1. Pengantar

Setiap bangsa di dunia ini tentu masing-masing memiliki sifat dan karakter serta kebiasaan yang membedakan antara yang satu dan lainnya. Unsur-unsur diatas terangkum dalam budi dan daya (Budaya, Red.) . Seperti dalam setiap kebudayaan, pernikahan merupakan suatu hal yang penting. Mengapa? Sebab pernikahan bisa menjadi suatu identitas kebudayaan dengan berbagai tahapan prosesi, simbol, dan syarat-syaratnya yang khas.

Dalam budaya Bugis dikenal istilah “TUO TENGKENNE atau Cumpaling” . Maksudnya, bagi mereka baik laki-laki maupun perempuan yang sudah sampai umurnya untuk nikah namun belum ada pasangan (belum nikah). karena nikah seperti sebuah tanda pengenal kebudayaan; orang bisa tahu bahwa pernikahan dengan adat begini adalah milik kebudayaan ini, dan pernikahan dengan tata cara begitu adalah milik kebudayaan itu.

Selain itu, yang menjadikan pernikahan sebagai ritual yang sangat penting adalah karena tujuannya. Pernikahan tidak hanya bertujuan sebagai pernyataan legalitas hubungan kawin antara suami-istri setelah melalui proses-proses hukum formal agama, negara, dan budaya. Pernikahan juga sebagai salah satu cara untuk menjalin atau membentuk hubungan keluarga.

Raja Bone ke-15 Arung Palakka merupakan zaman fisik atau frontal sedang raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka adalah jaman persahabatan yang ditandai dengan lahirnya perjanjian Tana Bangkalae (Bone,Luwu,Gowa). Untuk menghindari pertumpahan darah diantara ketiga kerajaan, maka dijalin pernikahan antar keluarga kerajaan. Maka tak heran kalau makam raja-raja Bone berada di lokasi yang berbeda misalnya ada di Bantaeng, Gowa dsb.

Pernikahan salah satu strategi ekspansi keluarga dan menjalin persahabatan yang dapat menciptakan keharmonisan hidup antar rakyat ketiga kerajaan tersebut. Pada umunya, ada dua cara untuk bisa menjadi anggota suatu keluarga, yakni melalui pernikahan dan kelahiran. Dengan kata lain, keluarga ibu kita bisa menjadi anggota keluarga ayah kita karena keduanya menikah, dan kita bisa menjadi keluarga bagi anggota keluarga ayah dan ibu kita karena kita anak orang tua kita masing-masing.

Masih ada lagi tujuan pernikahan, yakni untuk melahirkan keturunan sebagai generasi penerus, entah itu penerus kekuasaan, penerus cita-cita, penerus bisnis, dan sebagainya. Dengan demikian, pernikahan bisa dipandang dari perpektif ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai adat pernikahan di kalangan orang Bugis yang  mengenal tradisi  “Balanca atau Doi Menre atau uang naik”.

Dengan demikian, pembahasannya lebih  mengarah kedimensi sosial dan budaya, meskipun akan menyinggung juga sedikit hal-hal yang  berbau ekonomi dan politik terkait topiknya. Apakah tradisi uang naik dan seperti apa masalah-masalah yang biasa menyertainya, akan dibahas nanti.

Sebelumnya, di bagian pengantar ini, terlebih dahulu akan dipaparkan arti pernikahan bagi orang Bugis sebagai jembatan ke pembahasan berikutnya yang lebih mendetail mengenai uang naik ini.

Dalam buku Attoriolong diungkapkan, bahwa “DEPA TUMENNANG NASALEWANGENG ATUWOMMU NAREKKO ENKAMUPO TUDANG CUMPALING”. Artinya, “Belumlah lengkap hidupmu jika engkau masih duduk seorang diri”.    Demikian pula dalam buku Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sulawesi Selatan, ada satu ungkapan orang  Makassar yang berbunyi, ”Tenapa nagunnase’re tau punna tenapa nasi tutuk ulunna salangganna”. Artinya, “Seseorang belum sempurna jikalau kepalanya belum berhubungan dengan bahunya”.

Maksudnya, manusia baru dapat dikatakan manusia sempurna yang dalam Bahasa Makassar disebut tahu bila ia kawin. Seseorang yang belum kawin diumpamakan mempunyai tubuh yang belum lengkap karena kepala dan badannya dianggap belum berhubungan. Suami dan istri dipersamakan sebagai kepala dan badan yang harus dihubungkan untuk menjadi manusia yang sempurna. Suami dan istrinya merupakan pelengkap utama antara satu dengan yang lainnya.

Balanca atau Uang Naik Secara sederhana, uang naik dapat diartikan sebagai uang belanja, yakni sejumlah uang yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki ke pihak mempelai perempuan. Uang naik ini ditujukan untuk belanja kebutuhan pesta pernikahan. Besar kecilnya uang naik, ditentukan oleh pihak perempuan.

Selain itu, status sosial juga seringkali jadi penentu besar kecilnya uang naik ini. Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis menjelaskan bahwa dalam tradisi Bugis, uang naik disebut juga dui’ menre’. Dui’ menre’ ini merupakan salah satu bagian dari mas kawin, selain sompa yang secara harfiah berarti ‘persembahan’.

Sompa ini sendiri berbeda dengan mahar dalam konsepsi hukum Islam yang sekarang disimbolkan dengan sejumlah uang rella’, yakni rial (mata uang Portugis yang sebelumnya berlaku, antara lain, di Malaka). Rella’ ditetapkan sesuai status perempuan dan akan menjadi hak miliknya (Pelras, 2006).

Lebih lanjut Pelras menegaskan bahwa mas kawin yang terdiri dari dua bagian tadi tidaklah dapat disamakan dengan ‘harga perempuan’ (bride price) yang sering digunakan antropolog Barat, karena memberi konotasi jual beli perempuan yang berbeda dengan kenyataan sebelumnya. Sebenarnya bukan hanya antropolog Barat yang sering salah kaprah mengenai ini, tapi juga masyarakat awam, khususnya masyarakat Bugis-Makassar sendiri.

Banyak dari mereka yang tidak setuju dengan kekakuan aturan adat mengenai penetapan uang naik ini karena selain anggapan ‘kayak membeli perempuan saja’ juga karena ’sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman’. Di dalam buku tata cara Perkawinan adat Bugis Bone disebutkan bahwa besar kecilnya uang naik ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Namun berdasarkan fenomena yang terjadi, penjelasan tersebut kurang lengkap. karena sering terjadi seperti ini, uang naik yang diistilahkan dengan doe’ balanja ini memang benar pada akhirnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Akan tetapi, pihak keluarga perempuan sebelumnya sudah ‘memasang’ nominal yang nantinya akan dinegosiasikan lebih jauh lagi. Jadi tidak murni berdasarkam mufakat kedua pihak mempelai.

2. Besarnya Balanca atau Uang Naik Sebagai Strata Sosial

Seperti yang telah disinggung di atas bahwa status sosial calon mempelai perempuan menentukan besar kecilnya uang naik. Status sosial ini meliputi jenjang pendidikan dan pekerjaannya. Jika ia hanya tamatan sekolah menengah apalagi tidak pernah sekolah, uang naiknya sedikit atau kecil.

Sebaliknya, jika ia sarjana dan sudah menduduki suatu jabatan prestisius misalnya di suatu instansi pemerintah atau swasta, maka uang naiknya pun akan besar. Menurut beberapa informan bahwa, saat ini nominal uang naik yang termasuk rata-rata (standar) berkisar antara 25 sampai 30 juta rupiah. “Bahkan untuk golongan bangsawan bisa sampai 100 juta!” serunya. Di samping dari status sosial, indikator besar kecilnya uang naik bisa dilihat dari kemewahan pesta pernikahan.

Kaum elit Bugis-Makassar yang biasanya dari golongan wiraswasta (pebisnis) dan pemangku jabatan tinggi di suatu instansi, mengadakan resepsi di tiga tempat; rumah mempelai laki-laki, rumah mempelai perempuan, dan di gedung. Pemilihan gedung sebagai tempat dilangsungkannya resepsi pernikahan juga bisa dijadikan ukuran borjuis tidaknya keluarga yang mengadakan pesta tersebut. Jika resepsinya di hotel mewah, maka sudah pasti ia orang kaya, dan uang naiknya tanpa perlu orang lain tahu berapa tepatnya nominalnya, sudah tentu besar.

Uang naik memang adalah gengsi sosial demi menjaga martabat keluarga karena adanya pertimbangan akan persepsi orang lain di luar keluarga kedua mempelai. Orang lain di sini adalah tetangga, teman ayah, teman ibu, dan lain sebagainya. Jika ada pernikahan, maka yang seringkali jadi buah bibir utama adalah ‘berapa uang naiknya?’. Bahkan, tidak jarang ada fenomena seperti ini: uang naik dari pernikahan keluarga A menjadi patokan sebuah keluarga B jika kelak ada sanak saudaranya yang menikah. “Mereka saja pasang segitu, jadi kira-kira kita pasang segini saja”.

3. Beberapa Pandangan

Meskipun uang naik merupakan tradisi yang sudah lama berlangsung dalam kebudayaan Bugis-Makassar, namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak masyarakat Bugis-Makassar yang sudah tidak sepakat dengan tradisi ini, khususnya anak muda usia 20 sampai 30-an tahun. Persentuhan dan perkenalan dengan budaya lain serta tingkat pendidikan yang semakin tinggi bisa jadi mendorong timbulnya sikap ini. Bagi mereka, tradisi ini sudah usang sehingga tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang.

Akan tetapi, seorang pemuda etnis Bugis yang ditanya pendapatnya mengenai Balanca ini punya pendapat menarik dan bijaksana. “Perlu dibedakan uang naik dengan mahar. Kalau uang naik sebagai pengganti biaya pernikahan saya kira wajar selama itu sepadan dengan biaya yang dibutuhkan”.

Ia lanjut menambahkan,”Yang biasa dan bisa bikin mahal uang naik itu karena ada korelasi antara besaran pesta dengan status sosial keluarga mempelai. Semakin tinggi status sosial seseorang tentu akan berupaya membuat pesta sebesar dan semewah mungkin. Itu pemikiran dasarnya”. lanjutnya, bahwa ia mempunyai seorang teman perempuan yang akan menikah dalam waktu dekat.

Jika temannya itu ingin mengadakan pesta pernikahan yang meriah dengan mengundang banyak kerabat, itu hal yang wajar mengingat profesinya sebagai dosen yang tentu punya banyak kolega dan teman. Dan tidak mengherankan juga bagi dia, jika uang naiknya tinggi. itu adalah sebagai gengsi sosial. Yang diundang dari kalangan pejabat dan pebisnis tentu akan mengadakan acara pernikahan di gedung besar, minimal hotel. Tidak mungkin di tempat yang biasa-biasa saja. Saya kira ini berlaku universal. Masih ingat berita pernikahan Nia Ramadhani dengan anaknya Ical?”. Wouw … Selangit!.

Universal. Ini adalah kata kunci yang seketika menarik perhatian saya. Saya sepakat bahwa sebenarnya praktik uang naik ini tidak hanya berlaku dalam kultur masyarakat Bugis-Makassar, tapi juga semua etnis, apa pun etnisnya. Betapa tidak, sebab uang naik itu sesungguhnya adalah uang antaran atau uang belanja (untuk keperluan pesta pernikahan) yang merupakan tradisi, bukan hukum Islam ataupun hukum formal negara. Bedanya, orang Bugis-Makassar khususnya yang tergolong orang tua dan tinggal di pedesaan masih menganut konsepsi yang kaku dalam kesadaran mereka perihal uang naik ini.

Selain itu, di etnis Bugis-Makassar lah praktik uang naik masih banyak terjadi dan seringkali datang membonceng konflik serta masalah-masalah lainnya. Banyak kasus kandasnya rencana pernikahan bahkan sampai bunuh diri karena tidak bisa menyanggupi uang naik yang diminta keluarga mempelai perempuan.  Kasus Silariang sering terjadi, salah penyebab utama adalah Balanca Uang Naik. Kedua pihak gagal menikah karena pihak laki-laki tidak sanggup memenuhi tuntutan jumlah uang naik yang diminta oleh keluarga perempuan.

Sebuah film dokumenter dengan durasi singkat (15 menit) mengenai gejala uang naik ini dengan judul ‘Uang Naik’. Dalam film tersebut, Rio, seorang pemuda yang pada akhirnya gagal menikah dengan kekasihnya karena tidak sanggup memenuhi tuntutan jumlah uang naik yang diminta oleh keluarga perempuan.

Meskipun ada beberapa keganjilan dari segi logika cerita film tersebut, tetaplah patut diapresiasi. Karena belum ada film yang pernah mengangkat mengenai tema uang naik ini. film itu hanya menyajikan salah satu contoh kasus (fiktif tapi berdasarkan riset meski sebentar) bagaimana uang naik ini bisa membuat dua pasangan gagal menikah, itu saja.

4. Contoh Kasus

1. Ama dan Nini (nama disamarkan demi kenyamanan keduanya)

Ama dan Nini adalah dua bersaudara. Keduanya bersama pasangan masing-masing menikah pada tanggal, hari, jam, dan tempat yang sama pada tahun 2009. Istilah ini disebut kawin kembar. Sebelum resepsi, pada saat acara lamaran, Ama menemui masalah perihal uang naik. Kekasih Ama hanya menyanggupi separuh dari yang disanggupi oleh kekasih Nini. Apa boleh buat, ini persoalan kemampuan ekonomi.

Tidak hanya itu, meskipun Nini adalah adik dan Ama adalah kakak, tapi Nini seorang dokter, sementara Ama saat itu adalah seorang guru di sebuah playgroup. Dengan demikian, wajar saja jika uang naik Nini dipatok lebih tinggi. Sekali lagi, status sosial menentukan besar kecilnya uang naik.

Masalah Ama sudah jelas di sini. Ia merasa sedikit tidak enak hati lantaran ia kakak tapi uang naiknya lebih kecil. Raut mukanya kecut tiap kali hal ini disinggung. Akan tetapi, tidak berarti Nini tanpa masalah. Belakangan menyusul sebuah permintaan dari kekasih Nini bahwa ia hanya menyanggupi sekian persen dari yang telah diketahui orang lain di luar keluarga, tapi tetap tidak sampai setengahnya. Akhirnya, pesta pernikahan dua bersaudara itu dengan pasangannya masing-masing tetap terlaksana, meskipun informasi jumlah uang naiknya dimanipulasi ke ‘publik’ demi kenyamanan bersama.

Berdasarkan informasi dari keluarga Ama dan Nini, sebenarnya tidaklah masalah jika harus jujur selama orang-orang di luar lingkup keluarga mereka tidak cerewet mulutnya. Ya, Ama dan Nini waktu itu masih tinggal di rumah orang tuanya di sebuah lingkungan pasar tradisional di Makassar dengan tetangga-tetangga usia tua yang rata-rata minim pendidikan dan suka bergosip. “Tidak apa bohong jika masalahnya seperti ini. Daripada bikin runyam, mending cari gampangnya saja. Toh tidak akan ada efek apa-apanya ke keluarga ataupun ke orang-orang bawel itu” ujar salah seorang adik Ama dan Nini, Si Minah (nama juga disamarkan).

2. Hida (nama disamarkan)

Hida adalah seorang wanita yang berumur sekitar 23-25 tahun. Ia adalah kakak kelas saya sewaktu SD. Ia menikah muda dan kini sudah memiliki 2 orang anak, kalau saya tidak salah ingat.

Ada kejadian yang cukup menggemparkan lingkungan rumah sewaktu ia menikah. Keluarganya juga berbohong mengenai jumlah uang naiknya. Sialnya, belakangan ketahuan, dan parahnya, selisihnya di atas lima juta dari yang sebenarnya.

Dari kedua contoh kasus di atas sudah jelas bahwa terdapat satu gejala yang sama dalam rangka berhadapan dengan masalah uang naik, yakni berbohong?. Yang membedakan adalah motif di balik perilaku berbohong tersebut. Keluarga Ama dan Nini sengaja berbohong dan merahasiakannya hingga sekarang karena mereka sadar bahwa tidak ada gunanya jika memaksakan kalau memang tidak sanggup, hanya menyulitkan pernikahan saja yang sebenarnya tidaklah rumit prosesnya: tinggal datang ke KUA, ada mahar yang cukup, wali, dan saksi.

Mereka juga sadar bahwa tidak ada manfaatnya terlalu memusingkan omongan-omongan orang lain, toh yang mau menikah adalah mereka bukan para tetangga mereka. Sementara Hida, motifnya adalah ingin menaikkan status sosial atau gengsi keluarga, meskipun berakhir dengan memalukan.

5. Kesimpulan

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian pengantar, salah satu cara untuk membentuk dan ekspansi keluarga atau menjalin hubungan keluarga adalah dengan menikah. Adat pernikahan di kalangan orang Bugis-Makassar yang terkenal dengan tradisi Balanca atau uang naiknya menuai kontroversi.

Ada yang tegas menolak dan tidak sepakat dengan alasan sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang, tapi ada juga yang berpandangan lebih bijak mengenai uang naik ini; sah-sah saja selama sepadan dengan biaya yang dibutuhkan, toh ini berlaku universal di semua etnis. Mereka yang menolak tidak sepakat dengan kekakuan adat di mana uang naik ditetapkan dan merupakan harga mati; kalau tidak sanggup berarti tidak jadi menikah. kasihan deh lu….

Dengan demikian, setelah membaca penjelasan pada bagian isi terutama dengan menelaah contoh-contoh kasus yang diberikan, dapat dikatakan bahwa fenomena uang naik dalam konteks masyarakat Bugis-Makassar kerap kali menyulitkan proses pembentukan atau perjalinan hubungan keluarga melalui pernikahan.

Akan tetapi, sekali lagi, tidaklah berarti bahwa, Balanca atau uang uang naik selamanya berimplikasi negatif. Buktinya, banyak yang sudah menikah dan langgeng sampai sekarang serta tidak masalah dengan uang naik ini, asalkan seperti yang dikatakan Baco Puraga, sesuai dengan kebutuhan.

Ya, intinya, sesuatu yang dipaksakan memang tidak pernah baik hasilnya.Sesuatu yang dibisakan akan menjadi racun. Muatan lokal memang bersifat relatif ada yang baik ada yang tidak. Ambillah yang terbaik itulah kearifan lokal.

N1
loading...