Perilaku manusia merupakan sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang.

Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar.Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain.

Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif.
.
Nah, bagaimana jika menganalisis perilaku pikiran manusia? Pikiran mana yang mendominasi pikiran kita, apakah gosip, pengetahuan, ataukah gagasan yang bisa menghasilkan sebuah solusi.

Dalam falsafah kehidupan Bugis dikenal unsur yang membentuk kesempurnaan hidup manusia,yaitu ininnawa mpinru sadda, sadda mpinru ada, ada mpinru gau, gau mpinru rupatau, rupatau mpinru deceng yang artinya niat mewujudkan yang belum terucapkan, yang diucapkan mewujudkan kata, kata mewujudkan sifat perilaku, sifat dan perilaku mewujudkan manusia dan manusia melahirkan kebaikan.

Makkedai Toriolona Ugie, Tellu mitu riasengnge nawa-nawa, saisanna :
1. Nawa Sicippe Nasikua (pikiran sempit)
2. Nawa Masahoro (pikiran rata-rata pada umumnya)
3. Nawa Masakka Namaloang (pikiran besar).

Riasengnge Nawa Sicippe Nasikua, iyanaritu pikkiri madodong agi-agi naita natepperi nakadoi maneng.

Riasengnge Nawa Masahoro, iyanaritu pikkiri kacue-cue agi-agi naita temmakkutanai.

BACA JUGA :  Ramang, Pesepakbola Bugis yang Melegenda

Riasengnge Nawa Masakka Namaloang, iyanaritu pikkiri battoa agi-agi naita napoadai makkeda aga iyaro, magai iyaro, aga saba’na.

Pikiran yang sehat berakar dari niat akan memengaruhi prilaku atau tindakan yang sehat. Tindakan yang sehat akan melahirkan kebaikan. Banyak bencana disebabkan oleh pikiran sesat. Demikian besarnya pengaruh pikiran terhadap perilaku seesorang dan masyarakat, semua orang telah mengetahui.

Akan tetapi, ketika ditanyakan, Apakah yang dimaksud dengan pikiran?”, tidak setiap orang akan mudah menjawabnya. Walau pikiran tidak berbentuk materi atau benda yang dapat dilihat secara kasat mata. Akan tetapi setiap orang mengakui bahwa, pikiran itu ada dan nyata.

Secara umum pikiran merupakan gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.

Pikiran Sempit, membicarakan orang,dan biasanya orang yang berpikiran sempit akan menghasilkan “gosip”. Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh pikiran sempit, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak mnghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Orang yang berpikiran sempit senang menggunakan kata tanya “siapa”” Orang yang berpikiran sempit akan tertarik dengan pertanyaan: “siapa sih yang kemarin kejatuhan buah mangga ?”

Pikiran Rata-rata, membicarakan peristiwa, dan biasanya orang yang berpikiran rata-rata, akan menghasilkan “pengetahuan”. Orang yang berpikiran rata-rata senang menggunakan kata tanya: “ada apa”.
Orang yang berpikiran rata-rata akan bertanya: “Apakah sekarang sudah mulai musim panen buah mangga ?”

Sedangkan Pikiran Besar, membicarakan gagasan, dan orang yang berpikiran besar akan menghasilkan “solusi”. Apabila pikiran besar yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.

Orang yang berpikiran besar selalu memanfaatkan kata tanya: “mengapa dan bagaimana”. Dalam melihat satu peristiwa yang sama, misalnya jatuhnya buah mangga dari pohonnya, akan cenderung ditanggapi berbeda. Orang yang berpikiran besar : “Mengapa buah mangga itu jatuh ke bawah, bukannya ke atas?

BACA JUGA :  Peran Inspektorat Daerah Sebagai Pengawas Internal

Ternyata pikiran yang terakhir (berpikiran besar) itulah yang konon menginspirasi Sir Isaac Newton menemukan “teori gravitasi-nya yang sangat terkenal”
Tidak ada satupun prestasi atau karya di dunia ini yang dihasilkan oleh Pikiran Sempit.

Ketiga jenis pikiran ini “ada” di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi kita, begitulah apa yang dihasilkannya.

Di samping itu, ketiga jenis pikiran ini juga mempunyai ‘makanan favorit’ yang berbeda. Si pikiran sempit biasanya senang melahap “tabloid, infotaintment, koran merah”. Si pikiran ratarata amat berselera dengan “koran berita”. Sedang Si pikiran besar memilih “buku” yang membangkitkan sebuah inspirasi.