Ketupat merupakan seni membuat wadah nasi dimasukkan dalam sebuah selongsong yang terbuat dari daun lontar atau pun dari daun kelapa yang masih muda sebagai pembungkusnya. Model dan bentuk ketupat memang banyak tergantung keinginan. Namun di kalangan Bugis biasanya hanya terdiri dari dua model yaitu  ketupat biasa dan ketupat nabi.

Ketupat dalam bahasa Bugis disebut Bokong di mana menjadi salah satu menu hidangan bagi masyarakat Bugis dalam berbagai acara hajatan. Biasanya ketupat atau bokong ini digunakan untuk kepentingan tertentu seperti ritual ibadah.

Makanan beras bersantan yang dibungkus daun lontar ataupun daun kelapa ini sudah dilakukan sebelum Islam masuk di Tanah Bugis, di mana lontar, kelapa, dan beras sebagai sumber daya alam sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat Bugis di zaman tersebut.

Karena itu, makanan yang disebut bokong ini sudah ada sebelum Islam masuk di Tanah Bugis. Adapun penggunaan daun lontar dan daun kelapa karena keduanya mempunyai makna filosifis tersendiri.

Awalnya bokong ini dibuat hanya berbentuk biasa yaitu persegi empat, namun setelah Islam masuk dibuat model lain yang umumnya dibuat bersudut ganjil disebut Bokong Nabi (ketupat nabi)

Bokong atau ketupat ini sudah ada pada zaman Ratu Bone ke-4 We Banrigau 1470-1510 di mana pada masa itu bokong sebagai pelengkap dalam acara ritual. We Banrigau digelar pula dengan Bissu Lalempili.

Suatu saat ketika berada di Cina, We Banrigau naik ke atas loteng rumahnya. Tiba-tiba ada api yang menyala di atas loteng menurut keyakinan orang disebut api dewata. Setelah api itu padam, maka We Banrigau tidak nampak lagi di tempat duduknya (mallajang). Oleh karena itu, We Banrigau digelar juga Mallajangnge ri Cina.

Untuk mengenang kepergiannya itu, rakyat dan handai tolan We Banrigau menyiapkan sesajen berupa bokong berbentuk persegi dengan maksud agar We Banrigau dalam perjalanan Mallajanna itu tidak kelaparan dan dilindungi dewata (pencipta).

Bokong dibuat bentuk persegi empat ini dimaknai, bahwa We Banrigau diyakini menghilang di empat penjuru angin, yakni utara, selatan, timur, dan barat.

Islam itu sendiri masuk di Bone tahun 1611 Masehi, dalam perkembangannya Agama Islam maju pesat pada zaman pemerintahan Raja Bone ke-13 yaitu La Maddaremmeng (1631-1644).

Beliau dikenal taat menjalankan Agama Islam termasuk peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad. Pada masa inilah muncul yang namanya Bokong Nabi. Bokong nabi dibuat bermacam-macam bentuk namun biasanya bersudut ganjil-ganjil. seperti bersudut tiga, lima, dan seterusnya.

Sejak itu, Bokong Nabi merupakan produk budaya menjadi hidangan utama untuk merayakan hari besar Islam di masa-masa selanjutnya sampai saat ini.

Bokong/ketupat yang berisi beras putih tersebut, di kalangan Bugis mempunyai nilai filosofis tersendiri. Bokong dimaknai sebagai “Doko” atau “Bekal”. Doko selain sebagai bahan makanan dan bekal dalam bepergian juga dimaknai sebagai ilmu dan keterampilan

Rekko maeloki lao ri lipu laingnge, tiwi ki doko-doko nenniya doko (jika hendak ke negeri lain, bawalah perbekalan disertai bekal ilmu dan keterampilan – Jika hendak merantau ke negeri lain siapkan ilmu dan keterampilan)

Ceddimi tu mennang kaminang kitanreangnge mancaji bokong ri esso munri, saisanna amala’ (hanyalah satu yang menjadi bekal di hari kemudian adalah amal dan kebaikan selama hidup di dunia)

Kini ketupat tak hanya menjadi identitas di Indonesia melainkan juga di Asia Tenggara khususnya negara Melayu, identik dengan Hari Raya Idul Fitri.

Di mana ketupat dalam perkembangannya terdapat pembauran pengaruh budaya Hindu (pra Islam) dan budaya Islam, terjadi akulturasi, yakni bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli.

N1
loading...