Sejarah Losmen Nasional Watampone

Losmen Nasional terletak di Jalan Masjid kota Watampone. Losmen ini dibangun pada tahun 1941 dimasa kerajaan. Dan merupakan penginapan tertua di Kabupaten Bone.

Dahulu, Losmen yang berlantai dua dan berciri khas Belanda ini merupakan penginapan, yang menyewakan kamar. Lantai dua bangunan semacam aula yang terbuat dari bahan kayu, dan memiliki teras di bagian samping.

Memiliki sebanyak 6 kamar besar di bangunan utama serta 4 kamar paviliun. Namun, Losmen yang berada di pusat kota Watampone ini, terkesan menyimpan misteri.

Menurut Salim Said, salah seorang warga yang pernah menghabiskan masa kecilnya selama tujuh tahun di losmen itu, mengungkapkan bahwa losmen tidak difungsikan sejak 20 tahun lalu, tepatnya tahun 2002.

Struktur bangunan tampak masih berdiri kukuh, dan di halaman depan masih ada batu Hongkong terpasang rapi.

Salah satu keunikan losmen ini memiliki menara yang cukup tinggi. Berfungsi
sebagai ventilator untuk tangga, kemudian tempat penitipan barang tamu, serta untuk melihat dan memantau keamanan disekelilingnya. Karena pada tahun 40-an banyak pembesar Belanda yang menginap di losmen itu.

Namun, bagunan unik dengan arsitektur Belanda ini, terkesan dibiarkan terbengkalai begitu saja, sehingga menambah kesan angker.

Losmen Nasional Watampone bersamaan dibangun dengan masjid Raya Watampone. Meskipun terletak di pinggir jalan dan berada di tengah kota, namun suasana horornya begitu terasa.

Dulunya sebelum berdiri hotel-hotel lainnya di Watampone, losmen nasional ini menjadi salah satu tempat menginap paling favorit bagi para tamu dari luar kota yang datang ke Watampone. Termasuk calon penumpang kapal di pelabuhan Bajoe, banyak yang transit di penginapan ini.

Tahun 80-an losmen Nasional ini masih sering kedatangan turis dan tamu dari Eropah, khususnya warga negara Belanda.

Menurut Firman, warga setempat, pemilik Losmen Nasional adalah seorang Arab yang bernama Tuan Ahmad Anus. Ia memperisiterikan orang Bugis dari Palakka. Dari pernikahannya melahirkan 4 orang anak diantaranya : Hajjah Halijah, Hajjah Kalsum, Haji Abdullah, dan Hajjah Fatimah.

Diantara anak Tuan Ahmad Anus yang sukses dan menguasai losmen adalah : Hajjah Halijah yang melahirkan 11 anak. Diantaranya Doktor Hasan Anus (almarhum), Doktor Husen Anus (almarhum), H.Abubakar Anus (almarhum), Haji Thalib, Haji Ali Anus, Hajjah Rahmi, Hajjah Hidayah, dan lainnya.

Jika melintas di depan Losmen Nasional disaat menjelang magrib, kelihatan lampu masih menyala hingga menjelang fajar, namun penginapan itu sudah tidak berpenghuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *