Benarkah Manusia itu Mulia?

Selama ini kita memahami keberadaan manusia hanya sebatas makhluk yang diciptakan Tuhan dari bahan tanah. Kemudian cukup hanya melakukan penghambaan dan beribadah hanya kepada-Nya. Selanjutnya bagi yang taat akan masuk syorga dan bagi yang ingkar akan berakhir di neraka.

Padahal ternyata setelah kita melakukan pendalaman lebih dalam lagi, bahwa hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan di mana manusia itu lebih mulia dibanding dengan makhluk lainnya. Hal ini sungguh memiliki makna lain yang lebih luas dan akan menuntun kepada kita menuju pada sebuah kesadaran yang lebih dahsyat dan rasa syukur yang teramat sangat.

Dengan runduk sujud yang lebih dalam lagi kepada Tuhan akan membuat kita lebih khidmat menyadari siapa diri kita yang sesungguhnya. Ternyata tak ada sebutir-butirnya tepung diri kita dibanding dengan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada manusia. Kalau tidak yakin, pejamkan mata Anda lalu lihat sekeliling.

Pada kesadaran lain akan timbul rasa malu kita yang amat sangat kepada Tuhan, manakala kita hanya menjadi makhluk sampah yang tak pernah mempersembahkan sesuatu bakti kepada-Nya.

Mari kita telusuri siapa sesungguhnya diri kita dan Mengapa Tuhan Menyebut Manusia sebagai mahluk paling sempurna dan mulia?

Benarkah manusia makhluk paling sempurna dan mulia dari segala mahluk? Tapi ah … sepertinya hanya omong kosong. Karena dalam realitasnya dalam kehidupan dunia saat ini begitu memprihatinkan menyaksikan ulah sepak terjang dan tabiat manusia. Jahat, egois, sadis dan penuh kesombongan, saling injak menginjak, saling hancur menghancurkan, tipu menipu dan saling iri dengki.

Lihat yang jadi penjahat, betapa sadisnya mereka korupsi, merampok, menjambret, menodong, kadang tanpa belas kasihan langsung membacok, membunuh korbannya.

Lihat yang saling bunuh-bunuhan antar sesama umat karena dalih membenarkan kelompok/sektenya sendiri. Lihatlah realitas di dibelahan dunia. Lihat yang saling tawuran, pertikaian SARA, mereka bunuh-bunuhan dan mati bagai binatang, yang mati dibakar, yang dimutilasi, yang di ambil paksa organ dalam tubuhnya, dll.

Lihat pula para pecandu narkoba, lihat dan lihat realitas dikehidupan kita sehari-hari, maka manusia kelasnya tak lebih baik dari nasib binatang yang mati.

Mau disebut mulia darimana? Begitu bodohnya kita manusia. Padahal Tuhan telah menyiratkan, bahwa manusia adalah makhluk yang dilebihkan kemuliaan dan derajatnya dibanding makhluk lainnya :

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. 17. Al Israa’:70).

Ternyata derajat mulia itu, berpasangan dengan kerendahan. Maknanya bahwa manusia jika mau termasuk ke dalam makhluk yang disebut mulia, maka itu harus dengan niat dan berusaha, serta berupaya mencapainya atau meraih kemuliaan itu.

Secara logika manusia adalah mahluk yang berpikir. Logika diartikan sebagai hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Sebagai mahluk yang berpikir, manusia berbeda dengan hewan. Meskipun pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan hewan. Akan tetapi hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan.

Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat lahirnya.

Maka, keberadaan manusia berbeda dengan binatang, di mana binatang tidak diberi beban penugasan sebagai khalifah (penguasa bumi), sehingga tak dibekalinya dengan akal.

Sedangkan manusia yang diberi akal memungkinkan dapat menerima signal-signal petunjuk atau hidayah dalam menjalani kehidupan sebagai koridor yang mesti diaplikasikannya.

Kapan manusia menjadi seperti hewan, ketika tidak memanfaatkan akal, cipta, rasa, dan karsanya yang telah disediakan oleh Tuhan. Ketika manusia hanya menggunakan nafsunya belaka. Ketika manusia mengumbar kesombongannya. Ketika manusia tidak merasa malu kepada Tuhan.

N1
loading...