Dalam bahasa Bugis Kajao adalah cendekiawan, ilmuwan, terpelajar, atau orang yang memiliki keahlian tertentu dibanding yang lainnya. Seperti halnya filsuf Yunani Plato.

Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkangnge dikenal seorang staf ahli kerajaan bidang politik dan pemerintahan, dia adalah Lamellong. Karena atas kemampuannya itu, maka raja memberinya gelar “Kajao”.

Karena beliau berasal dari sebuah kampung yang bernama Lalliddong (salah satu desa yang masuk wilayah administratif kecamatan Barebbo kabupaten Bone sekarang ini) maka lebih dikenal dengan sebutan “Kajaolalliddong”.

Pada masanya beliau disapa sebagai “Panre Bicara” (pandai bicara). Apabila ada masalah antara kerajaan Bone dengan kerajaan lainnya maka dialah yang mewakili raja Bone. Dan atas kepandaiannya berbicara dan kebijakannya yang dapat diterima lawan diplomasinya maka Kajaolalliddong sering juga disebut “Diplomat ulung dari Tanah Bugis”.

Di samping itu Kajaolalliddong dikenal juga sebagai seorang yang ahli strategi pemerintahan dan perang.

Karena itu, istilah kajao merupakan pemberian gelar yang diberikan raja kepada Lamellong. Petuah-petuah sang kajao banyak diteliti dan dipelajari penulis-penulis barat seperti Belanda dan Perancis namun pada umumnya tidak diangkat dipermukaan.

Di kalangan bugis Bone sering kita dengar “kajao-kajao” atau “nenek-nenek” artinya perempuan yang sudah tua. Kemudian “lato’-lato’ atau “kakek-kakek” artinya laki-laki yang sudah tua.

Padahal Lamellong berjenis kelamin laki-laki. Mengapa tidak digelar sebagai Latolliddong? Bukanlah Kajaolalliddong ?.

Barangkali argumentasinya seperti ini, bahwa maju-mundurnya sebuah rumah tangga, perempuan (isteri) memiliki peranan yang sangat penting, bahkan perempuan bisa mengubah sebuah negara.

Perempuan memiliki kemampuan yang dapat mempengaruhi laki-laki (suami). Itulah sebabnya sehingga Lamellong bukan digelar Latolliddong tetapi Kajaolliddong.

N1
loading...