Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, umat Islam akan mendapatkan hari kemenangan, yakni Idul Fitri.

Seperti biasanya, di penghujung puasa, tepatnya malam hari, banyak kita jumpai orang-orang membaca takbir, baik itu di Langgar, Surau, dan Masjid. Kegiatan semacam ini biasa kita kenal dengan sebutan Bugis “Takabbere atau  Takbiran atau Wenni Takabbere atau Malam Takbiran”

Di era ke kinian, di berbagai daerah banyak kita jumpai orang-orang yang bertakbir keliling, ada juga yang menetap di masjid atau mushalla hingga menjelang subuh.

Bahkan, disejumlah daerah terdapat agenda tahunan dalam menyambut takbiran. Ada yang membuat acara karnaval dengan berbagai atraksi.

Becak, mobil, truk dimodifikasi menjadi seperti masjid dan sebagainya. Dan tak lupa pula mereka juga mengumandangkan takbir secara bersama sebagai ungkapan hari kemenangan telah tiba.

Terlebih lagi kegiatan ini tidak hanya diramaikan oleh pemuda pemudi saja melainkan semua kalangan baik anak-anak hingga orang dewasa pun turut memeriahkannya.

Bahkan kita juga menjumpai suara mercun, kembang api sebagai wujud rasa senang karena sudah berhasil menjalankan ibadah puasa. Dengan melihat fenomena di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa takbir keliling sudah menjadi tradisi di masyarakat kita.

Dari tahun ke tahun tradisi semacam itu akan terus kita jumpai. Bahkan bisa jadi akan ada variasi-variasi baru dalam mengumandangkan takbir tersebut.

Lantas apakah memang tradisi semacam ini dianjurkan dalam Islam, dengan kata lain tradisi semacam itu memang ritus dalam Islam atau hanya sekadar tradisi yang dibangun sendiri oleh umat Islam?.

Secara hukum agama, menjalankan takbiran pada malam Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah.

Hal ini didasarkan pada dalil
Q.S Al-Baqarah: 185 yang artinya “hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu”.

BACA JUGA :  Sejarah Arajang di Kabupaten Bone

Singkatnya, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sudah menjelaskan bagaimana hukum melakukan takbir, dan bahkan Nabi juga mencontohkan bagaimana cara untuk bertakbir. Dengan begitu cukup kuat untuk melakukan takbiran Idul Fitri dan Idul Adha.

Namun ada hal yang harus diperhatikan ketika melakukan takbiran yaitu dengan menyebut nama Allah. Sebab, jika kita hanya melakukan keliling tanpa tahu maksudnya, yakni mengagungkan kebesaran Allah dengan menyebut nama-Nya, hal itu tidak sesuai apa yang sudah dianjurkan oleh Nabi.

Adapun mengenai bentuk lainnya atau variasai dalam takbiran setiap daerah tidak ada yang berlawanan antara apa yang sudah dianjurkan dalam agama dengan praktik takbiran masyarakat. Selama dilakukan sesuai koridornya.

Jadi, tradisi takbiran ini merupakan bentuk tradisi masyarakat Indonesia yang berhubungan erat dengan agama Islam. Oleh karenanya bagi masyarakat yang ingin mengumandangkan takbir secara berjamaah dengan cara berkeliling atau berdiam diri di masjid sah-sah saja hukumnya, karena hal ini adalah Sunnah Nabi.

Hanya saja yang perlu digaris bawahi ketika bertakbir ialah harus dengan mengagungkan nama Allah, dan yang tidak kalah penting, menjaga kedamaian sesama warga. Sebab kita hidup di tengah kemajemukan suku, ras, dan agama karenanya takbiran yang kita lakukan harus menghormati mereka yang tidak bergama Islam.

Jangan sampai apa yang kita lakukan menganggu ketenteraman apalagi menyakiti perasaan non muslim. Hal ini tidak lain demi menjaga perdamaian sesama warga dan hari kemenangan yang kita raih bisa utuh tanpa meninggalkan noda apapun.

Nah, bagaimana cara Bertakbir Keliling di Kalangan Bugis ?

Takbir keliling di kalangan Bugis sudah berlangsung sejak tahun 1631 di mana tahun itu Islam berkembang pesat di Bone di bawah kepemimpinan La Maddaremmeng. Beliau penganut ajaran Islam yang taat.

BACA JUGA :  Konsep Sipatuo Sipatokkong

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah  Takbir baik itu dilakukan di surau maupun di langgar. Hal itu dilakukan di penghujung puasa ramadan, yakni setelah melaksanakan puasa sebulan penuh.

Takbir bersama itu tidak hanya dilakukan menyambut Idul Fitri akan tetapi juga menyambut Idul Adha.

Ketika itu, La Maddaremmeng bersama rakyatnya mengumandangkan Asma Ilahi dan keagungan-Nya.

Sambil berkeliling kampung mereka meninggikan suaranya  dengan membaca Tahlil dan Takbir penuh syahdu. Asma Allah menggema dengan diterangi cahaya obor yang dibawa masing-masing, diikuti suara genderang mushalla bertalu-talu.

Beberapa Genderang Mushalla digotong sambil dipukul-pukulnya sehingga menghasilkan suara yang unik, sontak suasan kampung menjadi semarak riuh rendah. Mereka berjalan kaki mengambil rute jalan yang sudah ditentukan hingga tiba di mushala dan ketika mereka selesai salat, mereka kembali melewati rute yang lainnya hingga tiba di tempat yang telah ditentukan.

Bedanya sekarang ini karena perkembangan teknologi, takbir keliling dilakukan tidak dengan berjalan kaki tapi menggunakan alat transportasi seperti motor dan kendaraan roda empat lainnya.

Yang terjadi adalah BISINGNYA KENDARAAN MENGALAHKAN GEMA TAKBIR YANG SESUNGGUHNNYA.

Selain itu, kecelakaan pun kadang terjadi, saling senggol antara pengendara yang satu dengan lainnnya, mirisnya berlanjut kebencian yang tersulut emosi.

Menurut hemat saya, barangkali untuk masa mendatang kegiatan Takbiran Keliling dilakukan dengan mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh La Maddaremmeng seperti sudah dijelaskan di atas.

Hal itu bertujuan selain Takbir Keliling berjalan sesuai tujuannya di samping bernilai ekonomis juga bisa melestarikan budaya daerah.