Sejarah Lengkap Suku To Balo, Manusia Belang dari Sulawesi Selatan

Tanah Sulisa atau Celebes yang dikenal Sulawesi sekarang ini, terkenal memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri yang tidak dipunyai oleh daerah lain. Selain keindahan alam dan budaya, juga mempunyai satu suku yang cukup unik, dan satu-satunya yang ada di dunia. Suku tersebut adalah Suku Tobalo.

Pada umumnya warna kulit manusia yang menghuni daratan Sulawesi adalah sawo matang. Sawo matang merupakan suatu warna cokelat dengan rona pucat. Warna ini diambil dari warna buah sawo yang sudah matang. Warna ini merupakan salah-satu macam warna kulit manusia yang digunakan dalam Bahasa Indonesia.

Kebanyakan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah barat dan tengah, memiliki kulit warna ini. Warna kulit Sawo matang jarang terbakar akan tetapi menggelap dengan mudah apabila terpapar oleh sinar matahari.

Secara harfiah dalam bahasa Bugis, ToBalo artinya kumpulan manusia belang. Lain halnya apabila hewan yang memiliki warna belang maka disebut buleng. Misalnya sapi buleng atau tedong buleng. Bahkan terkadang istilah buleng ini, juga merujuk kepada warna kulit manusia yang disebut ToBuleng.

Adapun Perbedaan ToBalo dengan ToBuleng terletak pada sebaran warna pada tubuhnya. Di mana ToBalo hanya terdapat pada bagian tertentu seperti muka, dada, punggung, tangan dan kaki yang dipenuhi bercak putih. Akan tetapi ToBuleng bercak putih tersebut meliputi seluruh bagian tubuhnya. ToBuleng tidak mempunyai komunitas tersendiri, melainkan hanya tersebar dibeberapa keluarga dan jarang dijumpai.

Suku minoritas To Balo tersebut bermukim di pedalaman tepatnya di pegunungan BuluPao, Desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kawasan pegunungan Bulupao, yang melintasi wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan, sekitar 70 Km arah tenggara dari pusat kota Barru.

Masyarakat suku To Balo mempunyai keunikan tersendiri, dengan tampilan kulit yang tidak seperti masyarakat lain pada umumnya. Mereka mempunyai kulit yang unik pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Pada komunitas ToBalo, Setiap Bayi yang terlahir pasti akan mempunyai kulit yang belang, orang dari keturunan kelompok ini mempunyai rupa kulit tidak lazim sekujur tubuh khususnya kaki, badan, serta tangannya, dipenuhi dengan bercak putih.

Sementara pas ditengah dahi mereka, bercak itu juga terpampang hampir membentuk segitiga. Oleh karena itu nama kelompok mereka di kenal juga sebagai ToBalo, yang bermakna Manusia belang.

Berlatang belakang dari ketidaksamaan tersebut sehinga mereka mengasingkan diri dari kumpulan sosial hingga tak pernah membangun koloni di daerah yang ramai. Konon, sikap itu sudah mereka lakoni sejak berabad silam pada masa Kerajaan Bugis masih berjaya. Akan tetapi, oleh raja-raja zaman dahulu, kelainan itu pernah dianggap sebagai tanda kepemilikan kesaktian. Sehingga tak jarang suku ToBalo ini, kerap dipilih menjadi pengawal raja.

Saat ini ditengah hiruk pikuk perkembangan zaman, kelompok suku ToBalo seolah olah terbenam ditelan kesunyian pelosok tempat tinggal mereka. Sebetulnya, Kelainan yang diidap oleh Masyarakat suku ToBalo bukanlah penyakit tetapi pembawaan gen. Akan tetapi, penduduk setempat meyakini sebagai kutukan dewa. Dengan begitu, muncullah berbagai cerita dan mitos dikalangan masyarakat Bugis terkait asal usul ToBalo.

Alkisah pada suatu hari, ada satu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Namun mereka bukan hanya menyaksikan, keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku kedua kuda itu. Maka geramlah dewa lalu mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang. Lantaran malu dengan keadaan kulitya yang belang, keluarga tersebut memilih untuk hidup di pegunungan yang jauh dari keramaian.

Ada juga cerita versi lain. Para kelompok Tobalo yakin, manusia dan kuda turun bersama dari langit kala bumi pertama diciptakan. Artinya, hewan berkaki empat itu bersaudara dengan Manusia.

Suku Tobalo menggunakan bahasa yang disebut bahasa bentong. Bahasa ini merupakan bahasa gabungan antara bahasa Makassar, Bugis dan Konjo.Kelainan yang diidap kaum tobalo hingga saat ini bukanlah penyakit tetapi Gen bawaan. Dengan kata lain belang atau bercak di badan mereka miliki sifat turun temurun dari leluhurnya yang mempunyai gen dominan. Artinya saat pria dan wanita keturunan tobalo menjalin perkawinan dan mempunyai re-generasi tobalo pula, maka sudah pasti salah satu pasangan di antara keduanya mempunyai gen dominan pada anaknya.

Suku tobalo selain warna kulitnya yang unik, juga terkenal pula dengan tariannya yang disebut Tari Sere Api. Tarian ini merupakan sebuah ritual budaya Suku Tobalo, yang mengungkapkan rasa senang pada sang dewata, atas kelahiran putra atau putri Penghulu Suku Tobalo.

Tarian ritual ini juga sebagai ungkapan rasa gembira atas melimpahnya hasil panen mereka dan merasa perlu untuk dirayakan dalam salah satu pesta panen. Maka itu tari “sere api” kerap dikolaborasikan dengan ritual lain pada acara pesta panen yang disebut Mappadendang.

Sistem pernikahan dalam Suku ToBalo :

Sistem pernikahan pada keluarga tobalo sama dengan sistem pernikahan bugis yang ada. Bahkan saat ini suku tobalo juga ada yang sudah menikah dengan masyarakat lainnya yang tidak termasuk tobalo. Anggota keluarga tobalo menikah dengan seseorang bukan atas dasar paksaan atapun dijodohkan. Tetapi, keluarga tobalo menikah karena atas dasar keinginan sendiri, dan saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain.

Begitu pula prosesi pernikahan masyarakat suku tobalo sama dengan proses pernikahan dilakukan oleh masyarakat bugis lainnya yang ada di sulawesi selatan. Dalam keluarga tobalo, upacara dimulai dengan jalinan hubungan berdasarkan cinta kasih yang sah menurut adat dan agama.

Adat pernikahan yang terdapat pada keluarga tobalo juga memiliki tahap-tahap yang harus dilalui sebelum terjadinya akad pernikahan. Seperti tahap akkusissing. Artinya kunjungan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Asshuro, uang panai dan sungreng. Kemudian Amuntuli : yaitu memberitahu kepada seluruh keluarga mengenai pernikahan yang akan dilaksanakan. Hanya saja keluarga to balo berasal dari keluarga yang sederhana sehingga prosesi pernikahan tidak terlalu mewah dan sangat sederhana.

Bahasa To Balo:

Bahasa yang digunakan keluarga to balo adalah bahasa bentong. Bahasa bentong
merupakan perpaduan antara bahasa bugis, konjo dan makassar. Bahasa bentong bahasa yang digunakan pada masayarakat di Desa Bulo-Bulo.

Agama To Balo :

Agama yang dianut oleh keluarga tobalo adalah agama islam. Pada dasarnya
masyarakat tobalo menganut agama islam dan menjalankan semua apa yang telah diperintahkan dalam Al-Quran dan Hadist. Ketika bulan ramadhan tiba, maka masyarakat tobalo juga melaksanakan puasa, zakat dan juga ikut melaksanakan labaran dengan masyarakat sekitar.

Kepemimpinan dalam Keluarga To Balo:

Kepemimpinan dalam keluarga to balo, yang menjadi seorang pemimpin adalah pihak ayah atau sang suami. Karena pihak laki-laki yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam sebuah keluarga. Pihak laki-laki yang berperan sebagai ayah atau bapak dalam sebuah keluarga, memiliki peranan penting dan bertanggung jawab atas semua anggota
keluarganya. Pihak laki-laki atau sang ayah dalam keluarga tobalo, merupakan tulang punggung yang menafkahi semua anggota keluarganya.

Jumlah Keluarga To Balo :

Jumlah keluarga tobalo saat ini, mencapai 30 orang yang terdiri dari beberapa kepala keluarga. Jumlah anggota keluarga yang mememiliki kelainan fisik seperti belang berjumlah 6 orang. Dan anggota yang balo dari dulu sampai sekarang tidak pernah lebih
dari 10 orang.

Bahkan hingga saat ini tidak semua anggota keluarga tobalo memiliki kelainan fisik dengan belang diseluruh tubuh. Tetapi, hanya sebagian kecil saja anggota keluarga yang memiliki belang diseluruh tubuh.

Hubungan Kekeluargaan To Balo:

Hubungan kekeluargaan tobalo sangat erat, dan sangat akrab antara semua anggota keluarga. Keluarga tobalo masih menerapkan budaya gotong royang yaitu: saling membantu antara keluarga yang satu dengan yang lain, Jika keluarga lain sedang mengalami kesulitan. Dari dulu sampai sekarang tali persaudaraan keluarga tobalo sangat erat.

Mata Pencaharian To Balo :

Mata pencarian masyarakat tobalo umumnya dalam bidang pertanian. Bertani merupakan sistem mata pencaharian keluarga tobalo sejak dahulu.

Tatacara bertani yang dilakukan oleh keluarga to balo yaitu dengan menanam padi disawah. Keluarga tobalo menanam padi dua kali dalam satu tahun, hasil panen yang diperoleh kaluarga to balo tidak menentu. Hasil panen ditentukan oleh kondisi cuaca. Berkebun juga merupakan mata pencaharian keluarga to balo .

Keluarga to balo memanfaatkan lahan
kosong untuk ditanami sayuran, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Kemudian
hasil dari perkebunan tersebut dijual ke pasar dan sebahagiannya lagi dikomsumsi oleh keluarga tobalo .

Jadi dapatlah dikatakan, bahwa suku tobalo ini hakikatnya sama seperti suku bugis atau makassar dan Mandar. Bahkan diduga berasal dari salah satu suku tersebut. Hal itu ditunjukkan adanya persamaan adat budaya serta keyakinan yang ada. Hanyalah yang membedakan adalah : Masyarakat tobalo kulitnya belang-belan bercak putih. Dan kalaupun disebut sebagai suku, maka Suku Tobalo merupakan suku yang komunitasnya terkecil di dunia. Karena hanya beranggotakan puluhan orang.

Dan komunitas Tobalo ini lama kelamaan bisa saja punah, jika terus melakukan perkawinan diluar sukunya.

Kaum ToBalo bisa keluar dari masalah kulit ini, jika mereka menikah dengan orang lain yang punya gen kulit normal. Karena Selama ini, kebanyakan mereka kawin antarmereka saja. Padahal terbukti, jika ada kaum ToBalo yang kawin dengan orang di luar kelompoknya, sang anak akan berkurang belangnya”.

Olehnya itu, perlu ada penyuluhan yang menyambangi mereka ke dusun terpencil itu, untuk menjelaskan keadaan sebenarnya. Agar mereka segera keluar dari keterkungkungan, yang disebabkan perasaan berbeda dari manusia lain.

Itulah sejarah tentang suku Tobalo yang berada di kabupaten Barru, provinsi sulawesi selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *