Aku Benci Puisiku

senja itu baru saja tumbuh
setangkai rasa yang lama terpendam
tumbuh dari ruang hati yang sunyi
jauh di palung hati pantai biru

beranjak dari senja itu
semestinya ku ingin bicara
namun terkunci lidah
hendak berteriak tapi mulut terkatup

wajahmu bagaikan iblis dari neraka
tingkah dan lakumu
bagai setan yang mengganggu
di setiap tempat dan waktu

langit biru pantai talise
berubah hitam nan kelam
gemuruh bumi menggelegar
membuyarkan suasana canda ria

keadaan semakin mencekam
orang berlarian pontang panting
hingga menjelang waktu pagi tiba
beribu tanya bergolak tak menentu

tarian gemulai anak dara
seharusnya sudah melanggak lenggok
sembari menanti badai
pencabut nyawa

saat melintas di hadapanku
aku ingin menghapusnya
dari mata ku
agar aku terbebas dari semua ini

saat menatapku dengan sinis
terlihat auramu yang begitu hitam
ku ingin terbebas darimu
agar hidup senang untuk selamanya

ku ingin segera mengakhirinya
ku basmi semua bayang bayang itu
satu demi satu gugur
tinggal satu

tapi satu yang sulit ku hilangkan
yaitu … yaitu … adalah …
diriku yang sangatlah kubenci
mengapa ku mengajakmu ke sana

sepuluh hari telah berlalu
akhirnya kita berpisah juga
akhirnya doaku terkabul pula
terima kasih Tuhan
telah lepaskan dia dari hidupku

talise malam ini, 8-10-2018

BACA JUGA :  Senja di Tanjung Pallette