Bukit CEMPALAGI adalah kawasan perbukitan di pesisir Teluk Bone, tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sejauh 14 km di sebelah Utara Kota Watampone.

Dari arah Timur, ia nampak seperti BH (Penutup Payudara) yang terapung, kemudian di sebelah Selatan adalah Tanjung Pallette dan di sebelah Utara itulah bukit Cempalagi.

Cempalagi terdiri dua kata yaitu, CEMPA dan LAGI, (Cempa artinya Asam, dan Lagi artinya Masih Mau). Dengan demikian Cempalagi bermakna pohon asam dan buahnya dapat dimakan. Walaupun terasa kecut tetapi selalu membuat ngiler menimbulkan selera untuk memakannya, dan minta lagi.

Sebagian masyarakat sekitar itu mengatakan kalau dahulu di sana tumbuh menjulang sebuah pohon besar yang disebut Pong  Cempa sehingga daerah itu dinamakan Cempalagi.

Dari penuturan masyarakat setempat, dulu di bukit itu terdapat Pong Cempa (Pohon Asam) yang besar yang sering dijadikan sebagai tempat perlindungan di masa terjadi perang.

Pada saat kekurangan makanan mereka mengambil buah asam untuk sekadar mengganjal perut. Barangkali inilah yang mengilhami sehingga tempat ini dinamakan Cempalagi.

Terlepas dari keanehan namanya, dengan melihat kondisi alamnya, gunung tersebut sebenarnya mempunyai potensi wisata yang beragam.

Potensi wisata tersebut antara lain, wisata bahari/pantai, dan wisata alam. Karena itu, bukit Cempalagi tersebut dapat diperhitungkan sebagai aset potensi wisata pemerintah Kabupaten Bone.

CEMPALAGI SEBAGAI WISATA SEJARAH

Cempalagi tidak lepas dari bagian rangkaian sejarah Bone yang panjang. Di gunung itulah Raja Bone ke-15 Arung Palakka mengucapkan sumpah janji untuk membebaskan rakyatnya dari ketertindasan sebelum melakukan rangkaian perjalanan panjang ke kerajaan Buton untuk selanjutnya ke Batavia dan ke Pariaman Sumatera. Masa itu terjadi pada abad ke-17 ketika pasukan Gowa mencari Arung Palakka dan pengikutnya.

Bukit Cempalagi ini bukan hanya aspek cerita , melainkan adanya beberapa ‘ Prasasti ’ yang dapat disaksikan sampai saat ini.

Ketika Arung Palkka mencapai puncak ” kemurkaannya” dengan kesaktian sebagai seorang raja Ia mencakar ” MAKKAREBBE ” (Mencakar), menghentakkan tumitnya dengan kuat ( mattuddu’) dan bersumpah (mattanro) untuk membebaskan rakyat Bone dari belenggu penjajahan Goa pada suatu ketika nanti.

Sembari menghentakkan kaki, lalu berkata ” “de nalabu essoe ri tengngana bitarae ” (tak mungkin matahari tenggelam di tengah langit)

Ketiga hal itu yang dilakukan Arung Palakka sehingga meninggalkan TIGA PRASASTI yang masih bisa dilihat sampai sekarang, antara lain:

1. Akkarebbeseng (Bekas Cakaran Tangan) pada dinding gua;

2. Attuddukeng (Bekas hentakkan kaki/tumit) di atas batu yang terletak di bibir pantai;

3. Assingkerukeng (Simpul) melambangkan sumpah untuk membebaskan rakyatnya dari segala ketertindasan dibuktikan dengan simpul (singkeru).

Sebab dalam tradisi orang Bugis keseriusan sumpah biasanya dilambangkan dengan simpul mati. Karenanya, prasasti tersebut dikenal dengan nama Assingkerukeng.

Bagi masyarakat di sekitar kawasan tersebut pasti mengenal betul di mana ketiga prasasti itu berada.

Akkarebbeseng (bekas cakaran tangan) ditemukan pada batu di dinding gua sebelah kiri ketika turun sebelum mencapai sumur.

Masyarakat setempat gua tersebut disebut Liang Laungnge (gua lama), merupakan gua pertama di antara gua yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi.

Assingkerukeng (simpul) ditemukan di dalam gua sebelah Utara gunung (bibir pantai). Disebut Assingkerukeng karena merupakan batu yang bentuknya lain dari pada yang lain.

Sampai saat ini tempat tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan banyak dikunjungi orang memberikan sesajen untuk melepas nazar. Layaknya di tempat keramat lainnya, di tempat ini harus menjaga sikap untuk menghindari kualat mahluk gaib yang menghuninya.

ATTUDDUKENG (Bekas hentakkan kaki/tumit) terletak di kaki bukit sebelah Timur sekitar 600 meter dari tempat Assingkerukeng yang tertera dicatas lempengan sebuah batu.

Berupa lubang yang berukuran kira-kira 38 cm. Sebenarnya tempat itu merupakan bagian dari laut. Maka dari itu ia hanya kelihatan saat pasang sedang surut.

Uniknya, meskipun berada di bagian laut, mata air yang menggelembung dari bawah dijadikan sebagai sumber air tawar oleh penduduk setempat pada musim kemarau.

Sebenarnya bila dilihat fisiknya sekarang, mungkin sulit dipercaya bahwa lubang tersebut sebagai bekas kaki Arung Palakka karena terlalu besar untuk ukuran kaki manusia. Tapi itulah adanya.

Keunikan itulah sehingga diperlebar oleh masyarakat setempat demi memenuhi kebutuhan air tawar pada waktu-waktu tertentu. Atau boleh jadi ukuran kaki Arung Palakka memang melebihi ukuran kaki orang lain pada umumnya.

Oleh : Mursalim

N1
loading...