Ahmad Bone Pemrakarsa Berdirinya Masjid Raya Makassar

0
58

Masjid Raya Makassar terletak di Jalan Masjid Raya Kota Makassar, mulai dibangun pada tahun 1948 dan pembangunannya selesai pada tahun 1949. Masjid yang berlantai dua ini, memiliki dua menara setinggi 66,66 meter, serta dapat menampung sebanyak 10.000 jamaah. Tak hanya itu juga dilengkapi fasilitas berupa perpustakaan.

Kendati sudah mengalami tiga kali renovasi, namun tidak meninggalkan ciri khasnya. Salah satu kubahnya tak pernah dibongkar dan masih utuh. kubah itu hadiah dari raja Bima, Sultan Kaharuddin. Oleh karena itu, kubah tersebut salah satu bukti yang patut dikenang, sebagai bentuk persahabatan antara Makassar dan Bima.

Dalam catatan sejarah, ternyata berdirinya masjid ini diprakarsai oleh Kiai Haji Ahmad Bone, yaitu seorang ulama dari Kabupaten Bone tahun 1947. Pada masa itu beliau menunjuk K.H. Muchtar Lutfi, selaku ketua panitia pembangunan masjid. Sementara Bangunan awal Masjid Raya Makassar dirancang oleh M. Soebardjo. Dua tahun kemudian yaitu tahun 1949 diresmikan penggunaanya dengan menghabiskan biaya Rp1,2 juta rupiah.

Siapakah sebenarnya K.H. Ahmad Bone tersebut ?

Dalam sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan, terekam jejak dakwah Ahmad Bone. Ia lahir di Bone tahun 1885 dan
wafat di Makassar pada tanggal 12 Februari 1972 dan dimakamkan di pekuburan Arab Bontoala, Makassar.

Nama Bonee diabadikan dalam namanya, yang merupakan tempat kelahirannya. Saat masih berumur 15 tahun, Ahmad Bone berangkat ke Mekkah bersama orang tuanya. Namun saat orang tuanya kembali ke tanah air, Ahmad Bonee memilih tinggal untuk mengaji kitab kuning, pada sejumlah ulama di masjidil haram, hingga beliau juga sempat mengajar sebelum pulang ke Bone.

Namun saat terjadi pergolakan politik di Mekkah yang ditandai dengan kemenangan kaum Wahabi, sehingga membuat posisi ulama Ahlussunnah wal-jamaaah terpinggirkan. Dalam situasi itulah sehingga Ahmad Bone memilih kembali ke tanah air tahun 1926.

Kehadirannya di kampung halamnnya Bone, beluau disambut baik dan langsung diangkat menjadi Imam di masjid Laungnge Bone, atau masjid tua Bone, sekaligus mengajar kitab kuning sampai tahun 1930.

Kontribusi Anregurutta Ahmad Bone cukup besar, karena mampu meletakkan dasar-dasar keagamaan, terutama soal tauhid dan pemahaman syariat. sehingga Masyarakat Bone mengenalnya sebagai “Kali Bone” atau Pettakalie, yaitu panggilan bagi ulama yang mendapat amanah dalam pengembangan agama.

Selanjutnya Ahmad Bone berjuang bersama Andi Mappanyukki raja Bonee ke-32, dan keduanya merupakan pendiri Nahdatul Ulama atau NU di Bone. Akan tetapi hubungannya dengan Andi Mappanyukki berakhir setelah terjadi perselisihan, yang mengharuskan anregurutta Ahmad Bone hijrah ke Makassar.

Dalam catatan Literasi Ulama Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa, Raja menghukumnya dengan istilah ipoppangi tana, yaitu hukuman yang tidak boleh lagi menginjakkan kaki Bone.
Sehingga sejak itulah anregurutta Ahmad Bone tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah kelahirannya Bone. Konon, perselusihannnya dengan Andi Mappanyukki, lantaran perbedaan pandangan.

Setelah tiba di Makassar, anregurutta Ahmad Bone, kemudian bergabung dalam barisan ulama berhaluan ahlussunnah wal-jamaah, untuk mendirikan organisasi yang dinamakan Rabithatul Ulama, yaitu Organisasi yang menjadi cikal bakal lahirnya NU di Sulawesi Selatan pada tanggal 8 April 1950.

Dalam organisasi Rabithatul Ulama tersebut, tergabung sejumlah ulama atau anregurutta, diantaranya: Sayyid Husain Saleh Assegaf, Muhammad Muin, Abdul Razaq, Abdurrahman Daeng Situju, Muhammad Asap, Abdul Rasyid, Abdul Haq, dan Muhammad Nuh.

Ketika Kiai Haji Wahid Hasyim, meminta agar organisasi Rabithah Ulama memfasilitasi pembentukan partai NU, maka semua ulama di organisasi Rabithah Ulama tersebut, masuk di NU, kecuali Anregurutta Muhammad Saleh Assegaf dan Abdul Razaq yang istiqamah di Masyumi dan PSII.

Selain itu, Kiai Haji Wahid Hasyim juga mengajak Anregurutta Ambo Dalle masuk Partai N U, tetapi beliau konsisten di PSII bersama Anregurutta Abduh Pabbaja. Kemudian para ulama tersebut bersinergi dalam membela Ahlussunnah wa al-Jamaah, atau Aswaja, meskipun berbeda partai.

Organisasi rabithah tersebut, dipusatkan di kediaman Anregurutta Ahmad Bone, di Jalan Diponegoro Makassar.

Dalam testimoni anrwgurutta Sanusi Baco menyatakan bahwa sosok Ahmad Bone dikenal penulis produktif, dan memiliki tokoh buku. Beliau memiliki ratusan kitab, hanya Anregurutta Mursalin Shaleh yang mungkin menyamainya.

Anregurutta Ahmad Bone, bersama anregurutta Sayyid Jamaluddin Puang Ramma, serta Anregurutta Muhammad Ramli, tercatat sebagai pendiri N U Sulawesi Selatan yang berafiliasi menjadi partai politik.

Oleh karena itu, Kontribusi anregurutta Ahmad Bone cukup monumental diantaranya, sebagai pemrakarsa berdirinya Masjid Raya Makassar, dan Beliau juga tokoh Nahdatul ulama Kabupaten Bonee dan Sulawesi Selatan.

Hingga saat ini, kami belum mendapatkan data yang jelas dimanakah sebenarnya tempat kelahiran beluau di Bone, karena wilayah Bone sangat luas. Begitu pula Terkait masalah perselisihannya dengan Andi Mapanyukki, sebagai penguasa pada waktu itu, yang mengharuskannya meninggalkan Tanah kelahirannya, yang disebut hukuman ripoppangi tanah.

Menurut almarhum Andi Najamuddin Petta Ile pernah menjelaskan bahwa, istilah ripoppangi tanah, merupakan salah satu bentuk hukuman oleh para penguasa di Bone pada masa lalu. Apabila ada pandangan yang berbeda dengan penguasa, dan pandangan orang tersebut bisa mempengaruhi orang banyak, maka ia harus meninggalkan Bone, dan tidak diperbolehkan kembali selama penguasa atau raja tersebut masih memegang kekuasaan.

Namun terlepas dari semua itu, beliau Ahmad Bonee telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam penegakan tauhid dan syariat Islam di Bone dan Sulawesi Selatan.

Itulah riwayat Kiai Haji Ahmad Bone, seorang ulama kharismatik dari Tana Bone pemrakarsa pembangunan masjid Raya Makassar tahun 1947.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here