Sejarah Berdirinya Masjid Laungnge Bone

Masjid Al-Mujahidin terletak di Jalan Sungai Citarum Kota Watampone Kabupaten Bone. Masjid ini lebih populer dengan nama Masigi Laungnge Bone.

Dalam bahasa Bugis disebut Masigi Laungnge Bone, dalam bahasa Indonesia disebut Masjid Tua Bone. Sedangkan nama masjid Al-Mujahidin yang bermakna perjuangan.

Bagaimana kisah dan sejarah masjid tertua di Bone tersebut? ….

Ridhwan, dalam penelitiannya yang berjudul: Masjid Al-Mujahidin Watampone, Sejarah Pendiriaan dan Fungsinya. Menjelaskan bahwa : Masiji Laungnge merupakan masjid pertama di Bone. Dibangun pada tahun 1639 Masehi, masa pemerintahan La Maddaremmeng, raja Bone ke-13 yang memerintah dalam 1631 – 1644.

Didirikan oleh Kadhi pertama di kerajaan Bonee yang bernama Amrullah. Namun, Ada juga pendapat lain tentang awal mula keberadaan masigi Laungnge. Pada tahun 2017, Andi Najamuddin Petta Ile mengisahkan, bahwa pada awalnya masjid ini berupa langkara atau langgar, yang didirikan oleh Puatta La Madderemmeng, Matinroe ri Bukaka, namun masih sangat sederhana, di mana dindingnya terbuat dari papan, dengan atap dari daun lontar, yang ditopang 9 tiang dari kayu bitti.

Masigi Laungnge Bone (Masjid Tua Bone)

Kayu Bitti, dengan nama latin, Vitex cofassus, sudah dikenal pada zaman kerajaan Bone. Selain bahan untuk tiang rumah, juga merupakan jenis kayu unggulan bahan membuat perahu pinisi.

Selanjutnya, tiang-tiang dihubungkan dengan bilah atau lempengan dari batang lontar yang disebut pattolo. Bangunan tersebut berdiri di depan rumah Puatta La Maddaremmeng, berbentuk persegi empat. Dalam bahasa Bugis disebut mattibojong. Setelah itu, dirombak total oleh kadhi Bone Faqih Amrullah.

Bahkan Andi Najamuddin Petta ile mengisahkan, bahwa dahulu istana atau rumah tinggal Puatta La Maddaremeng, berdiri di sebelah timur Masigi Laungnge, yang ditempati kantor Syara’ di depan Masigi Laungnge saat ini. Namun terakhir Beliau menegaskan bahwa apa yang dikisahkan itu, tetap harus diteliti secara ilmiah, karena hanya diceritakan oleh orang tua secara turun temurun, dan perlu pembuktian secara akademik.

Dalam sejarah kerajaan Bone, Sejak pemerintahan La Maddaremmeng, Qadhi menjadi sebuah jabatan dan merupakan bagian struktur pemerintahan di kerajaan Bone.

Qadi adalah seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam. Qadhi berperan dalam penegakan aturan Islam bagi setiap muslim di kerajaan Bone. Orang yang memegang jabatan Qadi tersebut, masyarakat Bone menyebutnya Peta Kalie.

Amrullah adalah seorang fakih, yang artinya orang yang paham terhadap aturan atau syariat Islam. Dengan keahliannya tentang agama Islam, sehingga masyarakat Bone menyebutnya Faqih Amrullah. Ia berasal dari Gowa. Faqih Amrullah lahir di Gowa sekitar tahun 1603 Masehi.

Faqih Amrullah adalah putera seorang keturunan Arab yang bernama Sayid Muhsin, yaitu anak dari Sayid Ba’Alwi bin Abdullah. Ia seorang ulama dari Mekah dan menetap di Kerajaan Gowa setelah Gowa menerima Islam.

Sedangkan Ibunya adalah putri I Malingkaan, Daeng Manyonri, Sultan Abdullah Awwalul Islam : yaitu Raja Tallo yang pertama masuk Islam. Dengan demikian, dari jalur ibunda Faqih Amrullah merupakan keluarga bangsawan Gowa.

Faqih Amrullah sebagai Kadi pertama di Kerajaan Bone tidak diangkat oleh Raja Bone, sebagaimana lazimnya pengangkatan Kadi Bone berikutnya, tetapi Faqih Amrullah dikirim diawal pemerintahan Raja Gowa ke-15, Sultan Malikussaid yang memerintah dalam 1639 – 1653 masehi.

Selanjutnya Menurut Ridhwan, di masigi Laungnge inilah Petta Kalie pertama atau Faqih Amrullah memberikan bimbingan dan pengajaran, bagi keluarga istana kerajaan Bone, serta mengajarkan agama Islam kepada rakyat Kerajaan Bone. Sebagai Kadhi ia bertugas penegak hukum Islam yang mengurusi muamalah Islamiah, sehingga perjalanan dakwah Islamiah berkembang dengan pesat.

Sementara itu, Mahyuddin Said Ketua Pengurus Masigi Laungnge Bone menuturkan, di masjid inilah Petta Kalie memberikan bimbingan dan pelajaran, kepada raja dan keluarga istana Kerajaan Bone. Di masjid ini banyak dihasilkan ulama sebagai pengembang Islam di Kerajaan Bone.

Bapak Mahyuddin Said menjelaskan, masjid ini telah berapa kali mengalami renovasi besar-besaran. Di masa pemerintahan La Temmassonge, Raja Bonee ke-22 yang meletakkan pondasi masjid. Beliau memerintah di kerajaan Bone dalam 1749 – 1775 Masehi.

Selanjutnya direnovasi lagi pada masa Kadhi Bonee ke-9, yaitu Kiai Haji Adam, yang menjabat sebagai kadhi Bone dalam tahun 1847 – 1865. Beliau juga untuk pertama kalinya mendirikan bangunan khusus kantor Syara’ di depan Masigi Laungnge. Bangunan bekas kantor syara’ tersebut masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Kemudian direnovasi lagi di masa Raja Bone ke-22, La Mappanyukki bersama kiai dan adat tujuh Bone. Bentuknya masih tetap sama, hanya kubah masjid yang berubah. Kubah masjid sudah bukan aslinya. Kuba aslinya bertingkat-tingkat dan sudah rusak.

Yang asli tinggal mimbar dengan mihrabnya. Meskipun renovasi sudah seringkali dilakukan, namun tidak pernah merubah bentuk. Hanya mengganti papannya, marmer, dan dindingnya.

Mahyuddin Said menyebutkan, pada bagian mimbar, terdapat guci dari China, diperkirakan pada masa Dinasti Ming. Kemudian pada bagian puncak masjid juga terdapat sebuah guci berwarna kuning keemasan. Bahkan pada masa pendudukan Jepang di Bone tahun 1943, guci pada puncak masjid, pernah sekali tentara Jepang bermaksud mengambil guci tersebut tapi tidak berhasil.

Pada tahun 1933, atas prakarsa Raja Bone La Mappanyukki dan Kadi Bone mendirikan Madrasah Amiriyah Islamiyah di Watampone.

Ketika Raja Bone terakhir La Pabbenteng naik takhta dalam 1946-1951, bersamaan itu pula diangkat Kiai Haji Sulaiman sebagai Kadi Bone, Ia pun tetap melanjutkan pengajian di Masigi Laungnge.

Selanjutnya, Pada masa Kiai Haji Muhammad Rafi Sulaiman menjabat sebagai Kadi Bone dalam 1962 – 1991, pendidikan Islam terus berjalan di Masigi Laungnge. Bahkan dalam bentuk yang lebih terorganisir, yakni berupa
madrasah diniyah. Masyarakat Bonee menyebutnya dengan istilah Sikola Arab.

Hingga saat ini di Masigi Laungnge Bone, masih berjalan pengajian dasar Al-Quran berupa TK/TPA. Kemudian pada sore hari diselenggarakan pendidikan Islam dalam bentuk Madrasah Diniyah. Namun demikian, sangat disayangkan bahwa pengajian kitab kuning atau mangaji kitta, sudah tidak ada lagi.

Saat ini, pintu masuk masigi Laungnge terbuat dari kayu. Jumlahnya 9 buah, terdiri dari 3 pintu bagian depan, 3 pintu bagian samping kanan, dan 3 pintu bagian samping kiri. Serta pada bagian dalam mempunyai 4 tiang besar.

Kesembilan pintu tersebut melambangkan walisongo. Sedangkan 4 tiang besar menyimbolkan 4 sahabat nabi yaitu : Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. keempat sahabat nabi tersebut biasa disebut Khulafaur Rasyidin yang bermakna orang yang menggantikan atau mengambil alih kedudukan orang lain.

Masigi Laungnge Bone bisa menampung 500 jamaah. Saat ini masjid tetap digunakan untuk salat lima waktu, salat Jumat, salat tarawih, i’tikaf dan pengajian setiap malam Kamis.

Termasuk peringatan hari besar Islam, pembacaan Surah Yasin setiap malam Jumat dan barzanji serta kegiatan keagamaan lainnya.

Saat bulan Ramadan masjid ini tidak pernah ketinggalan menggelar buka puasa bersama yang didukung oleh penduduk setempat secara bergiliran. Berbagai makanan khas Bugis disajikan. Warga juga rutin melakukan salat tasbih.

Namun dibalik semua itu, Masigi Laungnge Bone tidak luput dari cerita-cerita mistis. Cerita itu berkembang pada tahun 1940-an dan baru berakhir pada tahun 1960-an.

Mahyuddin Said mengisahkan, “Dulu ini pernah ada kejadian aneh. Tidur di masjid, besok paginya langsung dipindahkan ke kuburan. Apalagi di samping masjid ada kuburan. Dulu memang keramat di masjid ini, apalagi keranda jenazah kerap disimpan di samping masjid.

“Memang di kawasan masjid terdapat permakaman sejumlah raja dan Kadhi Bone dan keluarganya. Kompleks permakaman itu biasa disebut Lalebata”.

Di kabupaten Bone berdasarkan data statistik, terdapat 1.447 masjid dan sebanyak 1.584 musalla yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Bone. Dari sekian itu, menunjukkan Bone salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang paling banyak memiliki masjid dan musallah.

Meskipun Penduduk Bone bukanlah muslim 100 persen, terdapat pula agama selain Islam, akan tetapi warga Bone sangat menjunjung tinggi toleransi beragama.

Sebagaimana dalam Al-Quran surat Al- Kafirun ayat 6 yang berbunyi lakum dinukum waliyadin, artinya bagimu agamamu, bagiku agamaku. Dengan kata lain untukmu agamamu dan untukku agamaku. Hal ini bermakna tidak saling menjelekkan antara pemeluk agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *