Kepercayaan Masyarakat Bone Sebelum Islam

Tercatat dalam sejarah bahwa Bone merupakan kerajaan terakhir di Sulawesi Selatan yang menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan. Kerajaan Bone menerapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan berawal pada tahun 1611 Masehi, yaitu masa pemerintahan La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng, Raja Bone ke-11 yang memerintah dalam 1611 – 1616 Masehi.

Akan tetapi sebelumnya, pada tahun 1610, Islam sudah mulai masuk di Bone yakni masa pemerintahan We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng, Ratu Bone ke-10, yang memerintah dalam 1602 – 1611. Namun Islam belum menjadi agama resmi kerajaan. Waktu itu hanyalah Sang Ratu yang baru memeluk Islam. Ketika Baginda berangkat ke Sidenreng untuk mengetahui seluk beluk Islam. Akan tetapi ketika baru saja mengucapkan syahadat, tiba-tiba Baginda Ratu jatuh sakit dan meninggal dunia, sehingga beliau dimakamkan di Sidenreng Rappang. Oleh sebab itulah, Baginda diberi gelar anumerta Matinroe ri Sidenreng.

Islam sebagai agama baru cepat dianut oleh rakyat Kerajaan Bone, dikarenakan kedudukan raja sebelum Islam menjadi personifikasi dewa di bumi, sehingga masyarakat menerima apa yang diperintahkan oleh raja. Seperti ungkapan bahasa Bugis yang mengatakan : polo papa polo panni. Artinya patah tulang patah sayap. Hal ini bermakna sebagai ungkapan tentang tidak ada daya dan upaya untuk tidak melaksanakan perintah raja.

Begitu pula pada masa pemerintahan La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13 yang memerintah dalam 1631 -1634. Baginda
adalah raja yang sangat fanatik dalam menerapkan syariat agama Islam. Bahkan Bagindalah yang mula-mula membentuk pejabat syariat di kerajaan Bone serta mulai membangun masjid dalam pemerintahannya. Begitupula upayanya dalam menghapus perbudakan di kerajaan Bone dan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.

Begitu pula pada masa pemerintahan La Tenritatta Arung Palakka Raja Bone ke-15, yang memerintah dalam 1672 – 1696. Baginda memerintahkan untuk membangun Langkara atau masjid di seluruh pelosok kerajaan Bone. Sebagaimana ungkapannya yang terkenal: mauni silellang bola nalimpengi awo patettongi masiji. Artinya meskipun hanya terdapat sebuah rumah dalam rumpun bambu, dirikanlah masjid.

Demikian pula pada masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka, Raja Bone ke-16, yang memerintah dalam 1696 – 1714. Baginda menerapkan akulturasi dalam politik, sosial dan budaya masyarakat Bone, yang memperlihatkan bentuk negosiasi, di mana syariat Islam dilaksanakan secara bersama-sama dengan tradisi lokal. Hal itu sebagaimana ungkapannya yang mengatakan : Tennia Ugi Kotennia Selleng. Artinya bukan orang Bugis kalau tidak beragama Islam.

Oleh sebab itulah, kesuksesan pengembangan Islam pada masyarakat di Kerajaan Bone pada masa itu, karena adanya kerjasama antara umara dan ulama. Namun tidak mengesampingkan keberadaan nilai-nilai budaya yang cocok dalam Islam.

Selanjutnya, mari kita cermati kepercayaan masyarakat Bugis Bone sebelum masuknya agama Islam….

Sejak dahulu, masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan telah mengenal nama dewa, dan beberapa jenis upacara persembahan yang dilakukan. Kepercayaan pra-Islam ini berlangsung selama berabad-abad, dan menjiwai serta dipegang teguh oleh orang Bugis sebagai pedoman hidup. Bahkan hingga kini masih terasa pengaruhnya dalam masyarakat Bugis.

Orang Bugis menyebut agama asli mereka dengan istilah attoriolong. Artinya “anutan leluhur” atau “tata cara nenek moyang”.

Begitu pula masyarakat Bugis di Bone sebelum Islanm. Penduduknya telah mengenal dan menganut kepercayaan asli, yaitu suatu paham dogmatis yang terjalin dengan adat istiadatnya. Artinya masyarakat Bugis waktu itu, bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran, tanpa kritik sama sekali.

Pokok kepercayaannya merupakan apa saja yang merupakan adat, dan kebiasaan hidup yang mereka peroleh dari warisan nenek moyangnya.

Suku bangsa bugis, mempunyai cerita-cerita, atau mitos yang menyatakan asal usul suku, ataupun silsilahnya melalui nenek moyang, hingga naik sampai ke dewa-dewa. Mitos ini memberikan juga tentang aturan hidup, atau adat yang diberikan oleh dewa-dewa dan nenek moyangnya. Adat ini kemudian dipelihara oleh seluruh anggota masyarakat.

Adapun kepercayaan-kepercayaan masyarakat Bugis Bone sebelum masuknya agama Islam diantaranya :

Pertama : Kepercayaan kepada Dewatae atau Dewa.

Dalam naskah-naskah I La Galigo, dijelaskan adanya suatu kepercayaan kepada satu dewa yang tunggal yang oleh masyarakat pendukungnya disebut “ Dewata Seuwae ”. Dewata Seuwae dipercayai sebagai Patoto-e (dia yang menentukan nasib) dan Tenrie A’rana (pemilik kehendak yang tinggi).

Dewata Seuwae dipandang sebagai pusat kekuatan manusia, hewan dan makhluk lainnya, meliputi makhluk halus, orang yang masih hidup dan orang yang telah mati semuanya bergantung kepadanya.

Dewata Seuwwae sebagai pengatur alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Karena itulah, untuk menghormatinya, maka dilakukanlah pemujaan melalui upacara tradisional dan mempersembahkan sesajen.

