NAMA adalah sebutan yang diberikan kepada benda, manusia, tempat, produk dan bahkan gagasan atau konsep, yang biasanya digunakan untuk membedakan satu sama lain. Nama dapat dipakai untuk mengenali sekelompok dalam konteks yang unik.

NAMA bukan hanya deretan huruf. Meski Shakespeare pernah bilang bunga mawar akan tetap harum meski diberi nama lain, bagi kebanyakan orang dan bangsa punya arti, nama tidak diberikan secara sembarangan. Nah, bagaimana kalau nama Orang Bugis?

Orang Bugis disebut T A U  U G I sebab :

T = tau, takut kepada pencipta
A = appase’, nafas, bernyawa
U = ure’, cakap, cerdas, bisa berdiri

U  = ulu, kepala, pemimpin

G  = Gau, Perilaku, Ada na Gau

I  = Ise, Isi, tutur kata, bicara bertuah

Tau Ugi ketika ia sendiri, To Ugi ketika ia bersama

Jika TAU disatukan dengan TO akan menjadi TAU TO, TAU TUO, artinya mahluk mulia yang mempunyai :
1. rasa takut kepada Allah
2. nafas karena Allah
3. kecerdasan hidup karena Allah

Setiap peristiwa selalu terhubung dengan nama. Bahkan sebagai pencipta kedua, manusialah pencetus peristiwa. Bila disebut dalam peristiwa atau tindakan yang baik, nama pelaku akan turut terbawa harum. Namun bila nama seseorang dikaitkan dengan peristiwa buruk, atau perbuatan salah, pasti namanya turut tercemar.

Itulah sebabnya, hukum melindungi nama yang diduga terlibat tindak pidana namun belum terbukti bersalah menurut keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dengan asas praduga tak bersalah.

Orang yang diduga bersalah harus dianggap tidak bersalah sampai pengadilan membuktikan kesalahannya. Atas dugaan itu, penulisan nama terduga cukup dengan inisial.

Sebuah nama tidaklah hampa. Setiap nama punya cerita, yang hanya mengenal kata mulai. Kedalamnya bukan hanya ditiupkan harapan dan doa, tetapi juga dilekatkan kehormatan.

Bila nama adalah emas, maka nama baik adalah karatnya. Karat yang sudah luntur tidak bisa dikembalikan, sama seperti nama yang sudah tercoreng tidak bisa dipulihkan.