Andi Lala merupakan mantan pemain Nasional Indonesia di era tahun 70-an. Lahir di Bone, 17 Juni 1950 dan meninggal di Jakarta 1 November 1950. Dia meninggal dunia akibat serangan jantung dan dimakamkan di TPU Al- Kamal, Rawa Kopi, Kedoya, Jakarta Barat.Ia meninggalkan seorang istri Nina Rosina serta seorang putri dan lima putra.

Andi Lala (kiri)

Dia pernah membela tim Nasional di berbagai kejuaraan, termasuk SEA GAMES 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia. Andi Lala juga yang mengantarkan Persija menjuarai kompetisi PSSI tahun 1972, 1975, dan 1977). Dia juga memperkuat Persija saat memenangi Piala Quoch Khan di Vietnam Selatan pada 1973 dengan posisi sebagai sayap kiri.

Andi Lala terkenal dengan kepiawaiannya mengolah bola di lapangan rumput. Setelah menggantungkan sepatu, Andi Lala menjadi pelatih di beberapa klub, di antaranya Persija Jakarta, Persedikab Kediri, dan Persikota Tangerang. Ia juga pernah menjadi pelatih di Bantul, Yogyakarta.

Pada masa jayanya, tokoh olahraga kelahiran Bugis Bone ini terkenal dengan kecepatannya berlari dan mencetak skor. Dia biasa mengisi posisi kiri luar. Adapun deretan nama-nama seangkatannya, yaitu Iswadi Idris (Aceh), Sofyan Hadi, Yacob Sihasale, dan Roni Pattinasarany.

Ristianto salah seorang kerabat dekat Andi Lala mengungkapkan kalau ia adalah pribadi yang penuh semangat. Sebagai seorang pemain sepak bola, ia dikenal sebagai striker yang pandai dan punya reaksi cepat.

“Andi Lala itu orang yang penuh semangat. Sebagai seorang striker, ia punya sprint yang cepat dan timing yang selalu pas. Saya beruntung pernah bergabung di timnas dengannya,” ungkap Ristianto.

“Dia orang yang terbuka, fair, supel, pandai bergaul dan sederhana, hidupnya diabdikan di sepakbola, jadi ia tak pernah berhenti mengurusi sepakbola,” ucap tokoh sepak bola Ronny Pattinasarani.

BACA JUGA :  Pengertian Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, dan OPD

Ciri khas Andi Lala yang rambutnya agak gondrong dengan perangai agak keras tapi hatinya lembut sebagaimana orang Bugis. Ia pernah menjadi bagian dari skuad emas “Macan Kemayoran” yang memenangkan tiga kali gelar juara Liga Indonesia dan juara Piala Quoch Khan di Vietnam Selatan tahun 1973.

Usai pensiun sebagai pemain, Andi tak kemudian berhenti berkarir di sepakbola. Ia kemudian beralih sebagai pelatih memoles beberapa klub diantaranya Persija, Persedikab Kediri dan Persikota Tangerang.

Sewaktu masih melatih, Andi dikenal kritis terhadap pesepakbolaan Indonesia. Ia pernah beberapa kali dipanggil komisi disiplin PSSI karena menuding adanya praktik mafia wasit di Liga Indonesia.