Perlawanan To Bala Arung Tanete Riawang

Tobala Arung Tanete riawang adalah salah seorang anggota adat tujuh Bone pada masa pemerintahan La Maddaremmeng Raja Bone ke-13. Sebagai anggota hadat mempunyai tugas mengepalai urusan dalam Negeri kerajaan Bone.

Tobala adalah anak dari Toancalo Arung Jalling dengan Istrinya yang bernama We Bungabau, Arung Macege.

Tobala kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Maisuri anak dari La Uncu Arung Paijo dengan isterinya yang bernama We Daompo.

Tobala Arung Tanete Riawang dijuluki Petta Pakkannyarange, karena bila ia bepergian selalu menunggang kuda. Bahkan ia memelihara beberapa ekor kuda, sehingga tak heran kalau ia dikenal joki atau penunggang kuda yang hebat. Tobala sangat menguasai keadaan geografis wilayah kerajaan Bone terutama Bone utara dan Barat.

Selama ia ditunjuk oleh raja Gowa sebagai jennang atau pengawas di kerajaan Bone, maka secara berkala, tobala harus melaporkan aktivitasnya kepada karaengnge ri Gowa. Ia pun naik kuda dari Bone ke Gowa bersama pengawalnya. Pada masa kerajaan Bone, tenaga kuda selain sebagai alat transportasi juga untuk peperangan.

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa,ToBala adalah bangsawan Bone, karena termasuk sebagai salah seorang Arung Pitue, yakni Arung atau penguasa Tanete ri Awang, pada masa pemerintahan Raja Bone La Maddaremmeng.

Sosok Tobala muncul dalam panggung sejarah kekuasaan Bone ketika terjadi perseteruan antara Bone dengan Gowa, yakni pada saat Raja Bone La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh, memberlakukan syariat Islam secara keras di Kerajaan Bone.

Pada awalnya, kerajaan Gowa tidak bermaksud mencampuri urusan dalam negeri Bone, namun Gowa mulai terusik ketika ibunda La Maddaremmeng melarikan diri ke Gowa, akibat tidak senang dengan sikap keras La Maddaremmeng untuk menghapus perbudakan.

Keadaan semakin memanas ketika La Maddaremmeng mulai memaksakan kehendaknya itu kepada kerajaan-kerajaan tetangga yang masuk dalam wilayah
pengaruh Gowa, seperti Wajo.

Ketika La Maddaremmeng menghancurkan Peneki, yang berada dalam wilayah Wajo, maka Gowa melancarkan perang terhadap Bonee.

Pada tahun 1640 terjadilah perang antara Gowa dan Bone, yang dipimpin langsung oleh La Ma’daremmeng. Gowa berada di pihak pemenang dan menjadikan Bone sebagai kerajaan bawahan. La Maddaremmeng dan sebagian besar bangsawan Bone ditawan oleh Gowa.

Atas kekalahan Bonee tersebut dan ditawannya La Maddaremmeng oleh Gowa, maka Bone mengalami kekosongan penguasa.

Karena Bone sudah berada di bawah kekuasaan Gowa, maka Arung Pitue Bonee menghadap kepada penguasa Gowa.

Setelah terjadi musyawarah antara pihak penguasa Gowa yang diwakili oleh Karaeng Patingaloang dan Arung Pitue dari Bone maka diangkatlah salah seorang bangsawan Bone, To Bala Arung Tanete ri Awang, untuk memimpin Bone dan bertanggung jawab kepada penguasa Gowa, Karaeng Summana.

Menurut versi kerajaan Gowa To Bala menjabat sebagai Kadhi, namun pihak Bone menyebutnya sebagai Jennang atau atau pengawas yang merupakan perpanjangan tangan raja Gowa.

Dalam lontara, atau buku-buku sejarah Bugis sering dikatakan: “Naripoatana Bone seppulo pitu taung ittana” artinya: Maka diperhambalah Bone 17 tahun lamanya.

Kerajaan Bone yang sudah dikalahkan itu kemudian menjadi jajahan kerajaan Gowa pada masa pemerintahan raja Gowa ke-15 yaitu: Sultan Malikussaid, Tuminanga ri Papang Batunna. Ia Lahir 11 Desember 1605, berkuasa di Gowa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653.

Sultan Muhammad Said minta Karaeng Pattingaloang mengadakan perundingan dengan Arung Pitu, yakni Hadat Tujuh kerajaan Bone. Mereka berunding untuk mencari dan menunjuk calon pengganti Raja La Maddaremmeng.

Oleh Adat Tujuh Bone diputuskanlah untuk menyerahkan takhta kerajaan Bonee kepada Sultan Muhammad Said. Akan tetapi Sultan Muhammad Said menolak. Sebab ia paham tentang adat-istiadat kerajaan.

Sultan Muhammad said menjelaskan bahwa: menurut adat baik di Bone maupun di Gowa, tidak boleh mengangkat “orang dari luar” menjadi Raja di kerajaan itu. Orang yang bukan keturunan langsung dari Manurungnge ri Matajang tidak boleh diangkat menjadi Raja Bone.

Demikian pula adat di kerajaan Gowa. Seorang yang bukan keturunan langsung dari Tumanurunga ri Tammalate tidak boleh diangkat menjadi Raja Gowa. Hal ini diketahui betul oleh Sultan Muhammad Said. Dengan alasan itulah baginda menolak keputusan Arung Pitue Bone pada waktu itu.

Kemudian Sultan Muhammad Said menunjuk Karaeng Pattingaloang untuk menjadi Raja Bone. Akan tetapi juga Karaeng Pattingaloang menolak dengan alasan yang sama. Beliau pun tahu dan mengerti adat kerajaan Bone.

Akhirnya Sultan Muhammad Said terpaksa menerima tawaran Arung Pitue Bone. Dan baginda menunjuk pamannya yang bernama Karaeng Sumanna, sebagai wakilnya untuk menjalankan pemerintahan di Bone.

Dalam perkembangannya, Karaeng Sumanna merasa tidak mampu menjalankan tugas yang berat itu. Maka dengan persetujuan Sultan Muhammad Said, akhirnya menunjuk salah seorang anggota adat 7 Bone yaitu: Tobala Arung Tanete Riawang.

Tobala Arung Tanete inilah yang ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan di Bone dengan gelar atau sebutan “jennang” atau pengawas. Diperkirakan sama dengan jabatan regent atau bupati.

Ilustrasi

Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan tahun 1644, Adat 7 Bone secara diam-diam mengangkat adik La Maddaremmeng yang bernama La Tenriaji Tosenrima sebagai raja Bone untuk menggantikan, La Maddaremmeng yang sudah ditawan oleh Gowa. Pengangkatan La Tenriaji Tosenrima atas persetujuan Jennang Tobala.

Selanjutnya La Tenriaji Tosenrima melanjutkan perjuangan kakaknya untuk menghapus perbudakan.

Pengangkatan La Tenriaji Tosenrima sebagai raja Bone tersebut, membuat marah raja Gowa. Akhirnya Gowa kembali menyerang Bone. Dalam peperangan itu, Bone mengalami kekalahan dan raja Bone La Tenriaji Tosenrima ditangkap di Pasempe lalu beliau diasingkan di Siang Pangkajene Kepulauan. Dimana pada masa itu Pangkajene Kepulauan atau Pangkep merupakan bagian wilayah taklukan kerajaan Gowa.

Memang sebelumnya, La Tenriaji Tosenrima selalu membantu kakaknya La Maddaremmeng, untuk menghapus perbudakan. Akan tetapi pada waktu kakaknya tertangkap, Beliau dapat meloloskan diri dan kemudian kembali lagi ke Bone. La Tenriaji Tosenrima tidak mau dijajah oleh Gowa dan melakukan perlawanan. Namun beliau pun tertangkap dan dibuang di Pangkep hingga akhir khyatnya.

Selama 17 tahun Tobala Arung Tanete Riawang, menjadi Jennang di Bone, sekian pula lamanya Bone dijajah oleh Gowa. Tindakan kesewenang-wenangan orang Gowa terhadap orang Bone semakin menjadi-jadi. Banyak orang Bone yang memilih untuk pindah ke daerah lain, karena tidak mampu lagi menahan penderitaan akibat tindakan orang Gowa yang sangat kejam.

Dimasa pemerintahan Tobala, Raja Gowa minta dikirimkan orang dari Bone sebanyak 10.000. Orang sebanyak itu akan disuruh menggali parit dan membuat benteng.

Saat itu, La Tenritatta sudah mulai dewasa. Kemudia kawinlah dengan I Mangkawani Daeng Talele. Pada saat orang Bone yang jumlahnya 10.000 itu tiba, La Tenritatta bersama seluruh keluarganya meninggalkan rumah Karaengnge ri Gowa.

Ia pun turun bekerja bersama orang Bone, merasakan bagaimana penderitaan dan penyiksaan yang dialami mereka. La Tenritatta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang Gowa menyiksa orang Bone jika didapati tidak bekerja atau malas karena kelaparan. Orang Bone diperlakukan tak ubahnya hewan, dicambuk dan ditendang. Bahkan tidak sedikit yang mati terbunuh oleh orang Gowa yang mengawasi penggalian parit dan pembuatan benteng tersebut.

Melihat tindakan orang Gowa terhadap orang Bone yang semakin tidak berperikemanusiaan, hati La Tenritatta menjadi tergugah dan berpikir untuk membuat suatu rencana pembebasan.

Rencana La Tenritatta untuk membebaskan orang Bone didukung oleh Jennang Tobala Arung Tanete Riawang. Keduanya kerap melakukan pertemuan rahasia. La Tenritatta juga bekerja sama dengan beberapa keluarga dekatnya, seperti Arung Belo, Arung Ampana dan lainnya.

