Bahasa dan Lontara Bugis

Bahasa Bugis (ugi) adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Bahasa ini, umum digunakan di Provinsi Sulawesi Selatan, bahkan digunakan di negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura maupun Brunei. Karena, bahasa Bugis ini dibawa oleh para perantau suku Bugis.

Huruf-huruf dalam bahasa Bugis yang disebut lontara‘, terdiri dari 23 aksara dan tidak terdapat aksara atau tanda baca untuk bunyi huruf mati atau konsonan. Sehingga, bisa saja terjadi kesalahan dalam membacanya (penafsiran ganda).

Dalam bahasa Bugis juga terdapat pantun, yang disebut dengan istilah elong maliung bettuanna atau elong pugi. Pantun ini, digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara halus.

Misalnya, ketika seseorang ingin menolak permintaan dari seseorang yang jabatannya lebih tinggi (namun, hal ini jarang terjadi). Atau untuk mengungkapkan perasaan (seperti rasa suka) kepada seseorang.

Selain itu, para gadis menggunakan pantun untuk menyampaikan isi hatinya, atau menerima ungkapan dari seorang pemuda dan begitupun sebaliknya.

Bahasa Bugis adalah salah satu dari rumpun bahasa Austronesia yang digunakan oleh etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di sebagian Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupatent Sinjai, sebagian Kabupaten Bulukumba, dan sebagian Kabupaten Bantaeng.

Bahasa Bugis terdiri dari beberapa dialek. Seperti dialek Pinrang yang mirip dengan dialek Sidrap. Dialek Bone yang berbeda antara Bone utara dan Selatan). Dialek Soppeng. Dialek Wajo juga berbeda antara Wajo bagian utara dan selatan, serta timur dan barat). Dialek Barru, Dialek Sinjai dan sebagainya..

Ada beberapa kosakata yang berbeda selain dialek. Misalnya, dialek Pinrang dan Sidrap menyebut kata Loka untuk pisang. Sementara dialek Bugis yang lain menyebut Otti atau Utti,adapun dialek yang agak berbeda yakni kabupaten sinjai setiap Bahasa bugis yang mengunakan Huruf “W” di ganti dengan Huruf “H” contoh; diawa di ganti menjadi diaha.

BACA JUGA :  Gender dan Bugis

Karya sastra terbesar dunia yaitu I Lagaligo menggunakan Bahasa Bugis tinggi yang disebut bahasa Torilangi. Bahasa Bugis umum menyebut kata Menre’ atau Manai untuk kata yang berarti “ke atas/naik”. Sedang bahasa Torilangi menggunakan kata “Manerru”. Untuk kalangan istana, Bahasa Bugis juga mempunyai aturan khusus. Jika orang biasa yang meninggal digunakan kata “Lele ri Pammasena” atau “mate”. Sedangkan jika Raja atau kerabatnya yang meninggal digunakan kata “Mallinrung”.

Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara.

Aja’ lalo ndi’ muallupaika nasaba esso wenni idi’mi bawang wingngerang

Jangan pernah dik melupakanku karena siang malam engkau saja selalu kuingat.

Lontara Bugis

Aksara Bugis disebut sebagai aksara lontara’. Karena pada awalnya, media yang digunakan untuk menulis adalah daun lontara’ atau daun ta ( bahasa Latinnya, yaitu Borassus flabelliformis(. Sedangkan, alat untuk menulis adalah kallang yang terbuat dari ijuk pohon lontara’ atau enau.

Bentuk lontara’ mengalami beberapa transformasi dari masa ke masa, sehingga terdapat bermacam bentuk. Tetapi, yang umum digunakan hingga sekarang ini adalah lontara’ urupu’ sulapa’ eppa, yang berarti huruf segi empat. Hal ini, dikarenakan bentuk dasar huruf tersebut adalah segiempat.

Lontara’ terdiri dari 23 aksara yang disebut ina sure’ (huruf induk) dan 5 ana’ sure (anak huruf) yang berfungsi sebagai huruf vokal atau pembeda diakritik. Ada dua macam ana’ sure’, yaitu tetti’ (titik) dan kecce’
(e—, —o, —E)

Dalam aksara lontara’ tidak terdapat huruf kapital, seperti pada bahasa Indonesia. Sehingga, awal huruf pada sebuah kalimat,
ukurannya saja yang lebih besar daripada huruf lainnya. Selain itu, tidak terdapat tanda titik dua, koma, dan sebagainya. Yang ada hanyalah tanda titik tiga (.), berfungsi sebagai pemisah antar kalimat.

BACA JUGA :  Fenomena "Balanca atau Doi Menre atau Uang Naik" dalam Pernikahan Masyarakat Bugis

Pada umumnya, lontara’ Bugis sama dengan lontara’ Makassar. Namun, dalam aksara lontara Makassar, tidak terdapat aksara (ngka), (mpa), (nra), (nca). Serta, tidak adanya ana sure’ —E

Setiap ina sure’ dapat diimbuhi dangan 5 macam ana’ sure’, yaitu :

1. Tanda titik di atas (tetti’ ri yase’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “i”. Contoh :
k menjadi ki

2. Tanda titik di bawah (tetti’ ri yawa) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “u”. Contoh :
k menjadi ku

3. Tanda di belakang (kecce’ ri munri’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “o”. Contoh : k menjadi ko

4. Tanda di depan (kecce’ ri yolo) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “e (vokal e, seperti pada kata sate)”. Contoh : k menjadi ke

5. Tanda di atas (kecce’ ri yase’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “e (vokal e, seperti pada kata pesawat “. Contoh : k menjadi ke’