Apabila di Jawa ada istilah “Wali Songo” atau “Wali Sembilan”, maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah “Wali Pitu” atau “Wali Tujuh” yang bahkan lengkap dengan foto-fotonya.

Foto “Wali Tujuh” banyak diagung-agungkan sebagian masyarakat Islam di Sulawesi Selatan, di antaranya ada membingkai lalu memasang di dindingnya bersama dengan foto Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, ada pula yang laminating lalu menyimpan di dompetnya sebagai penjaga dompet dan diri penyimpan.

Ada kebanggaan tersendiri bila di dinding rumah terpasang kedua foto ini karena dianggap ahli tarekat yang hebat setidaknya tamu beranggapan bahwa rumah ini milik murid wali tujuh atau Syekh Abdul Qadir Al- Jaelani.

Foto Wali Tujuh biasa juga disimpan para dukun biar lebih dipercayai sama pasiennya. Bila Malam Jumat tiba biasa diasapi dupa kemenyan, agar aromanya menyebar diseluruh ruangan.

Tidak diketahui, siapa sebenarnya yang menyusun foto tersebut kemudian disebutnya “wali pitu”. Hanya dahulu kita sering pula dapatkan di tukang-tukang cuci foto. Ketika tukang foto ditanya foto apa ini, mereka jawab itu “wali pitu” pesanan orang.

Mungkin juga masih ada di antara pembaca yang masih menyimpan di dompet foto sosok “Wali Tujuh” itu atau bahkan ada yang sudah diberi bingkai lalu digantung di ruang tamu saat ini.

Kata ‘wali’ bila ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata “al-wilayah” artinya “kekuasaan” dan ‘daerah’ sebagaimana kata tersebut diambil dari kata “al-walayah” yang berarti pertolongan.

Menurut pengertian sebagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi ia bukan seorang nabi. seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi.

Dan yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama di antara Ulul ‘azmi adalah Muhammad.

Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah.

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa”. (Yunus: 62-63).

Nah, jika demikian dapat dikatakan, bahwa wali artinya orang yang hebat dalam beragama, kekasih Allah atau para ulama yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.

Nah, bagaimana dengan ” Foto Wali Tujuh itu” Mari kita kupas satu persatu ketujuh orang yang ada di foto itu:

Ketujuh orang dalam foto tersebut bukanlah orang yang seumuran, melainkan orang yang hidup di zaman yang berbeda, ada yang hidup diabad ke-17, ada yang di abad ke-19 dan ada yang abad ke-20 dan tidak semuanya adalah ulama.

Foto Wali Tujuh itu diperkirakan dibuat oleh tukang foto pengikut sufi yang suka mengagung-agungkan orang hebat. Di mana ketika ia mengetahui kalau di Jawa ada Wali Songo, maka mereka pun membuat-buat wali dengan mengumpulkan nama-nama tokoh yang bagi mereka sendiri anggap adalah hebat.

BACA JUGA :  Allah Sebaik-baik Penolong

Lalu kemudian dicarinya lukisan ketujuh orang tersebut, digunting dan disatukan lalu difoto kembali. Nah, hasil kumpulan foto inilah yang tersebar kemana-mana karena telah dibumbuhi khurafat, bahwa foto itu adalah Wali Tujuh dari Sulawesi Selatan. Maka orangpun mengagung-agungkannya.

Pengagungan foto inilah yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia sampai muncul kesyirikan terhadap foto itu karena ada yang telah menjadikannya jimat.

Siapa ketujuh orang yang dianggap wali itu?
1. Syekh Yusuf dari Gowa
2. Arung Palakka dari Bone
3. La Sinrang dari Pinrang
4. KH. Harun dari Tallo tidak ditahui kisah keulamaannya.
5. Petta Barang (seorang dukun dan pejuang)
6. Imam Lapeo dari Mandar
7. Datu Sangkala (tidak diketahui asalnya)

Dari ketujuh nama di atas, yang ada hubungannya dengan keulamaan kalau mau diberi istilah “wali” hanya 2 orang, yaitu:

1. Syekh Yusuf, yang dikenal sebagai tokoh sufi, penyebar tarekat Khawalatiyah. Syekh Yusuf diagung-agungkan muridnya dengan sebutan “Tuanta Salamaka”.

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 dan meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia.

2. Imam Lapeo, dikenal pula sebagai tokoh sufi, yang terkenal karena kecerdasan keberanian dan budi perkertinya, belajar sufi di Mekah.

Muhammad Thahir Imam Lapeo atau lebih dikenal dengan Imam Lapeo atau Tosalama‟ merupakan tokoh sufi yang dikenal akan kecerdasannya, keberaniannya dan sifatnya yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,

Imam Lapeo yang mendirikan masjid di daerah Lapeo dan sekaligus menjadi imam pertama di masjid yang didirikannya itu.

Beliau dikenal juga dengan sebutan Kannai Tambul (‘kakek dari Istanbul’) karena beliau pernah menuntut ilmu agama hingga ke Istanbul, Turki.

Imam Lapeo Sufi besar dari Tanah Mandar ini dakwahnya merambah masyarakat nelayan hingga pegunungan. Perjalanan hidupnya sepenuhnya diabadikan untuk ilmu dan umat.

Peranan dan kontribusi Imam Lapeo melalui kerja-kerja sosial-keagamaan dan kebangsaan menjadi lahan persemaian kharisma, popularitas, sehingga masyarakat Mandar memposisikannya sebagai primus inter pares, yang dicirikan melalui pengakuan dan pembenaran secara sosio-kultural sebagai Waliullah.

Sedangkan yang lainnya jika meruntut sejarahnya tidak ada hubungannya dengan kewalian atau keulamaan, yaitu:

1. Arung Palakka, terkenal sebagai Raja Bone yang berani melawan Kerajaan Gowa, membebaskan Bugis, bahkan mengalahkan Gowa. Meskipun digelar Sultan Saaduddin tetapi bukan penyebar Islam.

2. La Sinrang terkenal karena sebagai panglima perang Kerajaan Sawitto Pinrang melawan Belanda.

3. Petta Barang, dikenal hanya karena hilang di atas kudanya bersama dengan pengawalnya.
Petta Barang juga biasa digelari Petta Po Risappae, ia merupakan keturunan raja Barru.

Dalam beberapa ceritera, ia dikisahkan tiba-tiba menghilang dari atas kudanya bersama seorang penuggu kudanya, itu sebabnya Petta Barang diberi gelar Petta To Risappae yang artinya orang dicari keberadaannya.

BACA JUGA :  Warisan Sapulidi

Petta Barang memulai gerakannya sebagai seorang dukun yang sakti dan “menjual” atau membagikan jimat kepada pasien atau penduduk yang bersedia menjadi pengikutnya. Oleh karena itu, nama dan kesaktian Petta Barang semakin terkenal di masayarakat serta pengaruhnya pun semakin luas, baik di daerah Bone pada khususnya maupun di daerah Bugis pada umumnya.

Setelah kedudukannya cukup kuat, Petta Barang memerintahkan kepada para pengikutnya untuk melancarkan serangan terhadap kedudukan pasukan Belanda di Watampone, Pattiro Bulu, dan sejumlah tempat di daerah Bugis.

Selain itu, juga melakukan penyerangan terhadap pasukan patroli Belanda pada setiap ada kesempatan, sehingga cukup merepotkan pasukan Belanda. Itulah sebabnya pemerintah Belanda memusatkan perhatian dan mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas gerakan Petta Barang bersama para pengikutnya.

Usaha-uasaha itu akhirnya membuahkan hasil ketika Petta Barang berhasil ditangkap di Citta, Soppeng pada 1913.

4. KH. Harun, tidak ditahui kisah keulamaannya.

5. Datu Sangkala tidak ada yang tahu kisahnya sama sekali.

Sebenarnya istilah Wali dalam Islam bukan dilihat dari kehebatan atau kesaktiannya, melainkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Kalau berpatokan pada Al-Quran maka yang bisa dianggap wali yang berjasa terhadap penyebaran Islam atau dilihat dari keulamaannya, adalah:

1. Tiga wali dari Minangkabau yang menyebarkan Agama Islam, yang disebut Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman (Patimang)

2. Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 yang memerintahkan penyebaran agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sampai ke Sumbawa dan Maluku.

3. La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, yang menerapkan syariat Islam di Kerajaan Bone, yang memerintahkan penghancuran berhala-berhala, penghapusan budak, tetapi akhirnya dipaksa turun sebagai raja, karena pihak keluarganya dan Raja Gowa menolak penerapan syariat Islam.

Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dikemukakan, bahwa “Wali Tujuh” yang orangnya ada dalam foto-foto yang tersebar itu hanyalah khurafat, atau buatan orang-orang yang mengagung-agungkan orang yang menurutnya hebat bukan karena keulamaan atau jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Artinya di antaranya hanya berjasa dalam penyebaran ajaran-ajaran sufi/tarekat.

Jadi foto yang diagung-agungkan banyak orang orang selama ini bukanlah foto tujuh wali yang sebenarnya, melainkan foto yang direka-reka oleh seseorang menurut persangkaannya atau khufarat.  Pengertian khufarat adalah sebuah dongeng, cerita, legenda, kisah, asumsi, dugaan, dan lain sebagainya yang merupakan prediksi atau kejadian yang tidak benar adanya.

Karena apabila dilihat dari keagamaan dan keulamaan, serta prestasi dalam penyebaran Islam, maka tentu masuk ketiga wali penyebar Islam dari Minangkabau (Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman/Patimang). Masuk pula Raja Gowa (Sultan Alauddin), dan Raja Bone (La Maddaremmeng) yang berjasa dalam penyebaran Islam dan penerapan syariat Islam di Sulawesi Selatan.

Catatan sejarah:

1. Datuk Pattimang atau Datuk Sulaiman bergelar Khatib Sulung adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan pada tahun 1593.

BACA JUGA :  Pesona yang Hancurkan Sebuah Negara

Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu merekalah yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan pada masa itu.

2. Sultan Ala’uddin nama aslinya yaitu I Mangngarangi adalah raja ke-14 Gowa dan raja pertama yang masuk Islam ketika memerintah.
Ia berkuasa di Gowa tahun 1593 hingga 15 Juni 1639.

Adalah Datuk ri Bandang seorang pendakwah Minangkabau yang berasal dari Koto Tangah, mengislamkan I Mangngarangi pada tanggal 22 September 1605. Semenjak itu, I Mangngarangi memimpin dengan gelar Sultan Ala’uddin.

Pada masa pemerintahannya Sultan Alauddin melakukan ekspansi besar-besaran. Pada tanggal 10 Juni 1639, Ala’uddin jatuh sakit ketika berada di Cikkoang, lima hari kemudian ia meninggal di Somba Opu.

3. La Maddaremmeng bergelar Sultan Muhammad Saleh, Raja Bone ke-13 tahun 1631-1644. Pada masa pemerintahannya, La Madderemmeng menerapkan syariat Islam dengan memerintahkan kawulanya untuk mematuhi ajaran hukum Islam secara total dan menyeluruh. Ia adalah Arumpone yang menentang perbudakan.

Pada masa itu nasib budak (pekerja), khususnya di Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya sangat tragis. Budak dapat disuruh bekerja sekeras-kerasnya tanpa bayaran, tak ubahnya hewan peliharaan.

La Maddaremmeng kemudian menerapkan aturan Islam secara ketat dan menentang perbudakan karena semua Umat Islam orang yang merdeka dan bersaudara, demikianlah perkembangan Islam di Bone yang begitu pesat dengan penguasa menerapkan aturan-aturan Islam dengan ketat, tak hanya dalam wilayahnya melainkan ke kerajaan tetangga seperti Soppeng dan Wajo.

La Madderemeng, mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Menurutnya, semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Apabila seseorang mempekerjakannya maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

Selain pembebasan budak, La Madderemeng Sultan Muhammad Saleh juga menghancurkan berhala dan tidak mengijinkan kepercayaan leluhur yang tidak sesuai syariat Islam. Namun, tindakan itu tak begitu disenangi rakyat dan kalangan istana, bahkan ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Datu Pattiro.A kibatnya kerajaan tetangganya merasa tertekan dengan aturan La Maddaremmeng secara perlahan menggalang kekuatan dengan kerajaan Gowa.

Pada 1640, We Tenrisoloreng Datu Pattiro ibunda La Maddaremmeng melakukan perjalanan dan menuju Makassar untuk meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid, raja Gowa ke-15 (periode 1639-1653) pengganti Sultan Alaudin yang mangkat.

Gowa didukung Wajo, Soppeng dan Sidenreng menghimpun pasukan dalam jumlah besar dan menyerang Bone. Pada 1644, Bone ditaklukkan. La Maddaremeng ditangkap dan ditawan di Makassar. Sementara adiknya La Tenriaji yang mendukung segala aturan La Madderemeng, melarikan diri.

Kekalahan inilah yang kemudian dalam lontara’ Bone dituliskan, “Naripoatana Bone Seppulo Pitu Taung Ittana.” (maka diperbudaklah Bone tujuh belas tahun lamanya).

Nah, terkait “Foto Wali Tujuh atau Wali Pitu” yang sampai saat ini masih ada yang mengagung-agungkannya kami tidak persalahkan, namun perlu pemikiran cerdas.