Sejarah Penetapan Hari Jadi Sulawesi Selatan

Hari Jadi Sulawesi Selatan diperingati setiap tanggal 19 Oktober. Untuk tahun 2022 ini Sulawesi Selatan merayakan hari jadinya yang ke-353 tahun. Dengan mengangkat tema : Sulsel Optimis, Sulsel Tangguh, Ekonomi Berdaulat.

Gagasan lahirnya hari jadi Sulawesi Selatan, berawal pada masa pemerintahan Mayor Jenderal H.Z.B. Palaguna, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, pada pertengahan Tahun 1993.

Ketika itu Gubernur H.Z.B. Palaguna mengungkapkan keinginan untuk menemukan suatu wahana, yang dapat menjadi salah satu pengikat, dalam upaya memperkuat wujud kebersamaan dan persatuan, di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Dengan bergulirnya gagasan tersebut, ternyata mendapat sambutan baik seluruh kalangan masyarakat. Masukan dari berbagai kalangan secara meluas mulai mengalir. Pada pokoknya menganggap pentingnya untuk menemukan suatu wahana, guna mempertegas jati diri Sulawesi Selatan.

Dari berbagai masukan yang ada, maka disimpulkan suatu wahana yang paling tepat adalah: Hari Jadi Daerah.

Wahana Hari Jadi juga dilatar belakangi oleh pemikiran bahwa: dalam banyak pengalaman yang dapat disimak, telah terbukti simbol Hari Jadi dapat memperkuat sinergitas masyarakat dan pemerintah, dalam meningkatkan perannya terhadap pembangunan.

Setelah menyepakati wahana hari jadi, selanjutnya menemukan momen-momen dan kejadian penting, baik aspek sejarah dan sosial budaya Sulawesi Selatan. Hal itu dapat dijadikan sebagai dasar, dalam proses perumusan yang akan ditetapkan kemudian sebagai momentum Hari Jadi Sulawesi Selatan.

Setelah gagasan dan kerangka acuan dianggap matang, maka diadakan Seminar Hari Jadi Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan
di Ruang Pola Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, pada tanggal 18 dan 19 Juli 1995.

Peserta Seminar dikuti lebih 200 orang dari kalangan cendekiawan, tokoh masyarakat, Pimpinan Organisasi Politik, dan Organisasi Pemuda se-Sulawesi Selatan.

Seminar ini menampilkan 19 makalah dari para pakar berbagai disiplin ilmu. Selain itu menampilkan makalah kunci dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Pada forum seminar ini, berhasil dijaring sejumlah keinginan dari berbagai kalangan dan diuji dalam pembahasan.

Setelah itu, Forum seminar memberikan rekomendasi, berupa rumusan usulan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Sebanyak 5 momentum puncak kejadian di Sulawesi Selatan, yang layak dan pantas untuk dipertimbangkan dalam proses selanjutnya.

Dengan berpegang pada usulan tersebut, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan bersama staf, membahas segala aspek yang berkaitan dengan pemaknaan, untuk diajukan sebagai rumusan yang terbaik guna diproses lebih lanjut.

Pembahasan secara mendalam yang dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah bersama staf, berkesimpulan bahwa, usulan momentum puncak kejadian di Sulawesi Selatan, yang direkomendasikan oleh Forum Seminar Hari Jadi Sulawesi Selatan, memiliki bobot yang sama nilainya. Sehingga dipadukan dalam suatu rumusan gabungan simbolik.

Dalam gabungan rumusan inilah, lahir dan terwujud tanggal 19 Oktober 1669. Kemudian gubernur menuangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah Tingkat I sulawesi Selatan, untuk selanjutnya dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat 1 Sulawesi Selatan.

Setelah melalui pembahasan, akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat 1 Sulawesi Selatan, menyetujui dan menetapkan tanggal 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan. Hal itu diperkuat melalui Peraturan Daerah Tingkat Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Penetapan Hari Jadi Sulawesi Selatan.

Dengan demikian, Hari Jadi Sulawesi Selatan tersebut akan bermakna sangat dalam dan mendasar. Bukan sekadar formalitas belaka, tetapi dapat memberikan gambaran simbolik, tentang jati diri dan motivasi masyarakat. Serta sebagai sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah Sulawesi Selatan.

Pemilihan tanggal Sembilan Belas, Bulan Oktober, Tahun Seribu Enam Ratus Enam Puluh Sembilan : adalah didasarkan pada rumusan simbolik yang mencerminkan pernyataan sikap, rasa kesatuan teritorial masyarakat Sulawesi Selatan. Bermakna sebagai wahana pemersatu, sumber motivasi untuk memacu pembangunan dalam segala bidang di Sulawesi Selatan.

Tanggal Sembilan Belas, berasal dari rumusan yang mengacu pada kejadian, dalam momentum Nasional yang sangat penting. Sesudah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan, yang punya kaitan langsung dengan wilayah dan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada tanggal 19 Agustus 1945, dalam Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), diputuskan untuk membentuk 8 Provinsi dalam wilayah Republik Indonesia. Di mana salah satu diantaranya adalah Provinsi Sulawesi. Sejumlah Tokoh Masyarakat Sulawesi Selatan mengikuti sidang tersebut, dan selanjutnya membawa pulang hasilnya ke Daerah ini.

Momentum ini menunjukkan, betapa besar keinginan masyarakat Sulawesi Selatan, untuk mendukung keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, hasil Proklamasi 17 Agustus 1945, melalui Pemimpin-pemimpin dan Tokoh-tokoh Masyarakat yang hadir dalam sidang tersebut.

Dari kejadian ini, dapat dilihat adanya refleksi rasa kebangsaan yang kental, untuk menghidupkan semangat nasionalisme, dalam hati sanubari Bangsa, termasuk masyarakat Sulawesi Selatan, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan, dalam sejarah perjuangan Bangsa dan sejarah Nusantara.

Peranan tokoh masyarakat Sulawesi Selatan dalam konteks momentum itu, perlu dilestarikan semangatnya dalam konteks kekinian, terutama dalam upaya mewujudkan keberadaan Sulawesi Selatan, sebagai pusat pelayanan di kawasan Timur Indonesia dimasa datang.

Pemilihan Momentum tersebut, untuk dijadikan salah satu simbol penetapan Hari Jadi Sulawesi Selatan, tidak semata-mata karena dorongan kebanggaan pada peranan masa silam, akan tetapi juga merupakan refleksi atas sejumlah harapan, atas tanggung jawab tokoh masyarakat Sulawesi Selatan dimasa depan, dalam kaitan pembangunan Nasional, khususnya pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.

Pilihan pada bulan Oktober, mengacu pada kejadian dalam sejarah lokal Sulawesi Selatan. Peristiwa sebagai puncak kejadian di Sulawesi Selatan yang sangat penting, dalam kaitannya dengan kesatuan teritorial, dan kesadaran akan kesatuan budaya di Wilayah Sulawesi Selatan.

Pertama terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945, yaitu kesepakatan sejumlah raja-raja, di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya, menyatakan diri berada dibelakang kekuasaan Negara Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kedua, yang dapat dilihat pada momentum tersebut adalah kesepakatan para raja-raja di Sulawesi Selatan, pada tanggal 11 Oktober 1674, untuk menyatakan diri sedarah dan seketurunan, yang membawa implikasi kesadaran teritorial Sulawesi Selatan, sebagai cikal bakal Daerah Sulawesi Selatan sekarang ini.

Kejadian-kejadian tersebut, melahirkan pilihan pada bulan Oktober, sebagai bulan hari jadi Sulawesi Selatan. Dalam kaitan peristiwa tersebut secara sadar atau tidak, terdapat kenyataan bahwa pada bulan Oktober 1928, para pemuda Nusantara menyatakan ikrar, yang terkenal dengan Sumpah Pemuda.

Sementara Oktober diambil pada waktu kesepakatan raja-raja di Sulawesi untuk mendukung Doktor Ratulangi menjadi gubernur pertama Sulawesi, pada tanggal 15 Oktober 1945. Selain itu, Peristiwa rekonsiliasi raja-raja bersaudara yang terlibat Perang makassar. Rekonsiliasi tersebut berlangsung pada bulan Oktober 1674.

Sedangkan pilihan Tahun 1669, diambil dari berakhirnya perang Makassar yang ditandai jatuhnya Benteng Sombaopu tahun 1669. Dimana dalam peristiwa itu terjadi heroisme yang luar biasa. Para Tubarani mempertaruhkan jiwa dan raga dalam perang 40 hari 40 malam, sebelum benteng sombaopu dikuasai penjajah.

Karena tidak mau tunduk dijajah Belanda, maka pejuang yang masih hidup memilih meninggalkan Makassar dan hijrah ke pulau Jawa, untuk bergabung dengan pejuang lainnya dalam melawan penjajahan.

Selain itu, Tahun 1669 bermakna bahwa: tahun itu titik awal munculnya kesadaran masyarakat Sulawesi Selatan. Dimana sebelumnya diadu domba oleh penjajah, padahal kerajaan-kerajaan yang ada masih terikat pertalian darah keluarga yang dekat.

Pilihan pada tahun yang amat bersejarah itu, dimaksudkan agar tetap menggugah hati nurani dan kesadaran masyarakat Sulawesi Selatan sampai kapanpun, untuk tetap mewaspadai bahaya perpecahan, dengan menggali potensi kebersamaan dan mengembangkan persatuan di kalangan warga masyarakat Sulawesi Selatan, untuk melanjutkan Pembangunan Nasional yang berlangsung di daerah ini.

Itulah sejarah penetapan Hari Jadi Sulawesi Selatan. Dimana Hari Jadi Sulawesi Selatan, terhitung sejak tanggal 19 Oktober 1669 sampai sekarang, berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995.

Selamat merayakan Hari Ulang Tahun Ke-353 Sulawesi Selatan, tanggal 19 Oktober 2022. Sulsel Optimis, Sulsel Tangguh, Ekonomi Berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *