Aliran kehidupan di Walennae

Aliran Kehidupan di Walennae akan membawa kita menyusuri dari titik mana mata air sungai keluar dari perut bumi pada kaki Gunung Rupulumuwe, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani hingga akhir perjalanannya di Teluk Bone.

Sungai Walanae mempunyai sejumlah 14 dayang-dayang atau anak sungai yang cukup besar seperti sungai opo dan sungai unynyi. Dengan begitu menambah keelokan bila ditatap dari awan.

Dalam perjalanan mengalir sekira 180 kilometer mengarungi alirannya, kita
akan diajak berhenti pada tempat-tempat tertentu. Kadang mengajak kita untuk mengagumi keindahan dan kecantikan panorama alamnya.

Tetapi kadang pula merayu kita untuk mencermati dan merenungkan kondisi sungai ini yang jauh dari elok, lalu mempertanyakan, kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk menjadikannya indah kembali?.

Sejak dahulu Walennae bercerita tentang
keseharian masyarakat Bugis yang menjadikan sungai ini sebagai ruang kehidupan, serta juga aliran sumberdaya terpenting, yaitu AIR.

Walennae Sekilas Sejarah:

Walennae adalah sungai purba. Kata “walennae” sendiri berasal dari Bahasa
Bugis, terdiri dari dua kata yaitu: wae dan lenna. Wae atau dalam Bahasa Bugis Wae, artinya air. Sedangkan lenna artinya sungai.

Sejak zaman kerajaan hingga pemerintahan Belanda, Sungai Walennae berperan menjadi penghubung antara daerah pedalaman di pesisir utara Bone untuk membawa hasil pertanian dan perdagangan.

Sumber Kehidupan di aliran sungai purba ini, hingga kini masih berperan penting dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya seperti sebagai sumber air irigasi pertanian, pendukung kegiatan industri, serta sebagai sumber air minum penduduk Bugis.

Akhir kata harapan terbesar adalah agar kita semua tergerak untuk mulai mencintai dan berbuat nyata bagi pemulihan Walennae.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *