POLO PA POLO PANNI, biasa kita dengar dalam percakapan keseharian orang Bugis. Meski begitu, bukan mustahil barangkali masih ada di antara orang Bugis itu sendiri yang belum mengetahui apa maksud dan asal usul kalimat tersebut.

POLO PA POLO PANNI berasal dari kata Polo yang artinya Patah kemudian PA berasal dari kata POPPANG artinya PAHA selanjutnya PANNI berarti SAYAP. Sehingga apabila digabung menjadi POLO POPPANG POLO PANNI.

Dengan demikian, POLO POPPA POLO PANNI di kalangan Bugis disingkat menjadi Polo Pa Polo Panni, yaitu patah paha patah sayap.

Seekor burung apabila kedua pahanya sebagai penopang tubuhnya dalam keadaan patah niscaya burung tersebut tidak bisa terbang. Walaupun sayapnya masih utuh atau tidak dalam keadaan patah maka ia tidak bisa terbang.

Begitu pula meskipun kedua sayapnya masih kuat dalam artian masih utuh maka burung tersebut tidak akan pula bisa terbang.

Dan seperti kita ketahui seekor burung baru bisa terbang dengan sempurna apabila paha dan sayapnya dalam keadaan utuh, karena untuk bisa terbang diperlukan kerja sama yang kuat, yaitu paha dan sayap.

Falsafah Bugis umumnya lahir dalam bentuk simbolis atau perlambangan sifat, keadaan, dan karakter suatu benda yang ada dalam lingkungannya. Seperti halnya POLO PA POLO PANNI melambangkan seekor burung.

BACA JUGA :  Filosofi Rumah Bugis