oleh

Sejarah Songkok To Bone

Songkok atau peci merupakan alat tutup kepala yang digunakan sebagai identitas yang melambangkan mahkota kehormatan bagi sebagian besar kaum lelaki. Selain mencerminkan kegagahan seseorang, songkok juga kerap dijadikan sebagai simbol identitas adat dan kultur suatu daerah seperti halnya songkok To Bone.

Songkok kesohor dari tanah Bone ini biasa juga disebut songkok recca, songkok pamiring pulaweng, dan songkok to Bone. Meskipun demikian tidaklahlah dipermasalahkan jika ada yang menyebutnya songkok recca, songkok pamiring pulaweng, ataupun songkok to Bone. Yang jelas songkok ini telah dipatenkan dengan nama songkok to Bone dan resmi menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Penetapan itu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Malam Apresiasi Penetapan Warisan Budaya TakBenda Indonesia Tahun 2018 di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 11 Oktober 2018 lalu.

Dengan begitu, Masyarakat Bone tentunya boleh berbangga, betapa tidak, Songkok dari kampung halamannya itu telah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Pengakuan ini tidaklah mudah untuk memperolehnya, melainkan diusulkan setelah melakukan berbagai penelitian.

Nah, bagaimana kisahnya sehingga disebut songkok recca? berawal ketika Raja Bone Ke-15 Arung Palakka melakukan ekspansi dengan menyerang Tanah Toraja tahun 1683 masehi. Namun dalam penyerangan itu, pasukan La Tenritatta Arung Palakka hanya menduduki beberapa desa di wilayah Makale-Rantepao. Laskar Tanah Toraja tidak tinggal diam, iapun melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan Arung Palakka.

Salah satu ciri khas laskar kerajaan Bone pada masa itu, hanya memakai sarung yang diikatkan di pinggang yang biasa disebut Mabbida atau Mappangare’ Lipa’. Sementara pasukan Tana Toraja juga mempunyai kebiasaan memakai sarung tetapi dengan cara diselempang yang biasa disebut Massuleppang Lipa. Dengan begitu, bila terjadi pertempuran dimalam hari kedua pasukan sulit dibedakan yang mana lawan dan yang mana kawan, dikira lawan padahal kawan karena kedua pasukan masing-masing memakai sarung.

Untuk menyiasati keadaan seperti itu, La Tenritatta Arung Palakka mencari strategi baru dengan memerintahkan para prajuritnya memasang tanda di kepala sebagai pembeda dengan memakai penutup kepala. Lalu, sebagian pasukan arung palakka kembali ke Bone mencari palepping atau pelepah lontar. Palepping tersebut kemudian dikeringkan, setelah itu dibakar kemudian dipukul-pukul atau direcca-recca sehingga keluarlah seratnya. Kemudian serat tersebut dianyam menjadi sebuah songkok. Pada periode inilah sehingga disebut Songko’ Recca.

Selanjutnya pada masa pemerintahan La Mappanyukki raja Bone ke-32 tahun 1931, maka songkok recca tersebut dijadikan sebagai kopiah atau songkok resmi kerajaan. Dimana pada masa itu kemudian songkok recca diberi pinggiran benang emas yang hanya dipakai oleh lingkungan kerajaan. Pada periode inilah songkok recca kemudian disebut songkok pamiring pulaweng, yaitu songkok yang pinggirannya terdapat benang emas yang disebut wennang pulaweng.

Untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca dibuat dengan pinggiran emas atau pamiring pulaweng yang menunjukkan strata pemakainya. Pada masa ini tidak sembarang orang yang bisa memakai songko pamiring kecuali anggota kerajaan dan ade pitu.

Sebenarnya, aturan pembatasan ini memiliki makna dan pesan moral yang tinggi, tentang nilai kehidupan pranata sosial. Karenanya, banyak pelajaran nilai kehidupan dari songkok ini, seperti pentingnya menghormati yang tua dan menghargai yang muda. Hal ini terdapat dalam unsur pangadereng WARI yaitu suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.

Ketika Songko’ Recca menjadi kopiah resmi kerajaan Bone, raja Bone La Mappanyukki mengatakan hanya dua kerajaan yang bisa memakai Songko Pamiring pulaweng, yaitu Mangkau ri Bone Majjajareng dan Sombayya Ri Gowa. Artinya, hanyalah Raja dan para bangsawan Bone serta Sombayya ri Gowa berhak memakai lingkar emas yang tertinggi. Dari sinilah berawal Songkok Pamiring ada di Gowa yang disebut Songkok Guru kemudian berkembang ke daerah sekitarnya sampai Takalar.

Seiring perjalanan waktu, pada tahun 1957 rakyat kerajaan Bone menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua tahun kemudian terbitlah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 Tanggal 04 Juli Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, termasuk Bone. Pada periode inilah sehingga songkok pamiring pulaweng disebut sebagai songkok to Bone. Artinya songkok milik orang Bone dan sejak itu siapapun boleh memakainya sampai sekarang ini.

Pesatnya perkembangan zaman, terjadi perubahan pola pikir masyarakat. Kaum dunia tidak lagi memandang derajat perbedaan dan kasta, yang sudah tidak berlaku lagi untuk masyarakat modern dan semua golongan bisa memakai songkok to Bone.

Namun demikian aura magis dari songkok to Bone seolah tak pernah padam. Keistimewaan songkok to Bone akan terlihat jika dipakai di atas kepala tokoh-tokoh penting, pejabat, bangsawan, dan elit-elit lainnya. Kharisma pemakainya akan terlihat.

Songkok pamiring bukan lagi milik kaum berdarah biru, namun mereka yang tahu dan mengerti akan filosofi dari songkok pamiring ini, tidak akan memakainya sembarangan.

Selain menunjukkan karisma, songkok to Bone ini juga menunjukkan siapa sebenarnya orang yang memakainya.

Songkok To Bone artinya “songkoknya seluruh orang Bone”, yang menandakan tidak adanya perbedaan kasta. Bukan karena asalnya saja yang berasal dari Bone, tetapi juga merupakan cipta, rasa, dan karsa orang Bone.

Tidak hanya itu, untuk menyambut HUT ke-72 RI tahun 2017 lalu. Songkok to Bone kembali menunjukan magisnya. Saat itu Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo terlihat tampil mengenakan songkok to Bone saat menghadiri sidang rapat tahunan MPR yang disaksikan secara langsung oleh masyarakat dunia melalui televisi.

Sebelum berpidato, presiden Jokowi mengingatkan terkait kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Lengkap dengan baju adat khas Bugis, jas tutup dan lipa garusu, yakni sarung berbahan tenun sebagai bawahan.

Tampak kilauan dari kopiah berkelir emas bertakhta di bagian atas kepala sang presiden. Kilauan itu ternyata berasal dari kopiah berkelir emas songkok to Bone.

Hingga saat ini, Songkok To Bone tetap diproduksi di kecamatan Awangpone. Di sana terdapat terdapat komunitas masyarakat yang secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil mengayam pelepah lontar menjadi songkok to Bone.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya