Sejarah Wisma Guru Watampone

Bangunan berlantai tiga ini masih dapat kita saksikan, meskipun di beberapa bagian gedung sudah sudah rapuh. Sehingga harus ekstra hati-hati bila naik ke lantai 2 dan 3.

Gedung milik pemda Bone ini beratap genteng dan masih asli, begitu pula lantai 2 dan tiga berlantai papan yang sudah mulai rapuh dan sudah tidak berpenghuni. Kecuali lantai dasar yang berlantai semen masih dihuni oleh sebagian warga atas izin pemerintah daerah.

Pada bagian lantai dasar terdiri atas tiga bagian dan pernah ditinggali oleh mantan Bupati Bone Andi Muhammad Idris Galigo.

Nah bagaimana sebenarnya sejarah keberadaan gedung tua ini. Ikuti penelusuran kami.

Wisma Guru merupakan salah satu bangunan bersejarah terletak di Jalan Makmur, Kota Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut Andi Bahram Sebbu, kelahiran tahun 1955, ia salah seorang tokoh sejarah dan budaya Kabupaten Bone, juga mantan lurah Watampone, menuturkan, bahwa Wisma Guru tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1942.

Pada masa itu sudah ada penginapan yaitu Losmen Nasional, milik seorang keturunan Arab tahun 1941. Menurut Andi Bahram Sebbu, losmen Nasional tersebut merupakan penginapan yang pertama di Bone.

Awalnya wisma ini merupakan pesanggrahan yang diperuntukkan bagi pembesar Belanda pada zaman kerajaan Bone.

Ia menuturkan bahwa komponi Belanda mulai menguasai Bone sejak tahun 1905 ketika mengalahkan Bone masa pemerintahan La Pawawoi Karaeng Segeri Raja Bonee ke-31, yang memerintah dalam 1895 – 1905.

Untuk mengisi kekosongan pemerintahan raja di Bonee, Barulah 26 tahun kemudian dinobatkan La Mappanyukki, sebagai raja Bone ke-32, yang memerintah dalam 1931 – 1946. Acara penobatannya dilaksanakan secara adat dan meriah, pada tanggal 12 April 1931 di Watampone.

Ketika menguasai Bone, selanjutnya Belanda mendirikan sekolah yang disebut Europeesche, Lagere, School (ELS). Akan tetapi sekolah tersebut hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda serta golongan pribumi terkemuka. Sekolah ELS ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Dan pendidikan ditempuh selama 7 tahun.

Adapun Sekolah Rakyat tersebut, dahulu berdiri di Lompo Benteng sisi utara rujab Bupati Bone saat ini, tepatnya Jalan M.H. Thamrin Watampone. Dan bekas sekolah tersebut masih bisa disaksikan hingga saat ini. Namun ditempati oleh masyarakat.

Bahkan Sekolah Rakyat Watampone ini pernah dikunjungi oleh presiden Soekarno, pada hari Jumat 9 Oktober 1953, dan Beliau sempat berbincang-bincang dengan murid-murid. Pada waktu itu Bone dipimpin oleh Andi Pangerang Daeng Rani, Kepala Daerah Bone dalam 1951 – 1955.

Setelah Jepang masuk di Bone dan menggeser kekuasaan Belanda, maka Sekolah Belanda tersebut berubah nama, menjadi Sekolah Rakyat atau SR. Sejak itulah kemudian murid-murid dari golongan pribumi dan Tionghoa menerima pendidikan di sekolah tersebut.

Selanjutnya pada tahun 1947 Wisma atau pesanggrahan tersebut ditempati oleh guru-guru, yang mengajar di Sekolah Rakyat tersebut. Oleh sebab itulah pesanggrahan tersebut, kemudian dinamakan Wisma Guru-guru.

Setelah pesanggrahan difungsikan menjadi wisma guru, sebagai penggantinya dibangunlah pesanggrahan Bonee disekitar Taman Bunga Watampone. Saat ini menjadi rumah dinas Wakil Bupati Bone, Jalan Wolter Monginsidi Watampone sekarang.

Pesanggrahan Bone ini pernah ditempati oleh Abdul Rachman Daeng Mangung, Kepala Daerah Bone yang pertama pada tahun 1951. Yaitu Setelah berakhirnya masa kerajaan Bonee. Namun beliau tidak cukup setahun memerintah kemudian digantikan oleh Andi Pangerang Daeng Rani.

Pada tahun 70-an Wisma Guru yang ada di jalan makmur, masih ditempati sejumlah guru, baik yang mengajar SMP Negeri 2 Watampone, maupun guru-guru yang mengajar di SPG Negeri 59 Watampone, yang terletak di Jalan Biru, atau Jalan Jenderal Sudirman Sekarang. Sementara bekas gedung SPG Bone tersebut, saat ini ditempati oleh Universitas Negeri Makassar, Kampus VI Watampone.

Watampone, Minggu 16 Oktober 2022
Sumber : Andi Bahram Sebbu lahir 1954.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *