindak mulai anarkis. Tak hanya mengacungkan poster, mereka juga mulai ada yang melempar telur, kertas, hingga mengibarkan bendera Fretilin.

“Pak, ini ada yang mengganggu,”kata Sjafrie.

Namun, Soeharto meresponnya tenang dan bahkan sambil tersenyum melambaikan tangan kepada demonstran itu.

“Jalan saja terus,”kata Sjafrie sambil menirukan ucapan Soeharto.

Ajudan Sudah Siapkan Pistol

Saat didemo para demonstran, Soeharto rupanya hanya dikawal oleh tiga pengawal resmi.

Sjafrie Sjamsoeddin sendiri mengaku sudah bersiap mengambil tindakan taktis.

“Kalau tangan saya sampai mereka sentuh, senjata saya harus digunakan,”kata Sjafrie.

Oleh karena itu, tangan kiri Sjafrie Sjamsoeddin pun berusaha memberi batas. Sedangkan, tangan kanannya sudah berada di sarung pistol.

Presiden Soeharto pada 15 Januari 1998.

Beruntung, saat itu dia mendapatkan bantuan dari para wartawan Indonesia yang meliput agenda Soeharto.

“Mereka ikut jadi bumper dan pembuka jalan sehingga lemparan benda-benda itu tidak sampai menjangkau Presiden, dan Ibu Negara yang hanya kami lindungi dengan payung beserta rombongannya,” tandas Sjafrie Sjamsoeddin.