Bugis antara Keras, Lembut, dan Melankolis

Ada yang mengatakan orang Bugis itu mempunyai karakter KERAS tapi tak sedikit pula yang mengatakan, bahwa orang Bugis itu memiliki karakter LEMBUT

Jadi apabila kedua pernyataan itu digabungkan maka suku Bugis itu di huni oleh orang-orang keras dan orang-orang lembut.

Kali ini saya akan menjelaskan Bugis antara keras, lembut, dan melankolis. Di mana saat ia menunjukkan sifat kerasnya, saat ia bersifat lembut, dan saat di mana mereka menunjukkan prilaku melankolisnya (keadaan lembut, sedih, muram dan marah).

Ia menjadi keras ketika :
1. dipermalukan tanpa alasan
2. dinodai harkat dan martabatnya
3. menghadapi persoalan hidup
4. dihina jatidirinya dan eksistensi kelompoknya

Manakala ia dipermalukan, dinodai, dan dihina dengan refleks hatinya berkata ” Narapini Wettunna ” (sudah sampai waktunya) bahkan tak jarang ia berdiri menantang dan berkata :

Nappatta to siancuru, kotania iyya ancuru, iko ancuru, Cobani pammulaika nairita yasengnge orowane. Ure’ gaha melo pettu, dara gaha melo tetti, juku gaha melo malara’, uli gaha melo sape, nyawa gaha melo lao, temmassarang atae na puang. Puangko ku ata, atawa pole mappa matewe.

Baru kali ini kita baku hancur, kalau bukan saya yang hancur, kamulah yang hancur, coba memulaiku kita lihat yang namanya laki-laki. Uratkah yang mau putus, darahkah yang mau menetes, ototkah yang mau sobek, nyawakah yang mau pergi, tak terpisahkan hamba dan Tuhan, saya hanyalah hamba dari yang mematikan

Selanjutnya, ia menjadi lembut ketika :
1. Apabila dihargai dengan batas yang wajar, ia lebih menghargai
2. Ketika melihat orang teraniaya ia ikut merasa dan sensitif
3. Apabila dimuliakan maka ia lebih memuliakan
4. Manakala ia diberi maka ia lebih memberi

BACA JUGA :  Sejarah Hari Batik Nasional

Sementara, ia bersifat melankolis ketika ia berada diantara dua pilihan yaitu keras dan lembut. Ketika berada pada situasi ini, maka ia “diam seribu bahasa”. Dalam kondisi seperti ini biasanya ia akan puputan (habis-habisan).

Rekko cauni mappangaja mappalece biasa mappalege (manakala berusaha mendamaikan kedua pihak yang berselisih, ia akan berubah menjadi pitam dan menghantam keduanya, karena ia merasa kebaikannya dilecehkan)

Ia lalu menundukkan kepala, tidak berarti mengalah. Hal ini bermakna mundur satu langkah untuk maju seribu kali.

Narapini Wettunna, Agapi ritajeng, lisuki deto na rirapi kampongnge, Aga pi riyala monro rilinoe (sampailah waktunya, apa lagi yang ditunggu, pulang kampung tak jua terjangkau, untuk apa lagi tinggal di dunia)

Mana kala terjadi kondisi seperti itu, maka saya tidak bisa lagi berkata apa-apa. Saya kehabisan kata untuk ditulis lagi.