Ada sesuatu yang jarang bahkan mungkin tidak pernah terpikir ketika kita sedang menulis. Kita hanya disibukkan bagaimana merangkai huruf menjadi kata, menjadi sebuah kalimat. Barangkali kita hanya menganggap ia hanya dipakai pada akhir kalimat atau singkatan saja dan tak perlu membutuhkan pemikiran detail.

Ia sekadar noktah hitam kecil yang tidak membutuhkan tempat. Saking kecilnya bahkan ia tidak memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Padahal hitam kecil itu yang biasa disebut Tanda Titik (.) tanpa ia maka apa yang kita tulis misalnya menulis surat cinta mungkin tidak diketahui maksud dan ujung pangkalnya.

Bayangkan, ketika kita sedang membaca sebuah surat tersusun dari rangkaian kalimat panjang kemudian tidak tidak ada sikecil hitam Tanda Titik (.) kita bisa kehabisan nafas karena tidak ada waktu jeda.

Titik adalah bagian terkecil dari suatu objek geometri, yang menempati suatu tempat, yang tidak memiliki panjang, lebar, dan tinggi, demikian kecilnya?

Titik adalah suatu idea, benda pikiran yang bersifat abstrak. Dikarenakan titik tidak bisa dijelaskan dengan cara biasa, Titik adalah sesuatu yang tak terdefinisi meskipun mempunyai peran yang sangat penting guna memberi batas pemaknaan pada kalimat.

Di dalam dunia menulis Tanda Titik (.)  digunakan untuk mengakhiri sebuah kalimat, tetapi di dalam dunia matematika titik adalah sesuatu yang memiliki kedudukan tapi titik tidak mempunyai ukuran. Memiliki kesamaan seperti di dalam dunia menulis, di dalam dunia matematika titik yang  juga dipresentasikan dengan sebuah noktah. Ternyata begitu pentingnya sebuah titik.

Nah, dari sisi kehidupan kita sebagai mahluk sosial perlu kita belajar dari Tanda Titik (.), bahwa sesuatu yang kecil tidak boleh dianggap remeh dan enteng. Karena sesuatu yang besar belum tentu bisa mengalahkan yang kecil, bahkan yang kecil terkadang mempunyai tenaga yang lebih dibanding yang besar.

Artinya si kaya jangan menganggap remeh si miskin, sebab si kaya ada karena si miskin. Jangan pula pandang sebelah mata kepada orang tampaknya kecil, sebab besar ada karena adanya kecil. Semua manusia sama hanya yang membedakan adalah tingkat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Nah, Mulai dari sekarang temukan kebahagiaan dari diri Anda, awali kebahagiaan belajar dari titik. Jangan mencari dan menunggu kebahagiaan, karena bahagia itu adalah ketika Anda menjadi diri sendiri.

Tidak perlu menunggu angin untuk menggerakkan kincir angin semangat bagi hidup Anda bukan? karena Anda bukanlah kincir angin, sebaliknya Anda bisa menjadi “angin” untuk bebas bergerak berkarya dan menjadi inspirasi terhadap orang-orang di sekitar Anda.

N1
loading...