Bugis salah satu suku terbesar di Indonesia yang dikenal mempunyai aksara, bahasa, serta peradaban yang tinggi dan masih eksis sampai saat ini. Dengan demikian itu, tidak dipungkiri kalau orang Bugis mempunyai banyak falsafah hidup.

Berbagai falsafah yang sarat dengan pesan itu senantiasa melekat ke manapun ia berpijak. Terbukti, dengan kepiawaian yang dimiliki banyak keturunan Bugis menjadi pemimpin baik domestik maupun mancanegara.

Falsafah orang Bugis tidak terbentuk begitu saja tetapi terbangun sejak berabad-abad lamanya. Falsafah itu diturunkan para leluhur Bugis dari generasi ke generasinya. Berbagai falsafah itu dijadikannnya sebagai prinsip hidup dalam mengarungi kehidupannya.

Suku Bugis itu menyebar di mana-mana bahkan di lima Benua. Di perantauan di manapun ia berada mereka bisa dan mampu beradaptasi dengan warga setempat. Orang Bugis andal di segala sektor kehidupan, baik sosial, politik, dan ekonomi. Kehebatannya dalam berinteraksi sosial itu mampu menempatkan diri sebagai tolok ukur di daerah perantauan.

Dalam bidang politik orang Bugis tak diragukan lagi, sudah mendarah daging, mereka ditempa sekian lama. Politik Bugis tidak seperti politik sebagaimana sekarang ini. Cara berpolitik turunan Bugis, yaitu mengelompokkan masyarakat guna memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan diatur dalam sebuah WARI.

Wari tersebut memuat regulasi yang wajib dijalankan oleh setiap warga masyarakat serta berbagai konsekuensinya bila dilanggar. Pengelompokan masyarakat itu dilakukan guna memudahkan pendistribusian hak secara merata. Jadi tidak seperti yang terjadi sekarang ini, di mana hanya membagikan hak kepada kelompok tertentu, sedang kelompok lainnya menjadi tumbal keserakahan.

Dari sisi ekonomi, orang Bugis ditempa beratus tahun lamanya. Para tetuah ekonom Bugis menurunkan cara mencari nafkah bagi diri dan orang lain. Ekonomi Bugis hakikatnya adalah saling menafkahi dan memberi. Di mana dari pihak yang berlebih berbagi pula kepada yang kurang beruntung.

Jadi ekonomi Bugis yang disebut ekonomi SIPATUO telah diimlementasikan para ekonom Bugis sejak masa silam. Prinsip ekonomi Sipatuo tak lain adalah saling menghidupi antara satu dengan yang lainnya.

Hal tersebut di atas, terbukti banyaknya keturunan Bugis yang menjadi Saudagar Hebat di perantauan. Meskipun di antara mereka masih ada yang lupa kampung halaman, tapi itu adalah lumrah.

Serangkaian tersebut di atas, bahwa Orang Bugis itu mempunyai kepekaan sosial yang cukup tinggi yang tertuang dalam budaya ASSIMELLERENG.

Assimellereng hakikatnya adalah terjalinnya rasa kesetiakawanan sosial antara satu dengan yang lainnya. Terciptanya rasa sepenanggungan baik bentuk sosial maupun harga diri. Mereka saling menjaga harkat dan martabatnya sebagai orang Bugis.

Salah satu Implementasi sifat Assimellereng bagi orang Bugis adalah SIADDAMPENGENG (saling memaafkan). Orang Bugis itu mudah memaafkan tapi ingat jangan pernah menyakiti dan merobek hatinya berulang kali karena ia akan berubah menjadi sebaliknya.

Kalau diganggu tidurnya ia akan bangkit melawan, artinya kesabaran itu ada batasnya. REKKO MEMME TINRONA UGIE AJA’ LALO MUTEDDUI. Janganlah mengusik harkat dan martabatnya, kalau harga dirinya terusik ia akan TETTONG MACCINGARA (ia akan berdiri dan siapapun dihadapinya).

Salah satu karakter Orang Bugis Kalau di kampungnya biasa saling mengeluarkan darah tapi di kampung orang saling mengeluarkan air mata.

MAUNI RIKAMPONNA PURAI SIPATETTIKENG DARAH NAEKIYA SIPATURUNGENG WAE MATA RI LIPU LAINGNGE.

Orang Bugis itu, meskipun bukan seketurunannya mana kala melihat seseorang teraniaya atau sesuatu persoalan ia akan melibatkan diri menjadi penengah (juru damai). Mereka biasanya berdiri di tengah untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa.

Sebagai suku perantau ia sudah dibekali Bokong (diartikan sebagai bekal) oleh leluhurnya falsafah EPPA CAPPA (empat ujung), yaitu
1. Cappa lila (ujung lidah)
2. Cappa laso (ujung kemaluan)
3. Cappa kallang (ujung pinsil)
4. Cappa kawali (ujung badik)

Berikut ini beberapa hal tentang orang Bugis :

  1. Keturunan yang diajarkan bagaimana mempertahankan kehormatan keluarga.
  2. Keturunan yang dibesarkan dengan memandang perempuan sebagai simbol kehormatan keluarga
  3. Keturunan yang diajarkan untuk menjaga martabat orang lain dan dirinya sendiri.
  4. Keturunan yang diajarkan untuk tidak tunduk kepada orang lain.
  5. Keturunan yang ingin bebas merdeka berjuang dan berusaha untuk bertahan hidup.
  6. Keturunan yang berabad abad mentalnya telah dibentuk dan ditempa dengan keras olehgelombang
  7. Keturunan yang diajarkan berani menghadapi masalah dan tidak lari dari kenyataan hidup.dan
  8. Keturunan yang berani berbicara hanya jika ada bukti (Taro Ada Taro Gau)
  9. Keturunan yang memegang teguh keyakinan dan kebersamaan (Sumange Teallara’)
N1
loading...