Kesepakatan yang dibuatnya adalah pada suatu saat yang tepat dan aman, semua orang Bone melarikan diri dari tempat penggalian parit dan pembuatan benteng tersebut menuju ke Bone.

Memang Tobala tidak mampu lagi untuk menerima tindakan orang Gowa terhadap orang Bone yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Hal ini menambah kesungguhan La Tenritatta untuk menegakkan kembali kebesaran Bone. Dihimpunlah seluruh kekuatan Bone yang pernah bercerai berai. Dia juga mengajak Soppeng agar dapat membantu Bone melawan Gowa.

Perlawanan Gerilya Tobala:

Setelah berhasil melakukan pelarian bersama ribuan pekerja paksa dari Bone, maka sesampai di Bone, La Tenritatta langsung menemui Jennang Bonee Tobala. Selain itu ia juga menyampaikan kepada Datu Soppeng pamannya yang bernama La Tenribali.

Karena memang sebelumnya, Tobala telah melakukan perjanjian untuk dipersatukan Bone dengan Soppeng. Perjanjian itu disebut Perjanjian Pincara Lopie ri Attappangnge yang terletak disekitar Gua Mampu, Desa Cabbeng Kecamatan dua Boccoe sekarang ini.

Sesuai bunyi perjanjian Pincara Lopie ri Attapangnge, maka bersatulah Jennang Tobala dengan La Tenritatta, membangkitkan kembali semangat perlawanan orang Bone terhadap Gowa.

Sebagai wujud kegembiraan orang Bonee atas kembalinya La Tenritatta ke Bonee, maka orang Bonee sepakat untuk mengangkatnya menjadi Arung di Palakka mewarisi neneknya. Sejak itulah dinamakanlah La Tenritatta Arung Palakka.

Setelah mempersatukan pendapat dengan Jennang Tobala untuk tidak mundur dalam melawan Gowa. KemudianToBala bersama Arung Palakka, melakukan perlawanan secara gerilya melawan pasukan Gowa yang dibantu oleh Wajo.

Ketika La Tenritatta Arung Palakka berangkat ke Lamuru, untuk menghadang orang Gowa yang mengikutinya, Terjadilah perang yang sangat dahsyat dan menelan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak. Karena kekuatan Gowa yang dibantu oleh Wajo, ternyata lebih kuat, maka La Tenritatta Arung Palakka memilih mengundurkan diri bersama pengawalnya.

Dalam perjalanannya menghindari serangan Gowa, La Tenri Tatta Arung Palakka singgah menemui Datu Soppeng minta bekal untuk dimakan dalam perjalanan bersama pengawalnya. Karena dia akan pergi mencari teman yang bisa diajak kerja sama melawan Gowa. Hal ini dimaksudkan agar dapat menegakkan kembali kebesaran Bone.

Atas permintaannya itu, Datu Soppeng memberinya emas pusaka dari orang tuanya. Emas itulah yang dijadikan bekal bersama segenap pengawalnya untuk pergi mencari teman yang bisa diajak kerja sama menegakkan kembali kebesaran Bone.

Untuk menahan laju pergerakan tentara kerajaan Gowa mencari La Tenritatta pada waktu menemui Datu Soppeng, maka Jennang Tobala tetap melakukan perlawanan bersama pengikutnya.

Pada tanggal 11 Oktober 1660, dalam salah satu pertempuran di wilayah Bone Utara, pasukan ToBala berhasil dikalahkan. ToBala
akhirnya terbunuh dalam peristiwa itu.

Selanjutnya La Tenritatta Arung Palakka bersama pengikutnya, Dari Soppeng berpindah ke Daerah Mampu. Kemudian bergerak ke Bukit Cempalagi sekitar Palette yang berada di pesisir Teluk Bone. Kemudia pada tanggal 25 Desember 1660, La Tenritatta Arung Palakka bersama pengikutnya menyeberang ke Buton.

Sebelum bertolak ke Buton, La Tenritatta Arung Palakka bersumpah tidak akan memotong rambutnya sebelum ia kembali ke Bone.

Atas kekalahan Bonee dalam peperangan tersebut, maka Datu Soppeng La Tenribali turut ditawan oleh Gowa, karena membantu jennang Tobala dan La Tenritatta Arung Palakka.

Karena kekalahan itu, sehingga orang Bone kembal dijajah oleh Gowa. Begitu pula orang Soppeng karena telah membantu Bone dalam melawan Gowa.

Adapun makam Jennang Bone Tobala Arung Tanete riawang yang digelar Peta Pakkanyarangnge saat ini berada di Lalebata perkuburan raja-raja Lamuru.

Itulah kisah perlawan Jennang Tobala Arung Tanete Riawang dalam kurun 1643 sampai 1660.

Sumber RAJA RAJA BONE MASA REGENT TOBALA TAHUN 1643-1660 :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *