Colli Pujie Penyelamat Naskah Lontara Galigo

Colli Pujie Ratna Kencana, lahir pada tahun 1812 di Tanete Barru dan meninggal di Lamuru pada tanggal 11 November 1876 dan dimakamkan di Tucae, dalam wilayah Lamuru Bone.

Ayahnya bernama La Rumpang Megga Tosappewali, Dulung Lamuru, Datu Marioriwawo, Matinroe ri Mutiara. Ia adalah Raja Tanete ke-20 yang memerintah 1840-1855. Ia yang menggantikan pamannya yang bernama La Patau Raja Tanete ke-19 yang memerintah 1829-1840.

Sementara Ibunya adalah keturunan berdarah Melayu-Johor, bernama Siti Johar Manikam, Collipakue, Daeng Tarappe Arung Rappang. Anak dari Ince Muhammad Ali, Datu Pabean. Ia adalah kepala syahbandar Makassar yang dikenal cerdas dan menguasai bahasa Portugis, Belanda, dan Inggris.

Nama lain Colli Pujie adalah Ratna Kencana. Nama ini diberikan oleh kakeknya keturunan Melayu yang bernama Ince Muhammad Ali yang bergelar Datu Pabean kepala Syahbandar Makassar. Oleh karena itu, Colli Pujie Ratna Kencana merupakan keturunan berdarah Bugis-Melayu, yaitu ayahnya berdarah Bugis dan ibunya berdarah Melayu.

Tjolli Pujie menikah dengan ToAppotase, Arung Ujung. Dalam pernikahannya itu melahirkan tiga orang anak yaitu, Siti Aisyah WeTenriolle Datu Tanete, I Gading Arung Atakka, dan Lamakkawaru Arung Ujung.

Sebagai perempuan berdarah Bugis-Melayu Tjolli Pujie dikenal sebagai orang yang pintar dan berani. Ia terkenal dengan karya-karya satranya yang cemerlang dan sejajar dengan penulis-penulis Barat. Tampaknya sulit ditemukan pada masanya. Tjolli Pujie disegani dan dianggap sebagai tokoh kesusastraan dari timur, yang kala itu sulit dicari samanya diwilayah Hindia Belanda.

Masa kecil Tjolliq Puji’e, tumbuh dan besar di lingkungan istana kerajaan Tanete. Meski demikian ia kerap keluar istana dan bergaul teman sebayanya. Dalam istana ia banyak belajar dan membaca beragam karya dalam perpusatakaan kerajaan, termasuk menghapal Alquran dan melagukan sure’ I La Galigo pada beberapa kesempatan ritual.

Selain belajar di istana, Tjolli Puji’e juga belajar di perpustakaan milik kakeknya di Makassar, karena kakeknya sebagai kepala syahbandar memiliki banyak buku-buku. Di sana ia juga belajar bahasa Portugis, Belanda dan Inggris yang dibimbing langsung oleh kakeknya Ince Muhammad Ali yang bergelar Datu Pabean.
Selama tinggal di Makassar, Tjolli Pudjie, mengasah intelektualnya dengan menulis banyak buku. Keberadaannya di Makassar hanya untuk belajar karena sekolah di kerajaan Tanete belum ada pada masa itu.

Dalam perkembangannya, Tjolli Puji’e menjadi seorang pengarang dan penulis, ia mengerti bahasa La Galigo, yang pada zamannya bahasa itu sangat jarang dituturkan lagi. Sembari menjadi sekretaris istana di Kerajaan Tanete, dalam tugasnya tulis-menulis surat, ia juga penyunting naskah lontara Bugis kuno. Sehingga menjadikan dirinya sebagai sosok cendekiawati yang penuh kreativitas di masanya.

Berkat kepiawaian dan intelektualnya, ia memiliki posisi penting dalam mengontrol kerajaan, hal itu disebabkan karena ayahnya pada saat itu, hampir tidak pernah tinggal di kerajaan, sebab selalu diintimidasi oleh Belanda.

Pada tahun 1852, sepeninggal suaminya, Tjollie Puji’e tinggal bersama ayahnya di Tanete-Barru. Pada saat itulah, ia bertemu dengan BF Matthes seorang peneliti Belanda, yang ditugaskan oleh Nederlandsch Bijbelgenootschap, untuk melakukan penelitian ilmiah mengenai bahasa Bugis dan bahasa Makassar.

Kemudian Tahun 1855, ayahnya meninggal La Rumpang Me gga Tosappewali, dan kepemimpinannya di kerajaan Tanete dilanjutkan oleh anak perempuan Tjolli Puji’e, yang bernama WeTenri Olle. Penyerahan takhta itu diminta oleh kakeknya yaitu Ince Muhammad Ali Datu Pabean.

Dua tahun berikutnya tepatnya pada tahun 1857, terjadi pergolakan di tengah keluarga kerajaan, dimana WeTenriolle selaku datu Tanete, berselisih paham dengan dan Ibunya yaitu Tjolli Puji’e. Ketegangan itu disebabkan karena WeTenriolle selama kepempinannya ternyata bekerja sama dengan Belanda. Menurut Tjolli Puji’e, kekuasaan Belanda merupakan penjajah yang selama ini menindas rakyat.

Sosok Tjolli Puji’e merupakan seorang penentang keras kekuasaan Belanda di Tanah Bugis, ia sangat marah atas keberpihakan anaknya selaku datu Tanete. Atas penentangannya itu, Akhirnya Tjolli Puji’e harus meninggalkan istana dan diasingkan oleh pemerintah Belanda di Makassar.

Selama di pengasingannya di Makassar, Tjolli Puji’e, hidup penuh dengan keterbatasan. Kendati dalam sebulan diberikan biaya hidup dari pemerintah Belanda sebanyak 20 Gulden, dan dua pikul beras, akan tetapi Tjolli Puji’e kadang harus berhutang, dan menjual beberapah harta benda perhiasan yang dimilikinya, demi menghidupi pengawalnya.

Dalam hidup penuh keterbatasan dalam pengasingannya itu, iapun melukiskan penderitaannya dalam sebuah ungkapan sastra Bugis yang mengatakan: Ininnawakku muwita, Mau natuddu’ solo’, monang lenrong muwa. Artinya Lihatlah keadaan batinku,
Walaupun diempas arus deras kesusahan,
Namun aku masih tetap mampu berdiri tegar.

Ungkapan ini dianalogikan bahwa, Belut adalah ikan yang bentuknya panjang seperti ular, kulitnya licin dan biasa hidup di lumpur. Namun begitu bila bertemu dengan arus, ia akan tetap mengambang untuk melawan derasnya arus.

Di tengah keterbatasan yang dialami, Tjolli Puji’e bertemu lagi dengan BF Matthes dan membantu melakukan penelitian dan menjadi narasumber, asisten, sekaligus guru bahasa bagi Matthes. Upah yang didapat dari itu, sedikit meringankan keterbatasan dalam menjalani kehidupan di makassar.

Perjuangan Colli Pujie dan BF Matthes, dalam mengumpulkan dan menyalin ulang Kitab La Galigo dilakukan selama 20 tahun. Matthes berhasil mengumpulkan cukup banyak naskah La Galigo, dari hasil perjalanannya berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Tebaran naskah yang terkumpul itu semuanya diolah dan diterjemahkan oleh Colli Pujie. Lalu dijilid oleh BF Matthes.

Salah satu karya paling penting Tjolli Puji’e adalah salinan 12 jilid, naskah La Galigo yang kini berada di benua Eropa tepatnya di Leiden Belanda.

Selanjutnya pada tahun 1853, Tjolli Puji’e juga membantu seorang etnolog dari Austria yang bernama Ida Pfeiffer. Etnologi merupakan salah satu cabang ilmu antropologi budaya.

Tak hanya itu, Pada tahun 1870, Tjolli Puji’e juga membantu peneliti asing lainnya yang bernama A. Lighvoed yang sedang meneliti dan menyusun catatan peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan.

Selama pengasingannya di Makassar, Tjolli Puji’e Ratna Kencana, setia membantu Matthes dalam menyalin naskah La Galigo, dari hasil perjalanannya ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Beberapa naskah ada yang dipinjamnya, ada juga diberikan sukarela, dan beberapa disalinnya sendiri. Sebab empunya tidak ingin meminjamkan atau memberikan, karena sebagian masyarakat pada waktu itu beranggapan bahwa, naskah Galigo yang mereka miliki merupakan benda sakral yang harus dijaga. berisi petuah-petuah leluhur.

Pada tahun 1859, Tjolli Puji’e diizinkan kembali ke Tanete atas permintaan putrinya WeTenriolle. Kemudian tetap melanjutkan kerjasamanya dengan Matthes.

Tjolli Puji’e juga menulis beberapa elong yaitu sejenis pantun Bugis serta tulisan tentang kebudayaan dan upacara Bugis. Melalui sentuhan tangan dinginnya, ia banyak melahirkan ide-ide monumental dalam dunia sastra.

Salah satu karyanya yang paling indah adalah Sure Baweng, yang berisi petuah–petuah yang memiliki estetika sangat tinggi. Tidak hanya itu, ia juga menulis sejarah Tanete kuno tentang adat kebiasaan kerajaan yang ditulisnya dalam judul La Toa, dan diterbiitkan oleh BF Matthes dalam bukunya yang berjudul Boegineesche Cristomatie II.

Sebelum meninggal, selain naskah La Galigo yang disalinnya, Collie Pujie memiliki berbagai macam karya sastra pada Tahun 1852, dia menulis Sejarah Kerajaan Tanete atau dalam bahasa Bugis disebut Lontara’na Tanete. Naskah ini kemudian dicetak, dan diterbitkan oleh GK Niemen, dengan judul Geschiedenis van Tanette.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai pencipta aksara rahasia yang dikenal sebagai aksara bilang untuk melakukan korespondensi. Aksara bilang adalah modifikasi dari aksara Bugis dan aksara Arab, di mana aksara ini terdiri dari 18 huruf. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membaca dan memahami aksara tersebut.

Seluruh karya sastra yang telah diciptakannya membuktikan bahwa, kadar kecerdasan dan kedalaman berfikir Tjollie Puji’e tak dapat dipungkiri. Tjolli Puji’e adalah salah satu legenda perempuan Bugis yang pernah ada di Indonesia. Karya-karyanya diakui dan banyak dinikmati oleh masyarakat dunia.

Akhirnya, sang legenda Tjollie Puji’e dalam usia 64 tahun, mengembuskan nafas terakhirnya, pada tanggal 11 November tahun 1876. Ia memang sudah tiada, namun karya-karyanya akan tetap hidup, tak lekang oleh waktu dan abadi sepanjang masa.

Atas karya-karyanya itu, Tjolli Puji’é menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma pada 13 Agustus 2013. Bintang Budaya Parama Dharma adalah tanda kehormatan yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menghormati seseorang atas jasanya dalam bidang kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Read More

Daftar Pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan

Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dikenal 4 kategori pahlawan yaitu Pahlawan Nasional, Pahlawan Kemerdekaan, Pahlawan Kebangkitan Nasional, dan Pahlawan Revolusi. Indonesia memiliki banyak pahlawan yang...

Persiapan Pembentangan Merah Putih di Tangkulara Tahun 2022

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2022, tim tujuh Tangkulara Bumi Arung Palakka, melakukan konsolidasi di...

Tim7 Survei ke Gusung Tangkulara

Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan Festival Tangkulara 2022, Tim7 melakukan survei di gusung Kawasan Tangkulara pada Minggu 7 Agustus 2022. Awaluddin Koordinator Panitia Festival Merah Putih...

Recent

Persiapan Pembentangan Merah Putih di Tangkulara Tahun 2022

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2022, tim tujuh Tangkulara Bumi Arung Palakka, melakukan konsolidasi di...

Ahmad Bone Pemrakarsa Berdirinya Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makassar terletak di Jalan Masjid Raya Kota Makassar, mulai dibangun pada tahun 1948 dan pembangunannya selesai pada tahun 1949. Masjid yang berlantai...

Colli Pujie Penyelamat Naskah Lontara Galigo

Colli Pujie Ratna Kencana, lahir pada tahun 1812 di Tanete Barru dan meninggal di Lamuru pada tanggal 11 November 1876 dan dimakamkan di Tucae,...