Pengertian Motto Bugis Sumange Tealara

0
83

Sebelum menguraikan makna “ SUMANGE TEALARA ” terlebih dahulu kita membaca deskripsi di bawah ini.

APAKAH ITU SEMANGAT ?

Terkadang kita begitu bersemangat untuk merencanakan sesuatu. Baik itu soal pekerjaan, karir, belajar/ menuntut ilmu, menjalin hubungan, usaha, berkarya maupun dalam mengejar target. Kita tahu bahwa semangat itu ada pada keyakinan dalam diri kita. Kita juga tahu bahwa semangat itu ada pada minat kita terhadap apa yang akan dan kita lakukan.

Namun semua itu barulah sebuah rencana, dan bukan berarti semangat yang sesungguhnya. Karena sejatinya, sebuah semangat bukan hanya ada diawal kita melakukan sesuatu. Tapi semangat itu perlu dipertahankan, berkesinambungan, dan dimunculkan terus menerus dalam menyelesaikan apa yang kita lakukan. Dengan begitu, rasa semangat itu benar-benar menjadi energi kita dalam berproses.

Contoh sederhana, seorang siswa mengatakan bahwa ia bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah. Tetapi mungkin di sekolah ia hanya bersemangat di awal-awal hari saja. Setelah beberapa jam kemudian menemukan hal-hal yang sulit, pelajaran yang rumit, atau guru yang tak disukainya, siswa tersebut sudah mulai mengeluh dan kehilangan gairah untuk belajar. Hal ini berarti siswa yang bersangkutan tidak memiliki semangat yang sesungguhnya.

APAKAH ANDA BERSEMANGAT ?.

Jika benar-benar memiliki semangat dalam mengarungi hidup ini, maka Anda akan menemukan hal-hal berikut :

Pertama, Apakah Anda masih bersemangat saat baru saja menemukan kendala ?.
Kedua, Apakah Anda bersemangat ketika rasa lelah mulai menghampiri ?.
Ketiga, Apakah masih bersemangat saat sebuah masalah datang pada hidup Anda ?.
Keempat, Apakah Anda masih bisa bersemangat ketika menemukan jalan buntu di ujung jalan ?.

Pernyataan-pertanyaan tersebut menunjukkan apa makna semangat yang sesungguhnya. Seperti halnya waktu, bukan berarti semangat itu hanya ada pada pagi hari yang cerah, segar, dan riang gembira. Namun semangat itu juga harus tetap ada di waktu siang yang panas, gerah, dan penuh beban dalam pikiran kita. Hingga sore pun tiba menjemput malam, semangat itu tetap harus dipertahankan.

MENGAPA PERLU SEMANGAT ?.

Semangat merupakan integritas jiwa dan jasmani dalam beraktivitas. Arti semangat adalah bagaimana kita dapat membuktikan dan mempertahankan keyakinan diri. Tentunya bukan hanya rencana diawal saja, akan tetapi semangat itu bagian dari seluruh proses. Dengan demikian semangat itu adalah sebuah kebutuhan pokok dalam menjalani kehidupan.

Jadi Semangat itu muncul dari sebuah keyakinan, dan keyakinan itu akan muncul, karena dijalani, bukan hanya perkataan semata.

Selanjutnya, kita kupas pengertian Motto dan Semboyan.

Motto adalah kata atau kalimat pendek, yang menggambarkan motivasi, semangat untuk mencapai tujuan suatu organisasi atau daerah. Motto biasanya menggunakan bahasa daerah setempat atau bahasa lokal. Kalau di Kabupaten Bonee tentu menggunakan bahasa Bugis, sebab pada umumnya, masyarakat Bonee dalam keseharian berinteraksi dengan menggunakan bahasa Bugis.

SEMBOYAN atau SLOGAN adalah susunan kalimat yang dipakai sebagai dasar tuntunan suatu organisasi atau usaha. Semboyan atau slogan, mengacu kepada suatu makna tertentu, yang memberikan semangat sekaligus ciri khas pada suatu organisasi.

Misalnya :
Budaya Kerja Pemerintah Kabupaten Bone, yaitu : Bekerja Keras, Bekerja Cerdas, Bekerja Ikhlas, Bekerja Tuntas.

Untuk mewujudkan semboyan atau slogan tersebut, maka diperlukan sebuah motto, yang dijadikan sebagai BAHASA KUNCI, yang mampu memberikan semangat dan kekuatan, serta keyakinan terhadap dalam diri seluruh organisasi atau daerah, untuk mencapai tujuan.
Adapun bahasa kunci yang dimaksud adalah motto. Dan motto ini menjadi ruh penggerak untuk mencapai tujuan yang lebih luas.

SEJARAH

Apabila kita menoleh kesejarah, Sejak dahulu, Bonee dikenal memiliki norma dan peradaban yang sangat tinggi. Sebagai kerajaan yang pernah berjaya di Jazirah Selatan Sulawesi, bahkan sepak terjangnya meliputi nusantara.

Leluhur Bonee selain memiliki kecerdasan spritual, tetapi juga memilik kecerdasan emosional dalam menjalani hidup, baik dalam lingkup sejarah, Sosial budaya, ekonomi maupun politik. Tak heran dimasa sekarang ini banyak wija tobone, yang berkiprah dibidang-bidang tersebut. Mereka banyak memegang kendali di Indonesia hingga negeri jiran.

Apabila kita Belajar dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone masa lalu, minimal terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk dapat diaktualisasikan, dan dihidupkan kembali. Karena memiliki persesuaian dengan kebutuhan masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan ke arah yang lebih baik dimasa kekinian.

Adapun Ketiga hal yang dimaksud adalah :

PERTAMA, pelajaran dan hikmah dalam bidang politik dan tata pemerintahan. Dalam hubungannya dengan bidang ini, di kerajaan Bone pada masa lalu, sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, atau dalam terminologi politik modern, dikenal dengan istilah demokrasi.

Demokrasi ini dibuktikan dengan penerapan representasi kepentingan rakyat, melalui lembaga perwakilan mereka, di dalam dewan adat yang disebut “Ade Pitu’e“, yaitu tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasihat raja. Segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaan, dimusyawarahkan oleh Ade Pitu’e, dan hasil keputusan musyawarah disampaikan kepada raja untuk dilaksanakan.

Selain itu, di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan asas kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan Kajao Lalliddong seorang cerdekia dari Bone yang hidup pada abad ke-16. Ia berpesan kepada Raja bahwa, ada empat faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:

MAMMULANNA : Seuwani, Temmatinroi matanna Arung Mangkau’e, mitai munrinna gau’e. Artinya Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan.

MADDUWANNA: Maccapi Arung Mangkau’e duppai ada-ada. Artinya Raja harus cerdas menjawab kata-kata.

MATTELLUNNA : Maccapi Arung Mangkau’e mpinru ada-ada. Artinya Raja harus cerdas menyusun kata-kata atau jawaban.

MAEPPANA : Tetakalupai surona, mpawa ada tongeng. Artinya Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar.

Pesan Kajao Lalliddong ini ditujukan kepada raja, betapa pentingnya perasaan, pikiran, dan kehendak rakyat untuk dipahami dan disikapi.

Selanjutnya, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone yaitu, pandangan yang meletakkan kerja sama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha, membangun negeri agar menjadi lebih baik.

Urgensi terhadap pandangan itu, tampak jelas ketika kita menelusuri puncak kejayaan Bonee di masa lalu. Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan tersebut, di kenal dalam sejarah, perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng, yang melahirkan Tellumpocco’e atau dengan sebutan lain Lamumpatu’e Ritimurung.

Perjanjian tersebut dimaksudkan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan ketiga kerajaan, untuk memperkuat posisi kerajaan masing-masing dalam menghadapi tantangan dari luar.

Tidak hanya itu, untuk menciptakan perdamaian, Raja Bone La Tenritatta Arung Palakka mengusung politik passiajingeng atau kekeluargaan, antara Bone, Luwu, dan Gowa. Hal itu ditandai dengan perjanjian Tana Bangkala’e. Sejak itu tidak ada lagi permusuhan antara ketiga kerajaan.

Hikmah yang ketiga yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone yaitu, warisan budaya yang kaya dengan pesan-pesan dan petuah. Pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bugis di masa lalu. Petuah-petuah leluhur itu lahir dari sebuah praktik. Artinya mereka sudah melakukannya, tidak sebatas teori, akan tetapi hasil implementasi yang diwariskan kepada generasinya.

Oleh karena itu, Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab tantangan pembangunan, serta menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat.

Namun yang terpenting adalah bahwa semangat religiusitas dengan motto SUMANGE TEALARA orang Bone dapat menjawab perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya.

SUMANGE’

Sekarang mari kita bahas, pengertian motto sumange tealara.

Kata Sumange’ dalam bahasa Bugis, menggambarkan terjadi interaksi antara jiwa dan raga pada situasi tertentu, sehingga menimbulkan efek perasaan senang, bahagia, dan bersemangat.

Sering kita dengar ungkapan Bugis, Kuru’ Sumange’mu Ana’. Hal ini mengandung makna orang tua memberikan ucapan selamat, kepada anaknya yang baru saja menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Demikian pula, apabila seorang anak yang mengalami sakit parah atau baru saja sembuh dari penyakitnya “ Kuru’ Sunge’mu Ana’ Malampe Sunge’mu Ana’ “ hal ini merupakan ungkapan orang tua kepada anak yang sedang menderita sakit, semoga cepat sembuh dan panjang umur.

Oleh karena itu, Kata sunge dalam bahasa Bugis menggambarkan, Ruh dan Jiwa atau sukma. Sedang kata sumange, diartikan sebagai penyatuan antara jiwa dan raga.

TEALARA

Teallara terdiri atas dua kata yakni Tea dan Lara’ . Dalam bahasa Bugis Tea artinya tak akan (Takkan) sedang lara’ bermakna terpisah, keluar dari kesatuan. Jika kedua kata tersebut disatukan menjadi TEALARA artinya takkan terpisahkan sehingga bermakna kukuh dan kuat.

SUMANGE TEALARA

Dengan demikian, kata sumange, merupakan penyatuan antara jiwa dan raga. Sedangkan kata tealara, berarti tidak terpisah, tidak bercerai-berai, yang menggambarkan kebersamaan, kekukuhan dan keyakinan diri.

Sumange Tealara, artinya Teguh dalam keyakinan, kukuh dalam kebersamaan. Hal ini bermakna pengintegrasian jiwa dan raga untuk mewujudkan keteguhan dan keyakinan diri, yang berawal dari niat, tergambar dalam perbuatan, untuk bersama-sama mengahadapi sebuah pekerjaan atau tantangan kehidupan.

Dari sekian banyak petuah Bugis yang sering kita dengar seperti, Siatting Lima, Sitonra Ola, Tessibelleang, Tessipano, Getteng, Lempu, Ada Tongeng, Tellabu Esso’e Ritengnga Bitara’e, Taro ada Taro Gau. Kesemuanya itu sebenarnya terangkum dalam motto sumange tealara.

Yang terakhir, adapun nilai-nilai yang terkandung dalam motto sumange tealara yaitu:

1. sumange tealara berawal dari niat;
2. sumange tealara memberikan kekuatan dan keyakinan diri;
3. sumange tealara lahir dari kebersamaan;
4. sumange tealara adalah ruh kehidupan yang menjiwai segala tindak tanduk kita;
5. sumange tealara dapat menciptakan jalan;
6. sumange tealara dapat mengusir ketakutan;
7. sumange tealara dapat mengobati rasa lelah;
8. sumange tealara dapat mematahkan kesulitan;
9. sumange tealara dapat mengantarkan kita pada tujuan;
10.sumange tealara dapat menunjukkan jatidiri;
11.sumange tealara dapat menerangi kegelapan kita;
12.sumange tealara dapat mengangkat harkat dan martabat.

Itulah pengertian motto Bugis sumange tealara. Dan andaikata, motto ini terpasang diseluruh gapura kantor pemerintahan di kabupaten Bone, maka akan menjadi nilai tersendiri, serta menjawab salah satu misi kabupaten Bone saat ini, yaitu Program Menjadikan Bone sebagai Pusat Kebudayaan Bugis di Indonesia serta, Penerapan inovasi dibidang pendidikan berbasis kearifan lokal.

Demikian buah pikiran penulis semoga ada manfaatnya, dengan motto SUMANGE TEALARA dapat menggugah kita semua dalam upaya mewujudkan masyarakat Bone yang sehat, cerdas, dan sejahtera.
Terima Kasih.

Oleh : Mursalim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here