Marakka Bola Gotong Royong Ala Bugis

0
53

Bugis adalah etnis terbesar yang berasal dari Sulawesi Selatan, dan menyebar diseluruh wilayah Indonesia, dikenal memiliki sejarah dan kebudayaan yang unik dan masih lestari sampai sekarang. Tak heran apabila banyak kalangan akademik, kerap melakukan berbagai penelitian tentang Bugis.

Gotong royong merupakan satu di antara ciri khas dalam kehidupan masyarakat Bugis. Gotong royong mempunyai arti bekerja bersama-sama dan tolong-menolong, saling membantu di antara anggota-anggota keluarga dan komunitas. Gotong royong bisa meliputi berbagai sektor aktivitas sosial yang sifatnya praktis dan efisien.

Sampai saat ini, gotong royong masih melekat dalam kehidupan masyarakat Bugis dimanapun ia berada. Perilaku gotong royong bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi sekaligus untuk mempererat hubungan satu sama lain.

Salah satu contoh nyata masyarakat Bugis dalam memupuk kebersamaan adalah, gotong royong memindahkan rumah secara utuh. Kegiatan memindahkan rumah ini disebut marakka bola, ada juga yang menamakan mappalecce bola, ada pula menyebutnya mappalette bola, bahkan ada pula yang menamakan mabbule bola. Dari sekian nama itu secara umum mempunyai arti yang sama, yaitu memindahkan rumah secara bersama-dama dan beramai-ramai.

Tradisi gotong royong ini masih hidup di kampung-kampung Bugis dan mengakar sampai sekarang. Mereka secara beramai-ramai memindahkan rumah dari tempat semula ke tempat yang baru. Ada beberapa alasan sebuah rumah dipindahkan. Bisa saja tanah tempat berdirinya rumah laku terjual. Bisa juga karena tanah milik orang lain, dan lain sebagainya.

Apabila kondisi rumah masih dimungkinkan untuk dipindahkan tanpa dibongkar, maka dipindahkan secara utuh dengan cara gotong royong yang disebut marakka bola. Namun tentunya setelah melalui pertimbangan dan perhitungan untung ruginya. Termasuk jalan yang dilalui semuanya sudah diperhitungkan oleh panre bola.

Tradisi Bugis yang sudah berlangsung turun-temurun ini, dimana Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela. Kendati sebagian besar alat-alat rumah tangganya sudah diturunkan, bobot rumah yang dipindahkan masih bisa sampai puluhan ton. Bahkan jarak rumah yang dipindahkan ke lokasi baru juga biasanya tidak dekat.

Apabila dilihat sekilas, kegiatan memindahkan rumah yang begitu besar, tentunya tidak masuk akal sehat, karena hanya dilakukan dengan tenaga manusia. Namun ternyata dengan semangat gotong royong, membuktikan bahwa hal yang mustahil dapat dilakukan.

Untuk memudahkan proses mengangkat rumah awalnya, bambu-bambu diikat di masing-masing tiang rumah. Ini nantinya menjadi alat bantu mengangkat rumah. Bambu tersebut dipanggul bersama-sama, untuk mempermudah mengangkat rumah dan memindahkan ke lokasi baru.

Warga yang datang membantu cuma disampaikan melalui pengumuman di masjid, dan secara spontan masyarakat datang beramai-ramai.

Pada saat mulai mengangkat, salah satu diantara mereka bertugas memberi aba-aba dan semangat. Adapula yang bertugas sebagai pemandu. Sementara perempuan yang datang mengiri dengan doa-doa dan mengikuti dari belakang.

setelah rumah selesai dipindahkan atau di tempat baru, kegiatan dilanjutkan dengan acara syukuran, atau yang dikenal masyarakat Bugis dengan acara Baca Barazanji. Tujuannya agar rumah yang baru saja dipindahkan terhindar dari bencana dan malapetaka.

Tradisi lalu diakhiri dengan acara makan bersama sebagai bentuk ikatan silaturahmi yang erat antara warga. Usai mengangkat rumah, warga menyantap makanan yang disediakan pemilik rumah. Hal ini juga dianggap sebagai imbalan dan ucapan terima kasih kepada seluruh warga, yang rela meluangkan waktu untuk membantu memindahkan rumahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here