Perlawanan La Pottobune Arung Tana Tengnga, Ayahanda La Tenritatta Arung Palakka

La Pottobune Arung Tana Tengnga adalah ayahanda La Tenritatta Arung Palakka. Ia adalah bangsawan Bugis Soppeng yang memperisterikan Weh Tenrisui, Datu Marioriwawo Soppeng.

Wilayah Tana Tengnga terletak di tepi sungai Walennae, berdekatan dengan Lompulle dan di bawah daulat Kerajaan Soppeng.

Dalam catatan Lontara Akarungen ri Bone mengisahkan bahwa setelah Raja Bone ke-14 La Tenriaji To Senrima mengalami kekalahan di Pasempe tahun 1646, maka Arumpone tersebut ditawan dan diasingkan di Siang Pangkep. Sementara bangsawan lainnya dari Bone dan Soppeng dibawa ke Gowa.

Dalam pengasingan itu, La Pottobune membawa serta istrinya, We Tenrisui Datu Marioriwawo dan putranya La Tenritatta yang baru berusia sebelas tahun.

La Pottobune Arung Tanatengnga dan keluarganya jatuh ke tangan Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang. Ia adalah seorang yang terkenal budiman dan berpengetahuan luas. Para tawanannya diperlakukan dengan ramah-ramah.

Karaeng Pattingalloang dijadikannnya La Tenritatta sebagai pembawa Puan atau tempat sirih dari emas. Karena tugas itu, maka La Tenritatta kecil juga mendapat didikan yang cukup mumpuni. Sayangnya, Karaeng Pattingalloang yang budiman itu wafat, yaitu pada tanggal 15 September 1654.

La Tenritatta pun berganti tuan, yaitu berpindah ke tangan Karaeng Karungrung, yang menggantikan ayahnya sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa.

Karaeng Karungrung ini terkenal sebagai seorang yang sangat keras tabiatnya, tidak seperti ayahnya yang halus budi bahasanya, dan baik hati sesamanya manusia.

Dalam perkembangannya, Karaeng Karunrung memerintahkan Jennang Bone Tobala, agar segera mengerahkan 10 ribu tenaga kerja untuk bekerja menggali parit di Bontoala dan Sombaopu.

Selanjutnya, Jennang Tobala Arung Tanete Riawang yang biasa juga disebut Petta Pakkanynyarangnge, tiba di Gowa dengan membawa sepuluh ribu orang Bone di Gowa. Orang sebanyak itu diambilnya dari berbagai golongan, lapisan, dan umur. Ada petani, nelayan, pandai kayu, ada orang kebanyakan, budak, bahkan bangsawan serta orang tua yang sudah ubanan serta ompong.

Para tawanan dan pekerja dari Bonee tersebut bekerja tanpa diberi makanan yang cukup sehingga banyak yang meninggal karena kelaparan. Karaeng Karunrung memerintahkan kepada para mandor dari Gowa untuk menghabisi apabila ada pekerja yang mencoba melarikan diri.

La Tenritatta bersama orang tuanya juga harus bekerja dan mengawasi para pekerja. Ia pun merasa kasihan terhadap para pekerja dari Bonee yang mendapat perlakuan sewenang-wenang. Pada waktu itu La Tenritatta umurnya telah beranjak dewasa.

Akibat perlakuan tuan barunya yang jauh berbeda dengan ayahnya. Memperlakukan tawanan dan pekerja dari Bonee layaknya binatang.

Mereka tidak bebas kemana-mana, harus melakukan segala kehendak tuannya, makan minumnya tergantung daripadanya. Nasibnya terserah sepenuhnya kesewenang-wenangan Karaeng Karunrung.

Mengenai tawanan-tawanan lain, di antaranya terdapat beberapa orang dari Soppeng seperti Arung Bila Daeng Mabela, Arung Belo ToSade, dan Arung Appanang. Nasib beliau itu tidaklah lebih baik dari La Pottobune dan anaknya.

Disuatu sore bulan September 1660, La Tenritatta berjalan kaki pulang dari tempat penggalian parit menuju Bontoala. Saat itu perasaan dan hatinya tiba-tiba gelisah. Wajah ayah dan ibunya terbayang di matanya silih berganti.

Begitupula bayangan isterinya I Mangkawani Daeng Talele. Hatinya terasa pedih bagai tersayat-sayat sembilu. Dia mempercepat ayunan langkahnya, semakin dekat Bontoala semakin dipercepat pula langkahnya.

Saat tiba di balai-balai rumahnya, La Tenritatta melihat ibu dan isterinya sedang bertangis-tangisan. Perasaan khawatir dalam benaknya memuncak.

Lalu ia mendekat kepada kedua orang itu, kemudian bertanya : Ibunda Mengapa Engkau dan Menantumu Menangis?.

Sang Ibu merangkul leher anaknya lalu berkata : ” Tabahkanlah hatimu, Wahai Anakku, Sabar dan tabahkan hatimu, dan Teguhkan jiwamu kepada Tuhan, Ayahmu sudah tidak ada Nak!. Dia sudah pergi meninggalkan kita tengah hari tadi, Dia telah berpulang ke Rahmatullah”.

Dengan wajah pucat, La Tenritatta bertanya : “Jadi di mana mayat Ayahku, Bunda? Apakah sudah dikuburkan sehingga tidak diperlihatkan kepadaku?”.

Datu WeTenrisui kemudian menoleh kepada menantunya dan berkata : ” Nak, kamulah yang menceritakan kakakmu, sebab aku tidak bisa mengingat dan mengurut-urutkan peristiwanya .

Berkatalah I Mangkawani Daeng Talele Isteri isteri La Tenritatta : Wahai Kakanda berjanjilah dahulu untuk tidak melupakan Tuhan dan nabiNya, nabi kita Muhammad sallallahu Alaihi Wasallam, Berjanjilah pula Kakanda, Jangan melakukan sesuatu apabila tidak direstui oleh orang tua kita”.

La Tenritatta menjawab isterinya :” Aku menuruti semua kata-katamu, wahai Adindaku, ceritakanlah cepat karena aku ingin mengetahui di mana gerangan jasad ayahanda kita.

Tapi Aku juga meminta kepadamu berdua, jangan ada yang menangis, sebab orang yang teguh imannya tidak akan menangis meskipun tertimpa musibah apapun”.

Sejurus kemudian Datu Weh Tenrisui dan I mangkawani Daeng Talele membasuh air matanya. Rupanya Sang Ibu membenarkan ucapan anaknya.

Isterinya mulai berkisah : Ketika Kanda berangkat dipagi hari tadi menuju ke tempat penggalian, tak lama berselang datanglah utusan Karaeng Karunrung menyampaikan pesan kepada Ayahanda.

Pesannya mengatakan bahwa Karaengnge memanggil tuan untuk ditemani pergi berburu rusa di Tallo”.

Ayahanda kemudian, melakukan persiapan dengan mengenakan pakaian yang paling disukai. Semua cincin kesukaannya dipasang di jari-jari termasuk di kelingkingnya.

Ayahanda juga menyelipkan keris yang terbungkus perak berhulu emas bertata permata tiga biji.

Ayahanda lalu berucap kepada Ibunda : Aku tidak ingin Karaeng Karunrung mengira aku sebagai rakyatnya”.

Setelah itu, Ayahanda pergi dengan menunggang kuda dan berjalan beriringan dengan Karaeng Karunrunng menuju tempat perburuan di sebelah Timur Tallo.

Namun, Menjelang Duhur, tiba-tiba datang utusan Karaeng Karunrung memanggil kami pergi ke tempat perburuan. Utusan karaengnge mengatakan, La Pottobune Petta Tana Tengnga mendapat kecelakaan, sebaiknya Anda datang menjenguknya”.

Kamipun ikut dengan utusan itu menuju ke arah Timur Tallo. Ketika kami tiba langsung diantar menuju ke sebuah gubuk kecil.

Di situlah kami mendapati Ayahanda Petta Tana Tengnga sedang dibaringkan, tetapi nyawanya sudah tidak ada lagi. Ibunda kita sendiri yang mengusap matanya.

Sekujur tubuhnya penuh luka dan mukanya bengkak-bengkak. Kami tidak tahu penyebabnya apa gerangan. Karena semua yang dikenakan sewaktu berangkat termasuk sarung, baju, keris, dan cincin yang melekat di tubuhnya semua masih utuh. Anggota tubuh lainnya masih tetap utuh hanya bagian muka yang memar, namun Bunda masih dapat mengenali wajah suaminya.

Waktu itu, Kami memohon kepada Karaeng ta Karunrung, agar dia mau mengutus orang memanggil Kakanda di tempat penggalian.

Tetapi dia mengatakan tidak baik jasad orang mati di simpan berlama-lama, sebaiknya dikuburkan cepat.

Masih beruntung karena masih dapat disaksikan oleh isteri serta menantunya, sebagai pengganti anaknya. Makanya jenazah cepat diurus untuk dimakamkan. Almarhum dikuburkan dekat dari sini, daerah Tallo.

La Tenritatta bertanya setengah berteriak : Siapa gerangan yang membunuh Ayahanda kita?.

Isterinya melanjutkan kronologisnya : Ketika Karaeng Somba sudah tiba di lokasi dengan menara pengintai, saat mau menaiki tangga tiba-tiba orang-orang menjadi ribut. Katanya ada 2 orang Bone melarikan diri dari tempat penggalian dan bersembunyi di celah-celah batu tidak jauh dari baruga perburuan. Kedua orang itu ditemukan oleh anjing pemburu.

Awalnya para pemburu mengira yang digonggongi anjing adalah rusa. Tetapi ketika pemburu tiba di tempat anjing menggonggong itu, ternyata ditemukan dua orang laki-laki yang sedang bersembunyi.

Pemburu lalu memanggil orang banyak, kemudian memukuli kedua orang yang bersembunyi itu. Kedua orang itupun keluar dan melompat mengamuk dan menyerang para pemburu.

Beberapa orang berhasil dilukainya sebelum keduanya tertangkap. Kemudia keduanya diikat, tangan dibelakang. Lantas dibawa ke baruga menghadap Karaeng Karunrung.

Keduanya tak henti-henti dipukuli diperjalanan, ada menempeleng, ada menendang, dan ada yang memukul kayu. Sekujur tubuh hingga kepala dan wajahnya bengkak-bengkak, darah bercucuran dari kepalanya.

Pada saat sampai di depan baruga, orang-orang berteriak dan berdesak-desakan untuk mendekat. Namun Pasukan penombak dan para pengawal Karaeng Karunrung menghalau.

Kemudian Karaeng Karunrung mendekat lalu berkata ” Siapa gerangan orang yang diikat itu?”. Ada orang yang menyahut dan mengatakan: dia orang Bone Karaeng, ia melarikan diri dari tempat penggalian.

Bukalah pengikatnya, perintah Karaeng Karunrung. Maka dibukalah pengikat kedua orang tersebut. Namun tiba-tiba keduanya jatuh dan pingsang.

Melihat keadaan yang menyedihkan itu, Ayahanda Puangta La Pottobune, yang berdiri di belakang Karaeng Karunrung, secara tiba-tiba mencabut kerisnya dan merebut tombak salah seorang pengawal. Lalu ayanda menyerang kepada orang yang memegang ikatan kedua orang yang ditangkap itu.. Sehingga orang yang kena tombak itupun langsung roboh dan meninggal seketika, karena terkena tombak persis ulu hatinya.

Ayahanda beringas dan mengamuk, para pengawal kemudian maju untuk menangkap ayahanda yang semakin marah. Satu tangannya memegang tombak dan yang satunya memegang keris. Banyak prajurit dan pengawal yang dilukainya.

Beruntung para pengawal cepat-cepat melindungi dan membentengi Karaeng Karunrung. Karena Ayahanda sudah kalap, sekujur tubuhnya menjadi licin. Lebih dua puluh pengawal yang terbunuh seketika itu. Belum lagi yang luka-luka, itupun beruntung kalau bisa hidup, karena keris Ayahanda sangat berbisa.

Ketika Ayahanda tertangkap oleh orang banyak, kedua tangannya lalu diikat. Ketika Ayahanda terikat di tiang, orang-orang berdatangan menikamnya. Orang-orang baru berhenti menikam Ayahanda setelah Karaeng Karunrung berdiri disampingnya.

Karaeng Karunrung sendiri yang membuka tali pengikat Ayahanda, karena melihatnya sudah sekarat. Ketika ikatannya sudah dilepas, roboh pulalah Ayahanda tersungkur ke tanah. Kemudian Karaeng Karunrung menyuruh pengawal yang masi hidup membawa mayat ayahanda ke gubuk.

Karaeng Karunrung perintahkan 10 orang prajurit untuk menjaga jenazah Ayahanda. Agar tidak ada orang yang boleh masuk menyentuh jasadnya selain isteri dan menantunya kalau sudah datang.

Demikian cerita I Mangkawani Daeng Talele atas peristiwa kematian mertuanya.

Setelah mendengar cerita itu, tubuh La Tenritatta, kaku dan tidak bergerak sedikitpun. Matanya tak pernah berkedip sekalipun sejak mendengar cerita isterinya. Mata terbuka menerawang lurus, dirinya bagai hilang kesadaran.

Datu We Tenrisuai khawatir melihat anaknya, lalu berkata ” Sadarlah Wahai Anakku, itulah nasib kita yang sudah digariskan oleh Allah Yang Kuasa, Jangan sia-siakan nayawamu, Ingatlah hanya kamu berdua yang menjadi pewaris Mario dan Palakka. Hanyalah engkau jadi pengharapan agar Palakka dapat terbebas. Dan setelah Palakka terbebas maka baru diurus Mario”.

La Tenritatta menjawab, ” Ibunda. Anakmu ini tetap sadar, namun sekarang yang terpikir olehku, nasib Bone dan Mario sekarang diperbudak, maka akupun diperbudak, jika Bonee merdeka maka barulah aku menjadi manusia sebenarnya,”.

Ibu, ” aku bersama orang Bone sebanyak sepuluh ribu orang serta orang Soppeng diperlakukan seperti bukan manusia dipukul bagaikan kerbau mati. Perlakuan itu baru berkurang setelah aku mencekik seorang mandor dan membantingnya di atas pasir.”

“Semoga Tuan Matinroe ri papeng batunna terbangun dari kuburnya, menyaksikan penderitaan kami di tempat penggalian.

Lanjut La Tenritatta kepada Ibunya, ” Aku kira ada perjanjian nenek saya Arumpone Matinroe ri Bantaeng dengan Sultan Alauddin, neneknya karaeng Gowa yang memerintah sekarang ini?”.

Ibunda La Tenritatta Datu Mario menjawab : ” memang ada perjanjian Ulu Ada antara ayah saya Matinroe ri Bantaeng dengan neneknya Karaeng Gowa yang memerintah sekarang ini”.

Bunyi perjanjian itu mengatakan : Inilah kita persaksiakan kepada Dewata Yang Esa.

Nanti bila bukan lagi turunan kita yang bertakhta di Gowa dan Tallo dan begitu pula engkau di Bone, barulah semuanya berakhir.

Apabila engkau diperlakukan tidak adil oleh sesama manusia, dan apabila engkau ditimpa keburukan, maka bukalah pintumu agar kami masuk dalam keburukanmu itu.

Begitulah ucapan Karaeng mula Islam di Gowa bersama pamannya, yaitu Karaeng Tallo bernama I Malingkaang Daeng manyonri. Sewaktu waktu duduk bersama neneknya yang melahirkan saya.

Perjanjian itu diucapkan di Palette ketika membawa Islam kepada orang Bone.

Berkata pula nenekmu Matinroe ri Bantaeng:” Oh … Karaeng, apabila ada orang yang menimpa tanah Gowa, meskipun hanya sebatang bambu saja aku tumpangi, maka aku datang pada kesusahanmu.

Begitulah janji nenekmu Matinroe ri Bantaeng dan neneknya karaeng Karunrung yang sekarang ini.

Demikian ucapan Datu We Tenrisuia kepada anaknya, menjelaskan Uluada orang tuanya dengan Sultan Alauddin yang dilakukan pada tahun 1611.

Kemudian Berkata La Tenritatta :” Ibunda, perjanjian Uluada itu sudah rusak ketika paman saya Arung Timurung menjadi mangkau ri Bone karena diserang oleh Matinroe ri Pepeng batunna. Orang Bone ditaklukkan dan dijadikan hamba oleh Gowa. Kita semua sudah menjadi hamba serta tidak punya hak dan kehormatan, hanya kemauannya saja yang diberlakukan kepad orang Bone,”

Ia melanjutkan, ” orang Bone melakukan perlawanan yang dipimpin oleh paman saya Arungpone To Senrima akhirnya jatuhlah di Pasempe. Karaeng kemudian membenamkan dan menjadikan kita sebagai hamba. Jadi bukanlah nenek saya dan orang Bone yang merusak Uluada itu”.

” Benar apa yang engkau katakan itu wahai anakku, kata datu We Tenrisui kepada anaknya ” bukanlah kita yang merusak perjanjian Uluada itu, bukan pula kita yang meninggalkan ucapannya Karaeng Gowa Mula Islam, tetapi kitalah yang ditinggalkan Uluada itu,”
Berkatalah Datu Mario, ” Jika demikian, bukanlah kita ditimpa sumpah nenek saya apabila kita melepaskan diri dari himpitan ini” sang Ibu mengangguk membenarkan ucapan anaknya.

La Terintatta kemudian duduk bersimpuh dihadapan ibunya dan berkata : Ibu, doakan anakmu ini. Aku mau pergi jauh dan mengatur siasat untuk membebaskan orang-orang Bone dan Soppeng di tempat penggalian. Kematian ayahandaku yang sangat keji, atas perlakuan orang Gowa, membuat hatiku menyala-nyala.

Weh tenrisui, sang ibu, lalu mencium dan mengusap ubun-ubun anaknya. Lalu berkata jaga dirimu anakku. Selamat berjuang dibawah payung Dewata Seuwwae.

Kemudian La Tenritatta menatap wajah isterinya dan berkata: tabahkan hatimu wahae dinda. Aku berharap adinda tidak menghalangiku untuk melakukan perlawanan terhadap Gowa. Aku sama sekali tidak ada kebencian sama orang Gowa. Hanyalah kelakuannya yang membuat harga diri kita terinjak-injak. Kini saatnya kakanda harus bergerak.

La Tenritatta pun bersumpah akan menuntut balas terhadap kematian ayahnya serta sekian banyak orang Bone lainnya.

Maka direncanakannya suatu pemberontakan secara besar-besaran untuk melepaskan Bone dari penjajahan dan perbudakan Gowa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *