Umumnya suku Bugis mempunyai bentuk rumah yang memanjang ke belakang, dengan tambahan di samping bangunan utama dan bagian depan, serta memiliki atap berbentuk prisma ini, memiliki arti tersendiri bagi orang Bugis.

Bagi orang Bugis, rumah lebih dari tempat tinggal maupun tempat berteduh dengan segala keindahannya, tetapi juga menjadi barang sakral. Rumah adalah ruang sakral di mana penghuninya mengalami, lahir, menikah, mati, serta kegiatan peribadatan dan sosial lainnya.

Orang Bugis juga percaya bahwa alam raya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Alam atas (botting langi),
2. Alam tengah (alang tengah), dan
3. Alam bawah (peretiwi).

Dan dari kepercayaan ini yang akhirnya direfleksikan ke dalam struktur rumah panggung khas Bugis. Struktur rumah panggung Bugis terdiri dari tiga bagian yaitu :
1. Bagian atas (rakkeang) yang biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru dipanen, 2. bagian tengah (watampola/ale bola): di mana yang menjadi tempat tinggal, dan
3. Bagian bawah atau kolong (awa bola) yang berfungsi untuk menghindari serangan binatang buas untuk naik ke atas, atau pada zaman sekarang digunakan untuk menempatkan kendaraan dan tempat duduk dikala senggang.

Di balik rumah mereka yang filosofis, uniknya, bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang, sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Dan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam tradisi suku Bugis, tradisi memindahkan rumah disebut sebagai Mappalecce atau Mappalette Bola. Ada dua cara dalam memindahkan rumah, yaitu :
1. Dengan cara didorong.
Cara ini dilakukan ketika posisi rumah yang baru, berdekatan dengan posisi rumah yang lama.
2. Dengan cara diangkat. Cara ini digunakan, jika jarak posisi rumah yang baru cukup jauh dari posisi rumah yang lama.

Sebelum hal ini dilakukan, ada persiapan yang dilakukan oleh pemilik rumah, seperti mengadakan ritual selamatan, menurunkan perabotan rumah tangga yang mudah pecah, mudah bergerak, atau yang dapat memengaruhi berat rumah pada saat pemindahan berlangsung, sampai memasang bambu pada kaki-kaki rumah panggung sebagai pegangan dan penahan untuk menggotong.

Pengangkatan rumah tersebut dipimpin oleh ketua adat atau kepala kampung. Orang itulah yang nantinya akan memberikan aba-aba kapan harus mengangkat, mulai berjalan, mengatur kecepatan langkah dan perhitungan lainnya. Sebelum rumah dipindah, warga yang akan membantu, biasanya dijamu oleh si pemilik rumah.

Makanan ringan khas suku Bugis seperti kue bandang-bandang, barongko, bella, buburu, bella lawo, serta secangkir teh hangat dan kopi, akan tersaji di depan para kaum adam yang akan membantu jalannya tradisi tersebut. Makanan kedua disajikan setelah kegiatan pindah rumah ini selesai. Hal ini sebagai timbal balik atas bantuan mereka dalam memindahkan rumah, dan sebagai “penawar” lelah setelah bekerja keras.

Makanan khas yang menjadi suguhan ini adalah sup saudara, gammi, dan ikan bandeng yang diberi bumbu saus kacang. Orang Bugis menganggap, setelah proses ini adalah sebuah pesta besar. Pemilik rumah biasanya melakukan tradisi ini karena tanah yang dipakai untuk mendirikan rumah panggung sudah terjual, sehingga mereka memindahkan rumahnya ke tanah (tempat) yang baru.

Setelah rumah dipindahkan ke lokasi yang baru, dan telah berumur satu tahun, kemudian diadakan sebuah upacara yang disebut Maccera Bola. Upacara ini bertujuan untuk menolak bala atau nasib sial pada tempat yang baru dengan cara menyapukan darah ayam pada tiang-tiang rumah. Dalam pelaksanaanya, upacara ini dipimpin oleh Sanro Bola atau tukang yang membangun rumah tersebut.

Tradisi mappalecce bola kini semakin jarang ditemukan, seiring semakin banyaknya bangunan-bangunan permanen yang didirikan tidak menggunakan kayu sebagai tiang. Umumnya sekarang membuat bola meppo atau rumah batu. Meski demikian, tradisi mappalecce bola ini merupakan wujud kebersamaan dan gotong royong hingga kini masih tetap dilakukan dan dijaga mereka.

N1
loading...