Pemujaan kepada Dewata Seuwwae tidak boleh langsung, tetapi harus melalui dewa-dewa pembantunya. Namun dalam keadaan khusus yaitu pada saat dewa-dewa lain tidak dapat lagi melakukan kewajibannya, maka setiap orang melakukan persembahan sendiri.

Berdasarkan tugas dan persembahan yang diberikan kepada dewa-dewa, dalam attoriolong orang Bugis, maka para pembantu Dewata Seuwae terdiri atas tiga kelompok yaitu :

Kelompok Pertama : Dewa langit atau dewata langie: yaitu dewa yang menghuni langit. Dewa yang menurunkan hujan, menurunkan petir, dan mendatangkan kemarau. Agar dewa ini tidak marah, maka disajikan makanan berupa empat warna nasi ketan dan disimpan di atas loteng rumah.

Kelompok Kedua : Dewata bumi atau dewata mallinoe : yaitu dewa yang banyak menempati tempat-tempat tertentu, pohon besar, batu-batu besar, pusat bumi atau posi tana dan posi bola, dan sebagainya. Persajiannya dengan meletakkan telur, beberapa sisir pisang, ayam, dan empat macam warna nasi ketan.

Kelompok Ketiga : Dewa air atau Dewata uwae : yaitu dewa yang tinggal di air dan sering pula dipersonifikasikan dengan buaya. Persembahannya dengan melarutkan telur yang belum masak, empat macam warna nasi ketan, dan sebagainya. Kepercayaan seperti itu, dikarenakan masyarakat mempercayai adanya kekuatan-kekuatan di luar kemampuan manusia. Oleh katena itulah, ritual-ritual dilakukan agar pemilik kekuatan tidak marah, dan tidak membuat mereka murka kepada manusia.

Kedua, Kepercayaan Kepada Makhluk Halus, atau Tenrita dan Keramat atau makarek.

Selain percaya adanya dewa, mereka juga yakin bahwa di dunia alam gaib terdapat makhluk-makhluk supranatural, kedudukan makhluk ini lebih rendah derajatnya daripada dewata-dewata. Mereka tidak mengganggu manusia jika mereka diberi persembahan atau orang-orang yang memiliki jimat. Orang Bugis menamakan makhluk-makhluk halus tersebut dengan sebutan: jing, kammang, pappo parakang, dongga, dan lain sebagainya.

Orang Bugis percaya adanya kekuatan gaib dalam gejala-gejala, dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Gejala itu dapat berupa gejala-gejala alam, tokoh-tokoh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya.

Gejala-gejala alam yang dianggap mempunyai tenaga gaib adalah : angin topan atau laso angin. Angin seperti ini, dapat merusak bangunan-bangunan besar, menumbangkan pohon-pohon, merusak tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebelum membangun rumah, terlebih dahulu memeriksa kayu yang bakal menjadi ramuan rumah. Ramuan rumah harus bebas dari serangan angin topan, kebakaran, dan terkena petir. Semuanya diatur dan ditetapkan oleh seorang ahli yang bernama, “ panrita bola ”.

Kurangnya pengetahuan tentang gejala-gejala alam yang terjadi, sehingga masyarakat mempunyai larangan-larangan atau pemmali dalam melakukan aktivitas kesehariannya, dan meminta pertimbangan kepada orang-orang pintar, untuk menghindarkan mereka dari gejala-gejala alam tersebut.

Ketiga, Kepercayaan Kepada Arajang.

Di samping kepercayaan tersebut, terdapat pula keyakinan bahwa benda-benda yang dianggap turun dari kayangan bersama ToManurung yang disebut arajang dan dianggap sakti.

Hampir di setiap daerah di Sulawesi-Selatan, seperti Bonee, Gowa, Luwu, Soppeng, dan lain-lain, ToManurung datang dengan benda-benda atau peralatan-peralatan sakti.

Menurut kepercayaan masyarakat pendukungnya, bahwa ToManurung adalah keturunan dewa di atas langit, yang dijelmakan di alam kayangan.

ToManurung yang turun di Bonee bernama Mata Silompoe, dia datang membawa arajang yang berbentuk payung, tempat sirih, gendang, dan sebagainya.

Kedatangan ToManurung bersama dengan benda saktinya arajang, dianggap dapat menertibkan masyarakat dan menjamin keamanan dari bahaya, baik dari sesamanya maupun di sekitar lingkungannya, termasuk alam gaib.

Ada dua sebab benda tersebut dianggap mempunyai sifat luar biasa, yaitu karena cara menemukannya atau kedatangannya, dan bentuknya yang tidak lazim.

Dengan demikian, setiap manusia atau masyarakat mempunyai kecenderungan untuk mempercayai akan adanya kekuatan gaib, atau kekuatan supranatural.

Kepercayaan itu kemudian mendorong timbulnya perilaku keagamaan dalam kehidupan sosial dari masyarakat pendukungnya.

Karena itu, mereka melakukan upacara-upacara sesembahan kepada sang pemilik kekuatan, sebagai bentuk pengabdian mereka, agar mereka dikasihi oleh pemilik kekuatan tersebut, dan memelihara mereka dari berbagai bencana.

Bentuk pemujaan yang ditunjukkan oleh masyarakat atau individu pra agama samawi, menandakan bahwa mereka memang meyakini adanya kekuatan dahsyat di luar dirinya. hanya saja karena keterbatasan akal dan pikirannya sehingga mereka menunjukkan melalui pemujaan terhadap leluhurnya ataupun pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan dahsyat.

Itulah kepercayaan-kepercayaan yang dianut bagi para pendukungnya, di kalangan Bugis Bone sebelum masuknya Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *